Drama

Pergi Tanpa Kata

Penulis sanzfy
29 January 2026

Matahari meninggi ketika Naufal melangkahkan kaki menuju Hotel Pelangi, sebuah hotel bintang lima yang terkenal dengan kemewahan dan pelayanan prima. Detak jantungnya masih berdebar tak menentu. Sejak malam sebelumnya, Sinta, kekasihnya, tak bisa dihubungi.

Chat WhatsApp-nya hanya menunjukkan satu tanda centang, sebuah misteri yang menggantung di hatinya. Kecemasan itu semakin menghimpit ketika ia mengingat janjinya untuk mengajak Sinta makan malam dan nonton di bioskop, janji yang terpaksa ia batalkan karena tuntutan pekerjaan.

Ia memarkir mobilnya dan memasuki lobi yang luas dan elegan. Aroma parfum mewah dan pendingin ruangan yang menyegarkan menyambutnya. Furnitur antik dan lukisan-lukisan bernilai tinggi menghiasi ruangan, menciptakan suasana tenang dan mewah.

Namun, ketenangan itu tak mampu meredakan kegundahan yang menggelayuti hatinya. Ia membayangkan wajah Sinta, senyumnya yang manis, dan tawanya yang renyah. Bayangan itu semakin memperkuat rasa khawatirnya.

Di meja resepsionis, seorang wanita muda berparas cantik dengan senyum ramah menyambutnya. Rambutnya yang hitam terurai indah, dan seragam hotel yang dikenakannya terlihat sangat rapi.

“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis dengan suara lembut.

“Selamat siang,” jawab Naufal. “Boleh minta sampaikan pada tamu hotel bernama Sinta Ramadhani kalau ditunggu Naufal Hasbi di lobi? Saya lupa kamar nomor berapa.”

Resepsionis itu tersenyum, kemudian mengetik sesuatu di komputernya. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard, membuat Naufal semakin penasaran.

Ia memperhatikan detail ruangan; lampu kristal yang berkilauan, karpet Persia yang lembut di bawah kakinya, dan lukisan pemandangan alam Riau yang indah. Semua itu seakan tak mampu mengalihkan perhatiannya dari kecemasannya.

“Sebentar, Pak. Saya akan memeriksa reservasi,” katanya sambil tetap tersenyum. Naufal hanya mengangguk, matanya menatap layar komputer yang menampilkan berbagai data tamu hotel.

Setelah beberapa saat, resepsionis itu kembali menatap Naufal. Senyumnya kini sedikit memudar, digantikan oleh ekspresi yang sedikit simpatik.

“Nona Sinta Ramadhani sudah check out pagi tadi jam 8, Pak,” katanya dengan nada pelan.

Kalimat itu seperti pukulan telak bagi Naufal. Perasaannya langsung jatuh ke dasar. Sinta sudah pergi. Tanpa pamit. Tanpa kabar. Dunia seakan runtuh di hadapannya. Ia merasa sesak, seperti tercekik. Segala rencana yang telah ia susun untuk menghabiskan waktu bersama Sinta selama weekend ini sirna begitu saja.

“Sudah check out?” tanya Naufal.

“Iya. Tadi minta antar ke bandara sekitar jam 8 pagi,” jawab resepsionis.

Naufal terdiam sejenak, mencoba mencerna informasi yang baru saja diterimanya. Pikirannya kalut. Ke mana Sinta pergi? Mengapa ia pergi tanpa memberitahu? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Segudang pertanyaan memenuhi benaknya. Ia merasa sangat bersalah, merasa telah gagal menjaga hubungannya dengan Sinta.

“Oh, ok. Terima kasih,” katanya akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

“Sama-sama, Pak,” jawab resepsionis.

Naufal meninggalkan lobi hotel, langkahnya terasa berat. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di area parkir. Udara siang itu terasa begitu panas dan menyesakkan, seakan mencerminkan perasaan kalutnya.

Di dalam mobil, ia mencoba kembali menghubungi Sinta. Kali ini, nomor Sinta aktif. Ia berharap Sinta akan menjelaskan semuanya, akan memberikan alasan yang masuk akal atas kepergiannya yang mendadak ini.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya telepon terhubung. Suara Sinta terdengar dari seberang, dan nada suaranya terdengar dingin dan berbeda dari biasanya.

“Ada apa?”

“Kamu kemana? Pulang?” tanya Naufal, suaranya masih dipenuhi kecemasan.

“Tidak. Aku memutuskan berlibur ke Bali!” jawab Sinta, suaranya terdengar sedikit tinggi, dipenuhi amarah yang terpendam.

“Kenapa tidak bilang?” tanya Naufal, merasa bingung dan sedikit tersinggung. Kecewa bercampur dengan rasa bersalah.

“Apa kalau aku bilang kamu peduli?? Kamu janji mengajakku keluar tadi malam, tapi sampai subuh kamu kemana?? Tidak menghubungi sama sekali!” Suara Sinta terdengar tajam, penuh dengan kecewa. Kata-katanya menusuk hati Naufal.

“Itu .…” Naufal mencoba menjelaskan, dan Sinta memotongnya.

“Ah, sudahlah!” Sinta memotong ucapan Naufal. “Aku ini kan bukan prioritasmu!” Tuduhan itu membuat Naufal terdiam. Ia tahu dirinya memang salah, dan ia tak menyangka Sinta akan bereaksi sekeras ini.

"Tadi malam itu urusan di kantor sangat lama, aku baru pulang jam 3 dini hari dan langsung tertidur begitu sampai di rumah. Pagi sebelum berangkat ke kantor, aku chat, tapi WA kamu checklist." Naufal berusaha menjelaskan, berusaha membela diri. Ia berusaha menyampaikan betapa sibuknya pekerjaannya sebagai reserse bagaimana ia harus menangani kasus-kasus yang mendesak, bahkan hingga larut malam.

“Aku blokir!” sengit Sinta. “Buat apa punya pacar kalau tak pernah menganggap aku ada!”

Naufal merasa sesak. Ia menyadari bahwa ia telah lalai dalam memperhatikan Sinta. Ia terlalu fokus pada pekerjaannya hingga melupakan orang yang dicintainya.

"Aku tahu aku salah, tapi tidak begini juga endingnya, Nta. Kamu juga tidak bisa sesuka hati. Telpon dan bilang mau weekend disini, tapi tiba-tiba bilang sudah ada di Bandara. Ini masih hari kerja dengan pekerjaanku yang sedang menumpuk dan tidak bisa diprediksi jika tiba-tiba ada kasus yang harus kami selesaikan." Naufal mencoba menjelaskan lagi, dan Sinta sudah tak mau mendengarkan.

"Terserah aku!" Sinta menutup telepon.

Naufal menghela nafas panjang. Ia merasa lelah, baik secara fisik maupun mental. Sebuah panggilan masuk dari Wisnu, anggotanya di kantor.

"Hallo," sapa Naufal. "Ada apa Wisnu?"

"Nanti jam 2 press release, Bang, terkait keberhasilan operasi semalam." Wisnu mengingatkan. Naufal memandang jam tangannya. Ia harus segera ke kantor.

"Ya, sebentar lagi saya otw kantor." Naufal mengakhiri panggilan dan menyalakan mesin mobilnya. Ia melaju meninggalkan Hotel Pelangi, meninggalkan rasa kecewa dan penyesalan yang begitu mendalam. Perjalanan menuju kantor terasa begitu panjang dan berat. Ia harus menghadapi press release, dan pikirannya masih tertuju pada Sinta, pada hubungan mereka yang kini berada di ujung tanduk.

Di sudut ruang tunggu Bandara, Sinta masih duduk merenung. Pesawat pagi yang ia ambil sudah terbang beberapa jam yang lalu. Ia menyesali keputusannya yang terburu-buru. Ponselnya berdering. Di layar tertulis "Papa".

Sinta mengangkatnya.

"Ya, Pa."

"Papa baru baca pesan yang kamu kirimkan. Maksud kamu apa? Meminta Indra menjemput barang kamu di bandara. Sedangkan kamu tidak pulang." Suara ayahnya terdengar khawatir.

"Itu tadi ... tadi itu, aku ketinggalan pesawat."

"Yang benar? Masa bagasimu sudah masuk kamu bisa ketinggalan?"

Sinta terdiam.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa, Pa.. Itu, tadi rencana mau pulang, tapi menit terakhir mau terbang, aku berubah pikiran. Masih ingin disini. baru juga sehari."

"Ok."

"Sampai Nanti, Pa."

Sinta cepat menutup telepone. Ia berdiri.

"Ah, sekali lagi aku harus mengakui kalau aku terlalu mencintai laki-laki tak punya hati yang suaranya selalu aku rindukan," gerutu Sinta sambil melangkahkan kaki keluar dari ruang tunggu.

"Awas kau Naufal, lain kali kau yang kubuat menyesal jika aku pergi."