Kebenaran Berbicara

Penulis Selanara
28 January 2026

Kebebasan Martina datang dengan syarat yang tidak bisa ia tolak. Namanya memang dibersihkan dari dakwaan narkoba, tetapi ia tetap dipanggil—kali ini bukan sebagai tersangka, melainkan saksi. Berkas-berkas baru dibuka, pertanyaan-pertanyaan disusun ulang, dan Nadine kembali menjadi pusat dari semua benang kusut yang selama ini disangkal.

Ruang pemeriksaan terasa lebih terang, tetapi tidak lebih hangat. Martina duduk tegak, menjawab seperlunya. Ia tidak menambahkan drama, tidak pula menahan kebenaran. Ia hanya menceritakan apa yang terjadi—tanpa membumbui, tanpa meminta iba.

“Apakah Saudari yakin barang itu bukan milik Saudari?” tanya penyidik.

“Aku yakin,” jawab Martina. “Dan sekarang, kalian juga tahu itu.”

Nama Nadine disebut berulang kali. Setiap penyebutan seperti membuka lapisan lain dari rekayasa yang terlalu lama dibiarkan. Namun, bahkan di tengah bukti yang menumpuk, Nadine masih sempat membual. Dari balik pengacara dan celah prosedur, kabar itu sampai ke telinga Martina: persiapan pernikahan, rencana masa depan, janji-janji yang terus diulang seolah kata-kata bisa mengubah arah hukum.

Herda tidak muncul.

Ketiadaannya menjadi ruang kosong yang sulit diabaikan. Martina berhenti bertanya pada dirinya sendiri mengapa. Ia lelah mengisi kekosongan dengan dugaan. Kini ia memilih berdiri di tempatnya, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.

Hari penetapan itu tiba tanpa seremoni. Bukti-bukti tidak lagi bisa dipelintir. Rantai peristiwa—dari pengedar, laporan palsu, hingga rekam jejak pelanggaran Nadine—tersambung rapi.

Nadine datang ke balai desa dan kembali membuat kehebohan. Ia sengaja ingin melukai hati Martina. Ia mencari Pak Kades dan mengklaim bahwa tanah yang telah dibeli Herda dan uangnya belum dikembalikan akan menjadi miliknya, karena ia akan menikah dengan Herda. Ia akan membangun villa dengan kolam renang di sana. Pak Kades menanggapinya dengan jengah dan malas.

Kehebohan Nadine berubah mencekam ketika dua buah mobil polisi berhenti di depan balai desa. Warga yang berada di lokasi sudah panik dan tegang, mereka berpikir Martina akan ditangkap lagi. Tapi polisi tidak melihat ke arah Martina. Mereka bergerak menuju tempat Nadine berada. Senyum ceria dan penuh kesombongan perlahan memudar dari wajah Nadine.

Ketika polisi melangkah maju dan menangkap Nadine, ia tidak melawan. Nadine justru tertawa keras, terlalu keras untuk ruangan itu.

“Kalian pikir ini selesai?” teriaknya.

“Kalian pikir dia menang?” tunjuknya pada Martina.

Matanya menyapu ruangan. Wajahnya memerah, senyumnya berubah liar.

“Aku menaruhnya di tasmu! Iya, benar.” Jeritnya dengan seringai mengerikan.

“Aku yang bayar! Aku yang atur! Kalian dengar itu?!”

Ruangan membeku. Kata-kata itu pecah seperti kaca—tajam dan tak bisa ditarik kembali.

Nadine tertawa lagi, histeris. “Kau tidak akan pernah menang melawanku, Martina. Ayahku kebal hukum. Kekuasaan kami tak ada batasnya! Silahkan borgol aku, silahkan tangkap aku, besok aku akan kembali menginjakmu, Sayang!” racau Nadine.

Martina tidak bergerak. Ia menatap Nadine dengan ketenangan seperti biasanya. Tidak ada kepuasan di sana—hanya akhir dari kebohongan yang akhirnya berani berdiri di bawah cahaya. Polisi memborgol Nadine. Suaranya masih berusaha melawan. Teriakannya terputus oleh pintu mobil polisi yang ditutup keras. Sunyi jatuh tiba-tiba, seperti setelah badai.

Di luar, kabar itu menyebar cepat. Warga desa berkumpul, tidak bersorak, tidak bertepuk tangan—mereka hanya menghela napas panjang. Beban yang lama menekan dada mereka akhirnya terangkat. Satu gangguan berhenti.

Martina berdiri di tepi kerumunan, menyaksikan mobil polisi menjauh. Ia tidak merasa menang. Ia merasa selesai—setidaknya dengan satu bab gelap yang akhirnya ditutup. Namun satu hal masih tertinggal: Herda.

Malam itu, desa kembali hening. Angin gunung membawa bau tanah basah yang familiar. Martina pulang dengan langkah pelan, menyadari bahwa keadilan telah bergerak, tetapi hatinya, ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.

Pukul empat pagi, saat langit masih berwarna ungu pekat, Martina memutuskan untuk mendaki ke Air Terjun Larangan—sebuah tempat yang dikeramatkan warga, di mana airnya jatuh langsung dari mata air purba yang suhunya mampu membekukan darah. Ia berlari mendaki jalur terjal tanpa lampu senter, membiarkan ranting-ranting pohon menggores lengannya. Ia butuh rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya.

Sesampainya di sana, di bawah gemuruh air yang memekakkan telinga, Martina melepas seluruh pakaiannya. Ia berdiri di atas batu licin, menantang kegelapan. Ia ingin menghapus aroma Herda, menghapus sensasi mimpi-mimpinya, dan mengembalikan dirinya menjadi "Gadis Gunung" yang tak tersentuh.

Ia melompat ke bawah kucuran air terjun.

"Dingin! Biarkan ini membunuh setiap sel yang merindukannya!" teriaknya dalam hati.

Air es itu menghantam pundaknya, membuat napasnya seakan terhenti. Ia menggosok kulitnya dengan kasar menggunakan segenggam daun semak liar hingga memerah. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih kuat, bahwa ia tidak butuh kehangatan pria kota itu. Namun, semakin ia mencoba melupakan, bayangan mata Herda yang menatapnya dengan penuh gairah di dalam hotel dulu justru semakin terpahat kuat di benaknya.

Martina kembali ke pondoknya saat matahari mulai mengintip. Tubuhnya menggigil hebat, bibirnya membiru, namun matanya memancarkan tekad yang kosong. Ia mulai menyeduh teh jahe ketika tiba-tiba suara helikopter membelah kesunyian lembah.

Suara itu asing dan mengancam. Warga desa keluar dari rumah dengan wajah cemas. Helikopter itu tidak mendarat di lapangan bawah, melainkan berputar-putar di atas lahan yang rencananya akan dijadikan resort, lalu mendarat dengan gagah di sana. Martina menyambar parangnya, berlari menuju lokasi dengan kemarahan yang meluap. Ia mengira investor lain telah datang untuk melanjutkan paksa proyek itu.

Pintu helikopter terbuka. Di tengah debu yang beterbangan akibat putaran baling-baling, seorang pria turun. Ia tidak lagi mengenakan kemeja mahal yang rapi. Herda tampak berantakan; janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya, matanya merah karena kurang tidur, dan ia mengenakan jaket outdoor yang tebal. Ia memegang sebuah tas kulit besar dan beberapa gulungan kertas besar.

Martina berhenti sepuluh langkah di depannya. Napasnya memburu, parang di tangannya bergetar.

Herda berjalan mendekat, mengabaikan parang yang terhunus. Saat jarak mereka hanya sedepa, ia meletakkan tasnya di tanah dan membuka gulungan kertas itu lebar-lebar di hadapan Martina. Itu bukan cetak biru resort. Itu adalah peta kawasan konservasi dengan stempel resmi pemerintah pusat dan lembaga lingkungan internasional.

“ Aku berhasil mendapatkan izin ini."

Herda melangkah lebih dekat lagi, hingga dada mereka hampir bersentuhan. Ia bisa melihat rambut Martina yang masih basah dan aroma dingin yang keluar dari tubuh gadis itu.

"Aku tidak kembali untuk membangun villa," bisik Herda, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Aku kembali untuk membangun rumah. Di sampingmu. Jika kau masih mau menerimaku setelah semua keraguan yang kutanamkan padamu."

"Kau gila," hardik Martina.

"Ya," jawab Herda, tangannya kini merengkuh wajah Martina yang dingin, "Gila karena kau dan gila karena tempat ini."

Kecantikan Martina yang alami tanpa polesan, berpadu dengan keteguhan hatinya yang sekeras batu karang. Ia menyadari bahwa ketenangan yang ia cari selama ini di kota-kota besar justru ada di sini—bukan pada villa mewah, melainkan pada gemericik air sungai yang bersih.

Proposal berubah. Angka-angka bergeser, skema baru muncul. Bukan villa, bukan resort. Tapi konservasi, eduwisata terbatas. Perlindungan mata air. Penguatan ekonomi warga melalui pertanian berkelanjutan. Warga ragu dengan berita menyenangkan yang tiba-tiba. Martina paling keras bertanya.

"Apa jaminannya?"

Herda menghela napas. "Aku belajar. Dari gunung. Dari kamu."

Setelah ketegangan di depan helikopter mereda dan warga mulai membubarkan diri dengan sorak-sorai penuh haru, Herda membawa Martina menjauh dari kerumunan. Ia menuntunnya menuju sebuah tebing tersembunyi yang menghadap lembah, tempat di mana hanya ada suara desis angin di antara pucuk-pucuk pohon pinus. Mengecupnya. Menciumnya. Dalam dan lama.