BAB 3: CAHAYA DI BALIK LAYAR KACA

28 January 2026

Kehadiran Aris yang tiba-tiba di rumah Bapak seperti badai yang mencoba meruntuhkan benteng pertahanan yang baru saja kubangun. Setelah dia diusir dengan ancaman parang oleh Bapak, suasana rumah menjadi hening, namun hati ini masih berdenyut nyeri. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap jari-jariku yang masih sedikit gemetar. Sepuluh tahun aku tunduk pada pria itu, dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku melihatnya sebagai sosok yang kecil dan menyedihkan.

"Lis, jangan dimasukkan ke hati omongan sampah itu," suara Emak Maryam memecah lamunanku. Beliau masuk membawa secangkir teh jahe hangat.

"Aku cuma nggak habis pikir, Mak. Bahkan setelah semua yang dia lakukan, yang dia cari tetap modal buat judi. Dia sama sekali nggak tanya kabar anak-anak," bisikku getir.

Emak mengusap bahuku lembut. "Itulah bedanya orang yang cinta keluarga dengan orang yang sudah jadi budak nafsu. Sekarang, kamu fokus saja. Emak lihat kamu mulai punya harapan di HP itu. Kerjakanlah, biar Emak yang jaga Cahaya."

Aku mengangguk, mencoba mengusir rasa sedih itu. Benar kata Emak, aku tidak boleh terjebak dalam drama yang diciptakan Aris. Aku harus bergerak.

Malam itu, aku kembali menyiapkan sudut kamarku. Aku tidak lagi menggunakan lampu belajar Bumi yang remang-remang. Dengan uang hasil "saweran" pertama dari Pak Alif kemarin, aku sudah membeli sebuah ring light murah dari toko elektronik di pasar. Cahayanya membuat wajahku tampak lebih hidup, menyamarkan sisa-sisa kelelahan yang terpahat di bawah mataku.

Aku membuka aplikasi ZoraLive. Jantungku masih berdebar, namun kali ini ada rasa antusias yang berbeda.

[Lisna_Mommy is Live Now]

Dalam hitungan menit, angka penonton menyentuh seratus orang. Rupanya, kontenku semalam meninggalkan kesan bagi banyak orang. Mungkin karena di platform yang penuh dengan joget-joget dan pamer kemewahan, sosok seorang ibu yang bercerita dengan tulus menjadi oase tersendiri.

"Selamat malam, semuanya. Terima kasih sudah kembali hadir," sapaku dengan senyum yang lebih tulus. "Malam ini, saya tidak ingin bicara soal duka. Saya ingin membacakan sebuah naskah cerita yang sedang saya susun. Ini tentang seorang wanita yang menemukan kembali suaranya setelah bertahun-tahun bungkam."

Aku mulai membacakan naskah yang kuselesaikan tadi sore. Sebuah cerita slice of life tentang keseharian di dapur, tentang aroma bawang yang menyengat namun memberikan rasa pada masakan, persis seperti ujian hidup yang menyakitkan namun mendewasakan.

Tiba-tiba, kolom komentar meledak.

“Duh, ngena banget. Saya juga IRT yang sering merasa nggak punya suara.” “Bahasanya puitis tapi gampang dicerna. Lanjut, Kak!”

Lalu, di tengah keramaian komentar, muncul sebuah notifikasi yang membuat layar ponselku dipenuhi animasi kelopak bunga mawar yang berguguran.

[Alif_Pratama sent you 'Dream Garden' (5x)]

Aku terperangah. Lima buah Dream Garden? Itu jumlah yang sangat besar jika dikonversi ke rupiah.

"Pak Alif... ya ampun, terima kasih banyak. Bapak terlalu baik," kataku dengan suara yang sedikit tercekat.

Alif_Pratama: “Jangan panggil Pak, panggil Alif saja. Saya sedang mendengarkanmu. Teruslah membaca, Lisna. Kamu tidak sedang berjualan kesedihan, kamu sedang menjual harapan. Dan itu tak ternilai harganya.”

Malam itu, siaranku berlangsung selama dua jam. Aku merasa seperti terlahir kembali. Bukan sebagai istri Aris yang malang, tapi sebagai Lisna, seorang wanita yang punya bakat.

Keesokan harinya, aku mulai merasakan efek dari kesuksesan kecil ini. Aku pergi ke pasar bersama Emak untuk belanja kebutuhan dapur. Jika biasanya aku hanya berani menatap daging sapi dari jauh dan memilih tempe yang sudah agak asam, hari ini aku dengan mantap meminta penjual daging membungkus satu kilogram daging rendang terbaik.

"Tumben, Lis? Ada rezeki?" tanya Mbak Ida, penjual sayur langgananku yang dulu sering melihatku menghitung uang receh dengan teliti.

"Alhamdulillah, Mbak. Ada sedikit tambahan," jawabku sambil tersenyum.

Aku juga membelikan Bumi tas sekolah baru bermerek yang selama ini hanya ia lihat di etalase toko. Melihat binar bahagia di mata anak sulungku saat memeluk tas itu, rasanya beban di pundakku menguap begitu saja. Inilah balas dendam yang elegan; bukan dengan memaki Aris di media sosial, tapi dengan membuktikan bahwa tanpa dirinya, anak-anakku justru jauh lebih sejahtera.

Namun, dunia digital tidak selalu ramah.

Saat aku sedang bersantai di teras rumah sambil membalas pesan-pesan dukungan di aplikasi, aku menemukan sebuah video pendek yang diunggah oleh akun baru dengan nama "Keadilan_Aris".

Video itu berisi rekaman Aris yang sedang menangis tersedu-sedu di depan kamera bututnya.

"Tolong saya, netizen... Istri saya kabur bawa anak-anak dan uang tabungan saya. Sekarang dia malah foya-foya, dandan cantik di live streaming sementara saya di sini hancur sendirian. Dia tergiur laki-laki kaya di internet dan lupa sama suaminya yang sedang susah..."

Tanganku gemetar menahan amarah. Video itu sudah ditonton ribuan kali. Beberapa komentar mulai menghujatku tanpa tahu kebenarannya.

“Wah, kacang lupa kulitnya nih istrinya.” “Cantik-cantik tapi tega ninggalin suami pas lagi di bawah.”

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dulu, aku mungkin akan langsung menelepon Aris dan memaki-makinya. Tapi sekarang, aku belajar dari Alif.

"Lisna, orang yang merasa bersalah akan selalu berisik. Orang yang benar akan tetap tenang dan membuktikan dengan fakta," kata Alif dalam salah satu pesan bimbingannya.

Aku tidak membalas video itu dengan drama. Sebagai gantinya, saat siaran langsung malam itu, aku tetap tampil anggun. Aku tidak menyinggung soal video Aris sampai seseorang di kolom komentar bertanya dengan nada sinis.

"Kak Lisna, beneran ya suaminya ditinggal pas lagi susah?" tanya akun anonim itu.

Aku berhenti membaca naskahku sejenak. Aku menatap lurus ke kamera.

"Banyak orang yang mendefinisikan 'susah' dengan kondisi ekonomi," kataku dengan suara tenang dan stabil. "Tapi bagi saya, 'susah' yang sebenarnya adalah saat kita kehilangan kepercayaan dan keamanan di rumah sendiri. Saya tidak meninggalkan suami saya karena dia miskin. Saya dulu jualan kue untuk menopang hidup kami. Saya meninggalkan suami saya karena dia lebih mencintai mesin judi daripada masa depan anaknya. Jika berjuang untuk keselamatan mental anak-anak dianggap sebagai 'istri durhaka', maka saya terima gelar itu dengan lapang dada."

Seketika, kolom komentar sunyi sebentar, lalu dibanjiri dukungan.

“Respect! Judi emang penyakit!” “Jangan kasih panggung buat suami pecandu!”

Di saat itulah, Alif mengirimkan pesan pribadi lagi.

Alif_Pratama: “Jawaban yang cerdas. Besok, aku ingin bertemu denganmu di kota. Ada kontrak penulisan yang harus kamu tandatangani secara fisik. Aku akan datang bersama perwakilan penerbit.”

Aku terdiam. Bertemu dengan Alif? Selama ini dia adalah sosok misterius yang sangat membantuku. Ada rasa takut, namun juga rasa penasaran yang besar.

Hari pertemuan pun tiba. Aku meminta izin pada Bapak dan Emak. Aku mengenakan gamis berwarna sage green yang simpel namun elegan. Aku tidak lagi tampak seperti wanita yang baru saja mengalami KDRT. Wajahku bersih, dengan riasan minimalis yang menonjolkan kecantikan alamiku.

Kami bertemu di sebuah kafe tenang di pusat kota Pekanbaru. Saat aku melangkah masuk, seorang pria berdiri dari kursi di sudut ruangan.

Dia mengenakan kemeja biru muda yang rapi, kacamata berbingkai tipis, dan memiliki senyum yang sangat meneduhkan. Wajahnya tidak seperti pengusaha sombong, melainkan seperti seorang akademisi yang cerdas.

"Lisna?" tanyanya lembut.

"Pak... eh, Mas Alif?" tanyaku ragu.

Alif tersenyum lebar. "Akhirnya kita bertemu secara nyata. Ini rekan saya dari Penerbit Aksara, Bu Sarah."

Pertemuan itu berlangsung sangat profesional. Bu Sarah memuji naskah ceritaku yang katanya sangat menyentuh dan memiliki pasar yang besar di kalangan pembaca wanita. Mereka menawarkanku kontrak eksklusif dengan nilai uang muka yang cukup untuk membiayai sekolah Bumi hingga lulus SD.

"Kami ingin ceritamu ini menjadi inspirasi bagi banyak wanita, Lisna," ujar Bu Sarah.

Setelah urusan kontrak selesai dan Bu Sarah pamit, aku tinggal berdua dengan Alif.

"Kenapa Mas Alif membantu saya sejauh ini?" tanyaku jujur.

Alif menatap kopinya sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. "Karena aku pernah berada di posisi Bumi, Lisna. Ayahku juga seorang penjudi. Aku melihat Ibuku hancur karena mencoba bertahan. Saat aku melihatmu di live malam itu, aku melihat perjuangan Ibuku. Aku tidak ingin kamu berakhir seperti dia."

Hatiku berdesir. Ada rasa hangat yang menjalar. Bukan sekadar rasa cinta biasa, tapi rasa dihormati sebagai manusia.

Saat aku hendak pulang, aku tidak sengaja berpapasan dengan seseorang di pintu keluar kafe.

Aris.

Dia sedang berdiri di parkiran, tampaknya dia membuntutiku dari desa. Matanya melotot melihatku keluar dari kafe mewah bersama pria seperti Alif.

"Oalah! Jadi ini laki-laki kaya itu?" teriak Aris sambil mendekat, wajahnya penuh kecemburuan yang menjijikkan. "Hebat kamu ya, Lisna! Belum resmi cerai sudah gandeng laki-laki lain!"

Aku tidak mundur. Aku justru melangkah maju, menatap Aris dengan dingin. "Mas, kenalkan, ini Mas Alif. Dia mentor penulisanku. Dan Mas perlu tahu satu hal..."

Aku mengangkat dokumen kontrak yang baru saja kutandatangani.

"Ini adalah bukti bahwa tanpa kamu, aku bukan hanya bisa hidup, tapi aku bisa bersinar. Mulai sekarang, bicaralah dengan pengacaraku. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumah Bapak lagi, atau kamu akan berurusan dengan hukum."

Alif berdiri di sampingku, memberikan perlindungan tanpa perlu berkata-kata. Aris hanya bisa melongo, melihat istrinya yang dulu kusam kini tampak begitu berkelas dan jauh dari jangkauannya.

"Lisna... kamu berubah," gumam Aris lesu.

"Bukan aku yang berubah, Mas. Tapi matamu yang baru terbuka kalau aku punya nilai setelah aku tidak lagi menjadi milikmu," jawabku telak.

Aku masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan Alif, meninggalkan Aris yang berdiri mematung di parkiran di bawah terik matahari, tampak begitu kecil dan terlupakan.