Pendatang Madura dan Warisan Kulinernya
Lelaki berpeci dengan sarung diselubungkan ke seluruh badan itu tampak berjalan tenang. Di belakang dia tampak beberapa orang dengan kesibukan masing-masing. Lelaki membawa satu pikulan dan yang lain tampak berjalan di belakangnya. Begitu juga beberapa perempuan yang membawa segepok barang di tangan. Mereka berjalan di depan deretan rumah yang terbuat dari anyaman bambu (gedek) yang di atasnya menggantung kabel telepon. Bagian paling belakang terlihat gunung yang menjulang. Dalam catatan foto koleksi Museum Tropen, Belanda itu tertulis kata Glenmore (ditulis Glen More). Foto itu diambil tahun 1927 dan menjadi salah satu koleksi foto tertua tentang Glenmore yang disimpan di Museum Tropen.
Foto itu menjadi bagian penting dan bukti perjalanan Glenmore menjadi kota penting di masa kolonial Belanda. Foto lelaki itu juga menjelaskan tentang warga Madura yang sudah bermukim di Glenmore sejak masa-masa awal berdirinya perkampungan ini. Cara lelaki itu memakai kain sarung itu tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Madura di kala senggang. Bagi warga Madura, sarung itu multifungsi, tidak hanya untuk shalat tapi juga pelindung dari dinginnya udara sampai jadi teman untuk bercengkrama. Cara melilitkan sarung ke seluruh badan itu dikenal dengan gaya akok bukok dalam istilah warga Madura. Tradisi ini mereka bawa ke perantuan, termasuk ketika bermigrasi ke Glenmore.
Kedatangan warga Madura generasi pertama ke Glenmore tidak lepas dari tawaran Belanda dan pemilik perkebunan. Gelombang kedatangan mereka bersamaan dengan pembukaan perkebunan antara lain Perkebunan Glenmore. Dalam catatan penguasan Keraton Sumenep, migrasi pertama warga Madura ke pesisir utara Pulau Jawa dimulai tahun 1857. Jumlahnya mencapai 20.000 – 40.000 orang sampai awal tahun 1900. Mereka menempati kota-kota pesisir yang dikenal dengan istilah daerah tapal kuda. Migrasi generasi awal ini kemudian diikuti oleh gelombang pendatang berikutnya yang memasuki daerah perkebunan, terutama yang baru dibuka.
Pendatang dari Madura yang memasuki Glenmore diperkirakan terjadi mulai 1910 sampai tahun 1920 seiring dengan operasional Perkebunan Glenmore. Peluang menemukan penghidupan yang lebih baik membuat mereka tertarik bekerja di perkebunan. Kondisi ini membuat perkebunan menjadi salah satu sentra komunitas pendatang dari Madura. Apalagi sebagian di antara mereka membangun pemukiman di sekitar perkebunan yang berkembang menjadi perkampungan baru. Dengan model perkembangan seperti ini tidak heran jika perkampungan yang berdiri di sekitar perkebunan seperti sekarang rata-rata dihuni keturunan warga Madura.
Seperti generasi awal pendatang dari daerah lain, kedatangan pekerja dari Madura ini diikuti oleh sanak kerabat, saudara, bahkan tetangga di tanah asal. Tapi, generasi terbaru yang datang di awal tahun 1920-an ini tidak semuanya bekerja di perkebunan. Mereka memilih bekerja di sektor lain seperti tukang cukur, penjual makanan, kuli angkut di sekitar tempat jual beli di lahan milik Pak Sadran. Di tempat inilah penjual dan pembeli dari beberapa pemukiman bertransaksi. Lalu Pak Sadran berinisiatif menjadikan lahannya sebagai pusat perdagangan dengan memungut iuran dari pedagang yang membuka lapak. Aktivitas perekonomian ini semakin ramai dan menjadi cikal bakal berdirinya Pasar Glenmore seperti sekarang.
Keputusan Pak Sadran memungut iuran harian ini lama-lama diketahui tentara Belanda. Apalagi aktivitas jual beli di tempat ini semakin ramai setiap hari, terutama setiap selesai gajian pekerja perkebunan. Belanda yang ingin mengontrol seluruh aktivitas penduduk Glenmore akhirnya menangkap Pak Sadran dengan berbagai tuduhan. Dia dipenjara dan pasar yang berkembang ini sepenuhnya dikelola Belanda sejak pertengahan 1920-an. Setelah Pak Sadran ditangkap, giliran Belanda yang memungut iuran harian dengan jaminan keamanan pada semua aktivitas di tempat ini. Sejak saat itu, tempat ini dilegalkan oleh Belanda sebagai pasar bagi warga Glenmore.
Kabar berkembangnya pasar ini sampai juga ke Madura yang membuat mereka tertarik mengikuti jejak saudara dan kerabat yang lebih dulu merantau. Namun, kedatangan mereka ke Glenmore ini tidak untuk bekerja di perkebunan. Mereka lebih tertarik bekerja di bidang lain di sekitar pasar seperti menjadi tukang cukur, penjual sate, pengumpul barang bekas, kuli angkut, dan lain-lain. Supaya dekat dengan tempat bekerja, mereka memilih mendirikan pemukiman di sekitar pasar, terutama di sisi barat. Seperti dituturkan pendatang dari Madura, Pak Sarmin (berusia 106 tahun pada tahun 2017), bagian barat pasar masih berupa semak belukar. Di sinilah gubuk-gubuk kecil di bangun oleh pendatang dari Madura. Sisi barat pasar dipilih karena lahan di sisi selatan pasar digunakan untuk penampungan kuda, sapi, dan kerbau penarik gerobak pengangkut barang.
Seperti halnya pendatang dari daerah lain, pendatang dari Madura juga memberikan warna bagi kehidupan masyarakat Glenmore. Salah satunya adalah warisan kuliner, yakni lontong campur atau campur. Makanan yang terdiri dari lontong, bumbu kacang dan kuah meras ini aslinya dari Madura, terutama Pamekasan dengan nama campor. Tapi, ketika dikenalkan pertama kali oleh Bu Samsuni di awal tahun 1950-an, makanan ini mengalami modifikasi sehingga menjadi campur seperti yang dikenal sekarang. Bu Samsuni adalah penjual campur pertama di Glenmore yang berjualan di Pasar Glenmore. Dia datang dari Madura pada awal tahun 1950-an mengikuti jejak kerabat dan saudaranya. Ternyata kuliner yang dimodifikasi ini diterima oleh warga Glenmore.
Sejak dikenalkan pertama kali, campur berkembang menjadi ikon kuliner Glenmore. Pada proses perkembangan ini, keluarga besar Bu Sumini berperan besar karena para penjual campur generasi pertama sampai sekarang masih berasal dari keluarga yang sama. Lokasi penjualan tidak jauh dari Pasar Glenmore. Beberapa penjual campur terkenal seperti Sulasi, Mbok No, dan Kiptiyah masih terikat kekerabatan yang sekarang dilanjutkan oleh anak-anak mereka. Meskipun identik dengan keturunan Bu Sumini, sekarang campur berkembang di tangan penjual lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan generasi pertama. Mereka juga mulai mengeksplorasi cita rasa dan modifikasi sehingga menambah varian rasa campur yang menjadi ikon kuliner Glenmore.