Undangan yang Berlapis Niat

Penulis Selanara
28 January 2026

Surya Raksana tidak pernah bergerak tanpa alasan. Ketika laporan singkat tentang kedekatan Herda dengan seorang aktivis lingkungan dari lereng Arjuno mendarat di mejanya, ia tidak bereaksi dengan amarah atau cemburu. Ia justru tersenyum—senyum tipis orang yang melihat peluang.

“Martina,” gumamnya, mengeja nama itu pelan.

Ia membaca ulang ringkasan profil: praktik lapangan, pengorganisasian warga, penolakan konsesi. Bukan akademisi menara gading. Ini bukan kebetulan, pikirnya. Ini variabel. Maka lahirlah gagasan yang dibungkus rapi: Program Rencana Konservasi Hutan Berkelanjutan. Judulnya bersih, tujuan resminya mulia. Ia memerintahkan timnya mengundang para pakar, pejabat, NGO, dan—dengan sengaja—Martina sebagai narasumber praktisi.

“Kita butuh suara lapangan,” kata Surya dalam rapat.

“Agar diskusi seimbang.” Tak seorang pun di ruangan itu menyadari lapisan kedua: undangan ini adalah alat ukur, timbangan yang akan menakar sejauh mana pengaruh Martina terhadap Herda.

Undangan tiba di pondok Martina lewat surel yang sopan dan surat cetak berkop perusahaan. Ia membacanya berulang. “Konservasi… Arjuno… dialog multipihak.” Martina ragu. Ia tahu panggung seperti ini sering menjadi etalase hijau bagi kepentingan abu-abu. Namun ia juga tahu, menolak berarti membiarkan narasi dirampas.

“Kalau aku tidak bicara, mereka yang akan bicara,” katanya pada Pak Kades.

“Pergilah,” ujar Pak Kades mantap.

“Bawa suara kita agar Lereng ini tidak terus menerus menjadi incaran bisnis perkotaan.” Martina mengangguk. Ia menerima undangan itu bukan karena nama besar, melainkan karena lereng gunungnya tak punya mikrofon lain.

Martina tahu—bahkan sebelum namanya disebut—bahwa Herda pasti akan datang. Kabar itu beredar seperti angin yang mendahului hujan, terasa tanpa perlu diumumkan. Ada denyut kecil di dadanya, refleks lama yang ingin ia tekan, dan ia menekan keras. Ia merapikan catatan, menegakkan bahu, memilih berdiri pada jarak aman dari perasaannya sendiri. Ini bukan tentang rindu, katanya dalam hati. Ini tentang tanah, tentang suara warga.

Ia mengesampingkan getar yang mencoba naik ke permukaan, menaruhnya di tempat paling sunyi, dan bersiap menyambut pertemuan itu dengan wajah yang tenang—seolah yang akan datang hanyalah seorang mitra dialog, bukan seseorang yang pernah membuatnya lupa pada batas.

Hari acara, aula hotel Herdanzia milik Herda di Jakarta dipenuhi jas gelap dan lencana. Martina melangkah masuk dengan pakaian sederhana, membawa catatan lusuh. Ia merasakan tatapan—sebagian penasaran, sebagian meremehkan. Ia bahkan tidak menduga tempat yang akan didatanginya adalah aset Herda. Di barisan depan, Surya Raksana duduk tenang. Ketika pandangan mereka bertemu, Surya tersenyum ramah.

“Selamat datang, Mbak Martina,” katanya, menjabat tangan dengan tekanan yang terukur. “Kami menantikan perspektif Anda.”

Herda datang terlambat, tepat ketika sesi pertama usai. Ia berhenti sejenak di pintu, napasnya tertahan saat melihat Martina di panggung kecil, berbicara tanpa mikrofon—suaranya cukup kuat.

“Konservasi bukan poster,” kata Martina. “Ia kerja harian. Ia komitmen yang tidak bisa dibeli dengan satu CSR.”

Herda duduk, matanya tak lepas. Raksana memperhatikan reaksi itu dengan saksama, seperti mencatat denyut nadi. Sesi tanya jawab dimulai. Seorang eksekutif bertanya,

“Bagaimana menjembatani investasi dan konservasi?” Martina menjawab tanpa berputar-putar.

“Dengan batas yang jelas. Ada wilayah yang tidak untuk dinegosiasikan. Air, mata air, jalur satwa. Tanpa itu, investasi hanya memindahkan risiko kepada warga.”

Beberapa orang mengernyit. Raksana mengangkat tangan.

“Menarik,” katanya lembut.

“Bagaimana jika investor berkomitmen jangka panjang?”

“Komitmen diuji saat keuntungan tertunda,” jawab Martina. “Bukan saat kamera menyala.”

Ada riuh kecil. Herda menahan senyum. Raksana menoleh sekilas padanya, menangkap ekspresi itu. Catatan pertama, pikir Raksana. Ia berpihak.

Usai sesi, Raksana mengundang Martina ke ruang tamu privat.

“Terima kasih atas kejujurannya,” katanya.

“Kami ingin melibatkan praktisi seperti Anda dalam perumusan lanjutan.” Ia berhenti, menatap langsung. “Tentu, dengan dukungan yang memadai.”

Martina menjawab tenang. “Dukungan terbaik adalah menghormati batas alam.”

“Dan dialog,” tambah Raksana.

“Saya harap Anda bersedia berdialog lebih jauh.”

Di koridor, Herda menyusul. “Hai,” sapanya bersemangat tapi waspada. Selamat datang, kau bicara sangat jelas tadi,” katanya. Martina menoleh, ragu.

“Aku bicara untuk gunung,” jawabnya singkat. Jarak di antara mereka terasa—bukan dingin, melainkan dijaga.

Raksana mengamati dari kejauhan. Ia mendekati Herda kemudian, suaranya rendah. “Ia berpengaruh,” katanya seolah mengomentari presentasi. “Kau menghargai suara seperti itu.”

Herda menatapnya. “Saya menghargai kebenaran.”

“Bagus,” ujar Raksana.

“Kebenaran membutuhkan struktur agar bertahan.” Kalimat itu terdengar seperti nasihat, namun menyimpan sesuatu tersembunyi.

Malamnya, jamuan makan digelar. Nadine hadir, anggun, senyumnya terkendali. Ia memperkenalkan diri pada Martina dengan sopan dan hati-hati.

“Presentasimu kuat,” katanya. Martina membalas singkat.

“Terima kasih.”

Martina tahu perempuan dengan penampilan sempurna itu adalah Nadine yang disebut-sebut akan menikah dengan Herda. Ia tidak bisa menakar apakah perempuan itu tahu kedekatannya dengan Herda. Tapi ia tidak peduli. Tujuannya bukan itu.

Nadine mendekat dengan kepercayaan diri yang terlatih, menyelipkan lengannya ke lengan Herda seolah itu kebiasaan lama.

“Kau selalu lupa makan saat rapat,” katanya lembut, menyerahkan segelas air dengan senyum yang terukur. Ia tertawa kecil pada candanya sendiri, menyelaraskan langkah, nada suara, bahkan jeda napas—menciptakan ritme yang tampak serasi. Di hadapan Martina, Nadine berbicara tentang rencana, tentang kesinambungan, tentang visi bersama, seakan masa depan mereka sudah disepakati.

“Herda dan aku sepakat soal batas konservasi,” ujarnya, menoleh singkat pada Herda untuk konfirmasi yang datang sebagai anggukan sopan—cukup untuk menguatkan panggung yang ia bangun.

Kemudian Nadine memperkecil jarak, berbisik yang terdengar setengah publik setengah pribadi.

“Kau ingat malam itu kita menyusun ulang timeline?” katanya sambil tersenyum, menyiratkan kedekatan yang lebih dari profesional. Tangannya menyentuh punggung Herda sekilas—gestur ringan, namun bermakna—lalu ia menatap Martina dengan keramahan yang nyaris menantang. Herda menangkap sinyal itu, menahan diri agar tetap netral, sementara Nadine memelihara kesan keserasian: dua orang yang tampak saling memahami tanpa perlu menjelaskan.

Di ruang itu, rayuan Nadine bukan hanya ditujukan unuk dimengerti Martina, melainkan pada penonton lain juga—sebuah pernyataan sunyi bahwa ia hadir, sejalan, dan siap dipilih sebagai pasangan Herda. Martina terssenyum getir, perempuan itu sedang memancingku rupanya.

Percakapan mengalir, namun Raksana mengarahkan arusnya.

“Herda,” katanya,

“Bagaimana jika perusahaanmu mendukung pilot project konservasi yang dipaparkan Mbak Martina?” Semua mata beralih.

Herda menjawab tanpa ragu, “Saya terbuka, dengan syarat batasnya jelas dan warga dilibatkan.”

Raksana mengangguk puas—bukan pada isi jawaban, melainkan pada refleksnya. Titik lemah, ia menamai dalam hati. Empati.

Ketika acara usai, Raksana memanggil Herda.

“Kau lihat dampaknya,” katanya.

“Suara lapangan memberi legitimasi. Bayangkan jika dukungan itu berkelanjutan—stabil, terintegrasi.” Ia berhenti, memberi jeda. “Keluarga memberi stabilitas.”

Herda menatapnya lurus. “Stabilitas tidak lahir dari paksaan.”

“Tidak,” Raksana tersenyum tipis.

“Ia lahir dari kesepakatan.” Raksana kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Nadine masih menempel pada Herda.

Martina menggunakan kesempatan itu untuk pamit undur diri dan beristirahat. Besok pagi masih ada beberapa acara lanjutan. Herda tampak menahan diri dengan sikap Nadine. Lalu dengan tipu muslihat yang sempurna Nadine berhasil ditangani asistennya. Herda tak mau kehilangan kesempatan bersama Martina. Banyak hal harus diperbaiki.

Di hotel Herdanzia itu juga Martina menginap. Martina memandangi lampu kota dari balkon yang menghadap jalan raya. Ia tahu undangan ini tidak polos. Gerak-geriknya diawasi. Namun ia juga tahu, kata-katanya telah melintasi tembok. Jika mereka ingin menakarku, pikirnya, biarlah mereka juga mendengar.