BAB 4: KESUKSESAN YANG BERBUAH MANIS

28 January 2026

Setelah pertemuan di kafe itu, hidupku seperti berputar seratus delapan puluh derajat. Uang muka dari penerbit yang masuk ke rekeningku terasa begitu nyata—bukan hasil judi, bukan hasil pinjaman, tapi hasil murni dari memeras pikiran dan perasaan ke dalam tulisan. Hal pertama yang kulakukan adalah membawa Bapak Sugeng dan Emak Maryam ke toko pakaian terbaik di kota.

"Lis, ini mahalnya minta ampun. Emak pakai daster pasar saja sudah cukup," bisik Emak sambil memegang label harga sebuah gamis sutra.

Aku tersenyum, merangkul bahu wanita yang telah merawatku tanpa pamrih itu. "Mak, dulu Emak belikan aku baju lebaran dengan hasil jerih payah buruh cuci. Sekarang, biarkan Lisna yang belikan Emak baju dari hasil menulis. Ini uang halal, Mak. Bukan uang panas."

Bapak Sugeng hanya diam, namun aku melihat matanya berkaca-kaca saat mencoba kemeja batik baru. Kebahagiaan mereka adalah balasan paling manis yang bisa kuberikan setelah bertahun-tahun aku membuat mereka cemas karena nasibku di tangan Aris.

Namun, kesuksesan selalu membawa ujian baru. Novelku yang berjudul "Sisa Aroma Dapur" mulai dipromosikan secara besar-besaran oleh penerbit. Karena aku sering melakukan live streaming, promosi itu berjalan sangat cepat. Buku itu bercerita tentang seorang wanita yang dikhianati namun memilih bangkit melalui hobi memasaknya—sebuah cerita yang sangat dekat dengan kehidupanku sendiri.

Satu minggu setelah peluncuran naskah digital, namaku mulai dikenal. Akun media sosialku kebanjiran pengikut. Namun, di tengah sorak sorai pendukungku, Aris tidak tinggal diam.

Pagi itu, saat aku sedang membantu Emak memetik sayur di kebun belakang, Bumi berlari dengan wajah pucat.

"Bu... ada Ayah di depan. Ayah bawa banyak orang," lapor Bumi dengan suara gemetar.

Aku meletakkan keranjang sayur, menghela napas panjang. Aku sudah menduga ini akan terjadi. Aris tidak akan membiarkanku tenang setelah melihat aku mulai memiliki harta.

Di depan pagar rumah Bapak, Aris berdiri bersama seorang pria tambun yang mengenakan jaket kulit dan dua orang pria berbadan tegap. Di tangan Aris ada sebuah map plastik.

"Lisna! Keluar kamu! Jangan jadi pengecut!" teriak Aris.

Aku berjalan keluar, diikuti Bapak Sugeng yang sudah siap dengan tatapan tajamnya. "Ada apa lagi, Mas? Aku pikir peringatan tempo hari sudah cukup."

Aris tertawa mengejek, wajahnya tampak lebih bersih, mungkin karena dia baru saja mendapatkan uang entah dari mana. "Kamu pikir kamu sudah menang karena jadi penulis? Ini kenalkan, ini Bang Roni. Dia orang suruhan pemilik kontrakan kita dulu."

Pria berjaket kulit itu maju. "Mbak Lisna, suami Mbak ini bilang kalau uang tabungan dua belas juta yang Mbak bawa lari itu sebenarnya adalah uang pinjaman dari kantornya yang harus dibayarkan untuk denda kontrakan. Jadi, saya ke sini untuk menagih hak kami."

Aku tertegun, lalu tertawa getir. "Mas, kamu benar-benar luar biasa ya? Kamu memutarbalikkan fakta seolah aku yang mencuri uangmu? Padahal uang itu hasil keringatku berjualan kue!"

"Nggak ada buktinya, Lis! Rekeningnya kan atas namaku!" Aris berkacak pinggang, tampak sangat percaya diri. "Kalau kamu nggak mau aku laporkan ke polisi atas tuduhan penggelapan uang, berikan aku lima puluh juta sekarang. Anggap saja itu biaya tebusan untuk nama baikmu yang mulai naik itu. Kalau tidak, aku akan buat video viral lagi kalau penulis favorit netizen ini ternyata seorang pencuri."

Ini adalah titik di mana aku menyadari bahwa Aris bukan hanya pecandu, tapi juga parasit yang berbahaya. Dia mencoba memeras kesuksesanku dengan ancaman hukum yang ia buat-buat.

"Lima puluh juta?" tanyaku pelan.

"Ya! Untuk ganti uang yang kamu bawa kabur dan kerugian mentalku sebagai suami yang ditinggalkan!"

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di belakang kerumunan itu. Alif keluar dari mobil dengan wajah yang sangat tenang. Ia memegang sebuah tablet di tangannya.

"Sepertinya ada keributan di sini," ujar Alif sambil berjalan mendekat.

"Siapa lagi kamu? Jangan ikut campur! Ini urusan rumah tangga!" bentak Aris.

Alif tidak menghiraukan Aris. Ia justru menatap pria berjaket kulit itu. "Bang Roni, kan? Saya sudah mengecek riwayat kontrakan rumah nomor 42 di Jalan Melati atas nama Aris. Pemiliknya bilang tidak ada denda, malah Aris sudah menunggak tiga bulan dan kunci rumahnya sudah diganti karena Aris mencoba menjual televisi pemilik kontrakan untuk modal judi."

Wajah pria bernama Roni itu berubah. Ia menatap Aris dengan curiga.

"Dan untuk Mas Aris..." Alif beralih menatap mantan suamiku itu dengan senyum tipis yang mematikan. "Saya sudah memegang data dari pusat cyber aplikasi perbankan. Saya punya riwayat lengkap kapan uang dua belas juta itu masuk ke rekening Anda, dan ke situs judi mana saja uang itu mengalir hanya dalam hitungan jam. Jika Anda ingin membawa ini ke polisi, silakan. Kita akan lihat siapa yang akan memakai baju oranye lebih dulu."

Aris mendadak pucat pasi. Tubuhnya bergetar. "Kamu... kamu nggak bisa seenaknya ambil data pribadiku!"

"Data itu akan menjadi bukti hukum yang sah jika digunakan untuk membela korban pemerasan," sahut Alif tegas. "Bang Roni, lebih baik Abang pergi sebelum saya panggilkan patroli polisi yang kebetulan sedang lewat di ujung jalan."

Melihat keadaan berbalik, Bang Roni dan teman-temannya segera pergi, meninggalkan Aris sendirian yang kini tampak seperti tikus terjepit.

"Lis... Lisna, tolonglah... aku cuma bercanda tadi," rintih Aris, suaranya berubah drastis menjadi memelas. "Aku lagi banyak hutang, Lis. Debt collector ngejar aku terus. Tolong kasih aku sedikit saja, sejuta pun jadi buat aku makan..."

Aku menatap Aris dengan rasa hiba yang sudah mati. "Dulu, saat aku mengemis padamu agar jangan memakai uang sekolah Bumi untuk slot, apa kamu peduli dengan makan kami, Mas? Kamu justru menamparku."

Aku merogoh saku gamisku, mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek. Aku melemparnya ke bawah kaki Aris.

"Ini untuk ongkosmu pulang. Jangan pernah kembali lagi. Surat cerai kita sudah diproses pengadilan. Besok, kita bukan lagi siapa-siapa."

Aris memungut uang itu dengan tangan gemetar. Ia pergi dengan langkah gontai, sosok yang dulu begitu besar dan menakutkan di mataku kini tampak sangat kerdil.

Setelah Aris pergi, Alif menghampiriku. "Kamu baik-baik saja?"

"Terima kasih, Mas Alif. Lagi-lagi Mas menyelamatkan saya," jawabku tulus.

"Aku hanya tidak ingin ceritamu terhenti karena gangguan seperti dia, Lisna. Oh ya, ada kabar baik lagi. Novelmu sudah masuk cetakan kedua dalam waktu kurang dari sebulan. Dan... ada tawaran untuk mengadaptasi ceritamu menjadi serial drama."

Aku menutup mulut dengan tangan, tidak percaya. "Serial drama?"

"Ya. Mereka ingin kamu yang menjadi penulis skenarionya. Ini kesempatan besar, Lisna. Kamu akan sering ke Jakarta. Kamu akan menjadi wanita yang benar-benar mandiri."

Aku menatap Bapak dan Emak yang tersenyum di ambang pintu. Aku menatap anak-anakku yang kini bisa bermain dengan tenang tanpa takut suara bentakan ayah mereka.

Kesuksesan ini memang berbuah manis, namun aku tahu, ini baru awal dari perjuanganku untuk menjaga apa yang telah kuraih. Aku bukan lagi Lisna yang hanya bisa menangis di dapur. Aku adalah Lisna yang ceritanya akan dibaca dan ditonton oleh ribuan orang.

Malam itu, di siaran langsungku, aku tampil dengan penuh percaya diri.

"Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung. Hari ini saya belajar satu hal," kataku di depan ribuan penonton. "Pembalasan terbaik untuk orang yang meremehkan kita bukanlah dengan menjatuhkan mereka, tapi dengan naik setinggi mungkin sampai mereka tidak bisa lagi menjangkau kita."

Animasi hadiah dan ucapan selamat membanjiri layar. Di antara ribuan komentar, aku melihat satu akun dengan profil foto yang sangat aku kenal: Aris.

Dia tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya menonton. Mungkin dia sedang melihat betapa indahnya taman yang dulu ia injak-injak, kini tumbuh subur dan mekar tanpa dirinya.

Jangan mengemis saat aku kaya, Aris. Karena sekarang, aku sudah terlalu tinggi untuk mendengar suaramu.