BAB 8: PERANG TERBUKA DI MEJA HIJAU

28 January 2026

Suara tangis Cahaya pecah, melengking membelah ketegangan di lorong hotel yang dingin. Aku memeluknya erat, sementara Bumi dan Bintang bersembunyi di balik punggungku, mencengkeram kain bajuku hingga kusut. Di depanku, dua petugas dinas sosial dan seorang polisi masih berdiri kaku, seolah-olah hati mereka telah membatu oleh perintah atasan yang lebih tinggi.

"Mbak, tolong kooperatif. Kami hanya menjalankan prosedur atas laporan penelantaran anak," ucap petugas pria itu tanpa sedikit pun rasa iba.

"Penelantaran yang mana?" suaraku meninggi, bergetar karena amarah yang memuncak. "Anak-anak saya makan dengan layak, tidur di tempat yang aman, dan mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah mereka dapatkan dari ayahnya! Kalian datang ke sini bukan untuk keadilan, tapi karena kalian dibayar oleh pria di ujung lorong itu, kan?"

Aku menunjuk ke arah pilar tempat Hartono berdiri. Namun, saat aku menunjuk, sosok itu sudah menghilang, meninggalkan jejak teror yang tak kasat mata.

Alif maju selangkah, menghalangi pandangan para petugas itu dariku. "Saya Alif Pratama, kuasa hukum Mbak Lisna. Surat tugas yang kalian bawa ini cacat hukum. Laporan penelantaran harus melalui proses verifikasi lapangan, bukan langsung melakukan penjemputan paksa di hotel pada jam istirahat seperti ini. Jika kalian memaksa, saya akan menuntut kalian atas dasar penyalahgunaan wewenang dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap anak di bawah umur."

Ketegasan Alif membuat petugas itu ragu sejenak. Mereka saling berpandangan. Polisi yang mendampingi mereka tampak menghela napas, sepertinya dia sadar bahwa ini adalah pesanan orang kuat yang mulai berisiko bagi kariernya sendiri.

"Kami hanya mengikuti instruksi, Pak Alif," gumam polisi itu.

"Instruksi siapa? Hartono?" Alif menekan dengan nada rendah namun tajam. "Katakan padanya, jika dia ingin bermain kotor, saya punya bukti yang lebih kotor tentang bagaimana dia memanipulasi birokrasi malam ini. Sekarang, silakan keluar dari area privat klien saya sebelum saya memanggil pihak keamanan hotel dan media yang sedang menunggu di lobi."

Mendengar kata 'media', nyali mereka menciut. Skandal tentang petugas yang mencoba mengambil anak dari seorang penulis yang sedang viral bukanlah publikasi yang mereka inginkan. Dengan langkah yang dipaksakan, mereka akhirnya mundur dan meninggalkan lorong.

Begitu pintu kamar tertutup dan kukunci rapat, kekuatanku luruh. Aku terduduk di lantai, menyandarkan kepala di pintu yang dingin. Napas Cahaya mulai tenang di pundakku, namun dadaku masih terasa sesak.

"Ibu... apa kita akan dipisahkan?" tanya Bumi dengan suara kecil. Matanya yang polos menatapku dengan ketakutan yang mendalam.

Aku menariknya ke dalam pelukanku. "Tidak, Sayang. Tidak akan ada yang bisa mengambil kalian dari Ibu. Ibu janji."

Alif berlutut di depanku. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat lelah namun penuh determinasi. "Lisna, Hartono tidak akan berhenti di sini. Dia sudah menggunakan pengaruhnya ke instansi pemerintah. Ini bukan lagi soal Aris. Aris hanya bidak kecil yang dia manfaatkan agar dia tidak terlihat secara langsung."

"Kenapa dia setega itu, Mas? Aku ini anaknya," bisikku getir. "Dia membuangku saat bayi, dan sekarang saat aku sudah punya hidup sendiri, dia ingin menghancurkanku hanya karena takut namanya tercemar?"

"Karena bagi pria seperti Hartono, reputasi adalah segalanya. Kamu adalah bukti hidup dari kesalahan masa lalunya. Dia ingin kamu kembali menjadi 'bukan siapa-siapa' agar ceritamu tidak lagi punya daya tawar," Alif mengusap wajahnya. "Kita harus melakukan serangan balik. Bukan lagi soal judi Aris, tapi kita harus membongkar siapa Hartono sebenarnya."

Tiga hari kemudian, suasana Pengadilan Agama Jakarta Selatan dipenuhi oleh kilatan lampu kamera. Gugatan ceraiku terhadap Aris memasuki babak baru karena Aris secara tiba-tiba mengajukan tuntutan hak asuh anak dan harta gono-gini senilai lima milyar rupiah. Angka yang sangat tidak masuk akal bagi pria yang bahkan tidak punya uang untuk membeli pulsa.

Aku turun dari mobil bersama Alif. Aku tidak lagi mengenakan baju mewah. Aku memilih kemeja putih bersih dengan celana kain hitam, rambut hitamku aku ikat satu dengan rapi—memberikan kesan seorang ibu yang siap bertarung namun tetap bersahaja.

Di depan pintu pengadilan, Aris sudah menunggu. Dia tidak lagi tampak kusam seperti minggu lalu. Dia mengenakan jas murah yang tampak kebesaran, didampingi oleh seorang pengacara yang dikenal sering menangani kasus-kasus 'pesanan'.

"Lisna! Siapkan uangnya, atau anak-anak akan ikut aku ke Pekanbaru!" teriak Aris saat melihatku. "Kamu sudah kaya, jangan serakah! Bagi hartamu pada suami yang sudah membimbingmu selama sepuluh tahun!"

Aku tidak menoleh. Aku terus berjalan mengikuti Alif masuk ke dalam ruang sidang.

Di dalam ruangan yang kaku itu, hakim mulai membacakan agenda persidangan. Pengacara Aris mulai bicara dengan nada yang dibuat-buat sedih, menceritakan bagaimana Aris adalah "suami yang terabaikan" dan "ayah yang rindu anak" sementara istrinya sibuk mengejar ketenaran di ibu kota.

"Klien kami menuntut hak asuh penuh karena Ibu Lisna terlalu sibuk dengan dunia hiburan dan penulisan, sehingga menelantarkan pendidikan anak-anak di desa," ujar pengacara itu dengan percaya diri.

Alif berdiri dengan tenang. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menyambungkannya ke layar proyektor ruang sidang.

"Yang Mulia, sebelum kita bicara soal hak asuh, mari kita bicara soal kelayakan," ujar Alif. "Kami memiliki bukti rekaman dari tetangga dan juga data dari kepolisian Pekanbaru tentang riwayat kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan saudara Aris. Namun, yang lebih penting adalah bukti ini."

Alif memutar sebuah video. Bukan video KDRT, melainkan video Aris yang sedang bertemu dengan seseorang di sebuah restoran gelap. Di sana, Aris terlihat menerima sebuah tas hitam dari orang suruhan Hartono.

"Video ini diambil dua malam yang lalu. Saudara Aris menerima sejumlah uang muka untuk melakukan tuntutan ini. Ini bukan soal kerinduan seorang ayah, Yang Mulia. Ini adalah konspirasi pemerasan yang didalangi oleh pihak ketiga untuk menjatuhkan mental klien saya," tegas Alif.

Seluruh ruangan gempar. Aris tampak pucat, ia menoleh ke arah pengacaranya dengan panik.

"Tidak benar itu! Itu uang pinjaman!" teriak Aris dari kursinya.

"Diam, Saudara Aris!" bentak Hakim.

Alif tidak berhenti di sana. "Dan mengenai tuntutan harta gono-gini, kami menolak secara tegas. Berdasarkan hukum, harta yang dihasilkan dari talenta personal setelah adanya pisah ranjang dan bukti penelantaran ekonomi oleh suami, tidak dapat dikategorikan sebagai harta bersama yang bisa dibagi, apalagi jika suami terbukti menggunakan dana keluarga untuk kegiatan ilegal seperti judi online."

Pertarungan di ruang sidang itu berlangsung sengit selama empat jam. Aku duduk di kursi penggugat, menatap lurus ke depan. Sesekali aku melirik Aris yang terus berkeringat dingin. Dia tampak sangat menyedihkan. Pria yang dulu begitu berkuasa atas hidupku dengan tamparannya, kini gemetar hanya karena beberapa lembar dokumen dan video.

Di akhir persidangan, Hakim memutuskan untuk menunda putusan, namun memberikan perlindungan sementara bagi anak-anak di bawah pengawasan ibunya. Ini adalah kemenangan kecil yang sangat berarti.

Saat kami keluar dari ruang sidang, Aris mencoba mengejarku di koridor.

"Lis! Lisna, tunggu!" Aris menarik lenganku.

Aku berhenti, lalu melepaskan tangannya dengan sekali sentakan kuat. Aku menatap matanya yang memerah.

"Mau apa lagi, Mas?" tanyaku dingin.

"Tolong, Lis... bilang sama temanmu itu untuk cabut videonya. Aku bisa dipenjara kalau itu dianggap pemerasan. Aku cuma butuh uang, Lis. Aku banyak hutang. Mereka mau bunuh aku kalau aku nggak bayar minggu ini," rintih Aris, air matanya mulai mengalir. "Kasihanilah aku, aku ini ayah dari anak-anakmu."

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. "Dulu, saat Bumi sakit dan kamu mencuri uang obatnya, apa kamu memikirkan bahwa kamu adalah ayahnya? Saat kamu menamparku di depan Cahaya yang sedang menangis, apa kamu memikirkan kasih kasihan?"

"Lis..."

"Jangan mengemis padaku, Aris. Pergilah pada tuanmu, Hartono. Mintalah dia melindungimu sebagaimana kamu telah membantunya mengusik hidupku. Tapi ingat satu hal," aku mendekatkan wajahku ke telinganya, berbisik dengan nada yang sangat tajam. "Setiap rupiah yang kamu terima dari dia untuk menyakitiku, akan menjadi paku terakhir di peti mati kebebasanmu."

Aku melangkah pergi, meninggalkan Aris yang jatuh terduduk di lantai koridor pengadilan. Di ujung jalan, aku melihat mobil hitam besar milik Hartono melintas perlahan, seolah sedang mengawasi hasil bidakannya yang meleset.

Aku masuk ke dalam mobil Alif. Kelelahan yang luar biasa menyerangku.

"Ini belum selesai, kan, Mas?" tanyaku lirih.

Alif menggenggam jemariku, memberikan kehangatan yang tulus. "Belum. Tapi kita sudah memenangkan satu pertempuran penting. Besok, seluruh dunia akan tahu siapa sebenarnya Hartono. Naskah yang kamu tulis bukan lagi fiksi, Lisna. Itu adalah senjata."

Aku menyandarkan kepala di kursi mobil, menatap gedung pengadilan yang perlahan menjauh. Aku bukan lagi wanita yang bisa diancam. Aku adalah badai yang sedang menuju ke arah mereka yang pernah membuangku.