Drama #crime #drama

Pertemuan Tak Terduga

Penulis sanzfy
29 January 2026

Mentari mulai tenggelam di ufuk barat, pukul 17.00 WIB Naufal, akhirnya menyelesaikan tumpukan berkas di mejanya. Lelah dan lega, ia mengusap keringat yang membasahi dahinya.

Sehari penuh ia bergelut dengan kasus-kasus yang menguras tenaga dan pikiran, terutama kasus narkoba yang semakin mengkhawatirkan. Aroma kopi dari kantin kantor samar-samar tercium, dan ia tak sempat menikmati. Ada yang lebih penting menunggunya.

Ia meraih ponselnya, jarinya menekan nomor Sinta, kekasihnya.

"Ya," jawab Sinta dari seberang.

"Sebentar lagi aku ke sana ya?" tanya Naufal, suaranya terdengar sedikit lelah.

"Ok," jawab Sinta singkat, dan Naufal bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang tersirat di balik kata-kata itu. Janji bertemu Sinta menjadi satu-satunya hal yang dinantikannya setelah seharian berjibaku dengan kasus-kasus pelik.

Naufal menyimpan ponselnya dan segera keluar ruangan. Di koridor, ia berpapasan dengan Bripda Aretha. Wajah Aretha tampak sedikit cemas.

"Bang," panggil Aretha, suaranya sedikit gemetar.

"Ya, ada apa, Retha?" jawab Naufal, nada suaranya berubah lebih lembut, mencoba menenangkan Aretha. Ia tahu Aretha masih baru dan belum berpengalaman menghadapi situasi yang kompleks.

"Nindy ... Nindy merengek minta dipertemukan dengan anaknya," kata Aretha, menjelaskan dengan ragu-ragu. Suaranya terbata-bata, mencerminkan beban yang ia tanggung.

Naufal menghela napas panjang. Ia sudah menduga akan ada permintaan seperti ini. Meskipun Nindy telah mengakui kesalahannya dan menyesali perbuatannya, ia tetap seorang pelaku kejahatan narkoba, sebuah kasus yang sangat sensitif dan tidak bisa dianggap enteng. Namun, Naufal juga tidak bisa mengabaikan sisi kemanusiaan, terutama jika menyangkut seorang ibu dan anaknya.

"Sudah kamu bilang apa pada Nindy?" tanya Naufal, berusaha menjaga kesabarannya.

"Saya sudah jelaskan prosedur kunjungan, Bang. Tapi dia terus merengek, bahkan menangis," jawab Aretha, tampak sedikit frustrasi menghadapi sikap Nindy yang keras kepala.

Naufal berpikir sejenak. Ia harus bersikap tegas dan tetap manusiawi. "Bilang dia, besok kan bisa? Di jam berkunjung. Keluarganya bisa membawa anaknya saat mengunjungi dia di tahanan," kata Naufal, mencoba menjelaskan dengan sabar dan tegas. Ia berusaha bersikap adil tanpa mengabaikan prosedur yang berlaku.

"Sudah, Bang. Tapi masih merengek juga," jawab Aretha, tampak semakin frustrasi. "Dia bilang sangat merindukan anaknya, Bang. Dia bilang dia menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi."

Naufal mengusap wajahnya, merasa sedikit lelah menghadapi situasi ini. Ia mengerti perasaan seorang ibu yang terpisah dari anaknya, dan ia juga harus menegakkan hukum. Tidak ada yang bisa diistimewakan, siapapun mereka. Peraturan harus tetap dijalankan, apalagi dalam kasus narkoba yang sangat sensitif.

"Retha, kamu sudah melakukan yang terbaik. Tetap tegas, tapi tetap humanis. Ingat prosedur. Jangan sampai kita melanggar aturan hanya karena belas kasihan. Kita harus adil pada semua orang," kata Naufal, suaranya sedikit meninggi, dan tetap berusaha menjaga kesabarannya. Ia harus memberikan contoh yang baik pada anggota baru seperti Aretha.

"Siap, Bang," jawab Aretha, suaranya terdengar patuh. Ia mengangguk mengerti, meskipun masih tampak sedikit ragu.

"Aku pulang dulu," kata Naufal, meninggalkan Aretha yang masih berdiri di koridor. Ia melangkah cepat menuju parkiran, meninggalkan gedung yang tampak sunyi di senja hari. Bayangan wajah Nindy dan anaknya, dan juga kasus-kasus narkoba yang belum terselesaikan, masih memenuhi pikirannya.

Di parkiran, ia bertemu Bripka Razak, anggota sekaligus seniornya yang ramah dan selalu ceria. Razak mengamati Naufal dengan senyum ramah.

"Wangi sekali, Komandan. Wajahnya pun ceria sekali," ucap Razak, menatap Naufal yang tampak segar meskipun lelah. "Sepertinya sedang bahagia."

Naufal tertawa. "Abang bisa saja. Ya, sedikit lega. Hari ini cukup melelahkan."

"Ada janji bertemu seseorang, ya?" tebak Razak, tersenyum penuh arti.

Naufal hanya tersenyum, tidak menjawab. "Yuk, duluan, Bang," pamit Naufal.

"Ya, hati-hati di jalan," Razak melambaikan tangan.

Aretha memandang Razak, tersenyum tipis. Ia tahu Naufal sedang bahagia karena akan bertemu dengan Sinta. Ia pun ikut merasa senang untuk atasannya itu.

Naufal memang seorang polisi yang tegas dan adil, dan ia juga memiliki sisi lembut dan penuh kasih sayang. Namun, di balik keceriaan itu, tersimpan beban berat tugasnya dalam memberantas narkoba.

Naufal melajukan mobilnya, memikirkan Sinta yang menunggunya. Ia membayangkan senyum Sinta, suara tawa Sinta, dan sentuhan lembut tangan Sinta. Semua itu membuatnya melupakan sejenak beban pekerjaannya.

Ia merasa beruntung memiliki Sinta, seorang wanita yang selalu mendukungnya dalam suka dan duka. Namun, di tengah kebahagiaannya, bayangan kasus-kasus narkoba, terutama kasus Nindy dan jaringan pengedar sabu yang terlibat, masih menghantuinya.

Di perjalanan, pikiran Naufal kembali melayang pada Nindy dan anaknya. Meskipun ia telah menegakkan hukum, ia merasa perlu mempertimbangkan sisi kemanusiaan, selama tetap sesuai prosedur.

Mungkin ia bisa berbicara dengan kepala penjara untuk mencari solusi yang lebih manusiawi, seperti memperbolehkan Nindy bertemu anaknya lebih sering, asalkan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Ia harus menyeimbangkan penegakan hukum dengan rasa kemanusiaan, terutama dalam kasus yang melibatkan anak-anak.

Beberapa saat kemudian Naufal sudah sampai di parkiran hotel tempat Sinta menginap. Ia bergegas turun dan berjalan memasuki lobi.

Dalam perjalanan ia sudah menelpon Sinta untuk menunggu di lobi. Begitu masuk, Naufal melihat wajah cantik Sinta yang langsung tersenyum padanya. Sinta berdiri, anggun dalam balutan gaun berwarna biru muda.

"Naufal!" seru Sinta, berlari kecil menghampiri Naufal. Ia memeluk Naufal dengan erat, seakan ingin menghapus semua lelah yang menyelimuti kekasihnya itu.

"Aku merindukanmu," bisik Sinta di telinga Naufal.

"Aku juga, Sayang," jawab Naufal, membalas pelukan Sinta dengan erat. Ia menghirup aroma parfum Sinta yang lembut, aroma yang selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman.

"Ayo, kita ke rumahmu, aku ingin ketemu Mama," Sinta menggamit lengan Naufal. Mereka berdua berjalan menuju mobil Naufal, suasana romantis menyelimuti mereka. Namun, saat mereka sampai di parkiran, sesuatu yang tak terduga terjadi. Di sana, berdiri seorang wanita yang sangat dikenal Naufal, Chintya, sahabat ibunya yang telah lama menghilang bersama ayahnya.

Wajah Chintya juga tampak terkejut saat melihat Naufal, dan raut wajahnya sulit diartikan. Sinta, yang berdiri di samping Naufal, menatap Chintya dengan tatapan penuh tanya. Keheningan menyelimuti mereka bertiga, membuat suasana romantis yang baru saja mereka rasakan sirna seketika.

Sinta menoleh pada Naufal.

"Siapa?" tanya Sinta demi melihat raut wajah Naufal yang terlihat berubah.

"Naufal?" Chintya menyapa Naufal ragu.

Lelaki itu diam, tak menjawab.

Bayangan masa lalu yang kelam kembali muncul di benak Naufal, membuatnya terpaku di tempat. Kejutan ini mengubah rencana malamnya bersama Sinta secara drastis.

Pertemuan yang seharusnya penuh kebahagiaan kini dipenuhi dengan pertanyaan dan ketegangan. Naufal harus menghadapi masa lalunya yang kembali muncul di depan mata.