Malam ini, Jakarta tidak lagi terasa seperti hutan beton yang mengancam. Di bawah lampu kristal yang menggantung di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, aku merasa seperti pusat dari alam semesta. Wangi parfum mahal, denting gelas sampanye, dan obrolan kelas atas mengisi udara. Aku berdiri di depan cermin besar di ruang rias VVIP, menatap wanita yang balas menatapku dengan tatapan tajam dan berwibawa.
Aku mengenakan gaun malam berwarna midnight blue dengan potongan off-shoulder yang mengekspos leher jenjangku. Rambut hitamku yang kini sehat dan berkilau dibiarkan tergerai dengan gaya waves yang jatuh sempurna di bahu—tanpa hijab, tanpa beban. Riasan wajahku hari ini adalah sebuah pernyataan perang: bibir merah menyala dan mata yang tegas. Tidak ada lagi sisa-sisa Lisna yang kusam dan selalu menunduk saat dimaki suaminya.
"Mbak Lisna, lima menit lagi kita mulai sesi press conference," suara asisten produksi membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk, mengambil tas tangan kecilku. Saat aku keluar menuju area utama, Alif sudah menungguku. Ia tampak sangat tampan dan maskulin dengan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Saat melihatku, langkahnya terhenti. Ia menatapku cukup lama, seolah-olah sedang menghafal setiap detail perubahanku.
"Lisna," suaranya rendah dan serak. "Malam ini, kamu bukan hanya seorang penulis. Kamu adalah pemenang. Jangan biarkan siapa pun merusak momen ini."
Aku tersenyum, menyandarkan jemariku di lengannya. "Aku tidak akan membiarkannya, Mas. Aku sudah membayar terlalu mahal untuk berada di posisi ini."
Lampu sorot langsung menyambar saat aku melangkah ke atas panggung. Puluhan wartawan dari berbagai media nasional sudah siap dengan kamera dan alat rekam mereka. Di layar raksasa di belakangku, judul serial dramaku terpampang besar: "SISA AROMA DAPUR".
Sesi tanya jawab berlangsung lancar. Aku menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, menceritakan bagaimana setiap tetes air mata saat aku menggoreng kue di masa lalu kini berubah menjadi tinta emas dalam naskahku. Aku bicara tentang pemberdayaan wanita, tentang bagaimana rumah tangga tidak seharusnya menjadi penjara bagi mimpi-mimpi seorang istri.
Namun, di tengah suasana yang begitu elegan itu, pintu besar ballroom di ujung sana terbuka dengan bantingan keras.
Keamanan mencoba menahan seseorang, namun suara gaduh itu menarik perhatian seluruh ruangan. Kamera-kamera wartawan yang tadinya mengarah padaku, kini serempak berputar ke arah pintu masuk.
"Lisna! Lisna! Keluar kamu, istri durhaka!"
Jantungku berhenti berdetak sejenak. Suara itu. Suara serak dan kasar yang selama sepuluh tahun menghantui tidurku. Aris.
Dia tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan ini. Kemejanya kotor, rambutnya acak-acakkan, dan bau keringat serta keputusasaan menguar darinya. Dia menerobos barisan kursi, menunjuk-nunjuk ke arah panggung dengan mata merah yang liar.
"Lihat wanita ini! Dia terlihat suci di depan kalian, tapi dia lari dari rumah membawa anak-anak saya! Dia menggunakan uang tabungan saya untuk dandan seperti wanita nakal!" teriak Aris histeris.
Beberapa wartawan mulai menyalakan lampu kilat mereka ke arah Aris. Ini adalah skandal yang mereka inginkan. Seorang suami yang muncul di tengah peluncuran proyek besar istrinya.
"Lepaskan! Saya suaminya yang sah! Saya punya hak atas kesuksesan ini!" Aris meronta saat petugas keamanan memegangi lengannya. "Lisna, turun kamu! Kamu pikir bisa jadi kaya sendirian? Uang kontrak itu milikku juga! Kembalikan kehormatanku!"
Aku berdiri di panggung, menggenggam mikrofon dengan tangan yang dingin. Rasa malu sempat menyergapku, namun saat melihat wajah Aris yang penuh dengan nafsu akan uang, rasa malu itu berganti menjadi amarah yang membeku. Aku melirik Alif yang sudah bersiap memberikan kode pada keamanan untuk menyeret Aris keluar.
"Tunggu," kataku lewat mikrofon. Suaraku menggema di seluruh ruangan, tenang namun sangat berwibawa. "Biarkan dia bicara."
Suasana mendadak hening. Aris terdiam, menatapku dari kejauhan dengan tatapan penuh kebencian sekaligus keinginan untuk menguasai.
Aku melangkah turun dari panggung perlahan. Setiap ketukan sepatu hak tinggiku di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi masa laluku. Aku berjalan lurus menuju Aris, tidak ada rasa takut, hanya ada rasa jijik yang mendarah daging.
"Mas Aris," aku berdiri tepat di depannya. Bau alkohol samar tercium dari mulutnya. "Kamu bicara soal kehormatan? Kehormatan yang mana? Apakah kehormatan seorang suami adalah membiarkan istrinya dihina rentenir sementara dia asyik menekan tombol judi? Apakah kehormatanmu adalah mencuri uang susu Cahaya untuk deposit slot?"
Aris ternganga. Dia tidak menyangka aku akan membongkar aibnya di depan puluhan kamera wartawan.
"Kamu ingin bagian dari uang kontrak ini?" aku tersenyum sinis, menatap kamera yang kini menyorot wajah kami berdua dalam jarak dekat. "Silakan. Tuntut aku di pengadilan. Tapi sebelum itu, kamu harus menjelaskan kepada publik dan polisi tentang bukti KDRT selama sepuluh tahun yang sudah kuserahkan pada pihak berwajib. Kamu ingin terkenal, kan? Selamat, besok seluruh Indonesia akan tahu betapa pecundangnya kamu."
Aris mundur selangkah, wajahnya yang tadi garang mendadak pucat pasi. Dia melihat ke sekeliling, ke arah orang-orang kaya dan terpandang yang menatapnya seperti menatap kotoran. Nyalinya menciut. Dia adalah singa di dalam rumah, tapi hanya seekor tikus di dunia nyata.
"Keamanan, tolong antar 'tamu' tak diundang ini keluar. Dan pastikan dia tidak mendekati hotel ini lagi," perintahku dengan nada dingin.
Aris diseret keluar sambil terus mengumpat, namun suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk wartawan yang kini mengerumuniku. Aku membalikkan keadaan. Aku tidak lagi menjadi korban, aku menjadi pejuang.
Setelah sesi wawancara yang melelahkan, Alif mengajakku ke area balkon privat yang menghadap ke arah Bundaran HI. Udara malam Jakarta menerpa wajahku, menghempaskan helai rambut hitamku yang panjang.
"Kamu luar biasa, Lisna. Kamu baru saja menghancurkan dia dengan cara yang paling elegan," puji Alif sambil memberikan segelas air mineral padaku.
"Aku hanya ingin dia tahu, Mas. Dunianya dan duniaku sudah berbeda."
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Saat aku berbalik untuk masuk kembali ke dalam hotel, seorang pria paruh baya dengan pakaian safari yang sangat rapi berdiri di sana. Di belakangnya ada dua orang pria berbadan tegap dengan kabel di telinga mereka.
Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan pantulan wajahku di cermin. Rahangnya yang tegas, sorot matanya yang dingin, dan aura kekuasaan yang mengintimidasi.
Hartono. Ayah biologis yang membuangku demi jabatan.
"Pertunjukan yang sangat menyentuh, Lisna," suara Hartono berat dan berwibawa. Ia melangkah mendekat, mengabaikan Alif yang kini berdiri protektif di sampingku. "Darahku memang tidak pernah berbohong. Kamu memiliki nyali yang besar."
Aku menatap pria yang selama tiga puluh tahun ini hanya kukenal lewat berita-berita ekonomi. "Tuan Hartono, saya tidak tahu apa tujuan Anda datang ke sini."
Hartono tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Aku datang untuk memperingatkanmu. Kamu mulai terlalu berisik. Novelmu, dramamu... itu mulai mengusik ketenangan keluargaku di Jakarta. Istriku mulai bertanya-tanya, dan rekan politikku mulai mencari tahu siapa sebenarnya penulis berbakat ini."
"Lalu?" tanyaku menantang.
"Berhenti, Lisna. Hentikan proyek ini. Aku akan memberimu kompensasi. Kamu ingin rumah? Kamu ingin mobil? Kamu ingin anak-anakmu sekolah di luar negeri? Aku akan berikan segalanya, asal kamu mengganti identitasmu dan lenyap dari publik. Jangan pernah sebut namamu atau kaitanmu dengan masa laluku."
Aku tertawa. Tawa yang pedih sekaligus mengejek. "Tuan Hartono, Anda pikir semua orang bisa dibeli dengan uang? Anda membuang Ibu Siti Aminah ke desa karena Anda pengecut. Anda membuang saya karena Anda takut jabatan Anda terancam. Dan sekarang, setelah saya bangkit dengan kekuatan saya sendiri, Anda ingin membeli saya lagi agar Anda bisa tetap terlihat 'bersih'?"
"Jangan sombong, Nak," suara Hartono merendah, penuh ancaman. "Kamu tidak tahu seberapa besar kekuasaan yang aku miliki. Aku bisa membuat kontrakmu dibatalkan dalam waktu satu jam. Aku bisa membuatmu kembali ke desa dalam kondisi lebih miskin dari saat kamu lari."
Alif maju satu langkah. "Tuan Hartono, Lisna bukan lagi wanita tanpa perlindungan. Jika Anda menyentuh kariernya, Anda akan berhadapan dengan jaringan media yang saya miliki. Skandal anak yang dibuang ini akan menjadi berita utama di setiap stasiun televisi sebelum Anda sempat mencalonkan diri tahun depan."
Hartono menatap Alif dengan tajam, lalu beralih padaku. "Kamu sudah menemukan pelindung yang tangguh rupanya. Tapi ingat satu hal, Lisna... darah tetaplah darah. Suatu saat kamu akan merangkak padaku saat semua orang meninggalkanmu."
"Saya lebih baik merangkak di atas aspal dengan keringat saya sendiri, daripada duduk di kursi mewah yang dibayar dengan pengkhianatan," jawabku telak.
Hartono berbalik pergi dengan langkah angkuh, diikuti para pengawalnya. Aku terhuyung sedikit, namun Alif segera menangkap bahuku.
"Aku takut, Mas," bisikku jujur.
"Jangan takut. Selama ada aku, mereka tidak akan bisa menyentuhmu. Malam ini adalah buktinya. Kamu sudah mengalahkan Aris, dan kamu sudah berani menatap mata Hartono. Kamu sudah menang, Lisna."
Aku menatap langit Jakarta yang mendung. Aku tahu, badai besar baru saja dimulai. Aris yang putus asa dan Hartono yang haus kekuasaan mungkin akan bekerja sama untuk menghancurkanku. Namun, aku juga tahu bahwa Lisna yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa diancam dengan tamparan atau uang.
Aku adalah pemilik ceritaku sendiri. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menuliskan akhir ceritaku kecuali diriku sendiri.