Tidak ada yang terasa janggal pagi itu. Martina berjalan seperti biasa, tas kanvas tergantung di bahunya, pikiran terpecah antara rapat warga dan kabar terakhir tentang status lahan. Ia tidak tahu bahwa pagi yang tampak biasa adalah hasil dari persiapan panjang—uang berpindah tangan, janji-janji gelap, dan satu niat yang telah kehilangan arah.
Tas itu disentuh orang lain sebelum disentuhnya sendiri.
Di sudut pasar kecil, dua orang berpapasan dengannya. Satu senggolan, satu permintaan maaf yang terlalu cepat, satu gerakan tangan yang tidak ia sadari. Semua berlangsung dalam hitungan detik. Martina melanjutkan langkahnya tanpa curiga.
Kurang dari lima belas menit kemudian, mobil polisi berhenti terlalu dekat. Terlalu siap.
“Pemeriksaan,” kata seorang petugas. Nadanya sopan, prosedural. Martina menurut. Ia tidak pernah punya alasan untuk takut pada pemeriksaan. Ketika tasnya dibuka, dunia seolah berhenti bergerak. Bungkusan kecil itu terlihat asing—terlalu rapi, terlalu tidak masuk akal.
“Itu bukan milik saya,” kata Martina, suaranya tidak naik, tidak juga gemetar. Ia masih percaya pada logika.
Petugas saling berpandangan. Salah satu dari mereka mengangguk pelan, seperti mengonfirmasi sesuatu yang sudah diketahui. Borgol terpasang tanpa drama, tanpa teriakan. Di kerumunan kecil yang terbentuk, bisik-bisik mulai bekerja lebih cepat daripada kebenaran.
Di kantor polisi, laporan sudah menunggu.
Nama, waktu, tempat—semuanya tercatat dengan kerapian yang dingin. Bahkan saksi-saksi terasa terlalu siap menceritakan versi yang sama. Martina duduk diam, menyadari bahwa ini bukan kesalahpahaman. Ini panggung.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang tahanan terbuka. Nadine masuk tanpa tergesa. Rapi, tenang, wajahnya nyaris lembut.
“Kau kelihatan lelah,” katanya, seolah datang menjenguk teman lama.
Martina menatapnya tajam. “Kau yang melakukannya.”
Nadine tersenyum kecil. “Kau selalu langsung ke inti.”
“Kau tahu ini kejahatan,” ujar Martina. “Kau menghancurkan hidup orang.”
Nadine duduk di bangku besi, menyilangkan kaki. “Aku menyelamatkan diriku sendiri.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya—selembar undangan. Kertas tebal, desain elegan, nama Herda tercetak jelas di sana. Di sampingnya, namanya sendiri.
Martina meraih kertas itu dengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin. “Ini palsu.”
“Tentu saja,” jawab Nadine ringan.
“Tapi kau tahu yang lebih penting dari kebenaran?”
Martina menatapnya, napasnya pendek.
Nadine condong sedikit ke depan. “Herda tidak datang ke Arjuno bukan karena sibuk. Ia tidak datang karena memilih.”
“Bohong,” kata Martina cepat.
Nadine mengangkat bahu. “Ia sedang bernegosiasi. Dan satu-satunya cara menyelamatkan Lereng Arjunomu agar mendapat izin konservasi dan bebas dari sengketa adalah dengan satu kesepakatan pribadi.”
Martina menggenggam undangan itu. “Kau memaksanya menikahimu.”
“Aku menawarinya,” koreksi Nadine. “Dan ia tidak menolak. Mungkin dia memang mencintaimu, tapi aku yang akan menikah dengannya.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu. Martina mencoba mengingat pesan terakhir Herda. Kesunyian yang memanjang. Ketiadaan yang kini terasa berbeda—bukan sebagai perjuangan, melainkan sebagai penghindaran.
“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Martina pelan.
Nadine menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, senyumnya retak.
“Karena aku tahu satu hal sejak lama,” katanya.
“Aku tidak akan pernah benar-benar mendapatkan Herda.”
Ia berdiri. “Tapi aku bisa memastikan kau juga tidak.”
Pintu ruang tahanan tertutup di belakang Nadine dengan bunyi logam berderak. Martina duduk mematung, undangan itu tergeletak di lantai. Ia tidak menangis. Air mata membutuhkan harapan, dan harapan baru saja tercerabut dari hatinya.
Di tempat lain, Herda sedang menandatangani berkas-berkas. Ia belum tahu bahwa ketidakhadirannya di Lereng Arjuno telah diisi oleh narasi lain—yang lebih cepat, lebih kejam, dan sudah telanjur dipercaya.
Di sel sempit itu, Martina menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya ragu. Bukan pada gunung, bukan pada tanah—melainkan pada lelaki yang memilih diam ketika ia membutuhkan kehadirannya. Tapi Martina memang terbiasa sendirian. Kehadiran Herda justru membuatnya lengah. Dan Nadine, dalam keputus-asaannya yang paling pahit, akhirnya mendapatkan seringai kepuasan.
Ruang tahanan itu berbau logam dan cairan pembersih yang menyengat. Martina duduk bersandar ke dinding, lututnya ditarik ke dada. Waktu di sana tidak bergerak lurus—ia mengembang, lalu mengempis, membuat hitungan jam kehilangan makna.
Seorang penyidik datang membawa map baru. Wajahnya datar, bukan kejam. Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.
“Kami perlu klarifikasi ulang,” katanya sambil membuka berkas.
“Ada saksi tambahan.”
“Saksi yang melihat saya menyimpan barang yang bukan milik saya?” tanya Martina.
Pria itu tidak menjawab langsung. “Mereka melihat tas Anda tidak pernah lepas dari pengawasan.”
Martina tersenyum tipis. “Kalau begitu, mereka berbohong.”
Penyidik itu menatapnya sejenak, lalu menunduk kembali ke berkas. “Kami hanya mencatat.”
Kalimat itu kembali menghantamnya—hanya mencatat. Seperti prosedur, seperti di kantor izin, seperti di setiap tempat di mana kebenaran dikalahkan oleh kerapian administrasi.
Ketika ia ditinggal sendiri lagi, pikirannya berputar pada satu hal: ketiadaan Herda. Jika ia ada, setidaknya akan ada suara yang mematahkan narasi ini. Tapi hari-hari berlalu tanpa namanya disebut, tanpa pesan, tanpa kabar. Nadine benar tentang satu hal—diam itu berarti pergi.
Di luar sel, Nadine menuruni tangga kantor polisi dengan langkah ringan. Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, seperti orang yang baru menyelesaikan urusan berat. Di dalam mobilnya, ia menatap pantulan wajahnya di kaca spion. Mata itu tidak bersinar oleh kemenangan, melainkan oleh kelicikan dan kesenangan yang nyaris histeris.
“Akhirnya,” gumamnya.
Ia tahu apa yang dilakukannya keji. Tapi ia sangat yakin tidak akan dihukum karenanya. Uang sudah bekerja, laporan sudah masuk, dan kebenaran sudah terlalu lambat untuk mengejar. Dalam dunia seperti itu, moral hanyalah kemewahan bagi mereka yang tidak sedang putus asa.
Sore hari, Martina menerima kunjungan pengacara bantuan hukum. Seorang perempuan muda dengan suara tegas, mata jujur.
“Kasusmu aneh,” katanya tanpa basa-basi. “Terlalu rapi. Kami akan mengajukan keberatan.”
Martina mengangguk. “Kira-kira akan membutuhkan waktu berapa lama?”
“Tidak cepat pastinya,” jawabnya jujur. “Dan selama itu, publik akan membentuk kesimpulan sendiri.” Sahut Martina.
Martina memejamkan mata. Di benaknya, wajah warga Arjuno muncul satu per satu—orang-orang yang percaya padanya, yang menggantungkan suara mereka pada keteguhannya. Kini, namanya tercatat di laporan narkotika. Ia tahu warga tidak akan percaya, tapi ini tetap sebuah noda yang tidak mudah dibersihkan.
Malam turun dengan lambat. Lampu sel menyala terus, tidak memberi kesempatan pada gelap yang menenangkan. Martina bangkit, mengambil undangan palsu yang tadi ia sembunyikan di bawah kasur tipis. Ia membacanya lagi, perlahan, memaksa dirinya melihat setiap detail. Tanggal. Tempat. Nama.
Ia membayangkan Herda berdiri di sana, mengenakan jas, menandatangani sesuatu yang tidak menyebut Arjuno, tidak menyebut dirinya. Bayangan itu menyakitkan bukan karena itu pasti benar, tetapi karena itu mungkin benar.
“Itu caranya menyelamatkan Arjuno, rumah kami,” bisiknya pada diri sendiri.
Air mata akhirnya jatuh—bukan deras, hanya satu, lalu satu lagi. Ia menghapusnya cepat, marah pada kelemahannya sendiri. Di luar, suara pintu besi bergema. Di dalam, sesuatu runtuh pelan-pelan.
Jauh dari sana, Herda masih berada dalam lingkaran dokumen dan negosiasi. Ponselnya bergetar berkali-kali dengan nomor tak dikenal. Ia menunda menjawab. Ada keputusan yang sedang ia hadapi—keputusan yang ia yakini akan menyelamatkan Arjuno, meski harus mengorbankan rindunya. Ia belum tahu bahwa pengorbanan itu telah dipelintir menjadi cerita pengkhianatan.
Dan Nadine, sendirian di apartemennya, memandangi undangan-udangan palsu yang tersisa. Ia merobek satu, lalu satu lagi, hingga lantai dipenuhi potongan kertas. Ia tidak tersenyum. Kepuasan itu singkat, pahit, tetapi cukup. Karena bagi Nadine, jika ia tidak bisa memiliki Herda, maka tak seorang pun berhak bahagia dengannya.
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form