“Permisi Kak, aku mau ke kamar.” Zara melewati Astrid yang masih berdiri di sana.
Astrid tersenyum dan justru ikut berjalan di samping Zara. “Aku juga mau ke kamar.” Ya, kamar mereka berdua sama-sama terletak di lantai dua.
“Oh ya, Ra, Mas Arion itu orangnya seru juga, ya?”
“Hem?” Zara menoleh seraya terus berjalan.”Seru bagaimana, Kak? Perasaan biasa saja, ah!” Padahal Zara ingin merileks-an pikirannya saat ini, tapi Astrid justru membahas tentang Arion.
“Yaa dia baik banget aslinya, meskipun agak ... kaku sih. Buktinya dia sampai rela datang kesini buat ngajarin kamu. Kebayang kan kayak gimana sibuknya seorang CEO, berarti kan dia benar-benar mau meluangkan waktunya untukmu.”
“Hem ... ya.”
“Atau ... kamu adalah murid spesial untuk Mas Arion?”
Zara langsung menghentikan langkah, dia menatap tajam pada Astrid. “Apa maksud Kak Astrid?”
Astrid menaikkan kedua alis. “Hei Zara, kamu itu kan cantik, muda belia, wajarlah ditaksir sama cowok. Nah, kebetulan saja cowok itu yaa ... Mas Arion itu.” Astrid melirik penuh arti. Senyuman di bibirnya seperti sedang meledek Zara.
“Ah, nggak mungkin! Nggak usah berpikiran aneh-aneh deh, Kak! Dia itu cuma gantiin jadwal Kak Irene. Sudah, itu aja!”
Zara sudah akan melanjutkan langkah tapi Astrid memegang tangannya. “Atau ... sebenarnya kalian berdua sudah ada ‘sesuatu’?” Astrid mengangkat kedua telunjuknya lalu menggoyangkan beberapa kali, seperti sedang mengatakan suatu hal rahasia. “Tapi merahasiakannya,” lanjutnya lagi dengan senyuman penuh arti.
Kening Zara mengernyit. Detik kemudian kedua netranya membola sempurna. Dia teringat dengan kejadian malam itu. Apa jangan-jangan Kak Astrid sudah tau tentang malam itu? Ah, tapi bagaimana mungkin?! Hanya aku dan Om Arion yang tau. Apa ada pengintip waktu di Zona Club?
Astrid tersenyum puas melihat ekspresi sang adik ipar yang terlihat ketakutan. Dia akan terus menakutinya sampai tidak betah tinggal di rumah ini.
Detik kemudian Zara kembali menatap Astrid. “Nggak ada yang dirahasiakan! Jangan berpikiran aneh-aneh, Kak! Sudahlah, aku capek habis kuliah dan les piano. Aku kan bukan pengangguran kayak Kak Astrid. Sudah ah, aku mau istirahat di kamar.”
Zara berlalu dari sana, meninggalkan Astrid yang sontak raut wajahnya berubah masam.
“Sialan! Berani dia bilang aku pengangguran. Dasar anak ingusan! Anak kemarin sore! Lihat saja, Zara, akan kubuat kamu jadi gembel! Dibuang dari rumah ini!” desisnya tertahan.
Astrid masih berdiri di sana, melihat punggung Zara yang semakin menjauh menaiki anak tangga, tatapannya begitu tajam dengan kilatan kebencian. Barulah dia berjalan menuju kamarnya sendiri.
Dilihatnya Faris masih tertidur pulas di atas ranjang. Tadi sehabis pergulatan panas mereka yang sampai dua ronde, Faris langsung tumbang di atas kasur lalu tidur dengan nyenyaknya. Bahkan terdengar suara dengkuran halus.
Astrid memilih tidak membangunakn sang suami untuk makan malam bersama. Pikirnya, nanti juga kalau lapar pasti akan terbangun. Dia sendiri juga belum lapar. Astrid sudah akan berjalan menuju sofa ketika handphone di atas meja nakas berbunyi sebentar. Itu adalah handphone milik Faris.
Penasaran, Astrid tidak jadi berjalan ke sofa, dia justru mengambil benda pipih hitam itu. Dilihatnya Faris masih meringkuk memeluk guling.
Ada notifikasi pesan masuk di layar handphone. Keningnya mengernyit ketika melihat nama Donna di sana. Nama itu seperti tidak terlalu asing tapi Astrid lupa. Siapa Donna ini?
Karena semakin penasaran, Astrid membuka foto profil Donna dan kedua bola matanya langsung membulat. “Ini bukannya Donna yang model itu, ya? Ah aku kan pernah ketemu dia waktu diundang acara Jakarta Fashion Week,” desisnya pelan.
Kening Astrid mengernyit, akhirnya dia memutuskan untuk membuka saja pesan dari Donna.
[Faris, lagi ngapain? Besok jadi, kan?]
Hah! Apa maksudnya pesan ini? Memangnya Mas Faris ada janji apa dengan dia? Batin Astrid bertanya-tanya. Seketika khawatir, apalagi dia tahu Donna adalah seorang model yang sangat cantik, dengan tubuh indah sempurna.
Rasa cemburu seketika membuncah. Astrid segera meletakkan handphone itu kembali di atas meja nakas. Dia bertekad pokoknya nanti setelah Faris bangun, akan langsung dia tanyakan tentang Donna ini.
Yang tadinya dia ingin bersantai di sofa sambil menonton film favorite, sekarang mood-nya langsung merosot. Astrid memang menyalakan TV, tapi dia tidak fokus menonton. Pikirannya melayang kemana-mana. Cemas kalau-kalau sang suami ada main dengan model cantik itu di belakangnya. Pikir Astrid, jika dinilai dari fisik sudah pasti dirinya kalah dengan Donna.
Sambil cemberut Astrid terus saja menggonta-ganti chanel TV. Dia tidak jadi melanjutkan nonton film kesayangan.
“Ada apa, Sayang? Kok uring-uringan begitu?” Faris menggeliat, rupanya dia sudah bangun dan sedang duduk di tepian tempat tidur.
Astrid menoleh dan masih cemberut. “Apa hubunganmu dengan Donna?!” Tanpa basa-basi Astrid langsung mengeluarkan uneg-unegnya yang sejak tadi mengganjal.
Faris diam mematung. Dia sungguh kaget tiba-tiba ditanya seperti itu oleh sang istri.
“Jawab, Mas! Kenapa dia kirim pesan begitu?! Apa maksudnya?!” cecar Astrid sambil menunjuk ke arah meja nakas.
“Hah! Pesan apa, Sayang?” Dengan cepat Faris mengambil handphone lalu membuka pesan dari Donna. Ah, sial! Aku lupa bilang pada Donna jangan telepon atau kirim pesan kalau sudah lewat jam kerja.
Otaknya dipaksa berpikir cepat. Faris menghela napas sebelum kemudian mendongak sambil meletakkan handphone itu kembali di atas meja nakas. Dia berjalan santai menghampiri Astrid seraya menyunggingkan senyum.
Kemudian duduk di samping sang istri. “Ohh Astrid, Sayang, kamu cemburu, ya? Hem?” Faris mengusap lembut pipi Astrid tapi istrinya itu langsung menepis.
Faris masih tersenyum. “Astrid, biar kujelaskan ya. Donna ini akan menjadi brand ambassador salah satu produk keluaran terbaru. Jadi, perusahaan menunjuk Donna karena memang namanya sedang naik daun saat ini. Kamu juga pasti sering lihat dia kan di TV. Di suatu acara ataupun jadi model iklan.”
Astrid sudah mau menoleh pada Faris, tapi dia masih memberengut dengan kedua tangan dilipat di dada. “Lalu kenapa urusan brand ambassador saja harus kamu yang mengurusnya, Mas? Kan bisa saja diurus sekertarismu? Atau anak buahmu. Iya, kan?”
Faris menggelengkan kepala perlahan. “Masalahnya Astrid, Donna ini model kelas atas loh. Termasuk sulit untuk bisa mengajaknya bergabung, karena kebetulan aku sedikit kenal dengannya, maka akulah yang harus turun tangan. Kamu ingat kan pernah dapat undangan dari Donna di acara fashion show waktu itu?”
Astrid mengangguk perlahan.
“Nah! Itu karena Donna kenal aku, kami sama-sama kuliah di London Business School waktu itu. Yaa meskipun nggak akrab, tapi setidaknya dia masih ingat sedikit wajahku.” Faris terkekeh pelan lalu mengusap lembut kepala sang istri. “Jadi, kamu jangan ngambek lagi ya, Sayang. Aku dan Donna hanya sebatas rekan kerja kok. Ini juga hanya untuk satu proyek.” Faris terus membelai lembut sang istri sampai akhirnya Astrid mengangguk.
“Nah, begitu dong. Jangan ngambek lagi. Senyum dong, Sayang.”
“Jadi, besok kamu dan Donna ada acara apa?” Nada suara Astrid mulai merendah.
Faris tersenyum. “Besok itu ada pemotretan. Tapi bukan cuma ada aku dan Donna, tentu saja banyak tim yang akan turun tangan di lapangan. Aku hanya memonitor dari belakang dan mengawasi prosesnya berjalan lancar. Seperti biasa, aku menunggu laporan dari anak buahku. Begitu, Astrid.” Faris memeluk sang istri sebelum sempat bertanya apa-apa lagi.
Diusapnya punggung Astrid, lalu perlahan pelukannya terurai. Faris memegang kedua pipi Astrid, menatap dengan sendu seolah penuh cinta, lalu mendekatkan wajahnya hingga mereka bersentuhan.
Faris mulai melumat bibir ranum sang istri seolah dia sangat menginginkannya, padahal ... dalam kepalanya sedang terbayang wajah cantik Donna.