Menikahi Istri Kakakku - Orang Misterius Penolong

Penulis Yuan_bee
28 January 2026

Akan tetapi, satu hal kini jelas baginya. Ia tak bisa lagi hidup seolah-olah semuanya hanya sandiwara. Petang itu, Arga memutuskan tak mengejarnya karena teringat satu kata Nabila memintanya sendiri agar ia tenang. Arga memutuskan untuk kembali ke rumah bukan sebagai pria yang kalah oleh keadaan, melainkan sebagai seseorang yang mulai menyadari bahwa tanggung jawab sering kali lebih menakutkan daripada musuh mana pun.

Sementara itu, meski sudah bisa melihat, tapi pandangan Nabila masih kabur. Cahaya lampu jalan memanjang, berpendar seperti garis-garis patah yang saling bertabrakan. Setiap langkah terasa tidak seimbang, tapi ia tetap memaksa kakinya bergerak. Berhenti berarti membiarkan pikirannya runtuh, dan ia tidak sanggup itu.

Ia mengedip berulang kali, mencoba memfokuskan penglihatan, tapi semua itu percuma. Dunia tetap bergetar, seolah enggan memberinya bentuk yang utuh.

“Sedikit lagi, satu blok lagi aku akan sampai di rumah,” gumamnya pada diri sendiri.

Tangannya refleks menyentuh perutnya. Gerakan kecil, nyaris tak sadar, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian. Ada sesuatu yang harus ia jaga, meski ia sendiri sedang limbung.

Tiba-tiba, suara klakson mendadak memekakkan telinga.

Nabila tersentak. Cahaya putih menyilaukan datang terlalu cepat dari arah kanan. Tubuhnya membeku, otaknya terlambat memberi perintah untuk menyingkir.

Dalam sepersekian detik, dunia terasa berhenti. Sebelum mobil itu menabraknya, ada tarikan keras di lengannya. Namun, ia sedikit terlambat, kakinya tergores bemper mobil hingga berdarah.

Tubuhnya terhuyung ke depan, ditarik ke depan oleh seseorang. Mobil itu kini berhenti, suara decit rem dan makian singkat pengemudi terdengar jelas.

Nabila terengah. Jantungnya berdegup liar. Tangannya gemetar, mencengkeram kain jaket asing di depannya.

“Mbak! Anda tidak apa-apa?”

Suara itu asing. Bukan Arga maupun Juan.

Ia mendongak perlahan. Wajah di depannya samar, hanya siluet tinggi dengan sorot mata cemas yang tampak lebih jelas daripada detail lain.

“Aku .…” Suaranya serak. “Aku baik-baik saja,” dalihnya, padahal jelas ia tidak baik-baik saja. Kakinya terluka akibat goresan bemper mobil tadi, lalu mobil tadi langsung berjalan tanpa memedulikan kondisi Nabila.

Sementara orang yang tadi menolongnya tidak langsung melepaskannya. Tangannya tetap memegang lengan Nabila, seolah takut ia akan roboh jika dilepas begitu saja.

“Mata Anda bermasalah?” tanyanya hati-hati. “Tadi Anda berjalan ke tengah jalan.”

Nabila menelan ludah. Ia ingin menyangkal, ingin berkata semuanya terkendali, tapi tubuhnya berkhianat. Lututnya melemah, napasnya kembali tak beraturan.

“Aku cuma … mau pulang,” ujarnya lirih.

Sosok asing itu terdiam sejenak, menimbang. “Di sini tidak aman. Setidaknya, duduk dulu. Anda hampir celaka.”

Nabila mengangguk pelan, terlalu lelah untuk menolak. Ia dibimbing ke pinggir jalan, duduk di bangku beton yang dingin. Lampu jalan masih berpendar di matanya, tapi kini ia bersyukur, setidaknya ia masih bernapas.

Ia kembali menyentuh perutnya. “Maaf …,” bisiknya, entah pada siapa. “Aku tadi ceroboh.”

Sosok asing itu memperhatikannya dari samping, tatapannya berubah lebih waspada, seakan menyadari ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kecelakaan nyaris terjadi.

Malam itu, Nabila sadar satu hal pahit. Jika barusan ia benar-benar tertabrak, tak hanya dirinya, bayi yang dikandung pun tak akan selamat.

Nabila mulai menyadari ada yang tidak beres ketika rasa mual itu kembali setelah insiden barusan, kali ini lebih kuat. Pandangannya yang sejak tadi samar kini benar-benar berkunang, seolah lampu jalan berubah menjadi bintang-bintang kecil yang berputar tak beraturan. Ia mencoba menarik napas panjang, tetapi dadanya terasa sempit.

“Apa … aku boleh minta air?” pintanya pelan.

Sosok asing yang menolongnya tadi langsung berdiri. “Tunggu sebentar. Jangan bangun dulu.”

Nabila mengangguk, namun tubuhnya sudah terlanjur condong ke depan. Tangannya gemetar saat kembali menyentuh perutnya. Ada rasa nyeri samar, bukan sakit yang menusuk, tetapi cukup untuk membuat kepanikan menyusup ke benaknya.

Orang itu pun pergi, mencari air mineral terdekat sambil terus memantau Nabila dari jauh.

“Tenang … tenang,” gumamnya pada diri sendiri, meski napasnya semakin pendek.

Tak lama kemudian, orang asing itu kembali, aiir mineral disodorkan ke tangannya. Nabila meneguk sedikit, tapi rasa mual justru naik ke tenggorokan. Kepalanya terasa berat, seperti ditekan dari dalam.

“Bu, Anda hamil?” tanya orang itu ragu, tapi nada suaranya penuh perhatian. Ia melihat kondisi Nabila yang semakin parah. Darah mengalir dari pahanya.

Nabila terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Iya, tapi baru sekitar tiga bulan.”

Wajah sosok asing itu langsung berubah serius. “Kita tidak bisa menunggu. Saya antar ke klinik terdekat. Anda tidak terlihat baik-baik saja.”

“Aku … tidak mau merepotkan Anda,” Nabila berusaha menolak, tapi kalimat itu terputus oleh rasa pusing yang tiba-tiba membuat dunia berputar. Tubuhnya condong, hampir jatuh jika tidak segera ditopang.

“Ini bukan soal merepotkan,” jawabnya tegas. “Ini soal keselamatan Anda ... dan bayi yang Anda kandung, umur tiga bulan masih dalam tahap yang sulit.”

Nabila akhirnya menyerah. Dalam kondisi seperti ini, keras kepala hanya akan membahayakan dirinya dan bayi yang bahkan belum sempat ia lindungi dengan layak.

Orang asing itu menghentikan taksi. Dengan langkah tertatih, ia dibantu masuk ke mobil. Begitu pintu tertutup, ia memejamkan mata, mencoba bertahan dari gelombang mual yang datang silih berganti.

Di sela kesadarannya yang naik turun, wajah Arga muncul. Bukan wajah marah, bukan pula wajah dingin, melainkan tatapan bingung dan terluka saat ia memilih kembali ke rumah. Dadanya terasa sesak.

‘Kenapa … aku tetap berharap padanya? Dia tak mungkin berinisiatif mencariku,’ gumamnya dalam hati.

Di tempat lain, Arga berdiri sendirian di rumah yang terasa terlalu sepi. Jam di dinding berdetak pelan, tapi setiap detiknya terasa mengganggu. Ia mencoba duduk, lalu berdiri lagi, berjalan bolak-balik tanpa tujuan jelas.

Sejak Nabila pergi, dadanya tak pernah benar-benar tenang. Meski ia bukan istri sebenarnya, tapi sudah tumbuh rasa cinta dalam dirinya, juga anak yang dikandung di perutnya ia pikirkan dengan sangat.

Ada sesuatu yang mengganjal, firasat yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika. Ia merogoh ponselnya, menatap layar kosong, lalu menghela napas berat. Ia tahu ia tidak berhak menelepon. Ia sendiri yang memilih tidak mengejar. Semua itu karena kemauan Nabila.

Akan tetapi, bayangan Nabila berjalan dengan mata samar itu kembali muncul, membuat tengkuknya meremang.

“Apa kau baik-baik saja sekarang?” gumamnya, tanpa sadar.

Ia menekan dadanya sendiri, seolah ingin menenangkan detak jantung yang mendadak tidak beraturan. Dendam pada Dion, kecurigaan pada Juan, rencana-rencana yang selama ini ia susun rapi, semuanya mendadak terasa jauh. Yang tersisa hanya satu pikiran yang terus berputar, yaitu Nabila yang rapuh telah mengandung buah hatinya.

Bukan sekadar kata. Bukan sekadar fakta biologis. Itu berarti ada nyawa lain yang terikat pada setiap keputusan cerobohnya.

Arga berjalan ke jendela, menatap malam yang mulai menebal. Lampu jalan di kejauhan berkelip, mengingatkannya pada cerita Nabila tentang pandangannya yang masih belum sepenuhnya pulih.

“Kalau sesuatu terjadi padamu …,” ucapnya lirih, lalu berhenti.

Ia tidak berani menyelesaikan kalimat itu.

Tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya sejak lama, Arga merasa benar-benar takut ....