Kelelahan yang Menggerogoti

29 January 2026

Perang tidak berlanjut sebagai deru yang terus meninggi. Ia justru berubah menjadi ritme yang melelahkan, hari demi hari diisi dengan kesiapsiagaan, bentrokan kecil, dan penarikan yang sama-sama pahit. Tidak ada lagi kejutan. Yang ada hanyalah pengulangan yang menggerogoti.

Di perbatasan, tanah berubah wajah. Jalur yang dulu dilewati pedagang kini berbekas roda tandu dan darah yang tak sempat dibersihkan. Bau besi, keringat, dan asap kayu basah bercampur menjadi satu, menempel di pakaian dan ingatan.

Ranggalawe berdiri di antara prajuritnya yang kelelahan. Mata mereka cekung, gerak mereka melambat. Tidak ada yang mengeluh keras kelelahan semacam ini tidak lagi membutuhkan kata-kata.

“Kita berjaga dua lapis malam ini,” katanya pelan. “Tidak perlu rapatkan lebih dari itu.”

Seorang kepala regu menatapnya ragu. “Jika mereka menekan?”

“Kita bertahan,” jawab Ranggalawe. “Bukan mengejar.”

Ia tahu, perintah itu semakin sulit dijalankan. Ketika tubuh lelah, naluri bertahan sering berubah menjadi dorongan menyerang lebih dulu.

Di perkemahan Majapahit, Kebo Anabrang menatap laporan harian yang semakin panjang. Angka-angka luka meningkat perlahan, namun stabil. Bagi seorang panglima, stabilitas itu berarti efektivitas. Namun malam-malam tanpa kemenangan cepat membuat wajahnya kian keras.

“Kita menekan, mereka bertahan,” katanya. “Ini tidak efisien.”

Lembu Sora berdiri di sisi tenda, memandangi prajurit yang kembali dengan langkah berat. “Ini perang, bukan perburuan,” katanya. “Dan perang jarang efisien.”

“Efisiensi mengurangi korban,” balas Kebo Anabrang.

“Atau mengalihkannya,” jawab Lembu Sora. “Dari hari ini ke hari berikutnya.”

Kebo Anabrang tidak menjawab. Ia tahu Lembu Sora tidak salah sepenuhnya. Namun setiap hari tanpa hasil berarti tekanan politik di istana semakin berat.

Benturan-benturan kecil terus terjadi. Tidak sebesar yang pertama, namun cukup untuk mengikis tenaga. Regu saling menguji, menarik, lalu berhenti—seperti dua tangan yang saling mendorong tanpa berani melepaskan.

Suatu sore, seorang prajurit Tuban tidak kembali dari patroli. Tidak ada teriakan, tidak ada saksi jelas. Hanya jejak yang terputus di balik semak.

Ranggalawe menerima kabar itu dengan wajah tertutup. “Kita cari,” katanya singkat. “Dengan kepala dingin.”

Pencarian berlangsung tanpa hasil. Ketika malam turun, satu-satunya yang kembali hanyalah pedang patah.

Prajurit-prajurit lain menunggu reaksi Ranggalawe. Apakah ia akan memerintahkan pembalasan? Apakah ia akan mengendurkan larangan mengejar?

Ranggalawe menatap api unggun lama sekali sebelum berkata, “Kita catat namanya. Dan kita berjaga lebih rapat.”

Beberapa menunduk. Beberapa mengepalkan tangan.

Di Majapahit, seorang prajurit muda tertangkap mencoba mengambil jarahan kecil dari desa perbatasan. Kebo Anabrang langsung memerintahkan hukuman.

“Kita tidak sedang merampok,” katanya dingin. “Kita memulihkan ketertiban.”

Lembu Sora menambahkan dengan suara yang lebih rendah, “Dan ketertiban runtuh lebih cepat oleh perut lapar daripada oleh pedang musuh.”

Hukuman dijalankan. Namun bisik-bisik tidak berhenti. Prajurit mulai bertanya dalam diam: berapa lama lagi?

Ranggalawe merasakan jarak tumbuh di sekelilingnya. Ia masih dihormati, namun kelelahan membuat sebagian prajurit mulai mencari jawaban yang lebih sederhana. Dalam keheningan malam, ia duduk sendirian, memandangi medan yang tak lagi asing.

Ia teringat rumahnya. Istrinya. Anak lelakinya yang mungkin kini sudah belajar berlari lebih mantap. Pikiran itu membuat dadanya sesak.

“Berapa lama lagi aku bisa menahan ini?” gumamnya.

Seorang tokoh tua Tuban duduk di sampingnya tanpa diundang. “Perang tidak menanyakan berapa lama,” katanya. “Ia hanya menanyakan siapa yang menyerah lebih dulu.”

“Aku tidak ingin menyerah,” jawab Ranggalawe. “Dan aku tidak ingin kau kehilangan dirimu,” balas tokoh tua itu.

Ranggalawe tersenyum pahit. “Keduanya kini semakin dekat.”

Di istana, Wijaya menerima laporan dengan wajah yang makin letih. Gayatri berdiri di belakangnya, membaca tanpa suara.

“Tidak ada kemajuan berarti,” kata Wijaya.

“Tidak ada kemunduran berarti juga,” jawab Gayatri. “Itu yang membuat perang berbahaya.”

Wijaya menutup mata sejenak. “Berapa lama lagi?”

“Selama kedua pihak masih bisa berdiri,” kata Gayatri. “Dan semakin lama, semakin sulit menghentikannya.”

Wijaya menatap singgasana. “Ini bukan Majapahit yang kuimpikan.”

“Ini Majapahit yang sedang kau pertahankan,” jawab Gayatri pelan.

Hari demi hari berlalu. Luka dijahit, senjata diperbaiki, wajah-wajah semakin muram. Tidak ada kemenangan yang bisa dirayakan. Tidak ada kekalahan yang bisa mengakhiri.

Di Tuban, Ranggalawe memerintahkan rotasi penjagaan agar prajurit tidak runtuh. Di Majapahit, Lembu Sora menahan beberapa dorongan Kebo Anabrang yang ingin menekan lebih jauh.

“Jika kita memaksa,” kata Lembu Sora, “kita akan menang lebih cepat.”

“Dan kehilangan lebih banyak,” jawab Kebo Anabrang. “Namun kehilangan cepat lebih baik daripada kehilangan lama.”

Perbedaan itu tidak pernah selesai.

Dua Kali Dikhianati Negara

Arya Wiraraja duduk menghadap laut Madura ketika malam jatuh sepenuhnya. Ombak tidak keras, tidak pula jinak—ia datang dan pergi dengan kesetiaan yang tidak pernah ia temukan pada manusia. Di hadapannya, pelita kecil bergetar. Bayangannya di pasir tampak seperti lelaki lain: lebih tua, lebih kurus, lebih sunyi.

Ia pernah percaya pada negara.

Itulah kesalahan pertamanya.

Di masa Singhasari, ia mengabdi bukan karena takut, melainkan karena yakin: bahwa negara adalah wadah bersama, bukan milik satu kepala. Ia menyusun logistik, membuka jalur dagang, menata perbatasan. Namun Kertanegara menginginkan kesetiaan tanpa tanya, bukan nasihat. Ketika ia mengingatkan bahaya—tentang Jayakatwang, tentang ketegangan yang disimpan terlalu lama—ia tidak dibantah. Ia disingkirkan.

Mutasi ke Madura disebut sebagai kehormatan.

Ia tahu itu pembuangan.

Pengkhianatan pertama negara tidak datang dengan pedang, melainkan dengan senyum istana dan cap administrasi.

Lalu Singhasari runtuh. Benar seperti yang ia katakan. Tapi kebenaran tidak memulihkan apa pun. Negara baru lahir dari abu—Majapahit—dan sekali lagi ia dipanggil. Bukan karena ia benar, melainkan karena ia berguna. Ia membantu dari jauh, menyokong Wijaya, membuka Madura sebagai sandaran terakhir. Negara berdiri.

Dan lagi-lagi, ketika ia mulai berbicara tentang keseimbangan, tentang bahaya membiarkan jasa berubah menjadi hak, tentang luka lama yang belum sembuh—ia didiamkan.

Pengkhianatan kedua negara lebih kejam: ia berpura-pura mendengar.

Arya Wiraraja menatap tangannya sendiri. Tangan yang menandatangani perjanjian, yang mengirim orang ke medan, yang memilih diam ketika harus berteriak. Ia sadar: negara tidak pernah menginginkan orang jujur terlalu lama. Negara membutuhkan mereka hanya sampai stabil; setelah itu, mereka menjadi pengingat yang tidak nyaman.

Ranggalawe memanggilnya Ayah.

Itu bukan panggilan yang ringan. Di dalamnya ada darah, ada harapan, ada beban. Arya Wiraraja mencintai putranya bukan sebagai ksatria, melainkan sebagai manusia—dan justru karena itu ia takut. Ia melihat pola yang sama berulang: keberanian tanpa ruang kompromi, kehormatan yang menolak membaca waktu.

Ia tahu, jika bentrokan ini berlanjut, negara akan memilih yang paling patuh, bukan yang paling benar.

Dan Ranggalawe bukan yang paling patuh.

Arya Wiraraja memahami kini: negara tidak dikhianati oleh orang-orang seperti dirinya. Negara sendirilah yang belajar mengkhianati agar tetap hidup. Ia tidak lagi marah. Kemarahan adalah kemewahan bagi mereka yang masih berharap.

Ia hanya letih.

Namun dari keletihan itu lahir satu keputusan terakhir: ia tidak akan menyerahkan putranya kepada ilusi negara. Jika sejarah ingin mencatat Ranggalawe sebagai pemberontak, maka biarlah ia juga mencatat bahwa ada seorang ayah yang telah melihat akhir cerita itu dua kali—dan tetap mencoba mengubah satu barisnya.

Pelita padam oleh angin laut.

Arya Wiraraja bangkit. Negara mungkin tidak pernah setia, tetapi ia masih bisa memilih kepada siapa ia setia malam ini.