Dokumen itu tidak tebal, tetapi cukup untuk membuat meja kerja Herda terasa sempit. Ia membacanya perlahan, baris demi baris, seolah mencari kesalahan cetak yang tidak ada. Klausul penalti yang dulu disepakati sebagai jalan keluar kini bergeser menjadi jerat—angka yang berubah, tenggat yang dipercepat, dan definisi wanprestasi yang diperluas secara licin. Ini bukan kebetulan.
Herda menutup map itu, bersandar ke kursi, dan mengingat percakapannya dengan Raksana beberapa hari lalu. Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada nada tinggi. Hanya kalimat-kalimat sopan yang diselipi jeda panjang—jenis jeda yang biasanya menandai keputusan telah diambil di tempat lain. Raksana tidak bergerak di depan. Ia bekerja di balik layar.
Panggilan dari kuasa hukum investor datang hampir bersamaan, rapi dan dingin. Mereka menyebut perubahan kondisi pasar, risiko reputasi, dan ketidakpastian izin sebagai dasar pergeseran poin. Semua terdengar sah. Semua bisa diperdebatkan. Tetapi Herda tahu, perdebatan itu sengaja dibuat panjang agar melelahkan.
Di saat yang sama, kabar dari lereng Arjuno datang bertubi-tubi—bukan dalam bentuk surat resmi, melainkan desas-desus yang terlalu teratur untuk dianggap kebetulan. Alat ukur tanah milik warga rusak. Jalan setapak yang biasa dilalui truk logistik mendadak ditutup karena “perbaikan”. Ada inspeksi mendadak yang tidak jelas ujungnya. Tidak ada yang terang-terangan melarang. Semua hanya mengganggu. Raksana sedang menguji kesabaran.
Herda memilih untuk tidak bereaksi cepat. Ia tahu itulah yang diinginkan lawannya. Ia mengumpulkan tim kecilnya, memeriksa ulang setiap prosedur, dan melanjutkan pengajuan izin menjadikan lereng Arjuno sebagai wilayah konservasi. Jalannya panjang dan berliku, tetapi itu satu-satunya arah yang ia anggap benar. Masalahnya, status lahan tiba-tiba berubah.
Dalam rapat dengan dinas terkait, istilah itu diucapkan dengan nada netral: lahan sengketa. Kata-kata yang terdengar administratif, tetapi berdampak mematikan. Sengketa berarti penundaan. Sengketa berarti kehati-hatian berlapis. Sengketa berarti pintu izin tertutup tanpa harus ditutup.
Herda meminta penjelasan. Dokumen apa yang disengketakan. Pihak mana yang mengajukan. Jawabannya mengambang, berputar di istilah dan prosedur. Nama Raksana tidak pernah disebut, tetapi bayangannya terasa di setiap kalimat yang ditahan.
Di lereng Arjuno, Martina mendengar kabar itu dari warga. Ia tidak terkejut. Sejak lama ia tahu, gangguan kecil sering kali menjadi tanda sebelum badai. Yang mengganggunya bukan nama-nama di balik layar, melainkan ketidakpastian yang dipaksakan ke kehidupan sehari-hari—panen yang tertunda, rapat warga yang makin sering, dan rasa waspada yang menular.
Ia tidak menghubungi Herda. Bukan karena marah, melainkan karena memahami bahwa ada pertempuran yang harus dijalani sendiri. Namun, setiap kali ia menatap lereng yang mulai dipetakan ulang di atas kertas orang-orang kota, ia bertanya-tanya berapa lama orang-orang desa bisa bertahan.
Herda, di ruang kerjanya yang sunyi, membuka kembali peta Arjuno. Garis-garis batas itu kini terasa seperti bekas luka. Ia menandai ulang, menulis catatan kecil di pinggir: konservasi, akses warga, zona lindung. Kata-kata yang sederhana, tetapi berat. Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari nomor tak dikenal: Hati-hati memilih pertempuran.
Herda tidak membalas. Ia mematikan layar dan kembali ke pekerjaannya. Jika Raksana berharap ia mundur karena prosedur yang dipersulit dan poin yang digeser, ia salah membaca satu hal: Herda telah berhenti mengejar kemenangan cepat. Yang ia kejar sekarang adalah ketahanan.
Di luar, sore turun pelan. Di lereng Arjuno, angin membawa bau tanah basah. Sengketa mungkin tercatat di berkas, tetapi gunung tidak mengenal istilah itu. Ia hanya mengenal siapa yang bertahan. Dan Herda, siap bertahan lebih lama daripada lawannya.
Hari berikutnya, Herda keluar dari kantor, Herda berdiri lama di anak tangga, memandang halaman yang terlalu rapi. Ia menyadari sesuatu dengan kejelasan yang tidak menyenangkan: perjuangan ini tidak lagi soal bisnis atau citra. Ini soal waktu—siapa yang lebih dulu kelelahan.
Pertemuan-pertemuan kemudian dilakukan. Herda mendorong map itu ke tengah meja rapat. Bunyi gesekan karton terdengar terlalu keras di ruangan yang seharusnya kedap suara.
“Ini bukan klausul yang kami tandatangani,” katanya, tenang, tetapi tanpa basa-basi.
Pengacara investor—pria berkacamata tipis dengan senyum profesional—melipat tangannya.
“Kami tidak mengubah substansi, Pak Herda. Hanya menyesuaikan interpretasi terhadap risiko baru.”
“Risiko yang kalian ciptakan sendiri,” potong Herda.
Tidak ada yang tersinggung. Di ruangan itu, emosi bukan alat tawar. Yang ada hanya waktu dan tekanan.
“Penundaan izin memberi dampak finansial. Klien kami tidak bisa terus menunggu.” lanjut sang pengacara.
Herda menyandarkan punggungnya. “Izin itu tertunda karena ada pihak yang sengaja mengaburkan status lahan.”
Senyum itu mengeras sedikit. “Kami tidak masuk ke ranah spekulasi.” Herda hampir tertawa. Spekulasi, pikirnya, adalah kata paling aman untuk menyebut manipulasi.
Setelah rapat berakhir, Herda berdiri menghadap jalanan. Menimbang berbagai hal. Kota terlihat sibuk, seperti biasa—tidak peduli pada penalti, sengketa, atau gunung yang pelan-pelan dipreteli melalui berkas. Ponselnya berdering. Nama Raksana muncul.
Herda membiarkannya berdering sesaat sebelum menjawab.
“Kau terlihat sibuk,” suara Raksana terdengar ringan, hampir bersahabat.
“ Sepertinya Anda juga,” jawab Herda.
“Aku dengar investor mulai gelisah.”
“Anda mendengarnya dari mana?” tanya Herda, meski sudah tahu jawabannya.
Raksana tertawa kecil. “Jakarta itu kecil. Isu bergerak cepat.”
“Dan izin konservasi tiba-tiba tersangkut status sengketa, itu juga isu?” lanjut Herda.
Jeda di seberang sana sedikit lebih panjang.
“Kau memilih jalan yang rumit, Nak!” kata Raksana akhirnya. “Kadang, idealisme membuat orang lupa membaca peta kekuasaan.”
“Saya membaca,” jawab Herda dingin. “ Saya hanya menolak ikut menggambarnya ulang.”
Raksana menghela napas, seolah kecewa. “Hati-hati. Poin-poin bisa terus bergeser.”
Panggilan terputus.
Herda menatap layar hitam ponselnya lama. Ancaman itu terlalu halus untuk dicatat, terlalu jelas untuk diabaikan.
Di lereng Arjuno, rapat warga berlangsung di balai sederhana. Martina duduk di antara mereka, mendengarkan satu per satu keluhan yang terdengar sepele jika dicatat di laporan, tetapi berat jika dijalani.
“Truk pupuk tidak bisa naik, katanya jalan rusak,” ujar seorang petani.
“Padahal kemarin masih bisa,” sahut yang lain.
Martina mengangguk. “Ada surat resminya?”
Mereka menggeleng.
“Itu artinya gangguan,” kata Martina pelan. “Bukan larangan.”
Seorang warga tua menatapnya ragu.
“Sampai kapan kita diganggu begini?”
Martina terdiam sejenak. “Sampai mereka berharap kita menyerah sendiri.”
Kata-kata itu membuat ruangan hening. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah—hanya kesadaran yang perlahan mengeras.
Keesokan harinya, Herda duduk di hadapan pejabat dinas perizinan. Meja mereka dipisahkan oleh tumpukan map yang terlihat rapi.
“Status lahan ini masuk kategori sengketa,” kata pejabat itu sambil menunjuk dokumen. “Kami tidak bisa memproses izin konservasi sebelum ada kejelasan.”
“Sengketa oleh siapa?” tanya Herda.
“Belum final,” jawabnya hati-hati. “Masih dalam penelusuran.”
“Penelusuran yang dimulai setelah saya mengajukan izin?” tekan Herda.
Pejabat itu mengangkat bahu tipis. “Saya hanya menjalankan prosedur.”
Herda tersenyum tipis. Ia sudah hafal kalimat itu. Prosedur selalu menjadi tameng paling aman bagi niat yang tidak ingin terlihat.
“Baik,” katanya berdiri. “Saya akan lengkapi apa pun yang Anda butuhkan.”
Keluar dari gedung itu, Herda merasa lelah dengan cara yang berbeda—bukan kelelahan fisik, melainkan kelelahan menghadapi sistem yang berpura-pura netral.
Malamnya, ia menerima laporan tambahan: gugatan penalti dipercepat. Angka-angkanya tidak lagi abstrak. Itu nyata, menggerus perlahan. Jika ia meminta bantuan ayahnya masalah akan selesai. Tapi Herda bukan orang yang tidak bertanggung jawab.
Ia membuka kembali peta Arjuno. Tangannya berhenti di satu titik—desa tempat Martina tinggal. Untuk sesaat, ia ingin meneleponnya. Namun ia menahan diri. Ini bukan waktunya meminta pengertian.
Jika Raksana ingin menjadikan lereng Arjuno medan tekanan, Herda akan menjadikannya medan ketahanan. Ia tahu risikonya. Ia juga tahu, sekali mundur, semua akan runtuh.
Di kejauhan, gunung berdiri diam. Sengketa mungkin tercatat di berkas, tetapi tanah tidak pernah menandatangani apa pun. Ia hanya menunggu—siapa yang lebih lama bertahan tanpa mengkhianatinya. Dan Herda memilih untuk tetap tinggal di permainan yang dipersulit, bukan untuk menang cepat, tetapi untuk memastikan tidak semua hal bisa dibeli dengan menggeser poin.