Mbah Diun, Pemandu Pembukaan Jalur Kereta Api
Sepetak bangunan dengan dinding tembok setinggi 1,5 meter itu berdiri di tengah-tengah area pemakaman di Dusun Sepanjang Wetan. Beberapa bagian dinding itu sudah mengelupas dan sebagian atap yang terbuat dari genting juga tanggal dari tempatnya. Bangunan berupa cungkup itu tidak bisa meninggalkan kesan lawas meski sudah beberapa kali diperbaiki. Dia menjadi salah satu bagian yang paling menonjok di area pemakaman yang bersebelahan dengan pemakaman warga Tionghoa. Di masa lalu, beberapa warga masih terlihat mengunjungi bangunan ini. Tidak sedikit juga yang meletakkan sesaji di dekat dua kuburan yang berada di dalamnya.
Bagi masyarakat zaman sekarang, tidak banyak yang mengenal siapa yang dimakamkan di dua kuburan di dalam cungkup ini. Namun, bagi sesepuh atau para tetua Dusun Mediunan, kuburan ini sudah tidak asing lagi karena menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan mereka di Glenmore. Apalagi anak cucu dan keturunannya masih banyak yang menetap di Glenmore. Warga Mediunan mengenal sosok yang dimakamkan di sini sebagai Mbah Diun dan isterinya. Mbah Diun adalah tokoh pertama yang membuka hutan untuk pemukiman yang sekarang dikenal sebagai Kampung Mediunan, tidak jauh dari kediaman Mbah Yasin.
Mbah Diun punya nama asli Madrakah. Dia juga dikenal sebagai Mbah Madikoh. Namun, nama yang paling dikenal adalah Mbah Diun. Aslinya Desa Gebang Girisuko, Yogyakarta. Dia pernah menjadi abdi dalem di Keraton Yogyakarta dengan tugas membawa payung untuk Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang memerintah Keraton Yogyakarta pada 1877-1920. Tapi, pada tahun 1890-an, dia meninggalkan Yogyakarta untuk merantau ke Madiun. Di Madiun ini dia banyak bergaul dengan pegawai Staats Spoorwegen (SS) perusahaan kereta api milik Hindia Belanda. Staats Spoorwegen yang dirintis di Belanda tahun 1873 ini merupakan cikal bakal PT Kereta Api Indonesia. Jalur kereta api rute Surabaya-Solo dan Madiun-Ponorogo adalah jalur kereta pertama yang dibangun SS di Jawa dan mulai beroperasi di tahun 1882.
Menurut anak cucu dan sesepuh kampung, Mbah Diun punya kelebihan di bidang supranatural dan metafisika. Mbah Diun juga dikenal sebagai sosok yang linuwih secara spiritual dan boleh disebut sebagai Ki Ageng-nya Mediunan. Dalam pembukaan jalur kereta yang melewati kawasan yang dianggap keramat atau membutuhkan pengetahuan tentang aspek lokal, Staats Spoorwegen biasanya menggemar sayembara. Salah satu sayembara yang diadakan adalah dalam pembukaan jalur kereta Kalisat- Mrawan yang harus menembus Gunung Gumitir. Mbah Diun memenangkan sayembara ini karena mampu menemukan jalur yang tepat dengan membuat terowongan.
Sebagai pemenang sayembara, Mbah Diun menjadi mandor proyek terowongan yang dibangun antara tahun 1901-1902. Untuk membuat terowongan Mrawan, bagian yang dibangun pertama kali adalah tembok sebelah kiri dan kanan. Pembangunan ini sempat terhenti karena di dalam terowongan ditemukan pancuran air yang bersumber dari tanah. Sebagai jalan keluar, aliran air dialihkan ke luar terowongan. Konstruksi lengkung penutup terowongan membutuhkan waktu delapan tahun. Konstruksi lengkung terowongan dan saluran air di sisi kiri dan kanan rel inilah yang bisa kita saksikan sekarang.
Setelah pembangunan terowongan selesai, mandor Belanda dan pegawai SS berfoto bersama di depan terowongan. Dalam foto koleksi Museum Tropen, Belanda, Mbah Diun menggunakan baju hitam dengan saku berwarna putih, sarung batik, dan udeng penutup kepala. Sedangkan pegawai SS dan mandor Belanda, seperti biasa menggunakan setelah celana panjang dan jas warna putih. Dalam foto ini terlihat sosok Mbah Diun yang memiliki postur tubuh tinggi dengan tubuh yang lebih kurus dibandingkan pegawai SS dan mandor Belanda.
Dalam pembuatan terowongan dan jaringan kereta api ini, sebagian warga Bagelen yang menetap di Glenmore mulai dilibatkan. Begitu juga ketika pembangunan jaringan kereta mendekati daerah Glenmore. Setelah melihat hasil kerja penduduk lokal dan kontribusi selama pembangunan jalur ini, pemerintah Hindia Belanda melalui Staats Spoorwegen (SS) ingin memberikan hadiah kepada Mbah Diun. Hadiahnya ada dua pilihan yakni rumah di Belanda atau tanah di dekat Sungai Takir atau tanah di timur Sungai Jagalan. Tanah di dua lokasi ini sama-sama subur dan tidak jauh dari jalur kereta api yang sudah selesai dibangun. Tawaran hadiah disampaikan ketika Belaanda dan Mbah Diun sedang meninjau jalur kereta sekitar 1 kilometer di timur Sungai Jagalan.
Menurut penuturan anak dan cucu Mbah Diun, setelah tawaran hadiah dari Hindia Belanda itu disampaikan, Mbah Diun berdiri dan memandang sejenak ke sisi selatan dan utara jaringan rel kereta. Lalu Mbah Diun menyampaikan kepada perwakilan Hindia Belanda. “Saya ingin tinggal dan menetap di daerah ini bersama anak dan keturunan saya,” katanya. Di lahan yang diberikan inilah Mbah Diun dan kawan-kawan yang membangun terowongan mulai membuka hutan untuk dijadikan pemukiman. Langkah Mbah Diun ini kemudian diikuti oleh kerabat dan tetangganya di Madiun untuk hijrah ke tempat baru. Mereka datang berkelompok membentuk pemukiman yang lambat laun berkembang menjadi Mediunan.
Selain warga Madiun, daerah yang baru dibuka ini ternyata menarik minat sebagian penduduk Yogyakarta dan sekitarnya. Kehadiran pendatang dari Yogyakarta tentu tidak lepas dari sosok Mbah Diun yang pernah menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta. Sebagian dari mereka masih berkerabat dengan warga Madiun yang lebih dulu pindah ke Glenmore. Pendatang Yogyakarta ini mendirikan pemukiman di sisi selatan pemukiman warga dari Madiun. Kampung ini berkembang dan dikenal sebagai Kampung Mataram atau Mataraman. Dua pemukiman terbaru ini, Mediunan dan Mataraman, berkembang seperti halnya pemukiman yang lebih awal yang menempati lahan milik Mbah Yasin di sisi barat sungai Jagalan.
Seperti halnya pendatang dari Bagelen yang menjalankan tradisi dan budaya asalnya, pendatang dari Madiun dan Yogyakarta ini juga bertahan dengan tradisinya. Termasuk cara berkomunikasi dengan logat atau langgam bahasa daerahnya. Mereka melanjutkan tradisi bertani di atas lahan-lahan yang baru dibuka. Tradisi bertani ini kemudian menjadi salah satu identitas mereka yang bertahan sampai sekarang. Sedangkan pendatang yang mendiami lahan milik Mbah Yasin di sisi barat lebih concern dengan dunia perdagangan meskipun pada awal kedatangannya ke Glenmore mereka bekerja sebagai panggarap lahan. Kondisi ini yang lambat laun menumbuhkan kegiatan berdagang yang menjadi cikal bakal berdirinya Pasar Glenmore.