Drama

Sinyal yang Putus

29 January 2026

Pagi itu dimulai dengan pemandangan yang menyakitkan bagi Banyu: Sepatu sekolah Fajar.

Banyu sedang duduk di lantai ruang tamu, mengikat tali sepatu anak semata wayangnya itu. Sepatu kets hitam itu sudah kusam, warnanya memudar menjadi abu-abu dekil. Namun yang membuat dada Banyu sesak bukan warnanya, melainkan ujung ibu jari kaki Fajar yang bisa ia rasakan menonjol dari balik kain kanvas yang menipis. Ada lubang kecil di sana, seukuran biji jagung.

Fajar menggoyangkan kakinya, tidak sabar. Mulut kecilnya bergerak cepat, bercerita antusias tentang sesuatu. Banyu menatap wajah anaknya, mencoba membaca gerak bibirnya.

“...nanti main bola... sama Edo... gol...”

Potongan-potongan kata itu yang Banyu tangkap. Fajar bercerita tentang sepak bola. Banyu tersenyum, mengangguk, lalu memberikan jempol. "Hebat," ucap Banyu dengan suaranya yang khas—agak berat dan tidak berintonasi.

Dina muncul dari dapur membawa tas bekal. Dia berlutut di sebelah Fajar, merapikan kerah seragam TK anaknya. Lalu, Dina bicara. Banyu melihat Fajar tertawa mendengar ucapan ibunya. Mereka berdua tertawa.

Banyu tidak tahu apa yang lucu. Ia hanya bisa menonton "film bisu" yang membahagiakan itu dari jarak satu meter.

Dina menoleh pada Banyu, menyadari suaminya sedang menatap mereka dengan tatapan kosong. Senyum di wajah Dina surut sedikit. Dia menyentuh lengan Banyu, lalu beralih ke bahasa isyarat—bahasa kedua yang dipelajarinya demi Banyu, meski gerakannya seringkali kaku.

“Sepatu Fajar rusak,” isyarat Dina. Lalu dia menunjuk mulutnya, bicara pelan agar Banyu bisa membaca bibir. "Tadi Fajar bilang, temannya ngetawain sepatunya yang bolong. Katanya kayak mulut ikan."

Jantung Banyu mencelos. Jadi itu yang mereka tertawakan tadi? Fajar menertawakan kemiskinannya sendiri agar tidak terasa sakit saat diejek teman? Banyu salah menangkap konteks. Lagi.

Banyu menunduk, kembali menatap sepatu butut itu. Ia meraba saku celananya. Kosong. Uang kemarin sudah habis untuk token listrik dan beras literan.

Banyu menatap Dina, lalu membuat isyarat tangan tegas: “Nanti aku cari uang. Beli baru. Hari ini.”

Dina menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara percaya dan cemas. Tapi dia mengangguk. "Hati-hati," ucapnya tanpa suara.

Pukul sepuluh pagi, matahari Jakarta Selatan sedang terik-teriknya.

Banyu memarkir motornya di pinggir jalan Fatmawati, mencari tempat teduh di bawah pohon mahoni. Sejak mengantar anak dan istrinya tadi pagi, belum ada satu pun orderan yang nyangkut. Ponsel pintarnya yang terpasang di holder stang motor terlihat menyedihkan. Layar retak di pojok kiri bawah itu semakin parah, memanjang seperti jaring laba-laba hingga ke tengah layar.

Ponsel ini adalah "nyawa" baginya. Tapi "nyawa" itu sedang sekarat. Sejak kehujanan kemarin sore saat mengantar dokumen Pak Hendra, layarnya sering ghost touch—mencet-mencet sendiri. Tadi pagi, saat ada orderan kakap masuk, layarnya macet (freeze) selama tiga detik. Tiga detik yang fatal. Orderan itu disambar driver lain.

Ting!

Notifikasi masuk. Banyu tersentak.

Layanan: Rush-Send (Kurir Barang - Instant)

Jarak Antar: 3.8 KM (Dekat)

Barang: Kue Tart (Fragile)

Tarif: Rp 60.000 (Termasuk Tip Prioritas)

Enam puluh ribu. Jarak cuma 3.8 kilometer.

Itu uang "gampang". Sangat dekat.

Mata Banyu berbinar. Tarifnya tinggi mungkin karena ini barang pecah belah (kue) dan pemesan butuh cepat. Enam puluh ribu cukup untuk membeli sepatu sekolah baru di pasar malam nanti sore.

Tanpa pikir panjang, Banyu menekan tombol "Terima".

Layar berkedip. Loading lama sekali.

Banyu menahan napas. Jangan mati, jangan mati, tolong...

Orderan Diterima.

"Alhamdulillah," batin Banyu. Ia mengepalkan tangan. Sepatu baru untuk Fajar sudah di depan mata.

Ia segera meluncur ke lokasi penjemputan: Sebuah toko kue rumahan (home bakery) di ruko belakang Fatmawati. Hanya 500 meter dari posisinya.

Sampai di sana, pemilik toko—seorang wanita berapron putih—keluar membawa boks kue transparan yang cantik. Di dalamnya terlihat kue tart cokelat dengan hiasan rumit.

"Mas, ini kuenya mahal ya. Tolong hati-hati banget. Jangan miring," kata wanita itu.

Banyu mengangguk mantap. Ia tahu ini orderan berisiko, makanya bayarannya mahal.

Ia tidak langsung jalan. Ia meminta kardus bekas dan lakban ke pemilik toko.

"Minta kardus, Bu. Buat ganjal," ucap Banyu.

Dengan telaten, Banyu melapisi sisi-sisi boks kue itu dengan potongan kardus tambahan agar tidak goyang terkena angin. Ia meletakkannya di dek depan motor matic-nya, diapit di antara kedua kakinya. Ia bahkan melepas jaket abu-abunya, melipatnya, dan menaruhnya sebagai bantalan di bawah boks kue untuk meredam getaran mesin.

Ia rela masuk angin, asal kue ini selamat. Asal sepatu Fajar terbeli.

Perjalanan dimulai.

Jarak ke tujuan hanya 3.8 KM. Ke sebuah kompleks perumahan di Cipete.

"Cuma sepuluh menit," pikir Banyu optimis.

Banyu melajukan motornya dengan kecepatan kura-kura. 20 km/jam. Ia menghindari setiap lubang, setiap polisi tidur, setiap kerikil. Matanya fokus ke jalanan, sementara kakinya menjepit boks kue itu dengan protektif.

Dua kilometer pertama berjalan mulus.

Tinggal 1.8 KM lagi. Sudah sangat dekat. Banyu bahkan sudah membayangkan wajah Fajar saat mencoba sepatu barunya nanti.

Namun, bencana tidak selalu datang berupa ledakan besar. Kadang, bencana datang dalam bentuk layar yang membeku.

Tepat di persimpangan lampu merah Cipete Raya yang ramai, Banyu melirik peta di ponselnya untuk memastikan belokan selanjutnya.

Ia sangat bergantung pada garis biru di peta navigasi Google Maps. Matanya bolak-balik melihat jalan dan melihat layar HP. Punggung ponsel itu terasa membara saat jari Banyu tak sengaja menyentuhnya, seolah mesin di dalamnya sedang berteriak dipanggang matahari siang bolong.

Tiba-tiba, garis biru itu berputar-putar.

Lalu, muncul peringatan 'Suhu Perangkat Terlalu Tinggi' di layar. Detik berikutnya, layar itu meredup paksa, lalu mati total demi melindungi mesin.

Gelap.

Motor Banyu masih melaju pelan. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Ia menepi. Menekan tombol power. Baterainya masih 60%, tapi ponsel itu menolak nyala. Terlalu panas. Banyu meniup-niup punggung ponselnya dengan panik, mencoba mendinginkannya manual, tapi sia-sia.

Ia menekan lagi, kali ini lebih keras, menahan napas.

Logo ponsel muncul. Menyala lagi. Syukurlah.

Tapi begitu masuk ke menu utama, layar sentuhnya tidak merespons. Banyu menyentuh ikon aplikasi "Laju", tapi tidak bisa dibuka. Bagian tengah layar—tepat di mana tombol menu berada—mati rasa. Mungkin sisa air hujan kemarin merembes ke konektor LCD dan panas matahari siang ini memperparahnya.

Panik mulai merayap naik ke tenggorokan Banyu.

Dia ada di pinggir jalan raya. Dia membawa kue ulang tahun orang. Dan dia lupa nama jalan tujuannya karena tadi terlalu percaya diri jaraknya dekat.

Yang dia ingat hanya visual peta tadi: Belok kiri setelah masjid, lalu masuk gerbang perumahan warna putih.

"Masjid. Gerbang putih," mantra Banyu.

Ia memutuskan menggunakan insting visualnya. Jaraknya tinggal sedikit lagi. Ia pasti bisa menemukannya.

Banyu kembali menjepit kue itu. Melaju pelan.

Ia menemukan masjid. Ia belok kiri.

Jalanan di sini bercabang-cabang. Ada banyak gerbang perumahan.

Banyu masuk ke salah satu jalan. Buntu.

Ia putar balik. Keringat mulai membasahi punggungnya yang hanya berbalut kaos tipis (karena jaketnya jadi alas kue).

Sepuluh menit berlalu. Dia berputar-putar di area yang sama.

Ponselnya menyala lagi sebentar. Notifikasi muncul:

Chat dari Pelanggan: "Mas sudah sampai mana? Acaranya sudah mau mulai."

Banyu ingin membalas. Ia ingin mengetik: "HP saya rusak, tolong share loc lagi via SMS" atau "Tolong tunggu di depan gerbang".

Tapi keyboard di layarnya tidak muncul. Layar sentuhnya benar-benar lumpuh di bagian bawah.

Tiba-tiba, ponsel bergetar panjang. Panggilan masuk.

Nama penelepon: Ibu Siska (Penerima Kue).

Banyu menatap layar itu dengan putus asa. Ia tidak bisa mengangkatnya. Telinganya tidak akan mendengar apa-apa selain suara kresek-kresek. Jika dia angkat dan diam saja, Ibu Siska akan makin marah.

Panggilan mati. Berdering lagi. Mati lagi.

Banyu merasa tercekik. Jaraknya mungkin tinggal 500 meter. Uang Rp 60.000 itu melayang-layang di udara, begitu dekat tapi tak tersentuh.

Ia melihat seorang satpam kompleks di pos jaga. Banyu menghampirinya.

"Pak," ucap Banyu, suaranya serak. "Jalan... Jalan Gaharu... di mana?"

Ia samar-samar mengingat nama pohon. Gaharu? Cendana?

Satpam itu mengerutkan kening. "Gaharu? Nggak ada Gaharu di sini. Adanya Damar."

Banyu bingung. Ia mencoba membuka aplikasi lagi. Ajaib, aplikasinya terbuka sebentar.

Terbaca: Jalan Damar III No. 10.

"Damar! Iya, Damar!" seru Banyu.

Satpam menunjuk ke arah belakang. "Itu, putar balik, belok kanan di indomaret. Deket banget Mas, tuh kelihatan gentengnya."

Deket banget. Kata-kata itu menusuk hati Banyu.

Ia segera memutar motornya. Ia memacu sedikit lebih cepat—tapi tetap hati-hati demi kue.

Benar saja. Dua menit kemudian, ia sampai di Jalan Damar III.

Nomor 8... Nomor 9... Nomor 10.

Rumah pagar putih. Ada balon-balon di teras. Mobil-mobil tamu sudah parkir berjejer.

Banyu menghela napas lega yang panjang. Ia berhasil. Meskipun telat 15 menit, meskipun HP rusak, ia sampai. Kue selamat. Sepatu Fajar selamat.

Banyu turun dari motor. Kakinya terasa lemas. Ia mengambil boks kue dari dek motor. Jaketnya yang jadi alas sudah kotor terkena debu karpet motor, tapi kuenya masih cantik. Sempurna.

Ia memencet bel.

Seorang wanita muda keluar dengan wajah tegang. Ponsel menempel di telinganya.

Begitu melihat Banyu, dia menurunkan ponselnya. Wajahnya bukan wajah lega, tapi wajah murka.

"Mas ini gimana sih?!"

Banyu tidak mendengar teriakannya, tapi ia melihat ekspresi itu. Ekspresi yang ia takuti.

Banyu segera menyodorkan kue itu. Dan menyodorkan kartu laminatingnya: "Maaf saya Tuli".

Wanita itu menepis kartu itu.

"Saya nggak peduli Mas Tuli atau nggak! Saya telepon sepuluh kali nggak diangkat! Di chat nggak bales! Acaranya udah mulai dari tadi, anak saya nangis nungguin kue tiup lilin!"

Banyu menunjuk kue di tangannya. "Kue... ada. Bagus. Belum rusak," ucapnya terbata.

"Telat!" Wanita itu menunjuk jam tangannya. "Udah telat setengah jam! Saya kira Mas kabur bawa kue saya, atau kecelakaan. Suami saya udah lari beli kue lain di depan kompleks!"

Banyu menengok ke dalam rumah. Di meja taman, sudah ada kue tart lain. Lebih kecil, lebih sederhana, tapi sudah ada lilin menyala di atasnya. Anak-anak sedang bernyanyi Happy Birthday.

Dunia Banyu berhenti berputar.

Jarak tempuhnya cuma 3.8 KM. Dia sudah sampai di depan pagar. Kuenya utuh. Dia menjaganya dengan nyawa, melapisinya dengan kardus, mengorbankan jaketnya.

"Bu... tolong," Banyu memohon. "Saya sudah sampai. HP rusak. Tuli... susah telepon."

Wanita itu menggeleng. Dia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat di layar.

Ponsel Banyu yang mati suri tiba-tiba menyala, menampilkan notifikasi besar dengan latar merah.

Pesanan Dibatalkan oleh Pelanggan.

Alasan: Driver Tidak Responsif / Terlambat.

"Saya udah cancel. Udah saya report juga minta refund ke aplikasi," kata wanita itu dingin. "Kuenya bawa aja. Atau buang. Saya nggak butuh dua kue."

Wanita itu berbalik, masuk ke dalam pagar, dan mengunci gemboknya.

Banyu berdiri mematung di pinggir jalan aspal yang panas.

Di tangannya ada kue seharga tiga ratus ribu rupiah yang kini tidak bertuan.

Di saku celananya, tidak ada uang Rp 60.000.

Banyu kembali ke motornya dengan langkah seret. Kakinya terasa berat, seolah ada batu besar yang diikatkan di sana.

Ia duduk di atas jok yang panas. Ia meletakkan kue itu di pangkuannya.

Banyu menatap kue cokelat itu. Di atasnya ada tulisan dari krim putih: Selamat Ulang Tahun Ryan.

Ryan, anak yang beruntung. Punya dua kue ulang tahun.

Sementara Fajar, anak Banyu, punya satu pasang sepatu yang bolong.

Jarak 3.8 kilometer itu ternyata jarak terjauh yang pernah Banyu tempuh. Jarak yang memisahkan antara "hampir berhasil" dan "gagal total".

Banyu membuka boks kue itu. Aroma cokelat manis menguar, mengejek rasa pahit yang memenuhi rongga mulutnya.

Perutnya berbunyi. Ia belum sarapan demi menghemat uang.

Banyu mencolek sedikit krim kue itu dengan telunjuknya.

Ia memasukkannya ke mulut.

Manis. Lembut. Enak sekali.

Tapi Banyu tidak bisa menelannya. Tenggorokannya tercekat oleh gumpalan emosi yang keras.

Di bawah terik matahari Jakarta yang tak kenal ampun, Banyu menundukkan kepalanya di atas stang motor, di samping kue ulang tahun yang ditolak, dan menangis tanpa suara.

Hanya getaran bahunya yang menjadi saksi bahwa hari ini, seorang ayah telah kalah.