“Aku … harus bagaimana ...?” Suara Nabila nyaris tak terdengar, lebih mirip bisikan ketakutan daripada kalimat lengkap.
Arga berhenti bergerak. Ia menatapnya sesaat dengan bingung, tapi Nabila melanjutkan sebelum ia sempat mengalihkan pandangan.
“Walaupun aku cuma istri pura-pura, aku benar-benar sudah mengandung anakmu.”
Matanya berkaca-kaca. Napasnya sesak. Panik menjalari dirinya tanpa bisa ia kendalikan.
Lidah Arga kelu. Tugas, dendam, penyamaran, semuanya seolah runtuh begitu saja. Seluruh bangunan kebohongan yang ia rangkai perlahan berubah jadi jerat yang kini mencekiknya sendiri. Ibarat kata, bangunan itu roboh dan tubuhnya kejatuhan puing-puing itu.
“Aku bahkan takut bernapas karena aku merasa seperti sedang berdiri di jurang,” lanjut Nabila getir. “Aku bingung, apa yang harus aku lakukan dengan bayi ini?” ucap Nabila sambil mengelus perutnya, meski belum terlihat buncit, tapi sudah jelas ia kini sedang mengandung.
“Aku bahkan tidak tahu kamu siapa sebenarnya,” ucapnya lagi lirih, “tapi anak ini … anak tak berdosa meski dari hubungan pura-pura. Dia tidak minta dilahirkan di tengah semua kebohongan ini .…”
Kata-kata itu seperti menghantam dada Arga. Sekali, dua kali, sampai ia kehilangan napas. Juan yang sejak tadi menahan diri, ikut menunduk, ia bisa merasakan betapa runtuhnya pertahanan Nabila, bukan sebagai istri pura-pura, melainkan sebagai seorang perempuan yang tiba-tiba harus menanggung beban kehamilan dari laki-laki yang bahkan tidak ia cintai sepenuhnya.
Nabila memegangi perutnya pelan, suara bergetar.
“Panik … iya. Takut … iya. Tapi bayi ini nyata, Arga. Dan aku tak bisa lagi berpura-pura kalau aku sedang baik-baik saja.”
Keheningan yang menyusul terasa berat, lebih berat dari pertengkaran. Karena untuk pertama kalinya, masalah mereka bukan lagi sekadar sandiwara, melainkan kehidupan baru yang tak bisa dibatalkan.
Nabila pun berjalan menuju pintu dan hendak keluar dari rumah tersebut.
Arga berdiri lama di ambang pintu, sementara langkah Nabila semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pandangannya. Kakinya sempat bergerak setengah langkah, refleks dari naluri yang menyuruhnya mengejar. Namun langkah itu berhenti.
Bukan karena ia tidak peduli.
Justru karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mengejar tanpa kejujuran hanya akan memperpanjang luka.
Ia menghela napas dalam, lalu membalikkan badan.
Setelah itu ia berjalan keluar. Kedua pria itu hanya terdiam saja, membiarkan wanita yang penglihatannya belum jelas itu pergi begitu saja, tak ada yang mencegatnya karena semua itu kehendak Nabila itu sendiri.
Pintu rumah Juan tertutup dengan suara pelan, tapi denting suaranya terasa seperti sesuatu yang patah di dalam diri Arga. Ia terdiam, masih memikirkan kalimat Nabila yang terakhir diucapkan.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, dan kali ini, Arga tidak hanya kehilangan sosok Nabila, tapi ia juga benar-benar merasa kehilangan kendali atas semuanya.
Arga baru melangkah dua langkah menuju pintu, tapi suara Juan menghentikannya.
“Arga.”
Arga berhenti, tapi tidak berbalik. Tubuhnya menegang, seperti seseorang yang ingin berlari, tapi dipaksa menghadapi cermin dulu. Ia masih emosi dengan Juan karena tanpa sepengetahuannya, membawa Nabila ke rumahnya.
Juan berdiri tidak jauh di belakangnya, masih dengan napas sedikit berat, tapi tatapannya kini bukan lagi memusuhi, melainkan menilai.
“Kalau kau mau ngejar dia,” ucap Juan pelan tapi tegas, “kejar sebagai laki-laki yang berani menghadapi kebenaran, bukan laki-laki yang lari dari kejujuran.”
“Juan, kau sebenarnya siapa? Hubungan apa yang kau jalani dengan Nabila?” tanya Arga tanpa menoleh ke arahnya, tatapan matanya menuju ke halaman rumah Juan di luar sana.
“Nanti kau akan tahu, sekarang belum saatnya. Lebih baik kejar Nabila dulu sebelum ia menjauh dan bicarakan baik-baik dengannya.”
“Tapi, aku ....”
“Jadilah lelaki yang baik, buat istrimu bahagia, kau bisa ke sini kalau kau mau, setelah semuanya beres.”
Arga menggenggam gagang pintu, jemarinya sampai memutih. “Juan, maaf ...,” ucap Arga seperti mulutnya berkata begitu saja.
“Ucapan maaf diterima, tapi dari penilaianku, kau lelaki yang masih labil, kau belum pantas menjadi suami.”
Arga menutup mata sejenak. Kata-kata itu menembus dan bukan pula menghina, melainkan menelanjangi sisi dirinya yang selama ini tidak pernah ia biarkan disorot.
Juan mendekat dua langkah lagi.
“Mungkin kau bisa kuat, bisa melawan siapa pun di luar sana. Tapi di depan perempuan yang kau cintai?” Juan berhenti bicara sejenak, lalu menggeleng pelan. “Entah kenapa, kau tiba-tiba jadi pengecut.”
Arga membuka mata. Tatapannya berubah, bukan meledak dan bukan tersinggung, tapi seperti seseorang yang baru saja menyadari betapa dalamnya kerusakan yang ia buat sendiri. Kini, permainan itu telah menghantam dirinya sendiri, meski tujuan awalnya karena desakan ibunya agar psikis wanita itu bisa stabil. Kini, Nabila sudah tahu semuanya dan Arga tak tahu lagi harus bagaimana. Ia tahu dan sadar, ia bukanlah suami sebenarnya. Suami sebenarnya adalah Dirga – kakaknya yang sudah meninggal.
Juan pun kini menambahkan, “Kalau kau benar-benar mau jaga dia, kau harus mampu menerima kelebihan, maupun kekurangannya. Serta harus saling terbuka dan tak ada yang ditutupi lagi.”
Hening sesaat. Kemudian, Arga akhirnya bergerak.
Ia membuka pintu dan melangkah keluar, kali ini bukan karena marah, tetapi takut kehilangan seseorang yang sudah terlalu jauh berjalan membawa luka sendirian.
Napas Arga terasa berat dan langkahnya cepat.
Ia harus segera mengajar Nabila sebelum jarak di antara mereka semakin jauh.
“Istri pura-pura …,” gumamnya pelan. “Tapi anak itu nyata. Anakku sendiri.”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya, lebih bising daripada suara apa pun. Selama ini ia menganggap semua yang ia jalani hanyalah peran: nama palsu, kehidupan sementara, bahkan kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas kebohongan. Ia selalu berpikir bisa mengakhiri semuanya kapan saja.
Ternyata tidak. Ada satu hal yang tak bisa ia lepaskan begitu saja, yaitu darahnya sendiri yang sedang tumbuh di rahim perempuan yang bahkan belum ia lindungi dengan benar.
Arga menghela napas panjang, menatap langit di atasnya yang cukup mendung. Untuk sesaat, bayangan Dion kembali melintas, dendam lama yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup. Namun kali ini, bayangan itu tidak lagi berdiri sendirian.
Ada wajah Nabila, juga ada ketakutan di matanya.
Ada kehidupan kecil yang tak tahu apa-apa tentang penyamaran dan balas dendam.
“Apa aku masih pantas menyebut diriku laki-laki,” ucapnya lirih, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri, “kalau aku terus lari dari tanggung jawab?”
Di luar, senja mulai jatuh. Cahaya jingga menyelinap melalui celah jendela, memantul di lantai dengan warna muram. Arga bangkit perlahan, mengambil jaketnya, lalu berhenti.
Ia belum siap mengejar Nabila. Belum siap pula bertatap muka dengannya untuk membicarakan masalah itu dengannya. Ia merasa, psikis Nabila akan kumat seperti dulu lagi.
Akan tetapi, satu hal kini jelas baginya. Ia tak bisa lagi hidup seolah-olah semuanya hanya sandiwara ....