Rombongan itu datang seperti iring-iringan pamer kekuasaan. Mobil-mobil hitam berkilap berhenti berderet di bibir Lereng Arjuno, memantulkan cahaya pagi yang pucat. Tuan Raksana turun paling depan, jasnya rapi, senyumnya ramah tapi mengintimidasi. Di sisinya, Nadine melangkah anggun—sepatu bot bersih yang tak mengenal lumpur, kacamata hitam besar menyembunyikan tatapannya. Di belakang mereka, anak buah bergerak sigap, membawa peta gulungan, tablet, dan kamera. Wartawan menyusul, mikrofon menjulur, lensa mengintai.
Inilah lokasi yang dulu pernah digambar Herda—garis-garis rencana villa dan ressort yang menempel di punggung gunung seperti mimpi yang belum sempat diuji nurani. Kini mimpi itu dihidupkan kembali, dengan panggung yang lebih besar dan suara yang lebih bising.
Pak Kades menyambut dengan senyum yang tertahan. Wajahnya menampakkan gelisah yang tak bisa disembunyikan oleh salam formal. Perangkat desa berdiri berjajar, beberapa menunduk, beberapa menatap kosong ke lereng, seolah berharap gunung tiba-tiba berbicara dan membela mereka. Tak ada sorak. Tak ada sambutan hangat. Hanya kewajiban yang dipaksakan oleh keadaan.
“Terima kasih atas penerimaannya,” kata Tuan Raksana lantang, suaranya mengalir tenang, seolah ia telah lama menjadi bagian dari tanah ini. Ia melirik kamera, memastikan semua mata tertuju. “Saya selalu percaya, kemajuan harus berjalan seiring dengan kearifan lokal.”
Kata-kata itu melayang ringan, tak menyentuh tanah.
Rombongan bergerak menyusuri jalur setapak. Raksana membuka peta, menunjuk garis-garis dengan ujung pena.
“Di sini akses utama. Di sana area penginapan. Kita sisakan ruang hijau—konservasi—sebagai komitmen moral.” Ia berhenti sejenak, menoleh ke warga yang mulai berkumpul. “Dan semua ini—” ia tersenyum lebih lebar, “—telah dibicarakan dengan para pegiat lingkungan setempat.” Nama itu kemudian dilontarkan seperti hadiah beracun. “Martina.”
Beberapa kepala terangkat. Bisik-bisik mengeras. Raksana melanjutkan, suaranya penuh sanjungan yang dibuat-buat. Ia memuji keberanian Martina, kepeduliannya pada alam, visinya yang katanya “sejalan” dengan rencana ini. Nadine berdiri di sampingnya, sesekali mengangguk, wajahnya netral namun mata itu—di balik kacamata—tajam menghitung reaksi.
“Beliau memahami bahwa konservasi tak berarti menolak pembangunan,” tambah Raksana, menekan kata memahami seperti paku terakhir. “Justru mengarahkan pembangunan agar bermanfaat bagi warga.”
Warga saling pandang. Ada yang mengernyit. Ada yang mengangguk pelan—bukan karena yakin, melainkan karena sanjungan itu terdengar meyakinkan bila diulang di depan kamera. Seorang wartawan mengangkat mikrofon. “Apakah benar sudah ada kesepakatan?”
“Prinsipnya, ya,” jawab Raksana cepat. “Kami sepakat pada garis besar.”
Di sudut kerumunan, seseorang menyela dengan suara keras—asing namun penuh keyakinan. “Kalau sudah sepakat, ngapain ditahan-tahan? Kita butuh kerja. Butuh uang.”
Provokator itu seperti percikan. Api segera menjalar. “Iya!” “Sudah jelas!” “Kalau Martina setuju, kenapa kita ragu?”
Pak Kades hendak bicara, tapi suaranya tenggelam. Perangkat desa saling berpandangan, keringat dingin membasahi pelipis. Raksana membiarkan kegaduhan tumbuh, lalu mengangkat tangan seolah menenangkan. “Tenang. Semua akan transparan. Kami tak ingin ada yang dirugikan.”
Sementara itu, sanjungan demi sanjungan terus diulang—cukup manis untuk menipu, cukup sering untuk menjadi kebenaran baru. Nama Martina dipoles dan dipakai sebagai stempel. Setiap pujian adalah dorongan halus agar warga lebih mudah menyerahkan asetnya, agar kebencian menemukan sasaran yang tepat.
Di kejauhan, gunung berdiri tak tergerak. Akar-akar mencengkeram tanah, menahan lereng dari godaan yang berkilau. Namun di antara manusia, retakan telah terbentuk. Dan di atas retakan itu, Tuan Raksana melangkah ringan—meyakini bahwa bila Martina bisa diposisikan sebagai pengkhianat yang “sudah setuju,” maka sisanya hanyalah urusan waktu.
Kerumunan semakin padat ketika rombongan berhenti di sebuah tanah lapang yang dulunya kebun kentang milik warga. Di sanalah, menurut peta Herda bertahun lalu, akan berdiri bangunan utama ressort—titik pandang terbaik ke lembah. Raksana berdiri di tengah, seperti dirigen yang mengatur irama, sementara wartawan membentuk setengah lingkaran, kamera mengunci setiap geraknya.
“Di titik ini,” katanya sambil menginjak tanah dengan sepatu mengilap, “kami rencanakan pusat kegiatan. Lapangan kerja akan terbuka. Anak-anak muda tak perlu lagi turun ke kota.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang sengaja diturunkan, seolah berbagi rahasia, “Ini juga yang menjadi perhatian Mbak Martina. Beliau ingin anak-anak Arjuno punya masa depan di tanahnya sendiri.”
Nama itu lagi. Seorang ibu tua di barisan depan menghela napas keras.
“Kalau begitu, kenapa dia tak datang sendiri menjelaskan?” tanyanya, suara serak oleh usia dan kecurigaan.
Raksana tersenyum simpati. “Beliau sedang sibuk dengan agenda lingkungan. Kita harus maklum.” Ia menoleh ke kamera, lalu ke warga. “Namun saya berani bertanggung jawab atas apa yang telah kami bicarakan.”
Di belakang, Nadine melangkah maju setengah langkah. Untuk pertama kalinya ia bicara, suaranya lembut dan terukur.
“Kami datang dengan niat baik. Tak ada paksaan. Semua keputusan ada di tangan Bapak-Ibu.” Tangannya menunjuk ke arah peta konservasi yang digulung terpisah. “Area hijau ini akan kami jaga.”
Wartawan mencatat. Kamera merekam. Kalimat-kalimat itu akan keluar dari konteksnya nanti, bersih dan meyakinkan. Seorang pemuda menyela, nada suaranya bergetar antara harap dan marah.
“Tapi kalau menolak, apa yang kami dapat? Harga tanah sekarang malah turun.”
Raksana mengangguk, seolah memahami penderitaan itu.
“Pasar memang kejam,” katanya.
“Justru karena itu, kami hadir dengan penawaran yang pasti.” Ia menyebut angka—cukup tinggi untuk menggoda, cukup rendah dibanding nilai jangka panjang.
Beberapa warga saling pandang; iming-iming itu terasa nyata di tengah kebutuhan.
Pak Kades kembali mencoba masuk.
“Soal kesepakatan, kami belum—”
“Pak Kades,” potong Raksana halus namun tegas,
“kita bicara niat baik. Administrasi bisa menyusul.” Senyumnya tak pudar.
Provokator-provokator bergerak. Ada yang berbisik di telinga warga, ada yang bersuara lantang menuduh Martina menghilang karena takut.
“Kalau tak salah, kenapa sembunyi?” Kalimat itu berulang, mengendap seperti racun.
Di pinggir lapangan, seorang wartawan mendekat ke Nadine. “Benarkah Mbak Martina sudah sepakat?”
Nadine mengangguk kecil.
“Pada prinsipnya, ya.” Jawaban itu ringan, tak bisa dipelintir sebagai kebohongan terang—cukup ambigu untuk menjadi bahan berita.
Sore merayap. Rombongan bersiap pergi. Raksana menutup kunjungan dengan pidato singkat yang kembali menyanjung Martina—kini dengan nada final, seolah kesepakatan sudah mengeras menjadi fakta. Tepuk tangan terdengar, tipis dan tak serempak, namun cukup untuk terekam kamera.
Ketika mobil-mobil hitam itu menjauh, yang tertinggal adalah kebingungan dan bara. Warga pulang membawa selebaran dan angka, juga kemarahan yang mencari alamat. Nama Martina bergaung di jalan setapak, di warung kopi, di teras rumah—bukan lagi sebagai penjaga lereng, melainkan simbol pengkhianatan yang diciptakan. Dan di atas semua itu, Lereng Arjuno tetap diam—menyimpan rahasia tanahnya, menunggu apakah manusia akan belajar, atau kembali mengulangi kesalahan yang sama.
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form