Jarak yang Bekerja

Penulis Selanara
28 January 2026

Pov: Herda

Hari-hari Herda berubah menjadi rangkaian kalender yang ditumpuk tanpa jeda. Pagi dimulai dengan rapat, siang dengan panggilan lintas zona waktu, malam dengan dokumen yang harus ditandatangani—sebagian untuk menutup luka, sebagian untuk memastikan luka itu tidak bernanah. Proyek yang dihentikan atau gagal jalan meninggalkan penalti yang tak kecil. Angka-angka bergerak dingin di layar, menuntut keputusan yang tak selalu adil. Herda menegakkan bahu, memilih mana yang harus diselamatkan, mana yang harus dilepas. Tidak semua usaha bisa ditarik dari arus; beberapa harus dibiarkan karam agar kapal utama tetap mengapung.

Di sela kesibukan itu, ia belajar. Bukan sekadar membaca laporan, melainkan menelusuri peta konservasi di lereng Arjuno—mempelajari batas-batas ekologis, zonasi yang hidup, bukan yang digambar dari meja rapat. Ia mengundang ahli, mendengarkan cerita panjang tentang tanah, air, dan manusia yang tinggal di antaranya. Ia mencatat, mengoreksi asumsi lama, dan menghapus kebiasaan yang dulu terasa lumrah. Ada cara membangun yang tidak merusak, dan ada cara melindungi yang tetap memberi hidup. Ia mulai mengerti bahwa konservasi bukan penyangga proyek, melainkan pusatnya.

Penerbangan menjadi rutinitasnya. Herda bolak-balik ke luar negeri, bertemu jejaring lama dan yang baru—lembaga internasional, donor konservasi, mitra riset. Ia membawa peta Arjuno bukan sebagai peluang investasi, melainkan sebagai janji yang harus ditepati. Di ruang-ruang dingin dengan kopi pahit, ia berbicara tentang desa, tentang warga yang menjaga lereng dengan tangan sendiri, tentang seorang perempuan gunung yang menolak dijadikan simbol palsu. Beberapa mengangguk, beberapa meragukan. Tapi dukungan tidak selalu datang dalam bentuk tepuk tangan; kadang ia hadir sebagai komitmen sunyi yang ditandatangani pelan.

Di sela penerbangan, Herda memantau desa. Bukan dengan rasa ingin tahu yang berisik, melainkan perhatian yang setia. Ia mengikuti kabar dari Pak Kades, membaca laporan singkat tentang pertemuan warga, tentang kebun yang kembali ditanami, tentang jalur air yang dibersihkan bersama. Nama Martina sering muncul—bukan sebagai isu, melainkan sebagai poros. Herda tersenyum tipis setiap kali membacanya. Ia tahu, di sana, Martina berdiri tegak tanpa perlu sorotan.

Pesan-pesan Herda pendek. Selalu pendek.

Jaga diri. Jangan sendiri! Bagaimana hujan di lereng hari ini? Jangan lupa makan. Ada dukungan baru. Pelan-pelan.

Martina membalas seperlunya. Kadang hanya satu kata. Kadang emoji sederhana. Tapi Herda membaca jeda di antara kata-kata itu. Ia tahu kapan Martina lelah, kapan ia kuat. Ia tahu kapan harus diam.

Rindu datang tidak sebagai ledakan, melainkan sebagai tarikan panjang yang menetap. Di kamar hotel yang senyap, Herda memandangi ponsel tanpa menulis apa pun. Ia belajar menahan—sebuah disiplin yang tidak diajarkan di sekolah bisnis. Menahan diri untuk tidak hadir sebelum waktunya, menahan ego agar tidak mengaburkan tujuan. Ia mengingat malam itu sebagai sumber tenaga, bukan pelarian. Mengingat Martina sebagai rumah yang tidak bisa didatangi sembarangan.

Satu malam, di bandara asing, ia menutup laptop lebih awal. Ia menulis pesan yang lebih panjang dari biasanya, lalu menghapusnya. Diganti dengan kalimat singkat: Aku percaya padamu. Ia menekan kirim, lalu menyandarkan kepala, membiarkan lelah menyusul.

Di desa, Martina membaca pesan itu di teras rumah. Angin gunung bergerak pelan. Ia tidak menjawab segera. Ia menatap kebun yang mulai hijau, mendengar suara air di kejauhan. Ia tahu, jarak ini bekerja—seperti musim yang menyiapkan tanah sebelum benih ditanam. Ia membalas satu kalimat: Aku juga.

Herda tersenyum saat membaca balasan itu di pesawat yang baru mendarat. Di luar, kota lain menunggu dengan daftar urusan yang panjang. Tapi di dalam dirinya, ada garis yang semakin jelas: apa yang harus diselesaikan, dan untuk apa semua itu dilakukan.

Ia teringat goa itu. Tempat Martina menyelamatkannya dari kematian. Bukan goa sebagai ruang batu dan gelap, melainkan sebagai rahim bumi yang memeluk mereka dari dunia luar. Dingin dinding batu yang basah, napas Martina yang menggema pelan, dan cara perempuan itu berdiri tegak di hadapan alam seolah tidak pernah takut pada kegelapan. Ia ingat bagaimana Martina menatapnya saat itu—tatapan yang tidak meminta, tidak menggoda, tapi menerima. Sebuah keintiman yang lahir bukan dari dorongan, melainkan dari rasa aman yang jarang ia temui.

Di goa itu, sentuhan mereka sederhana. Tangan yang saling mencari dalam gelap, bahu yang bersandar, dahi yang bertemu. Namun justru kesederhanaan itu yang membakar. Tidak ada kota, tidak ada rencana, tidak ada nama besar. Hanya dua tubuh yang saling menghangatkan, menyadari bahwa kedekatan bisa terasa begitu dalam tanpa harus tergesa.

Lalu di hotel.

Kamar itu hadir lagi. Lampu kota di balik kaca, cahaya redup yang memantul di kulit Martina. Ia ingat bagaimana perempuan itu terlihat rapuh dan kuat sekaligus. Cara napasnya berubah ketika jarak di antara mereka menyempit. Cara Martina memejamkan mata seolah menyerahkan diri, bukan pada Herda semata, tapi pada perasaan yang selama ini ia tekan.

Sebuah ciuman yang tidak pernah terburu-buru. Ketika bibir mereka akhirnya bertemu, ciuman itu dalam dan mantap, bukan ledakan, melainkan arus yang perlahan menguat. Ada jeda kecil di sana, tarikan napas yang saling mengenali, lalu kedalaman yang terasa jujur—seolah setiap keraguan dilebur tanpa perlu kata. Ia mengingat rasa hangat yang menetap, tekanan lembut yang berubah menjadi keyakinan, dan cara Martina menahan kepalanya sejenak, memastikan ia tetap hadir. Ciuman itu bukan tentang menuntut, melainkan menyelam bersama ke dalam kepercayaan yang rapuh namun berani.

Kenangan itu tidak pernah menjadi gambar utuh. Lebih seperti sensasi yang tinggal di tubuh: panas yang tertahan di dada, tarikan napas yang lebih dalam dari seharusnya, dan rasa kehilangan yang datang justru setelah mereka berpisah. Herda menyadari bahwa keinginan paling kuat bukanlah pada tubuh Martina, melainkan pada kedekatan itu—pada saat-saat ketika ia boleh berhenti menjadi siapa pun, dan cukup menjadi seorang lelaki yang diizinkan mencintai.

Rindu itu menyelinap di antara rapat dan angka. Ia muncul saat Herda menunggu boarding, saat ia menatap jendela hotel di kota asing, saat ia mencium bau tanah basah yang entah bagaimana mengingatkannya pada rambut Martina setelah hujan. Rindu yang tenang, tapi mengakar.

Ia ingin menulis pesan panjang. Tentang goa. Tentang malam itu. Tentang betapa ia merindukan cara Martina menyebut namanya, seolah nama itu bukan sekadar panggilan, melainkan pengakuan. Tapi Herda tahu, beberapa kerinduan tidak perlu dikirim agar tetap hidup.

Malam itu, di kamar hotel yang sunyi, Herda berdiri di depan jendela. Lampu kota asing berkilau di bawah sana. Ia menyentuh kaca dingin, membiarkan kenangan mengalir tanpa melawan. Rindu ini adalah penunjuk arah.

Top of Form

Bottom of Form