Om CEO, Lepaskan Aku!-Rencana Yang Gagal-Bab 22

16 September 2025

Arion memarkir mobil lalu keluar dan bersandar di pintunya. Pandangannya mengedar. Kedua alisnya nyaris tertaut seperti sedang mengingat sesuatu.

“Ini seperti kampusnya—“

“Om!” Dengan sekuat tenaga Zara memukul sebelah bahu Arion. Lalu berdiri memberengut seperti ingin menelan Arion hidup-hidup.

Arion kaget, sontak dia menoleh sambil mengusap bahunya yang terasa panas. “Kamu—“

“Om ngapain di sini?! Jangan bilang mau nyariin aku, ya?!” semprot Zara galak. Detik kemudian gadis itu teringat sesuatu. Dia celingukan melihat ke sekitar, seperti takut bertemu seseorang.

Arion tertawa meledek sambil mengibaskan tangan di depan wajah. “Siapa yang mencarimu? Kebetulan aku lewat sini, jadi yaa sekalian saja. Lagipula kan jadwalmu les piano sepulang kuliah.”

Zara langsung teringat akan jadwalnya yang tiba-tiba berubah tanpa dia tahu. Kedua bola matanya melotot. “Om! Aku mau tanya, siapa yang rubah jadwal lesku?! Kenapa jadi tujuh kali seminggu? Memangnya siapa yang minta perubahan jadwal?” cecar Zara seperti biasa bicara tanpa ada jeda untuk menarik napas.

Arion tersenyum dengan memasang raut wajah santai. “Aku sebagai CEO Nawasena yang merubah jadwal itu. Kenapa? Apa masih ada yang kurang? Apa jamnya juga mau ditambahkan? Ohh tentu saja boleh.”

“Apaan sih, Om! Seenaknya saja rubah jadwal les orang! Aku nggak mau!”

“Aku nggak minta pendapat kamu kok. Aku berhak merubah jadwal kamu karena aku pemilik Nawasena. Menurut data tentang perkembanganmu selama menjadi murid di Nawasena, ternyata grafikmu sangat lambat. Tidak ada kenaikan yang signifikan. Guru les pun nyaris frustasi punya murid lambat sepertimu.”

Sontak emosi Zara naik hingga ke ubun-ubun. Kedua tangannya terkepal kencang. “Kata siapa Kak Irene frustasi mengajarku?! Justru aku selalu cepat belajar! Jangan main-main denganku, ya!” teriak Zara meledak. Membuat beberapa orang yang berjalan di sekitar mereka langsung menoleh dan saling berbisik.

Arion meletakkan jari telunjuknya di bibir. “Ssttt! Jangan berisik, Zara. Harga diriku bisa jatuh nanti. Sudah diam, ayo masuk ke mobil! Jangan sampai jam les akan telat gara-gara ini. Aku ini orang sibuk, jangan buang-buang waktu!”

“Aku nggak mau!” Zara membuang pandangan, dia melengos ke arah samping.

Saat itulah Zara melihat Nathan sedang berjalan sendirian, kemungkinan sedang menuju tempat mobilnya diparkir.

Spontan Zara menarik ujung baju Arion lalu dia bersembunyi di belakang tubuh Arion yang jauh lebih tinggi darinya. “Diam! Jangan bilang pada siapapun aku ada di sini!” bisiknya sambil terus mencengkeram baju Arion dari belakang.

“Hei! Kenapa? Ada pinjol yang nyariin kamu?” tanya Arion santai. Sorot matanya memindai tapi tak melihat siapapun yang mencurigakan. Kebetulan Nathan juga telah berjalan menjauh di seberang sana, hanya tinggal terlihat punggungnya saja.

Namun begitu, Zara tetap takut Nathan akan melihatnya bersama dengan Arion. Dia tidak mau Nathan berpikiran kalau dia ada main dengan seorang om-om. Tidak keren sekali, pikir Zara. Lagipula Zara sudah mati-matian menjaga nama baiknya di depan Nathan. Bisa sia-sia semua perjuangannya selama ini kalau sampai Nathan melihatnya seperti ini.

“Diem deh, Om! Enak saja pinjol! Sudah ayo kita pulang sekarang.” Zara menyelinap lewat belakang badan Arion lalu membuka pintu penumpang depan. Dia segera masuk sambil menutupi wajah dengan kedua tangan dan memindai sekitar. Mencari sudah pergi kemana Nathan.

Padahal tidak akan juga ada yang bisa melihatnya di dalam mobil itu, sebab kaca depan dan samping cukup gelap, kecuali memang dari jarak dekat.

Arion juga masuk ke mobil, lalu mulai melaju keluar area kampus. “Ini nama kampusmu Universitas Nusantara bukan?”

“Iya.” Zara malas banyak bicara. Dia memilih sibuk dengan layar handphone.

“Hemm berarti benar,” gumam Arion pelan.

Namun begitu Zara bisa mendenganya, dia langsung menoleh, penasaran. “Apanya yang benar?”

“Yang benar berarti nggak salah,” jawab Arion sekenanya. Dia enggan membahas tentang sesuatu yang ada di pikirannya saat ini.

Zara langsung mendengkus kesal, sewot sendiri karena jawaban nyeleneh Arion. Menyesal dia bertanya.

Sesampainya di rumah bernuansa tropic modern, Zara langsung turun dari mobil dan terus berjalan tanpa menunggu Arion.

“Langsung ke ruang musik!” seru Arion yang berjalan santai saja di belakangnya. Zara hanya menoleh sebentar ke belakang tanpa menjawab apapun. Meskipun ekspresi wajahnya jelas menolak, tapi tetap saja dia harus menurut. Tidak terbayangkan jika Arion kesal padanya lalu membongkar rahasia mereka berdua di malam itu. Zara membayangkan dia akan diusir dari rumah ini oleh sang papa.

Astrid yang kebetulan sedang duduk santai di balkon kamarnya, melihat kedatangan mobil Arion. Senyumnya langsung sumringah. Apalagi setelah melihat Zara juga turun dari mobil itu. Dia langsung berjalan cepat menuruni tangga menuju lantai satu.

“Eh Zara sudah pulang. Oh, pulang bareng Mas Arion? Wah, mau les piano lagi kayaknya ya?”

“Iya, Kak,” jawabnya singkat seraya mendelik tajam pada Arion. Lalu tanpa basa-basi dia langsung melangkah menuju ke ruang musik.

Arion mengangguk sekali pada Astrid. “Permisi,” katanya kemudian mengikuti langkah Zara. Astrid membalas anggukan itu, tapi sorot matanya terus mengikuti pergerakan Arion hingga ikut masuk ke ruang musik.

Astrid memicingkan kedua bola mata. “Huh, kalau hanya seperti ini saja yang dilakukan Arion, bakalan lama banget sampai bisa mengusir anak itu. Aku sudah nggak sabar mau jadi nyonya rumah. Aku harus berbuat sesuatu,” desisnya berbisik.

Astrid punya rencana. Dia segera berjalan kembali menuju kamarnya. Mencari-cari di laci meja nakas terbawah. Senyumnya begitu licik ketika telah menemukan yang dia cari. Astrid membawa botol kecil berisi cairan berwarna biru. Dia menuju dapur di lantai satu.

“Nona Astrid, adakah yang bisa dibantu?” tanya seorang pelayan yang sedang merapikan dan membersihkan tumpukan piring kotor di atas wastefel.

“Ohh nggak perlu, biar aku sendiri saja,” jawabnya lalu menyuruh pelayan itu lanjutkan saja pekerjaannya. Setelah pelayan pergi dan kembali sibuk, segera Astrid mengambil dua gelas bersih. Dia lalu membuatkan minuman dingin untuk Arion dan Zara.

Sekali lagi Astrid tersenyum licik. Dia menoleh ke kanan kiri.. Bagus! Nggak ada orang lain di sini. Aku harus cepat supaya nggak ketahuan siapapun!

Dikeluarkannya botol kecil dari saku celana, lalu menuangkan beberapa tetes cairan berwarna biru itu ke salah satu gelas. “Hemm biar Arion saja dulu yang meminum ini, biar si Zara itu merasa sedang diperkosa, lebih seru lagi kalau saat itu terjadi lalu pas papa pulang,” desisnya pelan.

Astrid tersenyum miring. Dia segera memasukkan kembali botol tadi ke dalam saku lalu mengaduk dua gelas minuman itu.

“Sayang!”

“Ahh!” Prang! Astrid kaget lalu tanpa sengaja satu tangannya menyenggol gelas di atas meja hingga terjatuh ke lantai.