BAB 1: PETIR DI TENGAH MALAM

28 January 2026

Hujan lebat yang mengguyur Pekanbaru malam ini seolah-olah sedang ikut menangis bersamaku. Aku duduk di tepi tempat tidur kayu yang sudah mulai berderit, menatap langit-langit kamar yang bocor di beberapa titik. Air hujan yang menetes masuk ke dalam ember plastik menciptakan suara tik-tik-tik yang monoton, seirama dengan detak jantungku yang terasa sangat sesak.

Di sampingku, Aris, suamiku, sedang terlelap. Wajahnya tampak begitu tenang saat tidur, sebuah ketenangan palsu yang dulu membuatku jatuh cinta. Namun, setiap kali dia terjaga, pria ini berubah menjadi orang asing yang mengerikan.

Tanganku yang kasar karena setiap hari bergelut dengan adonan kue dan cucian, bergerak perlahan meraih ponsel Aris yang tergeletak di atas bantal. Biasanya, aku tidak pernah ingin tahu urusan pribadinya. Aku percaya pada konsep ketaatan seorang istri. Namun, firasatku selama sebulan terakhir ini terlalu kuat untuk diabaikan.

Aku tahu polanya. Aku tahu kapan dia berbohong.

Layar ponsel itu menyala, memantulkan cahaya biru yang pucat ke wajahku. Ponselnya tidak dikunci. Mungkin dia terlalu lelah setelah seharian "bekerja"—yang aku tahu hanyalah dia keluar rumah dengan rapi namun pulang dengan tangan kosong dan emosi yang meledak-ledak.

Aku membuka aplikasi pesan singkat. Kosong. Dia sudah menghapusnya. Tapi, aku tidak berhenti di sana. Aku membuka aplikasi perbankan yang ada di ponselnya. Saat jariku menekan menu Informasi Saldo, napas seakan berhenti di kerongkongan.

Saldo: Rp 14.500.

Kepalaku mendadak pening. Seluruh tubuhku gemetar hebat.

"Tidak mungkin..." bisikku, nyaris tak terdengar.

Dua hari yang lalu, aku baru saja menyetorkan uang sebesar dua belas juta rupiah ke rekening itu. Uang itu bukan uang jatuh dari langit. Itu adalah uang hasil jerih payahku bangun jam dua pagi setiap hari untuk membuat ribuan donat, pastel, dan risoles. Itu adalah uang tabungan selama satu tahun yang rencananya akan kami gunakan untuk biaya masuk sekolah Bumi ke jenjang SD, serta biaya pengobatan Bintang yang sering terkena asma.

Dengan tangan yang masih gemetar, aku membuka menu Mutasi Rekening. Mataku nanar melihat deretan transaksi yang hampir semuanya mengalir ke satu jenis nama akun: "DEPO - GACOR 88", "ZEUS KAKEK PETIR", "SLOT MANIA".

Nilainya bervariasi. Ada yang lima ratus ribu, satu juta, bahkan ada satu transaksi sebesar lima juta rupiah yang dilakukan sore tadi saat aku sedang sibuk mengantar pesanan kue di bawah terik matahari.

Air mataku jatuh seketika, menetes di atas layar ponsel yang dingin.

Hatiku hancur berkeping-keping. Aku teringat bagaimana aku harus menahan lapar di pasar demi menghemat uang lima ribu rupiah agar bisa ditabung. Aku teringat bagaimana aku tetap menggoreng kue meski tanganku terkena percikan minyak panas, demi mimpi melihat anak-anakku sekolah di tempat yang layak.

Dan pria ini... pria yang seharusnya menjadi pelindungku, justru menghanguskan semuanya hanya dalam beberapa kali ketukan jari di layar ponsel. Dia berjudi dengan masa depan anak-anaknya sendiri.

Tiba-tiba, Aris menggeliat. Dia membuka matanya dan melihatku sedang memegang ponselnya. Dalam sekejap, ketenangan di wajahnya hilang, digantikan oleh sorot mata liar yang dipenuhi amarah.

"Apa-apaan kamu? Kenapa pegang HP-ku?!" bentaknya sambil merampas ponsel itu dengan kasar.

Aku berdiri, mencoba mengumpulkan sisa martabatku di tengah isak tangis yang mulai pecah. "Dua belas juta, Mas... Kamu habiskan dua belas juta rupiah dalam waktu dua hari?"

Aris tertegun sejenak, namun dia segera memasang wajah angkuh yang paling aku benci. "Itu untuk usaha, Lisna! Jangan sok tahu kamu!"

"Usaha apa, Mas? Judi slot itu usaha? Kakek petir itu usaha? Kamu mencuri uang sekolah anakmu sendiri demi judi!" teriakku, suaraku meninggi melampaui suara hujan di luar.

"Jaga mulutmu!" Aris berdiri, dia tampak sangat mengintimidasi dengan tubuhnya yang lebih besar dariku. "Aku itu lagi berusaha buat kita kaya! Tadi itu hampir menang, Lisna! Sedikit lagi aku dapat Maxwin, uang itu bisa balik jadi seratus juta! Kamu itu istri nggak punya otak, nggak tahu caranya mendukung suami!"

"Mendukung suami untuk hancur? Mendukung suami untuk jadi pembohong?" aku tertawa getir di tengah tangis. "Kamu sudah kecanduan, Mas. Kamu sakit!"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Kepalaku tersentak. Aku merasakan perih yang luar biasa, dan rasa asin darah mulai memenuhi mulutku. Pipiku terasa kebas, namun rasa sakit di hatiku jauh lebih hebat. Ini adalah tamparan fisik pertamanya setelah ribuan tamparan mental yang dia berikan padaku selama ini.

Suara tamparan itu rupanya cukup keras hingga membangunkan Bumi, anak sulungku.

"Ibu..." suara kecil Bumi terdengar dari ambang pintu kamar. Dia berdiri di sana dengan baju tidur yang sudah kekecilan, memeluk gulingnya dengan mata yang penuh ketakutan.

Aris menoleh ke arah Bumi dengan tatapan benci. "Masuk kamar, Bumi! Jangan ikut campur urusan orang tua!"

"Jangan bentak dia!" aku melindungi Bumi, menariknya ke belakang punggungku. "Cukup, Aris. Kamu sudah melewati batas."

"Batas apa? Kamu itu cuma istri! Tugasmu itu nurut! Sekarang, masuk dapur, buatkan aku kopi! Aku pusing habis kalah tadi!" perintahnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Aku menatap Aris dengan pandangan yang benar-benar berbeda malam ini. Selama sepuluh tahun pernikahan ini, aku selalu berusaha menjadi istri yang sabar. Aku memaafkan saat dia malas bekerja, aku memaafkan saat dia berbohong soal uang makan, aku bahkan memaafkan saat dia mulai menjual perhiasan mas kawinku satu per satu.

Tapi malam ini, saat dia mengangkat tangannya padaku dan menghabiskan uang masa depan anak-anak kami demi judi, sesuatu di dalam diriku mati. Rasa cintaku pada pria ini menguap bersama tetesan hujan di luar.

"Aku tidak akan buatkan kopi. Aku tidak akan buatkan apa pun lagi untukmu," kataku dengan suara yang sangat tenang, suara yang bahkan membuat diriku sendiri terkejut.

Aris tertawa mengejek. "Oh, sudah berani melawan ya? Mau jadi apa kamu tanpa aku? Kamu itu cuma penjual kue jalanan! Tanpa aku, kamu dan anak-anakmu itu gembel!"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menuntun Bumi kembali ke kamarnya, lalu mengunci pintu kamar anak-anak dari dalam. Di sana, Bintang dan Cahaya masih tertidur pulas, tidak tahu bahwa duniaku baru saja berakhir.

Aku duduk di lantai kamar anak-anak, memeluk lututku. Di luar, aku mendengar Aris masih mengumpat, lalu terdengar suara pintu depan dibanting dengan keras. Mungkin dia pergi ke warung kopi untuk mencari pinjaman demi deposit lagi.

Aku tahu, jika aku tetap di sini, aku akan hancur. Anak-anakku akan tumbuh melihat ibunya ditindas dan ayahnya menjadi hamba judi. Aku tidak ingin Bumi menganggap memukul wanita itu wajar, dan aku tidak ingin Cahaya berpikir bahwa ditindas itu adalah takdir seorang istri.

Dengan gerakan cepat dan sunyi, aku mengambil tas ransel besar. Aku memasukkan beberapa potong baju anak-anak, akta kelahiran, dan dokumen-dokumen penting lainnya. Aku tidak membawa baju-bajuku sendiri, hanya daster yang melekat di tubuh dan dua potong ganti.

Lalu, aku merogoh bagian paling bawah lemari baju anak-anak. Di sana, di dalam kaleng biskuit bekas yang kusembunyikan di balik tumpukan popok, ada uang recehan sisa kembalian pasar yang kukumpulkan selama berbulan-bulan. Aris tidak tahu tentang tabungan rahasia ini karena dia menganggap recehan tidak ada harganya.

Aku menghitungnya dengan cepat. Dua ratus sepuluh ribu rupiah.

Hanya itu modal keselamatanku. Dua ratus sepuluh ribu untuk menghidupi tiga orang anak. Gila memang, tapi aku lebih baik mati kelaparan di jalanan daripada tetap tinggal bersama pria yang tidak lagi memiliki nurani.

Sebelum aku menutup tas, mataku tertuju pada sebuah kotak kayu kecil di sudut lemari. Kotak peninggalan Emak yang meninggal tahun lalu. Emak menitipkannya padaku saat dia sedang kritis. "Simpan ini, Lis. Jangan dibuka kecuali kamu merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," bisik Emak kala itu.

Aku memasukkan kotak itu ke dalam tas.

"Bumi, bangun sayang," bisikku sambil mengelus pipi Bumi.

Anak itu langsung bangun, seolah dia sudah bersiap-siap untuk saat ini. "Kita mau pergi, Bu?"

"Iya. Kita pergi ke tempat yang aman."

Aku menggendong Cahaya yang masih bayi dengan kain jarik, memegang tangan Bintang yang masih mengantuk, dan Bumi membawa tas ranselnya sendiri. Kami keluar lewat pintu dapur yang berderit.

Udara malam yang dingin menusuk kulit, tapi aku tidak peduli. Aku menoleh sekali lagi ke arah rumah kontrakan kecil yang telah menjadi saksi bisu air mataku selama bertahun-tahun.

"Selamat tinggal, Aris," gumamku. "Nikmatilah petir judimu itu sampai kamu hangus. Tapi jangan pernah berharap bisa menemukan kami lagi."

Aku melangkah menembus kegelapan, menuju Terminal Bus, meninggalkan segala rasa sakit hati dan pengkhianatan di belakangku. Perjalananku menjadi wanita yang mandiri dan kaya raya dimulai malam ini, dari modal dua ratus sepuluh ribu rupiah dan luka yang masih berdarah di pipiku.

Jangan mengemis saat aku kaya nanti, Aris. Karena saat itu, kamu hanyalah sampah yang akan kusapu dari ingatanku.