Talkshow tentang konservasi itu berakhir dengan tepuk tangan panjang dan senyum-senyum resmi yang dibuat terlalu ramah.. Martina turun dari panggung dengan dada masih berdebar—bukan oleh euforia, melainkan oleh beban yang tak kunjung lepas. Di aula kota yang dingin oleh pendingin udara, ia kembali bersalaman dengan Tuan Raksana, pria dengan jas rapi dan mata yang selalu tampak menghitung sesuatu. Kamera-kamera berkilat. Senyum difoto. Jabat tangan dibingkai dari berbagai sudut. Martina tak menyangka, kilatan-kilatan lampu kamera itulah yang kelak menjadi pisau.
Beberapa jam setelah acara, forum warga Lereng Arjuno yang biasanya sepi mulai riuh. Foto-foto Martina berdiri di samping Tuan Raksana tersebar cepat—dipotong, diberi keterangan, disusun ulang seperti potongan kebenaran yang sengaja dipatahkan. Dalam satu unggahan, terlihat Martina mengangguk saat Raksana berbicara; dalam unggahan lain, mereka tampak tertawa kecil, seolah ada kesepakatan rahasia yang baru saja diraih.
Caption-nya kejam dan licik: “Aktivis kita sudah setuju. Ada lahan konservasi di area villa dan ressort. Semua demi kemajuan.”
Padahal Martina tahu persis—dan pernah mengatakannya berulang kali—bahwa tidak ada kesepakatan jika konservasi hanyalah konsep konservasi sempit, koridor hijau yang nyaris simbolis dibandingkan peta luas yang disodorkan Raksana: hamparan villa, jalan akses, dan ressort yang memakan napas lereng. Konservasi itu, dalam rencana Raksana, hanyalah pita hijau untuk menenangkan nurani dan memuluskan izin.
Di balai desa, suasana mengental seperti kabut turun. Warga berkumpul, saling berbisik, saling memandang dengan kecurigaan yang baru tumbuh. Nama Martina disebut dengan nada yang berbeda—tak lagi penuh percaya.
“Kalau benar menolak, kenapa fotonya begini?” “Katanya pejuang alam, tapi berdiri sebelah investor.” “Uang suap itu licin, Mas. Tak kelihatan tapi terasa.”
Kepulangan Martina dari Jakarta tampak tidak disambut. Warga memalingkan muka. Selang beberapa waktu Pak Kades menelpon dan meminta kejelasan. Pak Kades merasa kewalahan dengan desakan kejelasan dan protes dari warga.
“ Tau begini dulu kita terima saja kesepakatan dengan Pak Herda. Jelas-jelas uangnya lebih tinggi.” Cibir seorang warga.
Martina datang secepat mungkin ke balai desa. dengan napas terengah, rambutnya diikat seadanya. Ia berdiri di tengah kerumunan dan mencoba menjelaskan. Suaranya tegas, meski tenggorokannya kering.
“Foto-foto itu menipu. Saya tidak pernah menyetujui pembangunan besar. Konservasi yang dibicarakan sangat terbatas, dan—”
“Ah, itu alasan!” sergah seorang lelaki dari barisan belakang, suaranya lantang, memecah fokus. “Kalau memang menolak, kenapa tertawa-tawa dengan Pak Raksana?”
Seorang perempuan menyela, nadanya menyayat. “Kami ini orang gunung, Martina. Jangan dibodohi. Kami tahu kau paling cerdas dan mencintai tempat ini, tapi kalau sudah ada uang, mulut bisa berubah.”
Martina mencari wajah-wajah yang dulu berdiri bersamanya. Ada yang menunduk. Ada yang ragu. Ada pula yang menatap dingin, seolah pengkhianatan sudah menjadi vonis.
Ia mencoba lagi, lebih keras, lebih jelas. “Saya bersedia membuka semua catatan pertemuan. Kita bisa undang jurnalis independen. Jangan percaya potongan foto yang diedit.”
Tapi di antara kerumunan, ada orang-orang yang bukan warga—gerak-geriknya terlalu sigap, tatapannya terlalu siap. Mereka menyebar kalimat yang sama, berulang-ulang, seperti paku ditancapkan: Martina sudah setuju. Martina makan uang. Martina menjual gunung.
Provokasi bekerja lebih cepat daripada klarifikasi.
Sore itu, Martina pulang dengan langkah goyah. Rumahnya terasa asing. Telepon genggamnya bergetar tanpa henti—pesan, panggilan tak dikenal, ancaman halus yang dibungkus sindiran. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar yang menyala. Jemarinya gemetar saat membuka media sosial.
Di sana, sebuah kabar lain meledak—berkilau dan mematikan: foto pertunangan Nadine dan Herda. Senyum mereka rapi, cincin memantulkan cahaya, ucapan selamat berderet seperti hujan confetti digital. Judulnya manis, isinya final.
Martina merasakan dada yang selama ini ia kuatkan runtuh perlahan. Ia membutuhkan Herda—bukan sebagai pelindung semata, melainkan sebagai jangkar kebenaran. Orang yang tahu betul bagaimana ia berdiri, bagaimana ia menolak, bagaimana ia bertahan. Tapi kabar itu seperti pintu tertutup rapat di depannya. Ia menutup mata, menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kendali. Di luar, gunung berdiri diam, setia pada garis-garisnya, tak peduli pada kebisingan manusia. Martina membuka mata dan menatap jauh ke luar jendela.
“Aku belum kalah,” bisiknya, lebih kepada diri sendiri.
Malam turun membawa dingin dan tekad. Jika foto-foto bisa berbohong, maka ia akan memaksa kebenaran berbicara lebih keras. Ia mulai menyusun langkah—menghubungi jaringan aktivis, menyiapkan bukti, menelusuri siapa saja yang menyelinap sebagai provokator. Raksana mungkin lihai memainkan bayangan, tetapi bayangan selalu bergantung pada cahaya.
Di tengah badai tuduhan dan patah hati, Martina berdiri sendirian—terpojok, ya. Namun di tanah yang ia cintai, ia telah belajar satu hal: lereng yang terjal tak pernah runtuh oleh satu hujan. Ia bertahan. Dan fajar, cepat atau lambat, selalu datang.
Ponsel Martina berdering di atas meja kayu. Getarnya merambat ke dalam sunyi kamar seperti denyut yang tak diundang. Nama itu muncul—Herda—bersinar sebentar, lalu meredup, bersinar lagi, seolah memohon.
Martina menatapnya tanpa bergerak.
Ia tahu, jika diangkat sekarang, benteng yang sedang ia bangun dengan susah payah akan runtuh. Ada hal-hal yang perlu ia tata sendiri terlebih dahulu—retakan yang harus ia semen, pintu yang harus ia kunci dari dalam. Bukan karena Herda salah sepenuhnya, sama seperti foto-fotonya yang dipalsukan, foto Herda dan Nadine juga mungkin demikian. Tapi ia sedang tidak memiliki energi untuk apapun, juga mendengarkan penjelasan Herda. Saat ini ia terlalu rapuh untuk mendengar suara itu. Terlalu banyak luka yang masih basah.
Derit getar berhenti. Sunyi kembali mengambil alih.
Martina menyandarkan punggung ke dinding, menarik napas panjang yang berat. Dunia seolah menyempit, menekan dari segala arah—fitnah warga, bayang-bayang Raksana, foto-foto yang berbohong, dan kabar pertunangan yang menutup satu-satunya pintu tempat ia bisa bersandar. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya terpuruk. Air mata jatuh tanpa suara, menyerap ke kain bajunya.
Ia memejamkan mata, dan kenangan datang seperti angin gunung yang dingin. Ayah dan ibunya. Senyum mereka yang sederhana. Tangan ayah yang kasar oleh kerja tanah, dan suara ibu yang selalu menenangkan setiap kali hujan turun terlalu lama. Mereka telah lama pergi—ditelan longsor karena pohon-pohon yang ditebangi—namun kepergian itu tak pernah benar-benar memutuskan ikatan.
“Aku di sini,” bisik Martina, suaranya nyaris menyatu dengan napas.
Di luar jendela, lereng Arjuno terhampar dalam gelap, garis-garisnya samar namun tegas. Gunung itu ada—diam, kokoh, setia. Ia seperti pelukan raksasa yang tak pernah menuntut apa pun, hanya memberi ruang untuk berdiri kembali. Martina merasa, dengan cara yang tak bisa dijelaskan, bahwa kedua orang tuanya ada di sana—dalam batu-batu yang menahan tanah, dalam akar-akar yang menggenggam lereng, dalam aroma basah yang selalu datang setelah hujan.
Gunung ini selalu memeluknya.
Ia bangkit perlahan, menghapus air mata, dan meraih jaket lusuh yang biasa ia pakai saat naik ke kebun. Di saku, ada batu kecil yang dulu diambil ayahnya dari sungai—tak istimewa, tapi selalu ia bawa. Martina menggenggamnya erat, merasakan dingin yang menenangkan.
Ponsel di meja kembali bergetar. Ia mematikannya.
“Beri aku waktu,” katanya pada udara, pada kenangan, pada dirinya sendiri.
Di hadapan badai, Martina tahu satu hal: ia bukan sendirian. Selama gunung berdiri dan kenangan orang tuanya bernaung di hatinya, ia akan menemukan cara untuk bangkit—membangun bentengnya kembali, setahap demi setahap, hingga suatu hari ia siap membuka pintu, dengan kebenaran sebagai senjatanya.
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form