"Sarah."
Bisikan itu terdengar dari arah api. Bukan dari mulut Mia, bukan pula dari luar reruntuhan. Melainkan dari dalam cermin yang menyala di hadapan Sarah.
Ia terpaku. Tenggorokannya kering. Pantulan Reno di permukaan kaca itu tidak bergerak, seolah membeku di satu frame waktu. Namun senyumnya tetap bertahan, terlalu lebar, terlalu sadar.
"Mi…" bisik Sarah, suaranya bergetar. "Lo denger itu, kan?"
Mia melangkah mendekat, matanya menyipit menatap cermin. Wajahnya pucat. "Itu… suara siapa?"
"Reno."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Api berderak lebih keras. Melati yang tersisa mulai menghitam dan runtuh menjadi abu. Asap yang tadinya putih kini berwarna kelabu, berat, dan berbau getir.
Pantulan di cermin bergerak perlahan. Bibir Reno terbuka, tapi suara yang keluar terdengar berlapis, seperti ada gema dari beberapa arah sekaligus.
"Tenang, Sarah. Ini tanda ritualnya bekerja."
Mia menarik lengan Sarah. "Ini gak bener. Kenapa cermin itu malah… begini?"
"Belum," sahut suara di cermin. "Belum saatnya."
Sarah menggigit bibir, memaksa dirinya untuk tidak menatap cermin itu terlalu lama.
Detik demi detik berlalu. Api perlahan mengecil. Kayu-kayu terbakar habis. Wadah besi menjadi hitam oleh jelaga. Melati kini menjadi abu.
Namun, asap tipis masih melayang, seperti enggan pergi. Tidak ada suara lain selain napas mereka dan detak jantung Sarah yang makin keras.
Waktu terasa lama.
Mereka tidak berani bergerak jauh dari cermin. Tidak berani tidur. Tidak berani berpaling.
Lalu secara perlahan, langit di timur mulai berubah warna. Ungu gelap memudar menjadi biru kelabu. Dan saat cahaya pertama fajar menyentuh puing-puing reruntuhan bangunan Indah Mahkota Antik, sesuatu akhirnya terjadi.
Cermin itu bergetar.
Bukan getaran halus seperti sebelumnya, melainkan hentakan pendek, keras, seolah ada sesuatu yang menabrak dari dalam.
"Sarah," bisik Mia. "Cermin itu..."
Retakan tipis muncul di sudut permukaan kaca.
Satu garis.
Dua garis.
Lalu menjalar, membelah pantulan Reno menjadi potongan-potongan kecil yang terdistorsi.
Suara krek terdengar nyaring di udara pagi yang sunyi.
Sarah menahan napas.
Retakan itu semakin lebar.
Pantulan di dalam cermin berubah kacau, seolah ruang di sana runtuh sedikit demi sedikit.
Lalu, dengan suara dentuman pendek—
**Craaash!
Cermin itu hancur berkeping-keping. Fragmennya berhamburan ke lantai, memantulkan cahaya fajar dalam ratusan sudut kecil yang menyilaukan.
Lalu, hening.
Asap terakhir perlahan menghilang.
Udara terasa lebih ringan.
Sarah jatuh terduduk, lututnya lemas. Napasnya tersengal, seperti baru saja muncul dari dalam air. "Mi…" katanya serak. "Kita… kita berhasil, kan?"
Mia menatap pecahan kaca di lantai, lalu menatap langit yang mulai terang. Bahunya turun, seolah beban yang selama ini menekan akhirnya dilepaskan. "Kayaknya… iya. Tapi, bukannya Reno bilang ritual ini cuma buat memurnikan bukannya menghancurkan cermin itu?"
Sarah menghela napas berat. "Iya sih, tapi, kalau cermin itu hancur bukannya malah bagus?"
Mia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Bener juga sih."
Mereka tertawa kecil, tawa yang terdengar rapuh, nyaris seperti tangis. Ketegangan yang menumpuk selama berminggu-minggu kini runtuh begitu saja.
Untuk sesaat, dunia terasa normal kembali. Sampai suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu masuk reruntuhan.
Pelan dan teratur.
**Clap. Clap. Clap.
Keduanya tersentak.
Seorang pria berdiri di sana, setengah tersorot cahaya pagi.
Reno.
Pakaiannya rapi. Wajahnya bersih. Tidak terlihat lelah, tidak ada jejak kegelisahan. Matanya berkilat, penuh kepuasan.
"Bagus," katanya sambil tersenyum lebar. "Sempurna, malah."
Jantung Sarah seolah berhenti berdetak.
"Reno…" gumam Sarah. "Kamu… ngapain di sini?"
Reno melangkah masuk, sepatunya menginjak pecahan kaca tanpa ragu. Bunyi krek kecil terdengar di setiap langkahnya.
"Aku datang untuk melihat hasil kerja keras kalian," katanya. "Dan, tentu saja, untuk mengucapkan terima kasih."
Sarah berdiri perlahan. Tubuhnya menegang. "Terima kasih untuk... apa? Dan... bukannya kamu gak bisa keluar dari hutan larangan?"
Reno tersenyum, lalu perlahan tertawa.
Bukan tawa lega. Melainkan tawa yang lepas, keras, dan penuh ejekan. Tawanya memantul di antara puing-puing, terdengar terlalu hidup untuk tempat yang seharusnya sunyi. Ia menyeka sudut matanya, seolah benar-benar baru saja mendengar lelucon terbaik dalam hidupnya.
"Hahaha…" Reno menggeleng pelan. "Kalian serius percaya semua yang aku bilang?"
Sarah mengerutkan kening. Jantungnya kembali berdegup tak beraturan. "Maksud kamu… apa?"
Reno melirik mereka bergantian, lalu menambahkan dengan nada santai yang menusuk, "Dan bukan cuma aku. Kalian juga percaya sama omongan pak tua itu."
Tubuh Mia menegang. "Pak Wira?"
Reno tersenyum lebih lebar. "Iya. Penjaga desa. Tetua bijak. Orang yang kelihatannya paling gak mungkin untuk berbohong."
Sarah melangkah setengah langkah maju. "Jadi… kamu dan Pak Wira—"
"Berbohong?" Reno memotong, suaranya ringan. "Iya."
"Kenapa? Kenapa kalian tega?!" desak Mia.
Reno menghela napas pendek, lalu menatap puing-puing di sekeliling mereka. "Karena kebenaran gak pernah berhasil bikin orang tetap tinggal," katanya. "Rasa takut cuma bikin mereka lari."
Ia kembali menatap Sarah. "Pak Wira tahu. Dia tahu apa yang terjadi lima tahun lalu. Dia tahu apa yang ayahku lakukan. Tapi dia juga tahu satu hal lain."
Reno mencondongkan badan sedikit. "Kalau manusia dihadapkan pada sesuatu yang terlalu besar dan terlalu gelap, mereka akan menolak mendengarkan."
"Jadi... kami dibohongi supaya… mau menuruti ucapan kalian?" tanya Sarah pelan.
"Supaya kalian mau melangkah sampai titik ini," jawab Reno jujur.
Sarah mengepalkan tangannya. "Kamu bilang—" suaranya bergetar, namun tegas, "—ritual ini cuma buat memurnikan kutukan cermin itu, kan?"
Reno terdiam. Untuk pertama kalinya sejak ia muncul, senyumnya tidak langsung kembali.
"Kamu gak pernah bilang cerminnya bisa retak," lanjut Sarah, napasnya terdengar memburu. "Gak pernah bilang cermin itu bisa hancur. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu juga bohong soal ritual ini?"
Mia menoleh tajam ke arah Reno. "Jawab."
Beberapa detik berlalu.
Reno menghela napas, lalu tertawa kecil, tanpa humor. "Kalian pintar," katanya. "Dan itu… agak merepotkan."
"Jawab pertanyaan tadi," ulang Sarah.
Reno menatap pecahan cermin di lantai, lalu kembali menatap Sarah. Tatapannya dalam, sulit dibaca.
"Tidak semua hal bisa dijelaskan sekaligus," katanya akhirnya. "Dan tidak semua kebenaran aman untuk diketahui… sebelum waktunya. Lagipula, bukankah bagus kalau cermin itu hancur? Kamu tidak akan melihat makhluk aneh itu lagi di dalam cermin, kan?"
Sarah merasa darahnya berdesir dingin, ia meneguk salivanya dengan susah payah. "Jadi, kamu gak mau bilang apa yang sebenarnya terjadi sekarang?"
Reno menatap mereka berdua, lalu menghela napas dan tersenyum lagi. "Kalian bener-bener percaya aku mau menghancurkan satu-satunya peninggalan ayahku?"
Sarah mengernyit. "Peninggalan… ayah kamu?"
"Ya." Reno mengangguk pelan. "Ayahku adalah pencipta cermin itu."
"Dia seorang okultis," lanjut Reno. "Salah satu yang paling berbakat di zamannya. Ia menciptakan cermin itu untuk satu tujuan, yaitu mengumpulkan energi dari jiwa-jiwa yang mati secara tragis."
Mia menggeleng, tidak percaya. "Buat apa?"
"Untuk memperpanjang umurnya." Reno tersenyum tipis. "Semakin besar tragedinya, semakin kuat energinya."
Sarah teringat satu per satu kematian orang-orang yang ia kenal terkait dengan cermin itu. Muntah darah seperti diracuni, penyiksaan, pembunuhan, kecelakaan, hingga bunuh diri.
"Lalu… kebakaran tempat ini?" tanya Sarah sambil meremas ujung bajunya.
"Kesalahan," jawab Reno santai. "Ayahku salah perhitungan. Energi di dalam cermin melonjak di luar kendalinya. Api muncul begitu saja, melahap toko barang antiknya dan dirinya."
Ia menghela napas pendek, bukan karena sedih, melainkan karena kecewa. "Dia mati sebelum sempat menyempurnakan karyanya."
Mia mengepalkan tangan. "Dan lo nerusin hal itu?"
"Tentu." Reno menatap pecahan cermin di lantai. "Aku percaya pada kekuatan yang sama. Dan aku tahu, benda seperti itu tidak bisa dibiarkan kelaparan."
Sarah merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. "Makanya kamu butuh korban?"
"Pengumpan," koreksi Reno. "Dan aku menemukannya… di dirimu, Sarah."
Detik itu juga, semua potongan terasa menyatu.
Kenapa Sarah yang pertama melihat cermin itu.
Kenapa baginya toko barang antik itu terlihat utuh dan normal.
Kenapa rasa tertariknya begitu kuat, seperti ditarik benang tak kasatmata.
"Aku menaruh cermin itu di reruntuhan toko ayahku," lanjut Reno. "Bagi kebanyakan orang, itu cuma puing-puing bangunan yang terbakar. Tapi bagi orang-orang tertentu, yang peka dan mudah terhubung, tempat itu akan terlihat seperti toko biasa."
Ia menatap Sarah lekat-lekat. "Seperti yang kamu lihat."
Sarah merasa mual. "Jadi… semua ini jebakan?"
"Bukan jebakan." Reno mengangkat bahu. "Seleksi alam."
Mia melangkah ke depan. "Lo gila."
"Tidak." Reno tersenyum. "Aku realistis."
Ia menunjuk pecahan cermin di lantai. "Kalian pikir menghancurkannya semudah itu? Cermin itu hanya melepaskan lapisan luarnya. Intinya, energinya, sudah berpindah."
"Ke mana?" tanya Sarah dengan suara parau.
Reno tidak langsung menjawab.
Ia melangkah mendekat ke arah Sarah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Terlalu dekat.
Hingga akhirnya ia berbisik—
"Kepadamu."