BAB 7: SKENARIO DI DUNIA NYATA

28 January 2026

Lampu sorot dari Bundaran HI menyinari jendela balkon hotel dengan pendar yang dingin. Setelah kepergian Hartono, suasana di dalam ruangan terasa hampa, meski aromanya masih dipenuhi parfum kelas atas dan sisa-sisa kemewahan pesta peluncuran. Alif masih berdiri di sampingku, tangannya yang hangat masih menyentuh bahuku, memberikan jangkar agar aku tidak hanyut dalam ketakutan yang tiba-tiba menyerang.

"Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik, Lisna," bisik Alif. Suaranya rendah dan menenangkan, kontras dengan gemuruh yang ada di dadaku.

Aku melepaskan diri perlahan dari sentuhannya, lalu berjalan menuju tepi balkon. Aku menatap jauh ke bawah, ke arah jalanan Jakarta yang tidak pernah tidur. Di bawah sana, Aris mungkin sedang meratapi nasibnya atau justru sedang merencanakan hal yang lebih gila. Dan di suatu tempat di gedung pencakar langit lainnya, Hartono mungkin sedang menelepon orang-orang kuatnya untuk menghapus namaku dari sejarah.

"Aku tidak menyangka akan menghadapi mereka berdua dalam satu malam yang sama, Mas," kataku sambil merapikan helai rambutku yang tertiup angin. Rambut hitamku yang tergerai ini terasa ringan, namun kepalaku terasa sangat berat. "Satu orang ingin menguras hartaku, dan satu lagi ingin menghapus eksistensiku. Kenapa laki-laki dalam hidupku selalu ingin mengendalikan langkahku?"

Alif melangkah maju, berdiri sejajar denganku tanpa menyentuh. "Karena mereka takut, Lisna. Aris takut kehilangan sumber uangnya, dan Hartono takut kehilangan kekuasaannya. Kamu adalah cermin dari kegagalan mereka sebagai manusia, dan tidak ada pria sombong yang suka melihat kegagalannya sendiri."

Aku terdiam, merenungi kata-kata Alif. Esok hari, berita tentang keributan di acara peluncuran ini pasti akan meledak. Aku bisa membayangkan judul berita di akun-akun gosip: Penulis Sukses Dilabrak Suami Sah atau Rahasia Kelam di Balik Sisa Aroma Dapur. Aku harus siap mental jika namaku diseret ke dalam lumpur.

Keesokan paginya, kekhawatiranku menjadi kenyataan. Baru saja aku membuka mata, ponselku sudah dibanjiri notifikasi. Video Aris yang berteriak-teriak di hotel semalam menjadi viral di TikTok dan Instagram. Namun, yang tidak kusangka adalah serangan balik yang begitu sistematis.

Beberapa akun besar mulai menyebarkan narasi bahwa aku adalah istri yang berselingkuh dengan "pria kaya" (yang mereka asumsikan adalah Alif) demi mendapatkan kontrak film, dan aku sengaja menjebak Aris agar terlihat sebagai pecandu judi untuk mendapatkan simpati publik.

"Ini kerjaan Hartono," ujar Alif saat kami bertemu di ruang kerja pribadinya pagi itu. "Dia menggunakan tim buzzer untuk merusak kredibilitasmu sebelum kamu sempat bicara lebih banyak soal masa lalu."

Aku membaca komentar-komentar pedas itu dengan hati yang pilu.

“Ternyata cuma jualan drama ya, kasihan suaminya sampai kayak gembel gitu.” “Pasti selingkuh itu, lihat aja penampilannya berubah drastis setelah ketemu mentornya.”

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mas?" tanyaku. Kali ini aku tidak menangis. Aku sudah terlalu sering menangis di dapur rumah kontrakan lamaku. Sekarang, aku hanya merasa lapar akan keadilan.

"Kita mainkan skenario mereka, tapi dengan cara kita," jawab Alif dengan senyum misterius. "Mereka ingin drama? Kita beri mereka dokumenter kenyataan."

Alif memanggil tim kreatifnya. Kami memutuskan untuk melakukan live streaming besar-besaran sore itu juga. Bukan di hotel mewah, tapi aku akan kembali ke rumah Bapak di desa melalui panggilan video, memperlihatkan kondisi anak-anakku, dan membuka semua bukti transaksi judi slot Aris yang sudah aku cetak dalam bentuk dokumen fisik.

Sore harinya, saat jumlah penonton live-ku menyentuh angka seratus ribu orang, aku duduk di sofa hotel dengan pakaian yang sederhana namun tetap anggun. Rambutku aku biarkan terurai alami, memperlihatkan wajahku yang tanpa riasan berlebihan. Aku ingin mereka melihat Lisna yang jujur.

"Halo semuanya," sapaku dengan suara yang tenang namun tegas. "Banyak berita yang beredar tentang apa yang terjadi semalam. Banyak yang menuduh saya menjual drama untuk sukses. Hari ini, saya tidak akan banyak bicara. Saya hanya ingin menunjukkan fakta yang selama ini saya simpan demi menjaga perasaan anak-anak saya."

Aku mengarahkan kamera ke tumpukan kertas di meja. "Ini adalah riwayat mutasi rekening suami saya selama dua tahun terakhir. Lihatlah tanggal-tanggal ini. Tanggal di mana anak saya, Bintang, harus masuk rumah sakit karena asma, namun uangnya ditarik untuk deposit di situs judi ini. Lihatlah nilai-nilai ini. Total seratus dua puluh juta rupiah uang hasil saya berjualan kue yang habis hanya dalam waktu singkat."

Aku menarik napas panjang, menahan emosi yang mulai meluap. "Saya tidak berselingkuh. Saya menyelamatkan nyawa anak-anak saya dari kemiskinan moral. Jika merawat diri dan menjadi sukses dianggap sebagai kesalahan setelah bertahun-tahun dihina, maka saya tidak tahu lagi apa arti keadilan bagi seorang istri."

Tiba-tiba, di kolom komentar, muncul akun Aris. Dia kembali mencoba memprovokasi.

@Aris_Real: "Jangan percaya! Itu semua editan! Dia dibayar orang kaya itu buat bikin bukti palsu! Lisna, balik kamu ke rumah! Jangan jadi wanita murahan!"

Namun, kali ini netizen tidak tinggal diam. Tim Alif rupanya sudah bergerak lebih dulu. Mereka mengunggah video testimoni dari tetangga-tetangga lamaku di Pekanbaru yang menceritakan bagaimana aku sering memar-mamar karena pukulan Aris, dan bagaimana aku tetap berjualan kue meskipun sedang hamil besar sementara Aris hanya duduk di warung kopi.

Komentar langsung berbalik arah. Dukungan mengalir deras. Hartono yang mencoba merusak namaku justru membuatku semakin dibela oleh banyak wanita yang senasib.

Namun, di tengah kemenangan itu, pintu kamar hotelku diketuk dengan keras. Aku segera mematikan live streaming tersebut. Saat aku membukanya, dua orang pria berseragam petugas dinas sosial dan seorang polisi berdiri di sana.

"Mbak Lisna? Kami menerima laporan tentang dugaan penelantaran anak dan penculikan anak di bawah umur yang dilakukan oleh Anda terhadap anak-anak dari saudara Aris. Kami harus membawa anak-anak untuk pemeriksaan sementara," ujar petugas itu dengan wajah dingin.

Duniaku mendadak gelap. Ini bukan cara Aris, ini adalah cara Hartono yang licik. Dia tahu bahwa kelemahanku adalah anak-anak. Dia menggunakan jalur hukum dan kekuasaannya untuk memisahkan aku dari Bumi, Bintang, dan Cahaya.

"Anda tidak bisa melakukan ini! Saya ibunya!" teriakku histeris.

"Kami hanya menjalankan tugas berdasarkan laporan resmi, Mbak. Silakan selesaikan di kantor jika Mbak punya bukti kuat," sahut polisi itu.

Bumi dan Bintang keluar dari kamar dengan wajah ketakutan. Cahaya mulai menangis keras di dalam kamar. Saat petugas mencoba menarik tangan Bumi, aku memeluknya erat-erat.

"Jangan sentuh anak saya!" teriakku.

Alif muncul dari lorong, ia tampak sangat marah. "Apa-apaan ini? Saya pengacara mereka, mana surat tugas resminya?"

Perdebatan sengit terjadi di lorong hotel. Aku terduduk di lantai, memeluk ketiga anakku dengan tubuh yang bergetar hebat. Di ujung lorong, aku melihat sesosok pria berdiri di balik bayangan pilar. Dia tidak mendekat, hanya memperhatikan dengan senyum sinis yang samar.

Hartono. Dia datang untuk menonton kehancuranku secara langsung. Dia ingin menunjukkan padaku bahwa di Jakarta, uang dan popularitas bisa dibeli, tapi kekuasaan sistemik adalah miliknya.

Aku menatap Hartono dengan mata yang penuh kebencian. Aku menyadari satu hal: bertarung dengan Aris adalah pertarungan melawan sampah, tapi bertarung dengan Hartono adalah pertarungan melawan raksasa.

"Mas Alif..." bisikku di tengah tangis Cahaya. "Jangan biarkan mereka bawa anak-anak. Tolong..."

Alif berlutut di depanku, memegang bahuku dengan kuat. "Mereka tidak akan bisa membawanya hari ini, Lisna. Aku akan pastikan itu. Sekarang, masuklah ke dalam kamar dan kunci pintunya. Biar aku yang selesaikan ini."

Aku masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, dan memeluk anak-anakku di atas tempat tidur mewah yang kini terasa seperti penjara. Aku menyadari bahwa kesuksesanku telah memicu monster yang lebih besar untuk bangun.

Hartono pikir dia bisa memisahkan seorang ibu dari anaknya? Dia salah besar. Jika dia ingin menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan hidupku, maka aku akan menggunakan setiap kata dalam naskahku untuk membakar kerajaannya sampai ke akar-akarnya.