Pagi itu tidak dimulai dengan teriakan atau tabuhan genderang. Justru ketenangan yang menyambut fajar terasa mencurigakan, seolah alam menahan napasnya sendiri. Di perbatasan jalur niaga antara Tuban dan wilayah Majapahit, prajurit-prajurit berjaga lebih rapat dari biasanya. Mereka tidak diberi perintah menyerang, namun juga tidak diperintahkan untuk mundur.
Kesunyian semacam itu jarang berakhir baik. Di perkemahan Majapahit, Kebo Anabrang membaca laporan kecil yang dibawa seorang perwira lapangan. Isinya singkat, namun cukup untuk mengeraskan rahangnya.
“Prajurit Tuban memperketat penjagaan,” lapor perwira itu. “Mereka tidak menghalangi, namun menanyai setiap rombongan.”
“Seperti pemeriksaan wilayah sendiri,” gumam Kebo Anabrang.
Lembu Sora yang berdiri di sisi tenda mendengar itu dengan tenang. “Atau seperti orang yang tidak ingin disusupi,” katanya.
Kebo Anabrang menoleh tajam. “Engkau selalu melihatnya dengan kacamata terbaik.”
“Dan engkau selalu melihatnya dengan kacamata terburuk,” balas Lembu Sora.
“Karena aku tidak ingin Majapahit lengah.”
“Dan aku tidak ingin Majapahit memulai sesuatu yang tidak bisa dihentikan,” jawab Lembu Sora.
Perwira itu menunggu perintah. Kebo Anabrang diam sejenak, lalu berkata, “Kirim satu regu kecil. Pastikan jalur itu tidak ditutup sepihak.”
Lembu Sora mengangkat tangan. “Tanpa provokasi.”
“Tanpa kelemahan,” jawab Kebo Anabrang.
Di sisi lain, Ranggalawe berdiri di antara prajurit Tuban yang berjaga. Ia tidak membawa lambang kebesaran, tidak pula berpakaian perang lengkap. Kehadirannya justru dimaksudkan untuk menenangkan.
“Tidak ada yang menyerang,” katanya tegas. “Tidak ada yang memancing.”
Prajurit-prajurit itu mengangguk. Namun ketegangan di bahu mereka tidak sepenuhnya luruh.
Seorang prajurit muda mendekat. “Gusti, ada pergerakan kecil dari arah Majapahit.”
Ranggalawe menghela napas. “Berapa?”
“Satu regu. Tidak besar.”
“Biarkan mereka lewat,” kata Ranggalawe. “Tanyakan seperlunya. Jangan lebih.”
Namun tidak semua perintah terdengar sama di telinga yang tegang.
Dua regu bertemu di jalur sempit yang diapit pepohonan. Tidak ada yang menghunus senjata. Namun jarak mereka cukup dekat untuk merasakan napas satu sama lain.
“Kami hanya memastikan jalur ini terbuka,” kata pemimpin regu Majapahit.
“Dan kami memastikan tidak ada yang masuk tanpa diketahui,” jawab pemimpin Tuban.
Nada keduanya terkendali, namun mata para prajurit lain mulai menyimpan kecurigaan. Satu langkah kecil ke depan dibalas satu langkah ke samping. Gerak yang sebenarnya defensif dibaca sebagai penekanan.
Seseorang di belakang terbatuk. Yang lain mengencangkan genggaman.
Dan di situlah kesalahan pertama terjadi.
Seorang prajurit muda—tidak sabar, tidak berpengalaman—menarik senjatanya setengah inci saja, sekadar refleks. Namun refleks semacam itu tidak pernah berdiri sendiri.
“Turunkan senjatamu!” bentak seseorang.
“Dia yang lebih dulu!”
Teriakan itu meledak seperti api menyentuh jerami.
Ranggalawe yang mendengar keributan itu bergerak cepat. “Hentikan!” serunya dari kejauhan.
Namun teriakan tidak selalu lebih cepat dari ketakutan.
Satu dorongan terjadi. Satu ayunan ditepis. Tidak ada yang berniat membunuh—sampai seseorang tersungkur dan darah menyentuh tanah.
Hening sejenak. Terlalu hening.
“Berhenti!” Ranggalawe akhirnya tiba di tengah-tengah mereka.
Prajurit yang terluka mengerang. Luka itu tidak fatal, namun cukup untuk mengubah segalanya.
“Siapa yang memulai?” tanya Ranggalawe keras.
Tidak ada jawaban cepat. Karena semua merasa hanya bereaksi.
Kabar bentrokan kecil itu sampai ke perkemahan Majapahit sebelum matahari naik tinggi. Kebo Anabrang membacanya sebagai bukti.
“Aku sudah bilang,” katanya dingin. “Mereka menutup jalan.”
Lembu Sora membaca laporan yang sama dengan wajah kelam. “Itu bentrokan kecil,” katanya. “Belum perang.”
“Perang selalu dimulai dari hal kecil yang dibiarkan,” jawab Kebo Anabrang.
“Kita belum mendapat titah.”
“Dan jika kita menunggu titah sementara keadaan memburuk?”
Lembu Sora terdiam. Ia tahu, setiap menit tanpa kejelasan akan diisi oleh tafsir.
Di Tuban, Ranggalawe duduk di hadapan prajurit yang terluka. Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama.
“Aku melarang ini,” katanya akhirnya. “Dan kini darah telah jatuh.”
“Bukan atas perintahmu, Gusti Adipati,” kata prajurit tua itu cepat.
“Namun atas namaku,” jawab Ranggalawe. “Dan itu cukup.”
Ia berdiri, menatap prajurit-prajuritnya. “Mulai hari ini, tidak ada yang bergerak tanpa izinku.”
Namun ia tahu, kata-kata itu mungkin datang terlambat.
Malam menutup hari dengan suasana yang berubah. Bentrokan kecil itu dibicarakan dengan versi yang berbeda-beda. Di Majapahit, ia disebut peringatan. Di Tuban, ia disebut provokasi.
Dan di antara dua versi itu, kebenaran menjadi semakin kabur.
Bentrokan Pertama
Fajar datang dengan warna pucat, seakan enggan menyaksikan apa yang akan terjadi. Kabut tipis menggantung rendah di atas tanah lapang, memburamkan batas antara dua pasukan yang kini saling berhadapan. Bau rumput basah bercampur dengan bau besi—bau yang hanya muncul ketika perang akan dimulai.
Di barisan depan Majapahit, Kebo Anabrang maju beberapa langkah. Tubuhnya tegap, matanya keras seperti batu sungai yang lama digilas arus. Ia mengangkat tombaknya, memberi aba-aba agar pasukan bersiap, namun belum menurunkannya. Ia menunggu satu hal: isyarat bahwa semua keraguan telah disingkirkan.
Lembu Sora berdiri di sampingnya.
“Belum,” kata Lembu Sora pelan namun tegas. “Masih ada ruang untuk mundur.”
Kebo Anabrang menoleh tajam. “Ruang untuk siapa? Untuk keponakanmu?” Suaranya rendah, berisi bara yang lama disimpan. “Setiap detik kita menunggu, pasukan Tuban menganggap kita ragu. Dan ragu adalah undangan bagi kekacauan.”
“Ragu bukan kelemahan,” jawab Lembu Sora. “Ia tanda bahwa kita masih manusia.”
Kebo Anabrang tersenyum miring. “Manusia tidak mendirikan kerajaan. Ketegasanlah yang melakukannya.” Ia mendekat setengah langkah. “Aneh, Raja dan Sri Rajapatni masih mempercayaimu memimpin barisan, padahal darahmu mengalir di sisi seberang.”
Lembu Sora menahan napas. “Justru karena itu aku di sini. Agar perang ini tidak berubah menjadi pembantaian.”
“Pembantaian terjadi ketika orang seperti Ranggalawe dibiarkan bermimpi,” balas Kebo Anabrang dingin. “Ia harus dihentikan. Hari ini.”
Di seberang kabut, Ranggalawe mengangkat tangan. Pasukan Tuban maju beberapa langkah. Tidak ada teriakan. Hanya derap kaki yang teratur, seperti ombak yang menabrak karang.
“Lihat?” kata Kebo Anabrang. “Ia datang.”
Lembu Sora melangkah ke depan, mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Tahan!” serunya ke arah pasukan Majapahit. Lalu, dengan suara yang lebih dalam, ia berteriak ke arah Tuban, “Ranggalawe! Ini belum terlambat!”
Nama itu menggantung di udara, rapuh. Dari balik kabut, Ranggalawe muncul. Mata mereka bertemu—paman dan keponakan—dalam jarak yang kini bisa ditempuh oleh satu lemparan tombak.
“Paman,” kata Ranggalawe. Suaranya tidak bergetar. “Aku sudah memilih.”
Lembu Sora ingin berkata banyak hal: tentang masa kecil, tentang laut, tentang jalan pulang. Namun medan tidak memberi ruang bagi kenangan. Ia hanya mampu menjawab, “Aku juga.”
Detik berikutnya pecah tanpa aba-aba resmi.
Sebuah tombak melesat—tak jelas dari pihak mana—menancap di tanah di antara mereka. Itu cukup. Kebo Anabrang menurunkan tombaknya dengan keras.
“Majapahit, maju!”
Benturan pertama terjadi seperti petir yang jatuh terlalu dekat. Perisai beradu, pedang menyambar, jerit tertahan pecah menjadi teriakan. Kabut tersibak oleh gerak tubuh dan darah. Lembu Sora bertarung dengan gerakan menahan, memukul untuk melumpuhkan, bukan membunuh. Ia menangkis serangan Tuban sambil terus mencari satu wajah—Ranggalawe.
Di sisi lain, Kebo Anabrang bergerak cepat dan mematikan. Ia memimpin dengan contoh, menebas tanpa ragu, seolah setiap langkah adalah pembuktian bahwa kepercayaan raja padanya tidak keliru. Di balik setiap ayunan senjatanya tersimpan satu keyakinan pahit: perang ini akan berakhir lebih cepat jika belas kasihan disingkirkan.
Tanah mulai menggelap. Bukan oleh bayangan, melainkan oleh darah.
Ketika matahari akhirnya naik penuh, bentrokan pertama telah menelan korban di kedua sisi. Tidak ada pemenang. Hanya kepastian baru: jalan damai telah tertutup rapat.
Lembu Sora berdiri terengah, memandang medan yang kini dipenuhi tubuh dan senjata tergeletak. Ia tahu, setelah hari ini, tidak ada keputusan yang bersih.
Dan Kebo Anabrang—dengan mata yang tetap menyala—tahu bahwa perang sesungguhnya baru saja dimulai.