Malam Sebelum Bentrokan

29 January 2026

Malam itu tidak gelap sepenuhnya. Ia hanya kehilangan cahaya.

Ranggalawe

Api unggun berderak pelan, seperti tulang tua yang dipatahkan perlahan. Ranggalawe duduk sendiri, sedikit menjauh dari barisan. Pedangnya tergeletak di pangkuan, belum diasah malam ini. Ia tidak ingin senjata itu terlalu siap. Ia ingin tangannya sendiri yang gemetar terlebih dahulu.

Aku tidak pernah ingin menjadi pemberontak, pikirnya.

Ia memandang ke arah kegelapan, ke jalur yang besok akan membawa darah. Dalam kepalanya, Majapahit bukanlah musuh. Wijaya bukan lawan. Gayatri—ia menarik napas—bahkan Gayatri bukan musuhnya. Yang berdiri di hadapannya hanyalah rasa dipinggirkan, rasa dilupakan, rasa bahwa keberanian di medan perang kini dihitung lebih murah daripada kepandaian mencatat dan memerintah.

“Nambi,” bisiknya, bukan sebagai nama, melainkan sebagai luka. Sahabat lama itu kini duduk di balik meja, dikelilingi naskah dan meterai. Ranggalawe membayangkan tangannya yang dulu sama-sama berlumur lumpur dan darah kini bersih, rapi, dipuji. Lemah, kata Ranggalawe dalam hati—lemah karena memilih kata-kata saat pedang masih diperlukan.

Ia teringat Tuban. Laut. Wajah-wajah yang berharap. Mereka tidak meminta tahta, hanya keadilan. Jika ia mundur besok, apa yang akan tersisa dari namanya? Seorang ksatria yang tahu kapan harus mengalah—atau seorang lelaki yang takut kehilangan kenyamanan istana?

Jika aku mati, biarlah mati sebagai diriku sendiri.

Ia menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak berangkat, air mata jatuh—bukan karena takut, melainkan karena yakin bahwa jalan pulang sudah ditutup oleh sejarah.

Lembu Sora

Di perkemahan seberang, Lembu Sora mengikat ulang tali zirahnya, meski tahu simpulnya sudah benar. Tangannya bergerak otomatis, sementara pikirannya berperang lebih keras daripada tubuh mana pun di luar sana.

Keponakanku, batinnya.

Ia mengingat Ranggalawe kecil yang berlari di antara kaki para prajurit, meniru teriakan perang tanpa mengerti maknanya. Anak itu tumbuh menjadi lelaki yang terlalu cepat memikul beban harga diri. Terlalu cepat percaya bahwa dunia akan adil pada keberanian.

Sumpah darahku untuk Majapahit, gumamnya.

Sumpah itu tidak memberinya ruang untuk ragu. Negara harus hidup, meski keluarga harus retak. Namun cinta tidak pernah patuh pada sumpah. Ia tahu, jika esok pedang beradu, tangannya mungkin akan gemetar—bukan karena takut mati, melainkan karena takut hidup dengan ingatan.

Ia ingin berjalan ke perkemahan Tuban. Ingin menarik Ranggalawe pergi, memaksanya kembali ke laut, ke rumah. Tapi waktu telah menjadi raja yang lebih kejam daripada siapa pun di istana.

“Maafkan aku,” katanya pada malam, bukan pada siapa pun.

Api unggun padam satu per satu. Di antara dua perkemahan, tanah berbaring tenang, tidak tahu bahwa besok ia akan dipaksa memilih pihak.

Langit tidak memberi tanda.

Dan justru karena itu, perang akan terjadi.

Balairung istana Majapahit pagi itu terasa lebih luas dari biasanya, seolah ruang itu sengaja membiarkan jarak tumbuh di antara orang-orang yang hadir. Para Rakryan duduk rapi, namun tidak ada yang benar-benar tenang. Kabar dari perkemahan luar telah sampai lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Wijaya duduk di kursinya tanpa bersandar. Tangannya terletak di lutut, jemarinya saling mengunci. Ia mendengarkan laporan tanpa menyela, membiarkan kata-kata mengalir seperti arus yang harus dibaca, bukan dilawan.

“Kebo Anabrang telah mengatur barisan,” lapor seorang Rakryan. “Belum ada perintah menyerang, namun kesiapan itu terlihat jelas.”

“Dan Tuban?” tanya Wijaya singkat.

“Belum bergerak terbuka,” jawab yang lain. “Namun Ranggalawe mengumpulkan prajuritnya. Bukan dalam jumlah besar, tapi cukup untuk menunjukkan kesiapan.”

Hening menyelimuti balairung. Nama itu—Ranggalawe—jatuh di lantai seperti batu kecil, namun gaungnya panjang.

Gayatri berdiri di balik tirai, mendengarkan tanpa ekspresi. Namun di dalam dirinya, setiap kalimat disusun ulang, ditimbang, dan dicari maknanya. Ia tahu, ini bukan sekadar laporan militer. Ini adalah laporan tentang kepercayaan yang mulai retak.

“Apakah ia menyatakan perlawanan?” tanya Wijaya lagi.

“Tidak, Paduka,” jawab Rakryan itu hati-hati. “Namun ia juga tidak membubarkan barisannya.”

Gayatri melangkah keluar Wijaya mengangguk pelan. “Seperti yang kuduga” dari balik tirai. Kehadirannya membuat beberapa Rakryan menegakkan punggung.

“Diam bukan selalu tanda niat buruk,” katanya tenang. “Kadang ia adalah cara terakhir menjaga kehormatan.”

Seorang Rakryan muda memberanikan diri bicara. “Namun kehormatan seseorang tidak boleh mengancam ketertiban kerajaan.”

Gayatri menoleh padanya. “Dan ketertiban kerajaan tidak boleh dibangun dengan mengabaikan kehormatan,” balasnya lembut namun tajam.

Wijaya mengangkat tangan, menghentikan percakapan sebelum memanas. “Kita tidak akan berdebat di sini,” katanya. “Yang ingin kutahu adalah: apa langkah berikutnya jika salah satu pihak bergerak lebih dulu?”

Tidak ada jawaban cepat. Semua menunggu arahan.

“Jika Tuban bergerak,” kata seorang Rakryan akhirnya, “kita harus menindak cepat agar tidak meluas.”

“Dan jika kita bergerak lebih dulu?” tanya Gayatri.

Rakryan itu terdiam.

Wijaya menarik napas panjang. “Perang yang dimulai terlalu cepat akan selalu tampak benar di awal,” katanya pelan. “Dan salah di akhir.”

Balairung kembali sunyi.

Setelah rapat dibubarkan, Wijaya berjalan perlahan ke sisi jendela besar. Dari sana, ia bisa melihat pembangunan Majapahit yang terus berlangsung—istana, pasar, dan rumah-rumah yang tumbuh di sekelilingnya. Semua itu ia bangun bukan untuk perang saudara.

Gayatri mendekat. “Engkau memikirkan Ranggalawe,” katanya, bukan bertanya.

“Ia bukan orang yang mencari perang,” jawab Wijaya. “Dan justru itu yang membuat keadaan berbahaya.”

“Karena orang lain akan memilihkannya,” ujar Gayatri.

Wijaya menoleh. “Aku belum siap menyebutnya pembangkang.”

“Aku juga,” kata Gayatri. “Namun waktu tidak selalu menunggu kesiapan.”

Wijaya memejamkan mata sejenak. “Kebo Anabrang ingin ketegasan.”

“Dan Lembu Sora ingin penahanan,” sambung Gayatri. “Keduanya setia. Keduanya berbahaya bila dilepaskan tanpa kendali.”

Wijaya tersenyum pahit. “Majapahit berdiri di antara dua kesetiaan.”

“Atau di antara dua ketakutan,” balas Gayatri.

Percakapan mereka terhenti oleh langkah seorang abdi. Ia membawa laporan baru, tertutup rapat.

“Dari perkemahan,” katanya singkat.

Wijaya membaca laporan itu lama. “Mereka memperkuat penjagaan,” katanya. “Tanpa perintah menyerang.”

Gayatri mengangguk. “Semua pihak sedang menunggu kesalahan pihak lain.”

Sore hari, Wijaya memanggil Kebo Anabrang dan Lembu Sora ke istana. Tidak untuk memerintah, melainkan untuk mendengar langsung.

“Kalian berdua memegang wajah Majapahit di luar tembok,” kata Wijaya membuka percakapan. “Dan wajah itu tidak boleh terlihat bimbang.”

Kebo Anabrang berbicara lebih dulu. “Paduka, menunggu terlalu lama memberi ruang bagi pembangkangan.”

Lembu Sora menjawab tanpa menoleh. “Dan bertindak terlalu cepat memberi ruang bagi penyesalan.”

Wijaya menatap keduanya. “Aku tidak memerintahkan perang hari ini,” katanya tegas. “Dan aku tidak melarang kesiapan.”

Kebo Anabrang mengerutkan kening. “Paduka ingin kami menunggu?”

“Aku ingin kalian berpikir,” jawab Wijaya. “Bukan hanya tentang menang, tetapi tentang apa yang tersisa setelahnya.”

Gayatri menambahkan pelan, “Majapahit tidak dibangun untuk saling menumpahkan darah di antara mereka yang pernah berdiri di sisi yang sama.”

Kebo Anabrang menunduk, namun wajahnya tetap keras. “Aku akan menahan barisan,” katanya. “Namun jika ada gerakan…”

Wijaya mengangguk. “Kau akan melapor.”

Lembu Sora menarik napas lega, meski tipis. “Aku akan menjaga agar percakapan belum berubah menjadi bentrokan.”

Malam menutup hari dengan ketegangan yang tidak mereda. Wijaya berdiri sendirian di balairung yang kosong. Gayatri tidak langsung menemaninya.

“Aku tahu engkau berharap ada jalan ketiga,” katanya akhirnya ketika Gayatri datang.

“Aku berharap ada waktu,” jawab Gayatri. “Dan waktu sering kali tidak adil.”

Wijaya menatap singgasana. “Jika aku harus memilih…”

Gayatri memotong dengan lembut. “Pilihlah Majapahit,” katanya.

“Bukan rasa bersalahmu, bukan persahabatanmu. Karena apa pun yang kau pilih, seseorang akan terluka.”

Wijaya mengangguk perlahan. “Dan sejarah akan menilai.”

“Sejarah selalu menilai,” kata Gayatri. “Namun kerajaan runtuh oleh keputusan hari ini, bukan oleh penilaian esok.”

Majapahit berdiri di persimpangan antara menahan dan bertindak, antara kesetiaan lama dan ketertiban baru. Dan di luar tembok istana, para prajurit menunggu—bukan perintah untuk menyerang, melainkan tanda bahwa waktu hampir habis.