Suara yang Menyatukan

Penulis Selanara
28 January 2026

Pagi itu, desa di lereng Arjuno tidak lagi sunyi. Mobil-mobil asing—berpelat luar daerah, kaca gelap—parkir di tepi jalan tanah. Orang-orang berjas rapi turun, membawa map dan senyum yang terlalu cepat. Mereka bukan tim Herda. Nama perusahaan mereka berbeda, logonya asing, dan cara bicara mereka—dingin, terburu-buru.

“Kami datang membawa tawaran,” kata salah seorang pria berambut perak kepada Pak Kades di balai desa. “Cepat, sederhana. Tanah dibeli, uang cair.”

Pak Kades mengerutkan dahi. “Harga?”

Angka disebutkan. Beberapa warga saling pandang. Angka itu… lebih rendah. Jauh lebih rendah dari yang pernah Herda tawarkan dulu. Gumam kecil menyebar, berubah menjadi riak ketidakpercayaan.

“Ini di bawah harga pasar,” protes seorang bapak tua. Pria berambut perak tersenyum tipis. “Pasar berubah. Risiko meningkat.”

Martina berdiri di belakang kerumunan, rahangnya mengeras. Ia melihat peta yang dibentangkan—garis-garis merah yang memotong kebun, mata air, jalur ternak.

“Kalian ingin membeli tanah kami seperti membeli sisa,” katanya datar.

Pria itu menoleh, “Kami menawarkan solusi. Kalau tidak, konsekuensinya—”

“Konsekuensinya apa?” potong Martina. “Kesempatan hilang.”

Warga mulai bersuara.

“Kesempatan untuk siapa?”

“Kami yang kehilangan air!”

Rapat itu bubar tanpa kesepakatan. Mobil-mobil asing pergi, meninggalkan debu dan rasa getir. Siang bergeser ke sore, dan kegelisahan tumbuh. Di teras rumah Pak Kades, warga berkumpul lagi—kali ini tanpa jas dan senyum.

“Martina,” kata Bu Rini lirih, “Uang muka dari Pak Herda dulu… sebagian sudah kami pakai. Untuk sekolah anak. Untuk berobat.”

Pak Kades mengangguk berat. “Kami takut, Nak. Kalau tidak menjual, bagaimana menggantinya?”

Martina menelan ludah. Inilah simpul yang selama ini ia hindari.

“Aku tidak pernah menyuruh kalian menerima uang itu,” katanya pelan. “Kami tahu,” sahut seorang pemuda. “Tapi saat itu, kami pikir proyek akan jalan.”

Seorang ibu menangis tertahan. “Kami tidak mau menjual tanah. Tapi bagaimana kalau Pak Herda meminta pengembalian dana. Bisa-bisa kita dituntut dan dipenjara.”

Sunyi menekan. Semua mata beralih pada Martina—bukan karena ia paling kuat, melainkan karena ia paling berani berkata tidak. Dan kini, keberanian itu ditagih dengan cara lain.

“Martina,” Pak Kades akhirnya berkata, “Tolong kami. Hubungi Pak Herda. Minta keringanan. Waktu lebih lama. Kami akan cari uang dari hal lain—panen kopi, madu hutan, apa pun. Kami hanya butuh waktu.”

Nama itu membuat dada Martina berdenyut. Ia memalingkan wajah.

“Aku… sedang tidak berkomunikasi dengannya.”

“Tapi kau satu-satunya yang didengarnya.”

Martina mendengus gelisah tapi tidak mampu menolak.

Malam turun. Martina duduk sendirian di pondok, ponsel di tangan. Nama Herda tersimpan, lama tak disentuh. Ingatan itu menyerbu Martina tanpa izin—bukan lagi sekadar kehangatan, melainkan desakan tubuh yang dulu saling mencari. Ia teringat bagaimana tangan Herda pernah menyusup ke balik bajunya dengan keyakinan yang membuatnya kehilangan napas, seolah tubuhnya telah lama mengenali sentuhan itu sebelum pikirannya sempat menolak. Ia ingat napas Herda yang berat di lehernya, tekanan tubuh yang menahannya agar tidak mundur, dan caranya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena keinginan yang akhirnya ia biarkan terjadi.

Ada rasa malu yang membara bercampur nikmat saat ia mengingat bagaimana ia tidak menghentikannya—bagaimana tubuhnya menjawab lebih jujur daripada kata-kata. Ingatan itu membuat perutnya mengencang, dadanya terasa penuh, dan untuk sesaat Martina harus memejamkan mata, menahan desahan yang hampir lolos, sadar bahwa kenangan itu masih memiliki kuasa atasnya, liar dan tak sepenuhnya ingin ia jinakkan.

Ia menarik napas panjang, lalu menekan panggil. Nada sambung terdengar—sekali, dua kali.

“Martina?” Suara di seberang terdengar cepat, seolah menunggu. Ia terdiam sepersekian detik. “Aku… maaf menghubungi.”

“Apa pun, aku dengar,” jawab Herda, hangat, tanpa bertanya atau mencoba menjelaskan.

Martina menatap lantai kayu. “Ada investor lain. Mereka menekan warga. Harganya lebih rendah dari dulu.” Herda menghela napas. “Aku sudah menduga.”

“Warga takut,” lanjut Martina. “Uang muka darimu… sebagian terpakai. Mereka tidak mau menjual tanah, tapi takut di penjara karena belum bisa mengembalikan.” Suaranya bergetar. “Mereka minta waktu.”

Di seberang sana, hening sejenak. Lalu Herda berkata pelan, jelas, seolah menimbang setiap kata.

“Dengarkan aku. Warga tidak perlu mengkhawatirkan uang muka dariku.”

Mata Martina terangkat. “Apa?”

“Aku tidak akan menagihnya,” ulang Herda. “Itu bukan utang yang harus dibayar dengan tanah.”

Ia menutup mata, bahunya mengendur. “Terima kasih.”

“Dan satu lagi,” lanjut Herda. “Katakan pada mereka untuk menolak penjualan lahan. Jangan tergoda angka kecil yang akan merusak lebih besar.”

“Kau yakin?” “Aku yakin.”

Martina menggigit bibir. “Aku tidak ingin—” “Ini bukan tentang aku,” potong Herda lembut. “Ini tentang kalian.”

Namun ada kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan. Herda berdiri di apartemennya, senyum kecil merekah hanya karena mendengar suara itu lagi.

“Aku senang kau menelepon,” katanya jujur.

Martina menutup jarak itu dengan keheningan. “Aku menelepon demi warga.”

“Aku tahu,” jawabnya. “Itu cukup.”

Panggilan berakhir. Martina menghela napas panjang, lalu melangkah ke luar. Di balai desa, warga menunggu dengan mata cemas.

“Bagaimana?” tanya Pak Kades.

Martina berdiri di tengah mereka. “Pak Herda bilang, uang muka tidak perlu dikhawatirkan. Tidak ada tenggat. Dan kita harus menolak penjualan lahan.”

Sejenak, tak ada suara. Lalu napas lega menyapu ruangan. Bu Rini memeluk Martina. “Terima kasih.”

“Kita tetap harus cari uang,” kata seorang pemuda. “Kopi, madu, wisata desa.” “Ya,” sahut yang lain. “Kita bisa.”

Malam itu, keputusan diambil. Satu suara. Mereka akan bertahan. Mereka akan bekerja lebih giat. Mereka tidak akan menjual tanah dengan harga rendah.

Di Jakarta, Herda mematikan ponsel dengan perasaan yang jarang ia kenal: ringan. Ada bayangan tentang kulit hangat yang ia sentuh dengan keyakinan yang nyaris arogan, napas Martina yang terputus-putus ketika ia mendekat terlalu dekat, dan momen ketika kendali berpindah dari kepala ke tubuh. Ingatan itu membuat rahangnya mengeras, dadanya menegang, dan pikirannya gelap oleh hasrat yang dulu ia lepaskan tanpa banyak kata. Ia membenci betapa kenangan itu masih hidup—liar dan memikat—karena setiap kali ia membiarkannya hadir, ia tahu ia tidak sekadar mengingat seorang perempuan, melainkan bagian dirinya sendiri yang pernah memilih untuk tersesat dengan sengaja.

Kerinduan menetap di dada Herda seperti beban yang tak mau pergi—diam, namun berat. Ia merindukan Martina dengan cara yang sunyi: pada jeda napas sebelum tidur, pada pagi yang terasa kosong meski kalender penuh. Bersamaan dengan rindu itu, rasa bersalah menggerogoti; ia sadar telah menyeret Martina ke pusaran dunia yang bising, membiarkan ia terseret perihal bisnis dan jarak tanpa perlindungan yang layak. Setiap keputusan bisnis terasa seperti batu yang ia letakkan di antara mereka.

Dalam kesendirian, Herda mengakui pada dirinya sendiri bahwa rindu tanpa keberanian hanyalah cara lain untuk menyakiti—dan bahwa meminta maaf, sungguh-sungguh, mungkin adalah langkah paling sulit yang belum ia ambil.

Di gunung, Martina memandang langit berbintang. Jarak masih ada, luka belum sembuh. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, desa bernapas lega—dan suara yang menyatukan mereka telah didengar.