Drama

Pembangunan Pabrik dan Tumbuhnya Pemukiman

29 January 2026

Pembangunan Pabrik dan Tumbuhnya Pemukiman

Seperti ular piton yang sedang mencari mangsa, pipa air itu terpacak rapi di sela-sela pohon karet yang memenuhi ladang perkebunan. Ujung pipa dengan diameter 50 sentimeter itu terpasang di bendungan kecil sebuah sungai di tengah-tengah kebun karet yang tenang. Dari bendungan inilah air mengalir hingga satu kilometer yang berakhir di sebuah bangunan besar tempat pengolahan karet, kakao, dan hasil bumi lainnya. Sebelum kembali ke sungai, air yang mengalir kencang dari pipa baja ini akan menggerakkan turbin di dalam bangunan. Turbin ini kemudian menggerakkan mesin dan semua peralatan di dalam pabrik untuk mengolah hasil bumi Perkebunan Glenmore. Walau usianya sudah hampir satu abad, pabrik ini terus berproduksi sampai sekarang.

Bangunan ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah Perkebunan Glenmore dan Glenmore itu sendiri. Walaupun usianya sudah hampir satu abad, pabrik ini tetap berproduksi seperti ketika Ros Taylor membangunnnya di tahun 1920. Pengusaha Skotlandia ini baru membangun pabrik sepuluh tahun setelah mendirikan Glenmore Estate untuk mengola hasil perkebunan miliknya. Selain bangunan yang berisi mesin dan peralatan pengolahan karet, kopi, dan kako, Ros Taylor juga membangun infrastruktur perkebunan. Salah satunya adalah bendungan kecil dan pipa untuk mengalirkan air dari sungai ke pabrik untuk menggerakkan turbin. Pembangunan pabrik ini dikerjakan oleh Firma Carl Schlieper Surabaya pada tahun 1920.

Firma Carl Schileper Surabaya merupakan salah satu cabang N.V. Carl Schlieper yang berada di Indonesia. Selain di Surabaya, perusahaan yang berkantor pusat di Remscheid, Jerman ini juga memiliki kantor cabang besar di Batavia (Jakarta) sejak tahun 1917. Perusahaan ini memproduksi berbagai peralatan ringan hingga berat untuk kebutuhan pabrik. Seiring perkembangan industri perkebunan di Indonesia, N.V. Carl Schlieper membuka gudang penyimpanan barang di Batavia. Proses pembangunan pabrik dan pipa air yang dikenal dengan nama Pipa Sarengan ini dapat kita lihat di dokumentasi yang tersimpan di Perkebunan Glenmore. Nilai sejarah ini yang membuat wisatawan asing, terutama dari Belanda menjadikan pabrik Perkebunan Glenmore sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi ketika berada di pulau Jawa.

Walau dibangun oleh perusahaan Jerman, tidak semua peralatan dan mesin yang digunakan dari Jerman. Sebagian besar peralatan justru didatangkan dari Inggris. Salah satunya ketel uap untuk menggerakkan mesin jika turbin mengalami masalah. Ketel ini buatan Ruston Proctor & CO dari Lincoln, Inggris yang terkenal sebagai perusahaan pembuat ketel uap dan mesin. Ketel uap ini sekarang dijadikan monumen yang berdiri di depan kantor Perkebunan Glenmore. Pembangunan pabrik ini berdampak signifikan terhadap perkembangan perkebunan dan kehidupan masyarakat yang mulai berdatangan ke kawasan ini. Bahkan, perkebunan ini berperan besar terhadap lahirnya Glenmore sebagai kota pengepul komoditas pada tahun-tahun berikutnya. Bahkan, Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Glenmore sebagai salah satu kota penting di sisi timur pulau Jawa.

Kehadiran pabrik ini sudah pasti menyedot tenaga kerja lebih banyak, baik untuk mengangkut hasil panen, mengoperasikan mesin, sampai pengiriman hasil produksi. Untuk mengangkut hasil panen dari lahan seluas 160.000 hektar lebih, cikar (kereta yang ditarik sapi) menjadi andalan. Tapi, untuk hasil panen dari dataran yang lebih tinggi seperti Darungan (bagian dari perkebunan ini), alat yang digunakan semacam kereta gantung. Kotak pengangkut hasil panen ini meluncur lewat kawat baja yang dibentangkan sejauh 2 kilometer lebih dengan pemberhentian terakhir di sekitar pabrik. Beberapa bekas tiang kereta gantung ini masih ditemukan sampai sekarang.

Pertumbuhan pabrik yang positif mendorong arus migrasi penduduk dari daerah lain yang masuk ke kawasan ini. Apalagi, sejak pembukaan perkebunan, Glenmore Estate mendatangkan pekerja dari berbagai daerah, terutama dari Madura. Lambat laun komunitas pendatang ini tidak sekadar mendiami area di dalam perkebunan, tapi merambah ke pinggiran perkebunan untuk membentuk komunitas pemukiman baru. Geliat perekonomian yang semakin terasa membuat sentra ekonomi mulai bermunculan di beberapa titik. Apalagi di bagian selatan lebih dulu terbentuk pemukiman yang mendiami lahan yang dibuka oleh Mbah Yasin.

Megelenan, Cucu Sentot Ali Basya dan Pangeran Diponegoro

Rumah-rumah khas Jawa Tengah bergaya joglo masih berdiri tegak di sebuah kampung di sisi timur Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore. Dibandingkan di kampung lain, rumah joglo di kawasan ini lebih mudah ditemukan. Sebagian besar bangunan terbuat dari kayu meskipun lantai sudah banyak yang beralih dengan keramik. Tapi, identitas sebagai rumah masyarakat khas dari daerah sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah masih mudah ditemukan. Salah satu cirinya antara lain bentuk tiang penyangga besar dari kayu jati di bagian dalam rumah.

Selain rumah yang menjadi penanda identitas Jawa Tengah, masyarakat di kampung ini memiliki ciri khas lain yakni logat, langgam dan idom bahasa Jawa yang digunakan. Meskipun berbahasa Jawa, namun logat dan istilah yang digunakan tidak ditemukan di tempat yang lain di Glenmore. Begitu juga dengan adat istiadat yang bertahan hingga sekarang. Daerah ini dikenal dengan nama Megelenan. Terletak di sisi timur dari kediaman Mbah Yasin dan membentuk komunitas yang berasal dari tempat sama yakni Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah.

Megelenan menjadi salah satu bagian dari proses berdirinya Glenmore. Kelahiran kampung ini tidak lepas dari sosok bernama Kromo Kraman dari Bagelen, Purworejo. Dialah orang Bagelen pertama yang membuka hutan untuk dijadikan ladang pertanian di daerah yang sekarang menjadi kampung Megelenan. Ada beberapa versi yang menyebutkan alasan kedatangan Kromo Kraman ke daerah ini tidak lama setelah Mbah Yasin membuka lahan dan mendirikan pemukiman baru di Glenmore pada awal abad ke-20.

Versi pertama, kedatangan Kromo Kraman tidak lepas dari campur tangan tentara Belanda yang membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun terowongan kereta api di Kalibaru antara tahun 1901 sampai 1902. Belanda mendatangkan warga Bagelen sebagai pekerja pembangunan terowongan. Karena itu, generasi pertama warga Megelenan pernah merasakan kerja paksa untuk pembuatan terowongan ini. Setelah proyek ini selesai, mereka tidak kembali ke daerah asalnya, tapi menemukan kehidupan baru di Glenmore yang memiliki tanah subur.

Versi kedua, kabar pembukaan hutan untuk perkebunan dan pertanian oleh Ros Taylor dan Mbah Yasin ternyata terdengar sampai ke Bagelen. Apalagi perkebunan ini membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak. Kromo Kraman adalah warga Bagelen pertama yang sampai ke Glenmore dan membuktikan kebenaran kabar ini dan membuka lahan di sisi timur kediaman Mbah Yasin. Kedatangan Kromo Kraman diikuti oleh warga Bagelen yang lain dengan tujuan untuk bertani di hutan yang baru dibuka. Generasi pertama pendatang dari Bagelen ini juga diwajibkan bekerja di proyek pembangunan terowongan kereta api di Kalibaru.

Meski berbeda, dua versi ini memiliki banyak kesamaan antara lain membuka lahan baru untuk pertanian. Warga Bagelen memang dikenal sebagai petani tangguh. Tidak heran kalau mereka termasuk kelompok masyarakat Jawa Tengah pertama yang ditransmigrasikan oleh Belanda ke Sumatera. Profesi sebagai petani tentu tidak lepas dari peran Ki Ageng Bagelen, suami penguasa Kerajaan Bagelen (Dhang Gele), Nyi Ageng Bagelen, keturunan Kerajaan Medang Kamulan.

Ki Ageng Bagelen mengajarkan rakyatnya ilmu dan keterampilan bercocok tanam padi, kedelai, dan jagung sebagai penghasilan utama. Keterampilan bercocok tanam ini menjadi gerakan masif sehingga warga Bagelen menjadi petani-petani tangguh. Selain dikenal sebagai basis pertanian, Bagelen juga dikenal sebagai basis pendukung Pangeran Diponegoro ketika melawan Belanda. Darah sebagai pendukung Pangeran Diponegoro ini ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan penduduk Megelenan.

Di Kampung Megelenan ini terdapat makam Raden Mas Panji Prawiro Midjoyo. Dia adalah cucu Sentot Ali Basya atau Sentot Prawirodirjo, panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (De Java oorlog) melawan Belanda pada 20 Juli 1825 hingga 20 Maret 1930. Sentot Ali Basya adalah salah satu buyut dari Sultan Hamengko Buwono I dan dijuluki Napoleon dari Jawa karena menjadi panglima perang dalam usia 17 tahun. Sentot Ali Basya memiliki anak laki-laki bernama Raden Mas Panji Prawirokusumo yang menjadi Bupati Pacitan. Raden Mas Panji Prawikokusumo memiliki anak bernama Raden Mas Panji Prawiro Midjoyo yang kemudian menjadi Wedono Mojosari di Mojokerto.

Kehadiran cucu Sentot Ali Basya di Glenmore ini tidak lepas dari peran Mbah Yasin. Raden Mas Panji Prawiro Midjoyo ini diambil menantu oleh Mbah Yasin untuk dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Raden Ajeng Siti Soefiyah. Pasangan bangsawan ini memilih hidup di Glenmore dan memiliki keturunan hingga sekarang. Keluarga besar dan warga Glenmore mengenal Raden Mas Panji Prawiro Midjoyo sebagai Ndoro Eri. Nama panggilan Ndoro Eri lebih dikenal daripada nama aslinya. Meski demikian, warga Glenmore tetap mengenalnya sebagai seorang bangsawan Jawa yang memilih hidup bersama penduduk Glenmore.

Kehadiran Ndoro Eri semakin menguatkan ikatan antara warga Bagelen, warga Megelenan dan pendukung Pangeran Diponegoro. Di sisi lain, kehadiran warga Bagelen mempercepat proses pembukaan hutan menjadi lahan pertanian dan akhirnya membentuk sebuah perkampungan baru di bagian timur kawasan yang dibuka oleh Mbah Yasin. Tradisi bertani masih dijalankan oleh masyarakat Megelenan. Bahkan, tradisi dan budaya Bagelen masih mereka jalankan sebagiamana leluhur mereka melakoninya. Budaya warga Megelenan yang ‘njawani’ menjadi bagian penting perkembangan Glenmore sebagai kota dengan keragaman budaya masyarakatnya.