Luka yang Tidak Diberi Nama

28 January 2026

Ranggalawe tidak pernah membayangkan bahwa luka paling dalam tidak datang dari medan perang, melainkan dari ruang-ruang sunyi tempat keputusan dibuat tanpa kehadirannya. Di Tuban, ia berjalan menyusuri pasar dengan pakaian sederhana. Orang-orang menyapanya dengan hormat—beberapa menunduk, yang lain menggenggam tangannya erat. Di mata mereka, Ranggalawe bukan pejabat Majapahit yang jabatannya kabur, melainkan orang yang selama ini berdiri paling depan ketika perompak datang, ketika pajak menekan, ketika istana terasa jauh.

“Gusti,” kata seorang pedagang tua dengan suara gemetar, “apakah istana akan tetap melindungi kami?” Ranggalawe tersenyum, senyum yang ia latih agar tampak meyakinkan. “Majapahit tidak akan meninggalkan Tuban.” Namun setelah itu, dadanya kembali sesak. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya yakin pada kata-katanya sendiri.

Ia duduk di tepi pelabuhan saat senja. Laut memantulkan warna merah keemasan, indah sekaligus menyakitkan. Di sanalah ia merasa paling jujur pada dirinya sendiri. “Aku setia pada Wijaya, pikirnya. Tapi apakah Majapahit setia padaku?”

Ia mengingat kembali malam-malam di hutan Tarik, saat Wijaya belum menjadi raja dan Gayatri belum menjadi pusat keputusan. Saat itu, mereka bertahan bukan karena perhitungan, melainkan karena kepercayaan. Kini, kepercayaan itu terasa diuji oleh ketenangan istana yang tidak menjelaskan apa pun.

Kabar dari Trowulan datang tidak membawa kepastian. Tidak ada penguatan jabatan. Tidak ada prasasti. Hanya pesan singkat yang menyuruhnya tetap tenang.

Tenang.

Kata itu terdengar kejam bagi orang yang menanggung harapan banyak orang.

Malam itu, Ranggalawe menolak jamuan. Ia duduk sendiri di ruangannya, menatap pedang yang pernah ia gunakan demi Majapahit. Bilahnya mulai kusam. Ia teringat ayahnya yang pernah berkata: pedang yang terlalu lama disarungkan akan kehilangan makna.Namun Ranggalawe tidak ingin menghunusnya. Ia hanya ingin keadilan.

Di Trowulan, Gayatri duduk dalam keheningan yang sama, namun dengan beban berbeda. Laporan tentang Tuban tergeletak di hadapannya. Ia membaca ulang, lalu menutupnya perlahan.

Ia tahu penderitaan Ranggalawe nyata. Ia tidak meragukan kesetiaannya. Namun justru itulah yang membuatnya gelisah. Kesetiaan yang terluka lebih berbahaya daripada ambisi yang terang-terangan. “Ayahanda,” bisiknya dalam hati, mengingat Kertanegara, “inilah saat ketika belas kasihan harus dikendalikan.”

Gayatri tahu, jika Majapahit ingin bertahan, ia harus memilih ketegasan yang akan membuatnya dibenci. Ia telah lama berdamai dengan kemungkinan itu. Sejak Singhasari runtuh, Gayatri bersumpah pada dirinya sendiri: tidak akan ada lagi kerajaan yang jatuh karena raja terlalu percaya, atau karena panglima terlalu dicintai. Dendamnya bukan pada satu orang, melainkan pada kelengahan. Yang belum bisa ia terima adalah kenyataan bahwa keputusan ini akan menghancurkan manusia-manusia yang ia hormati.

Ia memanggil Wijaya. Ketika Wijaya datang, Gayatri tidak langsung bicara. Ia membiarkannya duduk, merasakan berat yang sama.

“Ranggalawe terluka,” kata Wijaya lebih dulu.

Gayatri mengangguk. “Dan luka yang dibiarkan akan mencari jalan sendiri.”

“Apakah kita tidak bisa menjelaskannya padanya?” suara Wijaya nyaris memohon.

Gayatri menatapnya dengan mata yang tenang, namun basah. “Beberapa keputusan tidak bisa dijelaskan tanpa terlihat sebagai kelemahan.”

Hening menekan mereka.

“Jika aku raja yang adil,” kata Wijaya lirih, “mengapa semua pilihanku terasa kejam?”

Gayatri menjawab pelan, hampir seperti doa: “Karena keadilan bagi kerajaan sering kali berarti ketidakadilan bagi seseorang.”

Di luar, angin malam bertiup membawa suara laut yang jauh. Gayatri tahu, badai sedang mengumpulkan tenaga. Dan di Tuban, Ranggalawe berdiri sendirian, memandang laut yang sama. Dua manusia yang setia pada Majapahit, dipisahkan oleh keputusan yang belum diucapkan.

Ini bukan tentang pemberontakan. Tapi tentang luka yang tidak diberi nama—dan karena itu, tak pernah sembuh.

Hari-hari awal setelah ketetapan-ketetapan besar tidak pernah benar-benar tenang. Di Majapahit, ketenangan sering kali hanya berarti bahwa suara-suara ketidakpuasan belum menemukan bentuk. Para pejabat berjalan dengan sikap lebih hati-hati, memilih kata dengan lebih cermat, dan menyimpan sebagian pikiran mereka untuk ruang-ruang yang lebih sempit. Istana belajar bernapas dalam ritme baru—ritme yang tidak selalu nyaman, tetapi perlu.

Bagi Wijaya, fase ini terasa lebih melelahkan daripada hari-hari peperangan. Di medan laga, musuh terlihat jelas. Di dalam istana, garis pertempuran kabur. Ia menyadari bahwa kekuasaan menuntut kewaspadaan yang berbeda: bukan hanya terhadap ancaman luar, tetapi terhadap harapan dan kekecewaan orang-orang yang merasa berjasa.

Gayatri mengamati perubahan itu dengan ketenangan yang disengaja. Ia tahu, masa seperti ini akan memisahkan mereka yang bersabar dari mereka yang tergesa. Dalam diamnya, ia mencatat siapa yang mulai sering datang ke istana tanpa urusan jelas, siapa yang berulang kali menyebut jasa lama, dan siapa yang memilih menjauh sambil menunggu. Bagi Gayatri, semua itu adalah isyarat yang lebih jujur daripada laporan resmi.

Ia memahami bahwa babak ini menentukan arah hubungan antara raja dan para pendukung awalnya. Bila terlalu banyak tuntutan dipenuhi, kerajaan akan terikat. Bila terlalu banyak ditunda, kekecewaan bisa mengeras. Di antara dua ujung itu, Gayatri berusaha menjaga garis tipis yang sering kali tak terlihat. Di luar tembok istana, kehidupan rakyat berjalan tanpa banyak perubahan. Sawah tetap digarap, perahu tetap hilir mudik di sungai, dan pasar tetap ramai oleh tawar-menawar. Namun cerita tentang istana menyebar cepat, dibawa oleh pedagang dan utusan. Setiap kabar, benar atau tidak, ikut membentuk persepsi tentang Majapahit sebagai kekuasaan baru.

Wijaya menyadari bahwa persepsi sering kali lebih cepat membentuk kenyataan daripada keputusan resmi. Karena itu, ia menahan diri untuk tidak mengumumkan apa pun yang belum benar-benar siap. Diamnya bukan tanda kelemahan, melainkan upaya menjaga kepercayaan sebelum ia benar-benar terbentuk.

Menjelang malam, istana kembali sepi. Gayatri berdiri di serambi, memandang cahaya obor yang bergoyang tertiup angin. Ia tahu, tidak semua orang memahami mengapa banyak hal dibiarkan menggantung. Namun ia percaya, kerajaan yang masih muda membutuhkan waktu untuk mengenali dirinya sendiri.

Dalam sunyi itu, Gayatri merasakan keyakinan yang tenang. Dia sadar yang terjadi saat ini adalah tentang penantian dan penahanan diri—mungkin tidak akan dikenang sebagai masa kejayaan. Namun justru di sinilah fondasi Majapahit diuji. Dan baginya, lulus dari ujian ini jauh lebih penting daripada pujian sesaat.

Larut malam membawa kesadaran lain bagi Wijaya. Ia menyadari bahwa ketegangan yang dibiarkan terlalu lama dapat berubah menjadi jarak yang sulit dijembatani. Namun ia juga tahu bahwa tergesa meredamnya akan melahirkan ketergantungan baru. Di antara dua pilihan itu, ia memilih menunggu dengan sadar, menanggung beban sunyi yang tidak semua orang sanggup pikul. Dalam penantian itulah hal ini menemukan penutupnya bukan dengan keputusan besar, melainkan dengan kesadaran bahwa kekuasaan sejati sering kali diuji bukan saat ia digunakan, melainkan saat ia ditahan.