Arga menatapnya penuh rasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi dan sudah terlanjur basah.
Keheningan di antara mereka terasa berat. Arga mengalihkan pandangan, seolah masih mencari kata-kata yang tepat agar keadaan tidak runtuh makin cepat. Namun, Nabila bukan lagi seorang perempuan yang hanya diam dan menerima. Ia mengangkat wajahnya, kali ini tatapannya penuh ketegasan yang jarang muncul sebelumnya.
“Kalau memang ada sesuatu yang belum bisa kau jelaskan sekarang,” ucapnya pelan namun jelas, “aku hanya ingin tahu satu hal .…”
Arga menatapnya dengan tatapan dingin. Nabila pun melanjutkan, “sampai kapan kau pura-pura menjadi Dirga?”
Pertanyaan itu tidak keras, tidak menuntut dengan nada tinggi, tetapi justru terasa jauh lebih menekan, karena datang dari luka yang sudah terlalu lama memendam.
Arga terdiam, wajahnya menegang. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada jawaban yang keluar.
Bukan karena ia tidak mau, tapi karena ia tahu, semua itu begitu rumit jika dijelaskan.
Nabila melanjutkan dengan suara yang hampir bergetar: “Kalau kau masih menyembunyikan sesuatu, bagaimana aku bisa mempersiapkan masa depan denganmu atau dengan anak ini?”
Kata “anak” itu menghantam keras, memaksa kenyataan untuk tidak bisa lagi dihindari.
Momen itu pecah ketika Juan akhirnya ikut bicara, setelah selama ini memilih diam dan menjadi saksi tak nyaman dari rahasia yang mengikat mereka.
“Aku rasa kamu harus sadar, ini bukan cuma soal rahasia,” katanya dengan napas sedikit berat, pelipis masih berdarah tipis akibat benturan tadi. Ia menatap ke arah Nabila. “Kalau pun kondisi psikismu sudah normal kembali, tidak seperti seperti di rumah sakit dulu, aku tak akan berpura-pura lagi. Aku sebenarnya Arga, bukan Dirga, aku terpaksa melakukan hal itu karena kamu, saat aku berada di dekatmu, kau lebih tenang. Semenjak kau buta, kau anggap aku ini Dirga.”
Tatapan Arga yang tadi ke arah Nabila, kini beralih tajam ke Juan, seolah tak suka ia ikut campur. “Meski dia bukan istri sahku, aku cemburu jika kalian berduaan.”
Juan tak mundur. “Kau pikir, aku ini apa? Aku cuma membantu Nabila hingga dia sembuh sampai sejauh ini.”
“Cukup, Juan.” Arga memotong, nada rendah tapi penuh peringatan.
Juan menghela napas panjang. “Kau sebaiknya jangan asal nuduh, aku bukan orang jahat seperti yang kau pikirkan!”
Nabila menoleh ke Juan, lalu kembali ke Arga, kini semakin gelisah. “Juan berkata jujur, dia tak pernah ngapa-ngapain aku. Dia orang baik, kok.”
Pernyataan itu menggantung di udara, bukan hanya tentang pengungkapan, tapi apa tujuan Juan sebenarnya, kenapa ia membantu Nabila tanpa pamrih? Seorang pria baik kepada wanita pasti ada maunya, ada niat yang terselubung di dalam hatinya.
Dan jika Arga terus diam, ia akan kehilangan bukan hanya kepercayaannya, tetapi Nabila, dan anak dalam kandungannya. Nabila pasti akan memilih Juan.
Arga menunduk sesaat, kemudian mengusap wajahnya keras-keras, bukan marah pada Nabila, tapi marah pada keadaan yang memaksa semuanya terbuka lebih cepat dari rencananya.
“Aku tak tahu harus bagaimana lagi, tapi untuk Nabila dan bayi yang ada di kandungannya, aku akan tanggung jawab. Aku percaya kau dan Juan hanya sebatas teman, dan bayi yang dikandungnya adalah anakku.”
Nabila memandangnya tidak percaya. “Dengan cara apa kau bertanggung jawab?”
“Tentu saja dengan menikahimu, menjadi suami sahmu.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa, Nabila?” tanya Arga.
“Apa kau yakin Dirga benar-benar sudah mati? Sebab, dalam hati kecilku, dia masih hidup.”
“Kau tak tahu, Nabila. Akulah yang memeriksa mayatnya, dan mayat itu beneran adalah kakakku, bukan orang lain. Dia sudah tenang di alam sana, jangan kau pikirkan lagi kalau dia masih hidup.”
“Aku enggak percaya padamu, naluriku berkata, dia masih hidup!”
Suara Nabila serak, seakan masih tak terima dengan kenyataan bahwa suaminya telah tiada.
Hening tajam melingkupi ruangan. Juan maju setengah langkah.
“Aku harus bilang,” ujarnya menatap Arga dalam-dalam, “kali ini Nabila benar. Kau mungkin harus menemukan bukti lain, bisa jadi, mayat itu wajahnya memang mirip dengan kakakmu.”
Tatapan Arga berubah dingin. “Jangan ikut campur, Juan. Aku hanya ingin melindungi Nabila sebagaimana kakakku yang jadi suaminya!”
“Aku sudah ikut campur sejak kau datang menyerbu rumahku dan hampir mematahkan rahangku,” balasnya tanpa mundur. “Jadi jangan sok melarangku bicara sekarang!”
Nabila memegang perutnya pelan, menunduk sejenak sebelum menatap Arga lagi lebih dalam.
“Aku nggak membutuhkan perlindungan yang penuh rahasia,” ucap Nabila lirih. “Aku butuh kebenaran, keaslian bahwa Dirga sudah tiada. Bisa jadi, semua itu propaganda.”
Arga terdiam, napasnya berat, seperti seseorang yang sedang berjalan di tepi jurang antara kehilangan dan keberanian untuk bicara.
Juan menutup pembicaraan dengan satu kalimat yang menghantam tepat sasaran:
“Kalau kau benar-benar peduli padanya, berhentilah memperlakukan dia seperti seseorang yang harus dijauhkan dari kebenaran. Karena justru di sanalah kau menyakitinya paling dalam.”
Dan untuk pertama kalinya sejak perkelahian dimulai, Arga terlihat kalah.
Bukan oleh pukulan, juga bukan karena ancaman, melainkan oleh kenyataan bahwa ia adalah sumber luka yang selama ini ia pikir sedang ia cegah.
Nabila pun mengembuskan napas panjang sambil memegangi kepalanya karena masalah itu sudah begitu rumit dan sudah melewati batas pemikirannya.
Ia berdiri perlahan. Tangannya sempat menyentuh sandaran sofa untuk menjaga keseimbangan, bukan karena lemah, tetapi karena perasaannya terlalu penuh untuk terus ia tahan di ruangan yang sama.
“Seperti, aku mau pergi saja,” ucapnya pelan, gemetar tapi jelas.
Arga refleks melangkah setengah maju mendekati Nabila, lalu menahannya agar tidak pergi dari sana.
Nabila menepis tangan Arga, lalu mendorongnya, menandakan agar ia tidak mendekat. “Sebaiknya jangan ganggu aku lagi, aku butuh ketenangan.” Nabila memandang Arga, dengan jarak yang cukup dekat.
Pandangan itu bukan benci, juga bukan amarah murni, tapi campuran luka dan kelelahan. Lelah karena menghadapi masalah itu dan Nabila sebenarnya tak tahu harus bagaimana lagi.
“Aku pergi, tolong jangan cari aku lagi, atau kita tak akan bertemu lagi.”
Nabila melanjutkan, kali ini nadanya lebih lirih. “Biarkan aku tenang, hidup tanpa beban masalah.”
Arga terdiam. Kata-kata itu lebih menampar daripada teriakan mana pun.
Juan mengambil langkah kecil ke arah pintu, memberi jalan untuk Nabila. “Nabila, kau mau pergi ke mana?,” tanya dia pelan.
Nabila menggeleng. “Aku cuma ingin ... tenang. Maka, jangan ganggu aku lagi.”
Ia mengenakan sandalnya pelan, tanpa terburu-buru, tanpa ada drama, hanya kesedihan yang terlalu sunyi.
Ketika melewati Arga, ia berhenti sejenak, cukup dekat untuk suaranya terdengar, tapi cukup jauh untuk tidak disentuh.
“Aku nggak butuh kau sempurna seperti Dirga,” ujarnya tanpa menoleh. “Aku cuma butuh ketulusanmu.”
Nabila terisak pelan di sudut ruangan, tubuhnya bergetar menahan campur aduk emosi yang bahkan ia sendiri tak mampu jelaskan. Ketika Arga menoleh sekilas, ia melihat wajahnya pucat, kedua tangannya meremas ujung blusnya dengan gugup. Dalam tatapan itu tak lagi ada jarak antara “peran pura-pura” dan kenyataan pahit yang perlahan menyeruak ke permukaan.
“Aku … harus bagaimana ...?”