Tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya sejak lama, Arga merasa benar-benar takut, bukan pada musuh, bukan pada pengkhianatan, tetapi pada kemungkinan kehilangan sebelum sempat memperbaiki apa pun.
**
Taksi yang ditumpangi Nabila dan orang itu berhenti di depan klinik kecil yang masih buka. Nabila dibantu turun, kakinya terasa lemas. Saat pintu klinik terbuka, udara dingin menyentuh wajahnya, membuat kesadarannya sedikit kembali.
Di dalam, seorang perawat segera menghampiri. “Ada apa, Pak?”
“Ibu ini hamil dan hampir pingsan, ia juga mengalami pendarahan,” jawab penolongnya cepat.
Nabila duduk di kursi dorong, kepalanya disandarkan. Saat matanya kembali terpejam, satu air mata lolos tanpa bisa ia tahan. Seorang perawat kemudian membawanya ke sebuah ruangan untuk diperiksa. Dan kini, kondisi Nabila sudah tak sadarkan diri.
Di tempat yang berbeda, pada jam yang sama, Arga berdiri di bawah cahaya lampu rumahnya, dengan perasaan yang sama beratnya.
Malam itu, tanpa saling tahu, keduanya diliputi ketakutan yang sama, yaitu takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat mereka jaga bersama.
Malam semakin larut ketika pintu rumah terbuka dan Fenny berdiri di ambang, wajahnya tegang. Tatapannya langsung tertuju pada Arga yang sejak tadi hanya duduk diam, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
“Nabila belum pulang juga?” tanya Fenny, meski jawabannya sudah terbaca jelas dari raut wajah putranya.
Arga menggeleng pelan. “Belum, mungkin … dia butuh waktu sendiri.”
“Butuh waktu sendiri?!” potong Fenny. Nadanya naik, bukan karena marah, melainkan cemas. “Kau bilang, dia pergi sejak sore, Ini sudah malam. Dia perempuan, Arga. Kondisinya juga tidak sedang baik, dia enggak bisa melihat dan kau biarkan dia berkeliaran sendiri?”
Arga terdiam. Ada keinginan untuk membela diri, tapi tak satu pun alasan terdengar masuk akal di kepalanya sendiri.
Dari dapur, Bi Wati muncul sambil mengelap tangannya di celemek. Perempuan tua itu menatap Arga lama, lalu menghela napas berat.
“Nak Arga,” ucapnya pelan tapi menekan, “kalau ada apa-apa sama Nyonya Nabila, seumur hidup panjenengan bakal menyesal.”
Kalimat itu menusuk tepat di titik yang paling rapuh.
“Apa pun masalah kalian, malam ini bukan waktunya gengsi. Cari dia. Sampai ketemu,” lanjut Bi Wati,
Arga berdiri perlahan. Ragu masih menggantung di wajahnya. “Aku … aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
Fenny melangkah mendekat. “Mulai dari mana pun. Coba hubungi ibunya dulu, kemungkinan ia pulang. Ia tak mungkin berjalan sendiri dalam kondisi seperti itu.”
Hening sejenak. Lalu Arga mengangguk. Ia mengambil ponsel di sakunya, lalu menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan nomor itu. Nada sambung terdengar, sekali … dua kali … hingga suara perempuan paruh baya menjawab dari seberang.
“Selamat malam, Tante,” ucap Arga dengan suara tertahan.
“Malam juga. Arga? Ada apa malam-malam begini? Tumben nelpon?” ucap Tatik, nada suaranya datar, belum menyiratkan apa pun.
Arga menarik napas. “Tante … apa Nabila ada di sana?”
Hening sejenak. Terlalu lama untuk sebuah jawaban biasa. “Nabila?” ulang Tatik, suaranya naik setengah oktaf. “Maksud kamu gimana? Bukannya dia sama kamu? Dia pergi sama siapa?”
Pertanyaan balik itu membuat dada Arga mengeras. “Jadi … Nabila tidak di rumah Tante?” tanyanya pelan, seakan berharap jawaban itu berubah di detik terakhir.
“Tidak,” sahut Tatik cepat. “Kenapa kamu nanya begitu? Kalian sedang bertengkar?”
Arga mengusap wajahnya. Kata-kata yang sejak tadi berputar di kepalanya akhirnya keluar satu per satu. “Bukan bertengkar, Tante. Beberapa hari terakhir ini Nabila … dia mulai bisa melihat lagi. Katanya kepalanya sering pusing, emosinya berubah-ubah. Tadi sore dia bilang ingin sendiri.”
“Sendiri?” potong Tatik.
“Iya. Dia bilang jangan diganggu, jangan dicari, biar dia menenangkan diri. Setelah itu … dia pergi entah ke mana. Saya kira mungkin ke rumah Tante.”
Di seberang, terdengar helaan napas panjang yang kasar. “Menyebalkan emang,” gumam Tatik, lalu suaranya berubah kesal. “Dasar anak itu! Selalu saja bikin orang susah. Sudah bikin semua cemas, malah ngilang tanpa kabar.”
Arga terdiam, rasa bersalah menekan dadanya. “Maaf, Tante. Saya juga panik. Di rumah aku sempat kepikiran dan akan pergi mencarinya meski ia menyuruhku agar tak mencarinya.”
“Kalau begitu, biar Tante yang cari juga,” ujar Tatik tegas. “Kalau ketemu, akan Tante telepon kamu. Anak keras kepala itu harus dikasih pelajaran.”
“Iya, Tante. Nanti aku telepon lagi,” kata Arga cepat, suaranya nyaris terisak karena penyesalan yang mendalam.
Telepon pun ditutup. Nada “tut” terdengar singkat, meninggalkan Arga dalam keheningan yang menyesakkan. Ia menurunkan ponselnya perlahan, menatap ruang tamu yang terasa semakin kosong.
“Di rumahnya tidak ada … Tante juga tidak tahu,” gumamnya lirih. Jantungnya berdegup lebih cepat. “Kalau begitu, ke mana kamu pergi, Nabila?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban, sementara kecemasan Arga semakin menebal.
Ia berjalan ke samping rumah, ke arah garasi lama yang jarang sekali dibuka. Bi Wati terdiam saat melihatnya berhenti di depan pintu besi berdebu itu.
“Kalau sudah ketemu, segera bawa Nabila kembali,” pinta Fenny pelan.
Arga tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Ia membuka kunci yang sudah lama tak dipakai. Engsel berdecit lirih saat pintu terangkat, memperlihatkan sebuah mobil yang tersimpan rapi di balik kain penutup abu-abu.
Mobil itu milik almarhum kakaknya. Kondisinya masih utuh, dan masih bersih. Seolah waktu menolak menyentuhnya. Entah kenapa, kakaknya memakai mobil orang lain yang membuatnya kehilangan nyawa, sedangkan mobilnya sendiri terparkir rapi di garasi.
Tak ada yang benar-benar tahu mengapa kendaraan itu disimpan begitu lama. Kecelakaan yang merenggut nyawa kakaknya pun masih menyisakan terlalu banyak tanda tanya. Mobil ini selamat, nyaris tanpa lecet, sementara pemiliknya tak pernah kembali. Kejadian itu masih menjadi misteri yang mungkin sengaja disembunyikan.
Arga menarik kain penutup itu perlahan. Jemarinya berhenti sejenak di kap mobil, seperti menyentuh kenangan yang belum selesai.
Arga menelan ludah. Ia masuk ke dalam mobil, memutar kunci kontak. Mesin menyala halus, terlalu halus untuk kendaraan yang sudah lama tak digunakan.
Itu hanya semakin menambah rasa ganjil di dadanya.
Lampu garasi menyala, menerangi wajah Arga yang kini jauh lebih tegas. Ragu masih ada, tapi kekhawatiran telah mengalahkannya.
Ia tidak lagi memikirkan dendam. Tidak memikirkan penyamaran.
Hanya satu hal yang memenuhi kepalanya saat mobil itu keluar dari halaman rumah, yaitu ia harus menemukan Nabila. Apa pun yang terjadi dan apa pun yang menunggunya di luar sana.
Untuk pertama kalinya, Arga benar-benar mengendarai mobil itu keluar dari rumah. Setir terasa ringan di tangannya, pedal merespons dengan presisi yang nyaris sempurna. Tidak ada bunyi aneh, tidak ada getaran mencurigakan. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Terlalu mestinya.
Ia melaju perlahan meninggalkan kompleks, melewati lampu-lampu jalan yang berjajar rapi. Meski kemampuan mengemudinya belum mahir, cukup untuk membawanya mencari keberadaan Nabila di kota yang luas itu. Ia merasa, Nabila pasti tak jauh. Mesin berdengung stabil, seolah mobil itu tidak pernah lama terdiam di garasi. Beberapa menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas, tapi tetap tak ada apa-apa.
Arga melirik panel indikator. Semua normal. Jarum kecepatan, suhu mesin, bahan bakar, tidak satu pun menunjukkan masalah. Ia bahkan sempat tersenyum tipis, menyadari betapa kekhawatirannya barusan terasa berlebihan.
“Mungkin insiden itu memang sudah direncanakan seseorang ...,” gumamnya pelan ....