Menikahi Istri Kakakku - Hal yang Mengusik Hatinya

Penulis Yuan_bee
28 January 2026

“Mungkin insiden itu memang sudah direncanakan seseorang ...,” gumamnya pelan.

Namun semakin jauh ia melaju, perasaan ganjil itu tidak sepenuhnya hilang. Bukan rasa takut, melainkan kesadaran samar bahwa kendaraan ini seakan mengenali jalan yang ia tempuh. Setiap belokan terasa tepat. Setiap pengereman terjadi di jarak yang pas, seolah mobil itu menyesuaikan diri tanpa diminta.

Arga menggeleng kecil, mencoba mengusir pikiran yang tidak rasional. Ia fokus pada tujuannya: mencari Nabila. Di mana pun ia berada.

Ia berhenti sebentar di lampu merah. Pantulan wajahnya terlihat samar di kaca depan. Untuk sesaat, ia merasa seperti bukan dirinya sendiri yang sedang mengemudi, melainkan seseorang dari masa lalu yang meminjam tubuhnya.

Lampu hijau menyala. Mobil kini melaju lagi tanpa ada masalah internal yang ada.

‘Jika mobil ini memang membawa kutukan, atau sesuatu, seharusnya sesuatu terjadi. Setidaknya satu tanda kecil pun tidak ada,’ gumam Arga.

Ia menghela napas panjang, berusaha kembali berpikir logis.

“Mungkin semua ini cuma kebetulan, atau memang sengaja mobil ditukar?” katanya pada dirinya sendiri.

Waktu terus berjalan. Jalanan mulai lebih lengang. Beberapa lokasi sudah ia lewati, tanpa hasil. Tidak ada tanda-tanda Nabila di pinggir jalan. Perasaannya mulai khawatir, dan justru itu yang membuat dadanya semakin tidak tenang.

Arga melaju tanpa tujuan yang jelas hingga akhirnya lampu indikator bahan bakar menyala. Ia menepikan mobil di sebuah pom bensin yang masih buka, di tepi jalan yang sepi. Begitu mesin dimatikan, keheningan langsung menekan, jauh lebih berat daripada suara mesin yang tadi menemaninya.

Hanya duduk diam, kedua tangannya masih mencengkeram setir, menunggu giliran mobil itu diisi bensin.

Untuk pertama kalinya malam itu, Arga benar-benar merasa kehilangan arah.

Ia sudah berkeliling cukup lama, tapi semuanya nihil. Tidak ada jejak, juga tidak ada kabar. Seolah Nabila menghilang begitu saja, ditelan kota yang tak pernah peduli pada siapa pun.

“Harus ke mana lagi?” gumamnya lirih.

Kepalanya bersandar ke sandaran kursi. Matanya terpejam, tapi bayangan justru semakin jelas. Wajah Nabila saat berjalan pergi, langkahnya yang dipaksakan meski matanya masih samar.

Tiba-tiba, suara klakson mobil yang berada di belakangnya membuatnya kaget, lalu ia segera memajukan mobilnya dan saat itu, gilirannya mengisi bahan bakar.

Pompa bensin berdengung di kejauhan. Seorang petugas melirik ke arah mobilnya, melakukan pekerjaannya.

Setelah semuanya selesai, ia kembali menepi, belum beranjak karena tak tahu harus ke mana lagi. Kini, kenangannya kembali terlintas di benaknya. Keputusan itu pernah ia ucapkan dengan jelas dan tegas.

Ia memilih Nabila, bukan Novita karena suatu hal. Nabila sudah menjadi bagian dari hidupnya meski ia status aslinya adalah istri kakaknya.

Ia bahkan mengatakannya pada dirinya sendiri, berulang kali, seolah itu cukup untuk membuktikan sesuatu. Namun, kenyataan menamparnya dengan kejam.

‘Kalau benar memilih Nabila, kenapa aku membiarkannya pergi? Bodohnya aku.’

Arga menelan ludah. Dadanya terasa perih, seperti ada sesuatu yang terlepas dan tak bisa ia raih kembali. Ia terlalu percaya bahwa memberi jarak adalah bentuk kedewasaan. Terlalu yakin bahwa Nabila akan aman sendirian. Terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ada saat-saat di mana perempuan tidak membutuhkan ruang, melainkan kehadiran.

Ia menunduk, dahinya menyentuh setir. “Seharusnya aku kejar kamu dari awal sebelum kau menjauh,” ucapnya pelan, hampir seperti pengakuan dosa. “Seharusnya aku nggak biarin kamu jalan sendirian. Meski kamu sudah bisa melihat, tapi kamu masih butuh seseorang untuk menjagamu. Nabila, aku tahu kamu membenciku, tapi aku sebenarnya mencintaimu.”

Rasa bersalah itu datang terlambat, tapi menghantam tanpa ampun.

Nabila bukan sekadar perempuan yang terjebak dalam pernikahan pura-pura. Ia kini membawa konsekuensi nyata dari semua kebohongan yang Arga bangun. Anak itu merupakan darah dagingnya sendiri. Dan ia membiarkan ibu dari anak itu berjalan pergi dalam kondisi rapuh.

“Kalau terjadi apa-apa sama kamu, akulah yang akan bertanggung jawab.”

Kalimat itu kembali keluar dari tenggorokannya berupa bisikan lirih. Ia tak berani melanjutkan, seolah menyebutnya saja bisa mengundang kenyataan yang paling ia takuti.

Lampu pom bensin memantul di kaca depan, membuat pantulan wajah Arga terlihat asing, terlihat lebih tua, lebih lelah, dan penuh penyesalan. Untuk sementara, ia tidak memikirkan apa pun kecuali Nabila. Ia hanya memikirkan satu hal yang seharusnya ia lakukan sejak awal, yaitu menjaga Nabila.

Dan di pom bensin yang sunyi itu, Arga akhirnya menyadari bahwa memilih seseorang tidak cukup diucapkan.

Pilihan itu harus dibuktikan atau penyesalan akan datang, seperti malam ini, saat semuanya sudah terlambat.

**

Pagi harinya, di klinik itu, Nabila terbangun dengan cahaya putih yang menusuk pelan di balik kelopak matanya. Bau antiseptik langsung menyambut, tajam tapi menenangkan. Ia mengedip perlahan, berusaha menyesuaikan diri. Langit-langit rumah sakit terlihat kabur, tapi setidaknya tidak lagi berputar seperti sebelumnya.

Ia tidak sendirian. Namun juga tidak ditemani siapa pun yang ia kenal.

Seorang perawat berdiri di samping ranjang, memeriksa selang infus dan mencatat sesuatu di papan kecil. Ketika menyadari Nabila sudah sadar, perempuan itu tersenyum tipis.

“Anda sudah siuman,” katanya lembut. “Bagaimana rasanya sekarang?”

“Kepalaku … masih agak berat,” jawab Nabila lirih. Suaranya serak, tenggorokannya kering. “Tapi tidak separah tadi.”

“Itu wajar. Anda sempat hampir pingsan. Kami sudah periksa tekanan darah dan kondisi awal kehamilan. Untuk sementara masih aman, tapi Ibu harus banyak istirahat. Pendarahan itu tak berpengaruh pada janin yang dikandung.”

Nabila mengangguk pelan. Tangannya secara refleks menyentuh perutnya. Mendengar kata aman saja sudah cukup membuat dadanya sedikit lebih lapang.

“Mbak, apa kau tahu, siapa yang tadi malam mengantarku ke sini? Aku belum sempat bertanya, siapa dia.”

“Yang mengantar Ibu ke sini …,” lanjut perawat itu, berhenti sejenak, “aku juga kurang tahu.”

Nabila menoleh perlahan. “Apa dia masih di sini?”

Perawat itu menggeleng. “Tidak. Dia pergi setelah memastikan Anda ditangani. Bahkan administrasi awal pun dia yang urus.”

Nabila terdiam. Bayangan siluet tinggi dengan suara tenang itu kembali muncul di kepalanya. Pria yang menariknya dari tepi maut, lalu memilih menghilang begitu saja.

“Dia tidak meninggalkan nama?” tanyanya pelan.

“Tidak,” jawab perawat jujur. “Waktu saya tanya, dia hanya bilang tidak perlu dicatat. Katanya, yang penting Anda dan bayi selamat.”

Nabila menatap kosong ke arah jendela pagi itu. Cahaya sinar matahari terlihat dari kejauhan, terlihat cerah di balik kaca. Ada perasaan aneh menyelinap di dadanya, bukan takut juga bukan curiga, melainkan keheranan yang bercampur syukur.

“Kenapa ada orang seperti itu …?” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.

Perawat itu tersenyum kecil. “Kadang memang begitu. Tidak semua orang menolong untuk dikenal.”

Ruangan kembali hening setelah perawat itu pergi. Hanya suara mesin medis yang berdetak pelan, seirama dengan jantungnya.

Nabila menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, ia merasa cukup aman untuk membiarkan air mata jatuh. Bukan karena sakit, melainkan karena ia akhirnya menyadari satu hal sederhana yang terasa ironis.

Orang yang menyelamatkannya malam ini bukan orang yang ia harapkan, dan justru karena itulah, rasa sepinya terasa semakin nyata.

Nabila terbaring diam, menatap langit-langit kamar rawat yang pucat. Kata-kata perawat tadi masih bergema di kepalanya, berputar tanpa henti. Tidak mau diketahui identitasnya. Kalimat itu terasa terlalu disengaja untuk sekadar kebetulan.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat kembali detik-detik sebelum kesadarannya memudar. Sentuhan tangan itu begitu kuat, tapi hati-hati. Cara pria itu berbicara sangat tenang, terukur, seolah sudah terbiasa berada dalam situasi genting. Bukan panik seorang warga biasa.

Dan ada satu hal yang paling mengusik, yaitu ....