Kamar hotel itu terlalu rapi untuk menampung kegelisahan Martina. Karpet tebal berwarna abu gelap meredam langkah, lampu temaram memantul lembut di dinding berpanel kayu, dan aroma samar teh putih bercampur linen bersih memberi kesan kemewahan yang dingin. Ranjang king-size dengan seprai putih tanpa kerut tampak seperti panggung yang menunggu, bukan untuk istirahat, melainkan pengakuan yang tak terucap. Di sudut ruangan, sofa beludru menghadap jendela besar—kaca dari lantai ke langit-langit—menawarkan pemandangan kota yang berkilau, kontras dengan gunung yang selalu Martina rindukan.
Ketukan di pintu terdengar pelan, seperti orang yang tahu bahwa satu langkah saja bisa mengubah banyak hal. Martina berdiri di balik pintu kamar hotel bintang lima itu, telapak tangannya menempel di daun pintu yang dingin. Ia tidak perlu melihat lubang pengintip. Detak jantungnya sudah mengenali siapa yang berdiri di luar sana.
Saat pintu terbuka, Herda berdiri dengan wajah yang tidak lagi membawa jarak. Tidak ada senyum bisnis, tidak ada topeng percaya diri. Hanya seorang lelaki yang tampak lelah, rindu, dan terlalu jujur untuk berpura-pura.
Martina mempersilakannya masuk tanpa kata. Ia tetap kokoh—punggung tegak, bahu terangkat—namun matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan: rindu yang dipaksa diam. Bagaimanapun, Herda telah mengambil hatinya sejak lama, dan ia belum pernah benar-benar meminta kembali.
Herda melangkah perlahan, seperti seseorang yang tahu betul kapan harus mendekat dan kapan harus berhenti. Martina merasakan perubahan udara di sekitarnya. Ia menegakkan bahu, refleks lama seorang gadis gunung yang terbiasa menghadapi badai, bukan tatapan lelaki.
“Kamu selalu bersiap untuk bertahan,” ujar Herda, suaranya rendah. “Bahkan ketika tidak ada yang menyerang.”
Martina mengangkat dagu. “Aku survival yang terbiasa menghadapi masalah sendirian.”
Herda berhenti tepat di hadapannya. Ia menyingkirkan sehelai rambut dari wajah Martina, ujung jarinya menyusuri pelipis, turun ke rahang—gerak pelan yang meminta izin di setiap sentimeter. Martina menutup mata, bukan menyerah, melainkan menikmati kendali yang dibagi.
“Kamu marah,” kata Herda akhirnya. Bukan pertanyaan.
“Aku selalu marah akhir-akhir ini,” jawab Martina dingin. “Itu tidak ada hubungannya denganmu.”
“Aku mengerti amarahmu,” lanjut Herda, suaranya lebih rendah. “Aku mengerti kekalutanmu. Tapi jangan berpura-pura kamu tidak merindukanku.”
“Kamu tidak perlu menjelaskan apapun,” kata Martina tanpa menoleh, suaranya datar namun tertahan. “Aku ke sini bukan untukmu.”
Martina tersenyum getir, “ Aku tahu undangan ini tidak murni, tapi ini salah satu cara efektif untuk bicara keluar tentang ekosistem yang selalu diincar untuk kepentingan pribadi dan bisnis. Aku tetap harus berterima kasih karena Pak Raksana dan putrinya yang cantik sudah berbaik hati menyelenggarakan acara ini.” Martina memberi tekanan berbeda pada kata cantik.
“ Kamu cemburu.” Tegas Hendra.
“ Aku khawatir tidak layak untuk itu.” Sahut Martina cepat.
Herda mendekat, perlahan. Martina tidak mundur. Waspada, ya. Menolak, tidak.
“Aku rindu padamu,” kata Herda. “Setiap hari.”
Kalimat itu mematahkan sesuatu. Martina menarik napas tajam. Ia ingin marah. Ia ingin menjaga jarak. Tapi tubuhnya mengingat lebih cepat dari pikirannya. Goa di gunung pernah mengajarinya tentang bertahan hidup—tentang kehangatan sebagai kebutuhan bertahan hidup atau mati. Tapi ini berbeda. Ini bukan tentang dingin yang mematikan. Ini tentang pilihan.
Herda mengangkat tangan, menyentuh lengan Martina—awal yang ragu, lalu mantap. Martina terkesiap kecil.
“ Maafkan jika aku seakan meninggalkanmu menghadapi segalanya sendirian. Perlu kau tahu, aku tidak pernah pergi. Hanya saja ada beberapa hal yang harus kuselesaikan. Pinalti terhadap perusahaan dan persoalan-persoalan lain harus segera di atasi. Dan itu menyita waktu. Dan menghadapi orang-orang yang mengincar lereng Arjuno lebih mudah kuhadapi dari sini. Aku harus mengatur momentum untuk membakar sarang ketika mereka pergi ekspansi. Bersabarlah sedikit lagi.” Panjang lebar Herda menjelaskan.
“ Kita berdua tidak berada dalam situasi memiliki kewajiban untuk bersabar atau memberi penjelasan.”
Martina tetap bertahan, dagunya terangkat, meski dadanya naik-turun lebih cepat. Ia menyembunyikan kecemburuan—bayangan perempuan kota yang selalu di sisi Herda—dengan ketegaran yang dipaksakan.
“Jangan berpura-pura ini hanya soal prinsip,” kata Herda lirih. “Ada luka lain di matamu.”
Martina berbalik ke jendela. Lampu kota menari di kaca, memecah pantulan wajahnya. “Kamu tidak berhak meganalisisku,” katanya. Namun suaranya melemah—cukup bagi Herda untuk tahu ia menyentuh sesuatu yang benar.
Hening merayap. AC berdengung halus. Herda berdiri di belakangnya, cukup dekat untuk merasakan kehangatan tanpa menyentuh. “Aku ingin memperbaiki ini,” katanya. “Bukan proyek, tapi kita.”
Martina tertawa pendek. “Kita?” Ia berbalik. “Kata itu mudah diucapkan ketika kamu tidak berada dalam posisi terancam.”
Herda melangkah dan berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka sempit—cukup untuk membuat Martina sadar pada perbedaan dunia mereka. Pria kota yang terbiasa menguasai ruang. Gadis gunung yang terbiasa menguasai dirinya sendiri.
“Kamu datang ke sini untuk Arjuno,” kata Herda. “Tapi kamu membawa hatimu juga.”
Martina hendak menjawab, namun Herda lebih dulu mengangkat tangannya—isyarat diam, bukan ancaman. Gerakan itu sederhana, tapi efektif. Martina terdiam. Ia membenci fakta bahwa ia menurut.
Herda mendekat setengah langkah lagi. Kini Martina bisa mencium aroma tubuhnya—bersih, hangat, terlalu dekat. Tangannya yang lain menyentuh sisi leher Martina, ibu jarinya berhenti tepat di bawah rahang, bergerak pelan, menenangkan. Martina menggigit bibir, menahan suara yang nyaris lolos. Ini bukan goa. Tidak ada dingin yang harus dilawan. Ini adalah panas yang harus dipilih. Martina terjebak di antara dua keinginan: menolak dan meraih. Amarah dan rindu saling tarik-menarik. Cemburu berbaur dengan cinta yang belum selesai.
Herda mendekatkan wajahnya, berhenti tepat sebelum bibir mereka bersentuhan. Jeda itu menyiksa. Martina bisa merasakan panasnya, bisa menghitung detik, bisa memilih mundur—tapi ia tidak melakukannya. Herda mencium sudut bibirnya. Bukan ciuman penuh. Sekadar sentuhan singkat. Namun Martina terkesiap, napasnya pecah. Tangannya mencengkeram kemeja Herda—bukan menarik, hanya memastikan ia tetap di sana.
Herda tersenyum tipis atas respon Martina. Ia memiringkan tubuh, menghadapi Martina sepenuhnya. Tatapan mereka bertaut lama. Terlalu lama. Ia mencium Martina lagi, lebih lama kali ini—masih terjaga, masih tertahan. Tangannya turun ke punggung Martina, menahannya agar tetap tegak.
Herda tidak lagi menunggu. Ia merapatkan jarak hingga napasnya yang hangat menerpa leher Martina, membuat bulu kuduk perempuan itu meremang. Tangan Herda yang tadi hanya diam di pinggang, kini bergerak perlahan naik, merasakan lekuk punggung Martina di balik baju tidur yang tipis. Sentuhan itu tidak terburu-buru, melainkan menuntut kesadaran penuh.
Martina mendongak, matanya mencari kepastian di mata Herda. Ia menemukan keinginan yang sama besarnya dengan rasa hormat lelaki itu. Saat bibir mereka bertemu kembali, kali ini tidak ada lagi keraguan. Ciuman itu dalam dan mendalam, membawa rasa pahit dari amarah yang belum tuntas dan rasa manis dari kerinduan yang selama ini dipendam di puncak-puncak gunung yang sunyi.
Tangan Martina yang tadinya kaku di dada Herda, kini meremas kemeja lelaki itu, menariknya lebih dekat seolah ingin melenyapkan ruang yang tersisa. Ia bisa merasakan detak jantung Herda yang berpacu keras melawan telapak tangannya—sebuah irama liar yang jujur, jauh lebih jujur daripada kata-kata diplomatis yang biasa Herda ucapkan.