Om CEO, Lepaskan Aku!-Salah Sasaran Tapi Dinikmati-Bab 23

16 September 2025

“Oh, ya ampun!” Faris jadi ikut kaget melihat kekacauan yang tidak sengaja dia buat. Faris sama sekali tidak melihat Astrid sedang membuat minuman karena posisi sang istri tadi sedang membelakanginya. Dan Faris memang tiba-tiba memeluk Astrid dari belakang. “Maaf Sayang, aku nggak tahu kamu lagi buat minuman.”

“Ada apa, Tuan? Nona Astrid? Ohh, biar saya saja yang bersihkan.” Seorang pelayan yang mendengar suara ribut dari arah dapur langsung mengambil alih membersihkan pecahan kaca gelas yang berserakan di lantai.

Untuk beberapa saat Astrid tertegun. Masalahnya dia sedang berpikir, sisa satu gelas di atas meja itu yang ada obat perangsangnya atau tidak?

“Kamu lagi bikin minuman untuk siapa, Sayang? Ah kebetulan aku baru pulang kerja haus juga rasanya. Yuk, kita ke kamar!” Faris merangkul bahu istrinya dan sebelah tangannya mengambil gelas di atas meja. Sambil berjalan Faris mencium kening dan pipi sang istri.

Astrid kaget untuk kedua kali sebab sang suami tidak biasanya bersikap seromantis ini. Faris memang romantis, tapi biasanya hanya saat mereka sedang berdua, misalnya saat sedang di dalam kamar.

Namun begitu hati Astrid berbunga-bunga, maka dia membiarkan saja sang suami bersikap semanis itu sore ini. Pikirnya, biarlah rencananya menjebak Zara dan Arion dengan obat perangsang itu bisa dia ulang lagi nanti.

Sambil berjalan menaiki tangga, Faris terus merayu Astrid dengan kalimat-kalimat manis. Sesekali dia meneguk minuman dari gelas di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan masih terus merangkul bahu Astrid.

Di sisi lain, Astrid sedang terbuai dengan sikap romantis sang suami. Namun ternyata di sisi Faris justru sebaliknya, dia sengaja bersikap demikian karena selain hatinya sedang bahagia sekali habis bertemu dengan Donna, juga karena dia sedang menutupi perbuatannya. Supaya istrinya ini tidak curiga jika dia ternyata ada main dengan wanita lain di belakangnya.

Pikir Faris, untuk saat ini dia akan memanjakan Astrid dulu. Lagipula Astrid masih sangat bermanfaat sebagai pesuruh pribadinya, terutama untuk misi mengusir Zara dan menjatuhkan tahta Krishna Ambara.

Nanti saat Astrid sudah tidak dia butuhkan lagi, Faris berniat akan membuangnya juga, lalu memboyong Donna ke istana ini. Impian Faris melambung tinggi hingga ke langit, yaitu tinggal di istana nan megah ini, memiliki perusahaan besar dan menjabat sebagai CEO, lalu memiliki ratu sesempurna Donna. Faris senyum-senyum sendiri membayangkannya.

“Mas Faris, kusiapkan baju ganti, ya. Sekarang Mas Faris mandi saja dulu. Handuk bersih sudah kusiapkan di dalam,” ucap Astrid seraya melempar senyuman manis.

Faris mengangguk. Melepas rangkulannya, lalu meletakkan gelas di atas meja nakas, isinya hanya tinggal seperempat saja. Memang rasanya es jeruk itu segar sekali menggelincir di tenggorokan Faris yang baru pulang kerja.

Faris melepas jasnya lalu dia gantung di tiang baju di luar kamar mandi, berikut juga dasinya. Barulah dia masuk ke kamar mandi. Setelah seluruh pakaian kantornya dilepas, Faris berdiri di bawah pancuran air shower yang hangat.

Kepalanya tengadah, membiarkan wajahnya terpercik air hangat yang membuat sekujur tubuh merasa rileks. Namun detik kemudian kening Faris mengernyit, rasa hangat dari aliran air dirasakannya sampai ke dalam tubuh.

Ini aneh sekali, kenapa dadaku juga terasa hangat? Faris memejamkan mata, menarik napas dalam. Dia masih di bawah guyuran air shower. Namun tidak berhasil. Sekarang bukan hanya dada, bahkan seluruh tubuh Faris rasanya menghangat. Ada gelenyar aneh yang merayap hingga naik ke kepala.

Ah, ada yang nggak beres dengan tubuhku ini. Sepertinya aku terlalu lelah bekerja. Dengan cepat Faris menyabuni seluruh badan juga membalurkan shampo pada rambutnya.

“Ahh!” desahnya tanpa sadar ketika merasa tubuhnya semakin aneh. Buih sabun luruh terbawa aliran air. Segera setelah dirinya bersih dari sabun dan shampo, Faris mematikan kran air dan menyambar handuk yang terlipat di atas rak.

Dia mengeringkan badan asal saja, lalu membalut bagian tubuh bawahnya dengan handuk putih itu. Faris membuka pintu kamar mandi dengan agak kencang, membuat Astrid yang sedang duduk santai di sofa, menonton TV, kaget dan tersentak.

“Loh! Kenapa, Mas?” Astrid langsung berdiri karena melihat suaminya berjalan sempoyongan dengan napas tersengal.

Suara istrinya mengalihkan perhatian. Faris langsung menoleh pada asal suara. Tatapan matanya berkabut memandangi Astrid yang menggunakan pakaian tidur mini dress berbahan satin apple dengan warna merah muda.

Bahan dress yang mengkilap dan mengikuti lekuk tubuh membuat tatapan Faris tak berkedip. Entah kenapa yang dia rasakan saat ini. Melihat sang istri bagaikan melihat wanita yang baru pertama kali dia temui. Sungguh penasaran dengan tubuh di balik mini dress itu.

“Mas Faris, ada apa?” tanya Astrid lagi. Dia segera menghampiri sang suami. Menyentuh kening Faris untuk memastikan suaminya sedang demam atau tidak. Ternyata suhu badannya normal saja menurut punggung tangan Astrid. Lalu apa yang salah?

Jangan-jangan ....

“Astrid?” Suara bariton Faris serak. Dia terus memandangi sang istri yang kini berdiri tegap di depannya. “Kamu cantik sekali ... dan seksi.”

Oh ya ampun! Nggak salah lagi ini. Astrid menarik napas dalam. Dia yakin minuman yang sudah dia campur dengan cairan biru itu adalah yang diminum Faris.

Niat hati ingin mengerjai Zara dan Arion. Justru dirinya sendiri yang kena.

Faris mulai merangkulkan kedua tangan ke leher Astrid yang bebas. Sebab dress tidur yang dipakai Astrid hanya memiliki lengan spaghetti sehingga memamerkan bahunya yang mulus.

Perlahan satu tangan Faris turun ke punggung lalu ke pinggang. “Sayang, kamu sungguh menggoda dengan baju tidur ini,” ucapnya berbisik di telinga Astrid. Padahal Astrid sudah biasa memakai baju tidur model mini dress begini.

Astrid tersenyum, dia pasrah. Akan menikmati saja pelampiasan sang suami. Lagipula pikirnya, tidak ada ruginya juga, yang terpenting Faris melampiaskan padanya. Astrid mulai memainkan tangannya di dada telanjang Faris.

Tak tahan lagi, tangan Faris kembali turun, kali ini sampai ke bokong penuh berisi milik sang istri. Ditepuknya bokong Astrid sekali sambil bibirnya menyunggingkan senyum.

Detik kemudian senyum itu menghilang, tatapan Faris menjadi begitu serius. Dari mata hingga turun ke bibir Astrid, dilanjutkan dengan bibirnya yang mulai menyentuh bibir Astrid.

Dalam hitungan detik sentuhan itu berubah menjadi ciuman dalam yang menuntut. Faris begitu bergairah sampai dia tidak ingin melepaskan bibir ranum Astrid barang sebentarpun.

Faris memeluk erat tubuh ramping Astrid lalu mendorongnya perlahan hingga tubuh sang istri jatuh terlentang di atas ranjang empuk mereka. Bagian bawah dress Astrid tersingkap hingga memperlihatkan pangkal paha yang putih mulus. Faris menelan saliva, tangannya mengusap leher juga bibirnya sendiri. Apalagi tatapan Astrid memang sengaja dibuat semakin menggoda Faris.

Tanpa menunggu lagi, Faris ikut menjatuhkan tubuhnya, di samping tubuh sang istri. Tangan kanannya mulai membelai wajah Astrid, sedangkan tangan kirinya menyelusup di bawah leher Astrid. Dari wajah, tangan itu terus turun hingga ke leher kemudian ke dada Astrid yang bulat berisi.

“Ohh, Mas ....” Astrid menggelinjang karena sensasi dari sentuhan panas Faris. Dengan cepat Faris membekap bibir Astrid kembali dengan ciuman yang juga panas. Sementara kedua tangan Faris terus bergerilya di tubuh Astrid bagian depan dan belakang sekaligus. Membuat desahan demi desahan lolos begitu saja dari keduanya.

Sepasang mata membulat sempurna dengan tatap penuh ketakutan dari celah pintu kamar yang terbuka sedikit saja.