Menikahi Istri Kakakku - Rasa Bersalah

Penulis Yuan_bee
28 January 2026

“Hamil? Hamil anak siapa? Apa bajingan ini yang menghamilimu?”

“Hei! Jangan sembarangan nuduh! Aku enggak pernah naga-ngapain dia!” sangkal Juan.

Arga mengepalkan tangan, tapi nadanya pecah, lebih mirip luka ketimbang murka. Ia ingin memukul Juan sekali lagi, tapi ia urungkan, pandangan matanya tertuju ke arah Nabila.

“Nabila, kenapa kau nggak bilang dari dulu kalau kau hamil? Malah meminta bantuan sama pria ini?!”

Nabila menelan ludah. “Karena aku bahkan nggak tahu bagaimana caranya bilang ke orang lain bahkan aku nggak yakin masih bisa percaya.”

Arga ingin membalas, tapi suaranya mati. Lalu Nabila melanjutkan dengan nada pelan, tapi sangat jelas. “Kuharap kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Anak yang aku kandung bukan anak Juan.” Ia berhenti sejenak, menatap Arga tepat di mata. “Ini anakmu, Arga.”

Keheningan langsung jatuh seperti palu godam. Juan mengalihkan pandangan, mundur selangkah, ia awalnya tak tahu siapa Arga, tapi setelah diingat-ingat ia pun kaget dengan fakta itu.

Arga menahan napas seolah paru-parunya berhenti bekerja sesaat. ‘Apa Nabila sudah tahu beneran?’ Batinnya dalam hati.

Namun, sebelum Arga bisa meresapi kenyataan itu, Nabila melanjutkan kalimat berikutnya, kalimat yang membuat situasi berubah jauh lebih berat.

“Atau aku harus bilang, aku mengandung anakmu, adik kandung Dirga?”

Arga langsung menegang. Pandangan Nabila tak lagi bingung, tidak lagi samar. Tatapannya lurus dan fokus, sesuatu yang selama ini ia mungkin ia sembunyikan.

Arga mematung. Sementara Juan ikut menoleh karena bingung.

Nabila menunduk sebentar, mengusap air mata, lalu menatap Arga lagi.

“Jangan kaget ....” Suaranya pecah pelan.

“Aku sudah melihatmu meski belum terlalu jelas. Aku mulai bisa melihat meskipun masih samar. Awalnya aku masih percaya kalau dirimu adalah Dirga. Namun, kemarahan ini, emosi ini bukan mencerminkan dirinya. Kau hanyalah pria yang mencari kesempatan untuk menikmati tubuhku!”

Jantung Arga seolah berhenti berdetak. Bukan hanya kehamilan yang terungkap, juga bukan hanya rahasia hubungan mereka, tapi identitasnya bahwa ia bukan Dirga – suami sah Nabila, melainkan Arga yang berpura-pura menjadi suaminya.

Di sanalah, untuk pertama kalinya, ketakutan Arga jauh lebih besar daripada amarahnya.

Arga mundur selangkah, seperti baru saja dihantam oleh sesuatu yang tak terlihat. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kehilangan kata-kata. Rahangnya mengeras, tapi sorot matanya goyah, bukan karena takut dimarahi, melainkan takut kehilangan kendali atas rahasia yang telah ia pertahankan mati-matian.

“Sejak kapan kau tahu?” suaranya hampir tidak terdengar.

Nabila menatapnya lama sebelum menjawab. “Sejak aku periksa ke dokter dua hari yang lalu. Penglihatanku sudah cukup membaik, cahaya sudah kembali masuk ke syaraf mata, meski buram.”

Arga terbelalak. “Dua hari lalu? Jadi, setelah itu kau tidak buta lagi?”

Berarti selama dua hari itu, Nabila bukan hanya melihat, tapi menyaksikan semuanya.

Nabila mengangguk pelan. “Ya. Aku melihatmu, perilakumu, caramu berjalan, cara kau menghadap ancaman, dan caramu memandangku.”

Napas Arga tertahan, seolah dadanya terhimpit.

“Aku tahu kau itu Arga.”

Nabila maju satu langkah, tapi suaranya tetap lirih.

“Aku tahu, kau adalah adiknya Dirga sejak malam itu. Aku cuma diam, dan menunggu saat yang tepat untuk mengungkap semuanya, dan saat inilah waktu yang tepat.”

Ada luka terselubung di balik ucapannya, bukan hanya ketakutan ditinggal, tapi ketakutan bahwa seluruh hidup yang baru ia genggam akan kembali runtuh seperti dulu.

Arga menunduk, jemarinya mengepal sampai uratnya menegang. “Kenapa kau nggak bilang apa-apa? Kenapa pura-pura masih buta selama dua hari itu?”

“Karena aku ingin lihat, siapa dirimu ketika kau tidak perlu berpura-pura,” jawab Nabila, suaranya hampir pecah. “Apakah kau akan tetap melindungiku atau hanya mendekat karena rasa bersalah.”

Suasana di rumah itu pun mendadak hening.

Tak ada bentakan juga tak ada tuduhan, hanya anggapan saling benar yang mengguncang keduanya.

Juan menatap mereka dari jarak aman, menyadari ini bukan lagi sekadar konflik cemburu, ini rahasia yang jauh lebih dalam, dan jauh lebih berbahaya.

Nabila menyeka matanya. “Aku diam bukan karena takut padamu, tapi karena aku … ingin kau jujur. Meski tanpa aku memaksa.”

Arga menutup mata sejenak. Ada rasa sakit, tapi juga ada rasa lega. Sakit karena identitasnya telah terbongkar sepenuhnya. Lega karena meski ia ketahuan, psikis Nabila stabil, tidak seperti saat dulu di rumah sakit.

Ia baru sadar, yang paling ia takuti bukan kebongkarannya sebagai Dirga, tapi dilihat seutuhnya sebagai dirinya sendiri.

Arga berdiri mematung cukup lama sebelum akhirnya menarik napas pelan, seakan mencoba mengumpulkan keberanian yang bahkan selama ini tidak pernah ia butuhkan dalam pertarungan fisik, melainkan hanya dalam perasaan.

Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Nabila. Bukan sebagai Arga yang berpura-pura, juga bukan sebagai sosok pelindung yang diam-diam bersembunyi, melainkan sebagai Dirga yang mulai menyerah pada kejujuran.

“Aku … nggak pernah berniat bohong padamu,” katanya pelan, suara serak menahan pergulatan batin. “Tapi keadaan waktu itu memaksa aku untuk berperan menjadi kakakku. Kalau aku tidak melakukannya, mungkin kau masih akan tetap mengamuk, bersikeras untuk bertemu Dirga.”

Nabila diam sesaat, pandangannya mengarah ke Arga, meski agak sedikit kosong, karena penglihatannya tidak bisa fokus.

“Niatku sebenarnya menjadi Dirga bukan untuk menipumu,” lanjutnya, menatap lantai sejenak lalu kembali ke wajah Nabila. “Tapi untuk tetap bisa ada di dekatmu, menjagamu setelah kamu kehilangan sosok suami setelah kecelakaan itu.”

Sebagian rahasia terucap, sebagian lagi masih tersegel dalam bahaya yang belum layak dibuka.

“Jadi, Dirga beneran mati?” tanya Nabila.

“Iya,” jawab Arga menunduk.

“Enggak mungkin, dia masih hidup. Sekarang mungkin ada di kota sebelah atau di mana, tapi aku yakin, dia masih menghirup udara yang sama.”

“Nabila ...,” ucap Arga pelan. “Aku juga awalnya tak menerima kenyataan itu. Kakakku orang yang baik. Kehilangan dia, terasa sangat berat di hatiku. Terima saja kenyataan ini karena semuanya adalah takdir.”

Hening sesaat, Nabila memilih untuk diam, karena tak menemukan kata-kata untuk berbicara.

“Dan soal bayi yang kau kandung.” Suara Arga merendah, bukan lagi marah, tetapi goyah dan penuh gentar. “Aku bahkan nggak tahu harus merasa apa dulu, senang, takut, malu, atau pun kaget.”

Ia berhenti, menelan sesak di tenggorokannya. “Sebab, kita belum ada ikatan sah. Aku hanyalah pria yang berperan menjadi Dirga – suamimu. Aku lakukan ini semua demi kamu. Dan jika sekarang kamu sudah bisa melihat dan psikismu stabil. Kita bisa buka lembar baru lagi.”

Nabila memejamkan mata sesaat, air mata jatuh tanpa isakan. Bukan karena sedih, tapi karena hatinya akhirnya disentuh, meski belum seluruh kebenaran terungkap.

Namun sebelum suasana itu sempat mencair, Arga menunduk, memalingkan sedikit wajahnya, seakan masih ada yang ia simpan.

“Masih ada hal yang belum bisa aku ceritakan sekarang,” katanya pelan. “Bukan karena aku nggak percaya, tapi karena kalau rahasia itu keluar sebelum waktunya, semuanya bisa berantakan.”

Nabila tidak membalas, hanya mengusap perutnya pelan, sebuah gestur yang tak perlu kata-kata.

Arga menatapnya penuh rasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi ....