Om CEO, Lepaskan Aku!-Ternyata Zara Trauma-Bab 24

16 September 2025

Zara tadi sedang melewati kamar Faris dan Astrid untuk menuju kamarnya sendiri. Dia berniat mau mengambil charger handphone. Namun tidak sengaja mendengar suara-suara aneh yang menarik perhatiannya.

Zara sama sekali tidak berniat mengintip. Dia juga tidak yakin itu suara apa, hanya saja pintu kamar Faris ternyata tidak tertutup rapat, ada sedikit celah di sana. Itulah yang membuat Zara akhirnya melangkah mendekat ke pintu kamar, dia hanya ingin memastikan bahwa Astrid baik-baik saja. Lagipula pikirnya Faris belum pulang kerja.

Tadi di ruang musik yang kedap suara, tentu saja Zara tidak mendengar suara mobil Faris datang.

“A—astaga!” desis Zara tertahan. Sumpah demi apapun, seumur hidupnya baru kali ini dia melihat adegan dewasa di depan mata. Saat dirinya melakukan hal itu dengan Arion, keadaan Zara sedang mabuk berat, dia tidak ingat prosesnya sama sekali. Hanya merasakan sakit di tubuhnya setelahnya.

Seseorang membekap mulut Zara supaya tidak berteriak, lalu menariknya menjauh dari sana. Kedua bola mata Zara membulat. Dia sedang shock menyaksikan dua orang sedang melakukan adegan panas, sekarang malah dia sendiri yang terjebak dalam kungkungan seseorang.

Zara mencoba berontak tapi tenaganya kalah telak. Maka dia hanya bisa panik dengan jantung berdebar kencang.

“Zara, jangan teriak! Kamu harus diam, oke?! Kalau kamu sampai teriak, mereka yang di dalam kamar akan mengira kamu habis mengintip.” Itu suara berat Arion, berbisik tepat di telinganya.

Mendengar itu, Zara langsung mengangguk beberapa kali. Dia tidak mau dicap sebagai pengintip. Apalagi mengintip kakak sendiri. Bisa-bisa dia yang akan malu seumur hidup.

“Sudah, ayo! Kita ke bawah saja, ke ruang musik!” Namun karena Zara masih dia mematung meskipun dia terlihat tidak akan berteriak, akhirnya Arion menarik tangannya dan memberi kode dengan jari supaya jangan berisik.

Di dalam ruang musik yang kedap suara, Zara duduk di sebuah kursi, Arion menarik satu kursi lain, lalu duduk tepat menghadap gadis yang masih shock itu.

“Zara, apa kamu baik-baik saja?”

Zara menatap Arion lekat-lekat, lalu dia menggeleng. “A—aku takut, ka—karena malam itu ... apa seperti itu yang terjadi pada kita?” Suara Zara terdengar bergetar.

Barulah Arion menyadari, gadis di hadapannya ini bukan shock karena melihat adegan dewasa tadi, melainkan trauma pada apa yang pernah terjadi pada dirinya sendiri. Seketika itu juga Arion merasa bersalah. Sama persis perasaan bersalah sesaat setelah dia sadar telah membobol kegadisan Zara di malam itu.

Arion menghela napas dalam, dia menatap sendu pada Zara. Bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu. Baru kali ini Zara melihat raut empati pada wajah Arion yang ternyata ... setampan ini. Gadis itu bahkan sedikit menganga sekarang, menunggu kalimat apa yang akan keluar dari pria ini.

“Zara ....” Detik berikutnya Arion berdecak kesal. “Ck ah, ngapain sih mikirin yang sudah terjadi, buang-buang waktu saja. Mending sekarang kita mulai latihan pianonya.”

Zara langsung mendelik sebal. Yang tadinya dia pikir pria ini memiliki empati padanya, ternyata tetap saja egois. Dasar Om Arion! Namun begitu, nyatanya dia langsung menurut. Melupakan kejadian tadi dan beranjak menuju kursi piano.

Gadis itu tidak jadi duduk di kursi piano, justru dia terdiam ketika melihat Arion yang duduk di sana. Tanpa mengatakan apapun pada Zara, Arion mulai memainkan tuts-tuts piano berwarna hitam itu.

Tidak menyangka, ternyata Arion memainkan lagu ‘The Scientist’ dari Coldplay. Dan itu adalah salah satu lagu favorite Zara. Telah lama dia ingin sekali memainkan lagu ini dengan piano.

Dan lebih tidak menyangka lagi, Arion tidak hanya bermain piano, tapi dia juga menyanyikan lagu itu dengan nada suara alto yang berat tapi nyaman sekali di telinga. Perlahan Zara berjalan mendekat, dia berhenti tepat di samping piano. Terdiam di sana hanya menatap dan mendengar. Rasanya tidak ingin berhenti menikmati suara Arion.

I'm going back to the start

Arion berhenti. Mendongak perlahan, sejak tadi dia hanya menunduk memperhatikan tuts-tuts di bawah jarinya. Kemudian menoleh dan tersenyum tipis pada Zara. “Sudah nonton konsernya. Ayo latihan!” Dia berdiri lalu melipat kedua tangan di dada.

Tatapan matanya kembali menjadi elang. Tajam dan dingin menatap Zara. Sontak suasana romantis yang syahdu, dengan cepatnya hilang begitu saja.

“Iya iya.” Dengan malas Zara menggantikan Arion duduk di kursi piano. Dia mulai memainkan tuts-tuts hitam putih. Dengan raut datar dan dingin, Arion memperhatikan.

“Salah nada!” Pletak!

“Aww!” Zara meringis karena tiba-tiba jemari lentiknya kena pukul tongkat kecil.

Zara mendelik. Ish! Sejak kapan dia pegang tongkat itu?!

“Sudah sana konsentrasi lagi!” Arion menunjuk ke arah piano dengan tongkat kecil di tangannya.

Dengan wajah memberengut Zara kembali bermain. Sesekali dia masih kena pukul oleh Arion. Namun lima belas menit berlalu, Zara dapat memainkan sebuah lagi dengan lancar tanpa hambatan. Berlanjut lagu berikutnya.

“Bagus. Latihan untuk hari ini cukup. Hemm sepertinya kebodohanmu sudah mulai berkurang ya, Zara. Berkat latihan bersamaku. Huft! CEO Nawasena sampai harus turun langsung mengajar murid bebal sepertimu. Ck ck ....” Arion geleng-geleng kepala.

Zara langsung melotot. “Aapa maksudnya aku bodoh?! Om Arion tanya saja sana pada Kak Irene! Aku cerdas dan cepat menangkap pelajaran. Tanya saja sana kalau nggak percaya!” teriaknya penuh emosi.

Arion menaikkan sebelas alis dengan memasang raut tidak peduli. “Tidak ada waktu. Orang sibuk sepertiku disuruh tanya-tanya pada anak buah. Nggak level!”

Terdengar suara bel yang menyerupai alunan musik. Itu berarti ada seseorang di balik pintu. Zara beranjak membukakan pintu.

Seorang pelayan tampak memegang baki dengan dua gelas di atasnya. Dia menunduk sedikit sebagai sikap hormatnya. “Permisi Nona Zara, saya membawakan minuman untuk Nona dan Tuan Arion.”

Zara memiringkan sedikit kepalanya, ternyata di belakang pelayan itu berdiri Astrid yang sedang tersenyum manis padanya. Zara mempersilakan pelayan itu untuk masuk.

“Kak Astrid?” Seketika Zara langsung teringat apa yang terjadi tadi di dalam kamar. Keningnya sedikit mengernyit. Merasa tak nyaman dengan adanya Astrid di sini.

“Hai, Zara.” Astrid tersenyum semakin sumringah. “Aku hanya ingin lihat latihanmu saja kok. Sepertinya kamu cukup beruntung mendapat guru pelatih langsung oleh ownernya. Pasti hasilnya jauh lebih bagus, ya.”

Basa-basi yang menurut Zara sangat basi. Entah kenapa sejak awal dia merasa tidak terlalu suka melihat sikap Astrid, yang menurutnya seperti dibuat-buat. Zara hanya mengedikkan kedua bahu. “Yeah,” jawabnya malas.

Arion menepuk bahu Zara pelan beberapa kali, dia sudah ada di samping Zara. Di ambang pintu. “Bukan karena pengajarnya, tapi memang Zara berbakat. Maaf, saya sibuk, masih banyak jadwal meeting di kantor, jadi harus pergi sekarang.”

Astrid langsung menampakkan raut kecewa. “Loh! Tapi itu ... minumnya sudah disiapkan. Apa nggak sebaiknya minum dulu sebentar? Mas Arion?”

Namun Arion sudah beranjak dari sana. Melangkah penuh percaya diri sambil melambaikan tangan.

Sekali lagi Astrid berdecak kecewa. Gagal lagi deh, uh!