Drama #Romance

5. Bibit yang kurang

Penulis Xiao
16 September 2025

Keranjang di tangan Yui terasa berat. Penuh dengan bibit sayuran, bunga, dan beberapa peralatan berkebun yang baru saja ia beli di pasar. Meskipun lengannya pegal, ada rasa puas terselip di wajahnya. Yui bisa membayangkan rumah kaca tua di samping rumahnya kembali penuh warna, dengan daun-daun segar yang tumbuh perlahan. Yui menuntun sepedanya melewati jalan berbatu kecil yang mengarah keluar pasar. Suasana masih ramai, suara pedagang dan pembeli bercampur menjadi riuh rendah. Ia baru saja hendak menyeberang ketika matanya menangkap sosok yang familiar.

Haruto.

Haruto tampak sedang menurunkan beberapa kardus besar dari bak truk kecil di depan sebuah toko bahan makanan. Yui spontan menunduk, berharap tak terlihat. Namun tentu saja, suara langkahnya dan keranjang penuh bibit tak bisa disembunyikan.

“Yui?” Suara Haruto terdengar jelas, penuh keterkejutan sekaligus kegembiraan.

Yui berhenti di tempat. Tidak ada jalan untuk menghindar lagi. Ia menoleh perlahan. “Ah… Haruto. Kau di sini rupanya.”

Haruto tersenyum lebar sambil menaruh kardus terakhir di depan toko. “Aku sering diminta membantu mengantar barang ke sini. Kau baru saja belanja di pasar?”

“Ya…” Yui mengangkat sedikit keranjangnya, berusaha terdengar biasa saja. “Aku membeli beberapa bibit dan alat untuk rumah kaca.”

“Boleh kulihat?” tanya Haruto sambil melangkah mendekat.

Dengan sedikit ragu, Yui membuka keranjang. Haruto menunduk, memerhatikan isi: pot kecil berisi tomat, selada, bayam, bunga matahari, juga cangkul baru yang masih terbungkus kertas cokelat.

“Lumayan juga,” gumam Haruto sambil mengangguk. “Tapi…” Ia menatap Yui serius, seolah menemukan sesuatu yang janggal.

“Apa?” Yui mengerutkan alis, merasa ada yang salah.

“Masih ada yang kurang.”

Yui menegakkan tubuhnya, setengah bingung. “Kurang? Aku sudah membeli banyak hal. Ini bahkan terasa lebih dari cukup untukku sendiri.”

Haruto tertawa kecil. “Kau terlalu fokus pada rumah kaca. Padahal halaman belakang rumahmu cukup luas. Sayang kalau hanya dibiarkan kosong. Kau bisa menanam beberapa tanaman penting di sana.”

“Tanaman penting?” ulang Yui, masih ragu.

“Ya,” jawab Haruto mantap. “Pertama, jagung. Hasil panennya bisa disimpan lama, bahkan sepanjang tahun. Sangat berguna, apalagi kalau kau ingin lebih mandiri.”

Yui terdiam. Ia tidak terpikir sejauh itu.

“Lalu bawang bombai dan tomat sayur,” lanjut Haruto. “Dua bahan ini dasar dari banyak masakan. Hampir semua sup, tumisan, atau saus butuh keduanya. Kalau punya di kebun sendiri, kau tidak perlu repot membeli.”

“Tomat sayur… berbeda dengan bibit tomat yang kubeli tadi?” tanya Yui hati-hati.

Haruto mengangguk. “Yang kau beli itu tomat kecil untuk rumah kaca. Rasanya manis, enak dimakan langsung. Tapi tomat sayur lebih besar, cocok untuk dimasak. Perawatannya mudah, hanya saja mereka agak sensitif terhadap hujan. Aku bisa membantumu menyiapkan tempat yang pas supaya tidak cepat busuk.”

Nada yakin dalam suara Haruto membuat Yui sedikit canggung. Yui menunduk, pura-pura sibuk mengatur keranjang. “Aku… belum tentu bisa merawat semuanya.”

“Kau bisa,” balas Haruto cepat. “Aku akan membantumu.”

Yui mendongak, menatap Haruto. Ada ketulusan di matanya, membuat kata-kata itu sulit ditolak.

Haruto melanjutkan, suaranya lebih lembut. “Selain itu, kau juga sebaiknya menanam kabocha atau labu manis. Sama seperti jagung, masa simpannya lama. Rasanya enak untuk sup di musim dingin. Lalu taro. Tanaman ini cocok ditanam di tanah berpasir seperti di halaman depan rumahmu. Mudah dirawat, hasil panennya juga bisa tahan lama.”

Yui terdiam lama, memikirkan semua yang Haruto katakan. Ia merasa seolah daftar panjang baru terbuka di hadapannya, sesuatu yang bahkan tidak ia pertimbangkan sebelumnya.

“Aku tidak tahu…” gumamnya pelan.

Haruto tersenyum kecil. “Itulah gunanya aku di sini, kan? Untuk memberi tahu hal-hal yang mungkin kau lupakan.”

Ada jeda hening. Yui menunduk, pipinya merona samar. Ia tidak tahu harus membalas dengan apa. Akhirnya ia hanya berkata, “Kalau begitu… aku akan kembali ke pasar. Membeli bibit yang kau sarankan.”

“Aku bisa menemanimu,” tawar Haruto.

“Tidak perlu.” Yui buru-buru menolak, meski nada suaranya tidak sekeras biasanya. “Aku bisa sendiri.”

Haruto tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu mengangkat tangannya seolah memberi semangat. “Kalau begitu, jangan lupa beli jagung, bawang bombai, tomat sayur, taro, dan kabocha. Aku janji akan membantumu menyiapkan tanahnya nanti.”

Yui mengangguk singkat, lalu berbalik menuntun sepedanya kembali ke arah pasar. Hatinya masih berdebar, bukan karena keramaian pasar, melainkan karena kata-kata Haruto yang begitu yakin. Untuk pertama kalinya, Yui merasa tidak sepenuhnya sendiri dalam membangun awal baru di rumah peninggalan keluarganya.

…

Yui berdiri di depan jendela kamarnya, tertegun. Hamparan putih kembali menyelimuti tanah, atap, dan jalan setapak. Salju turun dengan lebat sepanjang malam, menutupi semua yang kemarin mulai terlihat hijau.

“Tidak mungkin…” ucap Yui panik, tubuhnya menegang.

Pikiran pertama yang menghantamnya bukanlah jalanan licin, atau atap yang mungkin perlu dibersihkan dari tumpukan salju. Melainkan bibit bawang bombay yang ia semai beberapa hari lalu di halaman samping rumah.

Yui terlonjak. Ia baru ingat: ia lupa menutup lahan semaian itu dengan jerami kering. Jika tanah tertutup salju, suhu akan turun drastis. Bibit kecil yang baru muncul bisa mati sebelum sempat tumbuh. Tanpa berpikir panjang, Yui berlari keluar kamar. Ia hanya sempat mengenakan mantel tipis dan sepasang sepatu bot tua, lalu bergegas membuka pintu. Hembusan angin dingin langsung menerpa wajahnya, menusuk tulang.

“Hhh… dinginnya…” Yui menggigil, tapi langkah kakinya tak melambat. Ia menyusuri jalan setapak yang tertutup salju setinggi mata kaki, menuju halaman samping rumah. Nafasnya terengah, uap putih keluar setiap kali ia menarik oksigen dingin ke paru-paru.

Begitu sampai, Yui terhenti.

Lahan kecil tempat ia menanam bawang bombay yang seharusnya kosong tertutup putihnya salju, kini justru sudah tertutup rapi dengan lapisan jerami kering tebal. Mata Yui melebar. Ia berdiri membeku, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

‘Siapa yang melakukan ini?’ batin Yui.

Yui melangkah lebih dekat, memperhatikan dengan saksama. Jerami itu tidak hanya dilempar begitu saja, tapi ditata rapi, menutupi seluruh permukaan lahan. Cara seseorang yang paham benar bagaimana melindungi bibit dari salju mendadak. Detak jantung Yui berdegup cepat. Ia menunduk, dan di antara salju yang menutupi tanah, ia melihat sesuatu. Jejak sepatu. Jejak besar, dalam, dan masih baru. Tanda salju di sekelilingnya belum mencair. Yui menelusuri dengan pandangan, mengikuti arah langkah itu. Jejak tersebut mengarah keluar dari pekarangan, menuju jalan kecil di samping rumah.

Yui berdiri diam, bibirnya bergetar.

“Haruto…” gumamnya lirih.

Yui menunduk, menatap jerami yang kini menutupi semaian bawang bombainya. Di balik rasa canggung yang selalu muncul setiap kali Haruto ada di dekatnya, Yui tak bisa memungkiri sesuatu yang berbeda tumbuh dalam dirinya.

“Kenapa dia selalu muncul… di saat seperti ini?” bisiknya, hampir tak terdengar. Salju masih turun perlahan, tapi untuk Yui, dunia yang dingin mendadak terasa lebih hangat.