Herda mendapat undangan pertemuan dari Tuan Raksana. Ia datang tanpa pengawalan, tanpa asisten. Ia tahu pertemuan ini tidak membutuhkan saksi. Kantor Tuan Raksana berada di lantai tinggi, menghadap kota yang tampak jinak dari atas—mobil seperti garis-garis kecil, manusia seperti titik-titik yang bisa digeser.
Raksana menyambutnya dengan anggukan singkat. Tidak ada basa-basi. Mereka duduk berhadapan, dua gelas air mineral diletakkan rapi di antara mereka.
“ Aku tidak bisa melanjutkan proyek Arjuno karena Nadine terjebak masalah di wilayah itu. Proyekmu itu resmi dihentikan,” kata Raksana, suaranya datar seperti membaca laporan.
“Dari awal saya keberatan Anda mengambil alih,” jawab Herda. “Lagipula saya sudah menyelesaikan kewajiban hukumnya.”
“ Warga di sana agak keras, dan Nadine cukup ceroboh. Jika saja aku berhasil mengambil alih, proyek tidak akan dihentikan. Penaltinya besar ya?”
Herda mengangguk. “Cukup besar.”
Raksana melirik map di tangan Herda. “Kau pakai dana likuid?”
“Tidak.” Herda membuka map, mendorong satu dokumen ke arah meja. “Saya melepas salah satu perusahaan.”
Raksana membaca cepat. Tangannya berhenti di satu halaman. Untuk pertama kalinya, ia mendongak dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya terkendali.
“Perusahaan itu?” tanyanya. “Itu tulang punggung portofoliomu.”
“Bukan tulang punggung saya,” jawab Herda pelan. “Hanya yang paling terlihat.”
Ada keheningan singkat. Bukan keheningan canggung, melainkan keheningan orang yang sedang menilai ulang seseorang di depannya.
“Kau berubah,” kata Raksana akhirnya.
“Prioritas saya yang berubah.”
“ Ayahmu menyetujui?” Tuan Raksana menyelidik.
“ Perusahaan saya hanya sekuku jari bagi Ayah saja. Tidak akan menimbulkan kerugian apapun baginya. Dan juga beliau mempercayai saya sepenuhnya.”
Raksana menyandarkan punggungnya. “Baik. Kalau begitu, kita bicara hal lain.” Ia berhenti sejenak. “Tentang Nadine.”
Herda tidak bergerak. Ia sudah menduga.
“Masalah kemarin sudah ku urus,” lanjut Raksana.
“Secara hukum dan medis. Nadine dipindahkan ke pusat rehabilitasi. Kasusnya… disederhanakan.”
“Disederhanakan?” Herda mengulang.
“Anak buah yang terlibat mengaku bertanggung jawab penuh. Bukti mendukung. Aparat tidak keberatan.” Nada Raksana tenang, seolah sedang menjelaskan proses akuntansi.
“Nadine butuh pemulihan, bukan penjara.”
“Tapi ia terlihat bepergian,” kata Herda. “Ke luar negeri.”
Raksana tersenyum tipis. “Rehabilitasi tidak selalu berarti dikurung di satu tempat. Yang penting pengawasan.”
Herda memahami maksud kalimat itu dengan jelas. Uang tidak menghapus kesalahan—ia hanya mengubah bentuk konsekuensinya.
“Aku tidak mengatakan ini untuk pamer,” lanjut Raksana.
“Aku ingin kau melihat bahwa aku masih bisa melindungi keluarga. Dan orang-orang di sekitarku.”
Ia berhenti, lalu berkata lebih pelan, “Termasuk kau, kalau perlu.”
Herda menarik napas. “ Ayah saya mendidik saya dengan melibatkan pada masalah-masalah dan bagaimana bertanggung jawab akan hal tersebut. Artinya saya sudah teruji dalam hal melindungi diri sendiri.”
“Dan itulah sebabnya aku memanggilmu.” Balas Raksana.
Ia mencondongkan badan sedikit. Nada suaranya kini bukan lagi nada pengusaha, melainkan ayah yang memilih kata dengan hati-hati.
“Nikahi Nadine,” katanya. “Ia membutuhkan sandaran. Kau punya itu. Ia butuh arah. Kau bisa memberikannya.”
Herda menatap meja, bukan karena ragu, melainkan untuk menjaga suaranya tetap stabil.
“Saya tidak bisa menikahi seseorang yang tidak saya cintai. Selama ini, bagi saya Nadine adalah rekan kerja.”
“Dia menghormatimu dan pasti akan menurut padamu. Kamu bisa membentuknya menjadi identitas baru yang kau inginkan,” sergah Raksana. “Kamu cukup dewasa untuk bisa membimbing. Menjadikannya perempuan yang tenang. Ibu rumah tangga yang benar.”
Herda mengangkat wajahnya. “ Tapi saya memiliki identitas saya sendiri.”
“Kau akan jadi bagian keluarga Surya Raksana,” sahut Raksana singkat. “Dan semua label yang menyertainya.”
Jawaban itu jujur. Terlalu jujur. Label yang menyertainya tentu saja perihal warisan kekayaan.
“Saya menghormati Anda sebagai senior bisnis,” kata Herda. “Tapi saya tidak bisa menerima ini.”
Raksana tidak langsung merespons. Ia menatap Herda lama, seolah memastikan ini bukan penolakan emosional yang bisa dilunakkan.
“Karena gadis gunung itu?” katanya akhirnya. “Kau memilih jalan yang berat. Jalan yang sepi.”
Herda berdiri. “Saya sudah memilihnya.”
Mereka berpisah tanpa kesepakatan. Di luar gedung, Herda berdiri sejenak sebelum melangkah pergi. Ia tahu, setelah ini, hubungan mereka tidak akan sama. Tidak lebih mudah, tidak lebih sederhana. Tapi memang sejak Raksana dan Nadine membuat keributan untuk menghancurkan Martina di Lereng Arjuno, semua hal sudah tidak sama lagi bagi Herda. Orang tua itu sudah melewati batasnya.
Ia mengeluarkan ponsel, membuka pesan dari Martina—hanya satu kalimat pendek tentang hujan yang turun di lereng. Herda tersenyum kecil. Di antara pengaruh dan kejujuran, ia akhirnya tahu di mana ia berdiri.
Langkah Herda akhirnya bergerak meninggalkan gedung, tetapi bayangan percakapan itu masih menempel di punggungnya seperti beban tak kasatmata. Ia tahu, penolakan barusan bukan sekadar menolak seorang ayah yang khawatir pada putrinya, melainkan menolak sebuah sistem—cara lama memandang manusia sebagai solusi praktis atas masalah yang lebih besar.
Di dalam mobil, ia tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya bertumpu di setir, matanya menatap kosong ke depan. Ia memikirkan kalimat Raksana tentang jalan yang sepi. Ada kebenaran di sana. Jalan yang ia pilih tidak ramai oleh jaminan, tidak disinari oleh perlindungan kuasa. Tapi justru karena itu, ia terasa nyata.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan dari Martina, melainkan notifikasi berita bisnis. Beberapa analis mulai berspekulasi tentang langkah Herda melepas satu perusahaannya. Ada yang menyebutnya ceroboh. Ada yang menyebutnya idealis. Herda mematikan layar. Label tidak terlalu berarti lagi baginya—tidak penting lagi.
Di lantai atas, Raksana masih duduk di kursinya. Ia tidak mengejar Herda, tidak memanggil kembali. Ia hanya menatap meja yang kini kosong, lalu menghela napas pelan. Penolakan itu tidak membuatnya marah, tetapi mengusik. Herda tidak berbicara seperti orang yang sedang jatuh cinta semata; ia berbicara seperti seseorang yang telah menemukan siapa dirinya.
Raksana menyadari satu hal yang jarang ia akui: ia telah sepenuhnya gagal sebagai ayah. Jika Nadine rapuh, Herda yang tumbuh keras akan menyeimbangkan. Semestinya mereka menikah jauh hari ketika Herda masih ambisius dan belum berubah.Tapi gadis gunung itu muncul sebagai takdir yang lain. Gunung itu telah mengubah arah pandang Herda.
Di lereng Arjuno, sore turun perlahan. Martina menutup pekerjaannya lebih awal, langit terlihat berat oleh awan. Ia tidak tahu pertemuan apa yang baru saja terjadi di kota, tetapi dadanya terasa hangat oleh firasat yang tenang. Pesan singkat Herda tadi pagi—tentang hujan dan kabut—masih tersimpan. Ia membacanya lagi, seolah dari kalimat sesederhana itu ia bisa merasakan keteguhan yang sama.
Herda akhirnya menyalakan mesin dan melaju pergi. Ia tahu, setelah hari ini, tekanan akan datang dalam bentuk lain. Lebih halus. Lebih rapi. Namun ia juga tahu, selama ia tidak mengingkari dirinya sendiri, tekanan itu tidak akan benar-benar menang. Di antara kota yang licin oleh pengaruh dan gunung yang keras oleh kejujuran, Herda telah memilih tempat berpijak. Dan pilihan itu, meski sunyi, memberinya satu hal yang tak bisa dibeli siapa pun: ketenangan.
Top of Form
Bottom of Form