Drama #crime #drama

Membuka Kisah Lalu

Penulis sanzfy
29 January 2026

Lama Naufal terpaku sebelum akhirnya menjawab sapaan Chintya. "Tante Chintya," jawabnya datar. Sapaan itu ditujukan pada wanita yang telah menghancurkan keluarganya, sahabat ibunya yang telah tega membawa lari ayahnya dan uang hasil penjualan rumah serta tabungan pendidikannya. Luka itu masih menganga, perihnya terasa meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Ia masih ingat jelas bagaimana ibunya, Adelia, begitu percaya pada Chintya, menganggapnya saudara sendiri. Betapa hancurnya ibunya saat mengetahui pengkhianatan itu, betapa pilunya melihat ibunya berjuang sendirian membesarkannya dan Akhzam.

Chintya, yang kini mengenakan seragam sederhana bertuliskan "Cleaning Service," masih terlihat cantik. Waktu seakan tak mampu menghapus jejak kecantikannya, tetapi tak mampu pula menghapus bayangan pengkhianatan yang selalu menghantui Naufal.

"Mama kamu… Bagaimana?" tanya Chintya, suaranya sedikit gemetar. Dua tahun sudah ia kembali ke kota yang menyimpan begitu banyak kenangan pahit dan manis. Ia ingin bertemu Adelia, meminta maaf, namun tak tahu bagaimana caranya. Jejak Adelia seakan telah hilang ditelan waktu.

"Tidak tahu rumah Mama saat ini, tapi Tante kan tahu rumah Kakek?" jawab Naufal, suaranya tetap datar.

Chintya menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Ia tahu permintaan maafnya tak akan pernah cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah diperbuatnya. Ia ingin menceritakan penyesalannya, perjuangannya bertahan hidup sebagai petugas kebersihan, berharap sedikit belas kasihan. Suaranya mulai bergetar, “Naufal… aku… aku sangat menyesal. Aku tahu aku telah melakukan kesalahan besar. Aku… aku hanya ingin meminta maaf pada Mamamu.” Air matanya mulai menetes, membasahi pipinya yang masih terlihat cantik meskipun kusam karena terik matahari dan kerja keras. Ia mengulurkan tangannya, seakan memohon ampun.

Tetapi sebelum ia bisa melanjutkan, sebelum Naufal bisa melihat penyesalan yang tulus di mata Chintya, sebelum ia bisa mendengar seluruh pengakuan Chintya, Naufal memotongnya.

"Maaf, aku harus pulang. Permisi," kata Naufal tegas, suaranya dingin dan tanpa ampun. Ia memotong Chintya tanpa memberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Wajah Chintya langsung memucat, air mata yang baru saja mulai menetes kini mengalir deras. Tangannya yang terulur terhenti di udara, keinginan untuk meminta maaf seakan hancur bersama dengan kata-kata Naufal yang menusuk hatinya. Ia melihat Naufal berlalu, meninggalkan dirinya sendirian di parkiran hotel yang ramai, merasa hancur dan putus asa. Ia telah kehilangan kesempatan untuk meminta maaf kepada Adelia, kesempatan yang mungkin tak akan pernah datang lagi. Penyesalan yang mendalam menggerogoti hatinya, rasa sakit yang tak tertahankan memenuhi jiwanya. Ia hanya bisa terpaku di tempat, menyaksikan kepergian Naufal, membiarkan air mata membasahi pipinya tanpa henti.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana dalam mobil terasa hening, diselingi hanya oleh alunan musik lembut dari radio. Naufal terdiam, pikirannya melayang ke masa lalu, teringat wajah ibunya yang penuh kesedihan, perjuangannya membesarkan mereka berdua. Ia merasa bersalah karena tak mampu memberikan kebahagiaan yang lebih untuk ibunya. Ia juga merasa bersalah karena harus menyembunyikan beban berat ini dari Sinta.

Mereka akhirnya tiba di rumah sederhana namun nyaman milik Adelia. Rumah yang penuh dengan kenangan, baik yang manis maupun yang pahit. Naufal keluar dari mobil bersama Sinta. Pintu ruang tamu terbuka, menyambut mereka dengan wajah ceria Akhzam, adik Naufal.

"Abang pulang!" teriak Akhzam gembira, berlari menghampiri Naufal. "Adek tadi ke rumah Kakek pulang sekolah, dibelikan Kakek pesawat tempur!" Bocah itu menunjukkan mainan pesawat barunya dengan bangga, pesawat tempur mungil berwarna biru tua.

"Salam sama Kak Sinta," ucap Naufal, tersenyum lembut melihat kegembiraan adiknya.

Akhzam segera mencium tangan Sinta. "Kak Sinta cantik!" ujarnya polos.

"Mama mana?" tanya Naufal, matanya mencari keberadaan ibunya.

"Di belakang. Masak ayam goreng untuk Adek," jawab Akhzam, masih sibuk memainkan pesawat tempurnya. Suaranya riang, menandakan kebahagiaan sederhana yang selalu ia temukan di rumah.

"Ayo, Nta," ajak Naufal, menggandeng tangan Sinta. Mereka berjalan menuju dapur. Adelia terlihat baru selesai meletakkan ayam goreng ke piring. Aroma ayam goreng yang menggugah selera memenuhi ruangan. Naufal menghampiri ibunya. Saat melihat Naufal, wajah Adelia yang tadinya tampak tenang dan sibuk, langsung berubah. Sebuah senyum kecil, namun penuh kelegaan dan kasih sayang, merekah di wajahnya. Mata Adelia yang biasanya terlihat sedikit lesu karena kelelahan, kini berbinar. Ia tampak lebih muda beberapa tahun, seolah beban yang selama ini ia pikul sedikit berkurang. Rasa lelah yang selama ini terpendam, terobati dengan kehadiran putranya. Ia mengulurkan tangannya untuk memeluk Naufal, sebuah isyarat kasih sayang yang tak terucapkan.

"Ma.." panggil Naufal.

Adelia menoleh, wajahnya tampak lelah namun tetap memancarkan kelembutan. "Sudah pulang?" tanyanya, suaranya lembut, dipenuhi dengan kelegaan dan kasih sayang.

Naufal mencium tangan ibunya. Adelia memandang Sinta, lalu mengalihkan pandangan pada Naufal, sebuah pandangan yang menunjukkan sebuah tanya, seakan bertanya siapa gadis yang ada di samping anaknya.

"Ini Sinta, Ma," kata Naufal memperkenalkan Sinta pada ibunya, "Pacarku."

Adelia tersenyum, "Oh, yang kemarin kamu ceritakan?" Senyumnya hangat, menunjukkan penerimaan dan kelembutan.

Sinta menyalami Adelia sambil menyapa," Tante."

Adelia tersenyum, "Cantik sekali," pujinya, suaranya penuh keramahan. Suasana tegang sedikit mereda, digantikan oleh kehangatan keluarga kecil yang sederhana namun penuh kasih sayang.

"Aku mandi dulu, Ma. Temani Sinta ya, Ma," kata Naufal.

"Iya. Ayo, Nak. Kita duduk di ruang tamu," jawab Adelia, menggandeng tangan Sinta keluar dari dapur menuju ruang tamu. Akhzam terlihat sedang bermain di lantai dengan mainannya yang berserakan.

"Adek, rapiin mainannya," tegur Adelia lembut.

"Biar saja, Tante. Sinta temani Azam main sementara menunggu Naufal selesai mandi," tawar Sinta.

"Tante buatkan teh ya?" tanya Adelia.

"Tidak usah repot-repot, Tante," jawab Sinta.

"Tidak repot kok, sebentar ya?" Adelia tetap bersikeras. Ia kembali ke dapur, lalu melewati kamar Naufal. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Dilihatnya Naufal yang tampak termenung dengan handuk diletakkan di bahu. Adelia melangkah masuk.

"Abang kenapa?" tanya Adelia dengan lembut, suaranya penuh perhatian. Ia tahu putranya sedang menyimpan beban berat di hatinya. Ia bisa merasakannya dari raut wajah Naufal yang tampak lesu.

Naufal menoleh. "Tidak apa-apa, Ma. Cuma capek."

"Benar?" tanya Adelia, matanya menatap Naufal dengan penuh perhatian. Ia tidak sepenuhnya percaya pada jawaban putranya.

"Iya," jawab Naufal, mencoba tersenyum. Tidak ingin rasanya mengungkap cerita pertemuannya dengan Chintya pada ibunya. Ia takut hal itu akan menambah beban ibunya.

"Ya, sudah. Cepat Mandi. Nanti ajak Sinta makan malam di sini ya?" ucap Adelia. Ia berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan kekhawatirannya.

"Ya, Ma," jawab Naufal. Ia berjalan keluar kamar, meninggalkan ibunya yang masih memperhatikannya dengan penuh perhatian dan kekhawatiran. Adelia memungut kemeja yang diletakkan Naufal di tempat tidurnya. Ia tahu ada yang sedang mengganjal di hati putranya itu. Entah masalah pekerjaan entah masalah pribadi. Ia hanya bisa berharap, semua akan baik-baik saja.