Malam menutup Lereng Arjuno dengan dingin yang tak ramah. Di sebuah hotel kecil di kaki gunung—terlalu bersih untuk desa, terlalu sepi untuk kota—Nadine duduk di tepi ranjang, sepatu mahalnya tergeletak sembarang. Riasannya masih utuh, tetapi wajahnya kehilangan kendali. Malu dan marah bercampur menjadi satu, menggerus sisa kepercayaan dirinya. Untuk pertama kalinya, ia dipermalukan tanpa bisa membalas.
Ia menghempaskan ponsel ke kasur. “Cari sesuatu,” perintahnya singkat pada salah satu anak buah. “Sekarang.”
Tak perlu dijelaskan apa. Di kota, perintah seperti itu selalu berakhir cepat—uang bekerja, pintu terbuka. Tapi ini bukan kota. Ini lereng, dengan jalur sempit dan mata yang terbiasa membaca gerak. Anak buahnya keluar, membawa kegelisahan yang tak bisa ia ucapkan.
Waktu merayap. Di luar jendela, angin gunung berdesir, membawa bau tanah dan daun. Nadine menuang minuman, meneguk tanpa rasa. Ia ingin menumpulkan kepala, membungkam gema tawa yang tadi tak pernah ada, dan tatapan warga yang tak goyah. Ia ingin kembali merasa berkuasa.
Barang itu akhirnya datang—dibawa kurir yang terlalu cepat menunduk, terlalu tergesa menoleh. Anak buah Nadine membayar, menutup pintu. Musik dinyalakan. Tawa dipaksakan. Pesta dimulai dengan kebisingan yang salah tempat—terlalu keras untuk desa yang mengenal sunyi.
Yang Nadine tak tahu: pergerakan narkoba di Arjuno sempit, seperti jalan setapaknya. Orang asing mudah terbaca. Kurir itu sudah lama dicurigai. Malam ini, langkahnya dibuntuti—jarak aman, sabar. Polisi bergerak tanpa sirene, tanpa gegabah.
Di kamar, Nadine tertawa terlalu keras, lalu terdiam terlalu lama. Rasa aman yang biasa menyelimutinya di kota—telepon ke kenalan, amplop, janji—tak ada di sini. Ketika ketukan pintu terdengar, jantungnya melompat. Anak buah saling pandang. Ketukan kedua lebih tegas.
“Polisi. Buka pintu.”
Waktu membeku. Seseorang berusaha menyembunyikan barang, sia-sia. Pintu terbuka. Lampu dinyalakan. Pertanyaan datang beruntun, tenang, resmi. Kurir sudah diamankan di bawah. Nama Nadine disebut—bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pihak yang terseret.
Ia mencoba berdiri tegak. “Ini salah paham,” katanya cepat. “Kalian tahu siapa aku?”
Tak ada yang gentar. Tidak ada yang menawar. Borgol mengilap di bawah lampu putih. Di kota, ia selalu aman—tak tersentuh. Di sini, hukum tidak mengenal reputasi.
Di kantor polisi, malam terasa panjang. Telepon disita. Percakapan dicatat. Ketika ia mencoba menyelipkan uang, petugas menggeleng pelan. “Bukan kami,” katanya singkat. “Ini akan dilimpahkan.”
Nama badan itu disebutkan—Badan Narkotika. Nadine merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya. Bukan takut pada jeruji semata, melainkan pada kenyataan bahwa kendali telah lepas.
Fajar menyelinap saat ia dibawa pergi. Di luar, gunung berdiri diam—tak menghakimi, tak memaafkan. Hanya ada akibat yang menemukan jalannya. Nadine menatap ke depan, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, ia memahami arti wilayah yang tak bisa dibeli.
Di kejauhan, desa mulai bergerak dengan rutinitasnya. Di sana, pilihan telah dibuat dan dijaga. Di sini, sebuah pesta yang salah tempat berakhir menjadi perkara. Dan bagi Nadine, malam itu menandai retakan pertama—retakan yang tak bisa ditutup dengan uang atau nama.
Pagi merambat masuk ke ruang pemeriksaan dengan cahaya pucat. Nadine duduk kaku, rambutnya masih berantakan, matanya bengkak oleh sisa amarah dan zat yang belum sepenuhnya meninggalkan tubuhnya. Selimut tipis menutupi bahunya, tetapi dingin tetap merayap—dingin yang bukan datang dari udara, melainkan dari kenyataan bahwa untuk pertama kalinya, nama ayahnya tidak mampu menjadi perisai.
Pertanyaan demi pertanyaan datang tenang, hampir sopan. Jalur barang. Siapa yang memberi perintah. Siapa yang membayar. Nadine mencoba bertahan pada satu garis: ini kesalahannya sendiri, pesta bodoh, luapan emosi. Tapi setiap kali penyidik menyebut kata jaringan, dadanya mengencang.
“Saudari Nadine,” kata seorang perwira dengan suara datar, “kami perlu klarifikasi hubungan Anda dengan Tuan Raksana.”
Itu bukan tuduhan. Itu undangan pada kejujuran yang telanjang.
Nadine terdiam. Ayahnya selalu mengajarkannya satu hal: jangan pernah menyebut keluarga dalam urusan kotor. Keluarga adalah benteng, bukan umpan. Namun di ruangan itu, benteng terasa jauh. Ia menggeleng pelan.
“Beliau tidak tahu,” jawabnya akhirnya, suaranya serak. “Ini… urusan saya.”
Kata-kata itu dicatat.
Di waktu yang hampir bersamaan, di kota, Raksana menerima kabar dari orang kepercayaannya. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Ia mendengarkan dengan kepala sedikit miring, jari-jarinya bertaut di atas meja kerja yang rapi. Putrinya ditahan. Kurir tertangkap. Aparat daerah bergerak cepat. Badan narkotika ikut turun tangan.
“Pastikan prosedur diikuti,” katanya pelan. “Tidak ada intervensi yang mencolok.”
Asistennya terkejut sesaat. “Tapi, Pak… Nadine—”
“Justru karena dia anak saya,” potong Raksana, suaranya tetap tenang,
“Kita tidak boleh membuat kesan ada perlindungan. Kesan lebih berbahaya daripada hukuman.”
Itulah Raksana: ayah yang mencintai dengan jarak, dan taipan yang memahami bahwa kuasa bekerja paling efektif saat tak terlihat. Ia memerintahkan semua aktivitas di lereng dihentikan sementara. Tidak ada kunjungan. Tidak ada tekanan. Tidak ada narasi. Arjuno, untuk saat ini, dibiarkan bernapas.
Di kantor badan narkotika, berkas Nadine disandingkan dengan data lama—alur distribusi kecil yang selama ini hanya tampak seperti serpihan. Lereng, ternyata, bukan tempat yang ramah bagi peredaran. Jalurnya sempit, warganya saling mengenal, dan satu wajah asing mudah terbaca. Kesalahan Nadine adalah mengira desa bisa diperlakukan seperti kota.
Kabar penahanan itu sampai ke desa tanpa sorak. Warga hanya saling pandang, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing. Pak Kades menghela napas panjang.
“Ini bukan kemenangan,” katanya pelan. “Ini peringatan.”
Martina mendengar kabar itu di kebun. Tangannya berhenti sejenak, menggenggam tanah. Ia tidak merasa lega. Ia justru merasa lelah—oleh betapa mudahnya kuasa melukai, dan betapa mahal harga untuk bertahan jujur. Ia tahu, badai belum sepenuhnya pergi. Hanya arah anginnya yang berubah.
Herda, dari jauh, mengirim pesan singkat: Jaga diri. Jangan sendiri. Martina membaca, lalu menyimpan ponselnya. Ia menatap gunung, punggung yang tegak, seolah menjawab dengan diam.
Di ruang tahanan sementara, Nadine menatap dinding. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan cara keluar. Ia memikirkan ayahnya—bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai bayangan panjang yang memilih berhenti melangkah lebih dekat. Ia menyadari sesuatu yang pahit: kekuasaan ayahnya mampu menunda banyak hal, tapi tidak bisa menghapus jejak.
Raksana menutup hari dengan satu keputusan sunyi. Proyek di Arjuno akan ditata ulang—lebih halus, lebih bersih, atau tidak sama sekali. Reputasi lebih mahal daripada tanah. Dan putrinya, meski dicintai, harus belajar bahwa nama besar bukan jaminan di tanah yang masih percaya pada kebenaran. Di luar, hujan turun perlahan. Di desa, malam datang dengan tenang. Bab ini menutup satu pintu—dan membuka pintu lain, tempat kebenaran mulai menemukan jalannya sendiri.
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form