Drama

Kota Administratif dan Pengepul Komoditas

29 January 2026

Kota Administratif dan Pengepul Komoditas

Ketika mengizinkan beberapa investor Eropa mengembangkan perkebunan di sekitar Glenmore, pemerintah Hindia Belanda sudah memikirkan sarana transportasi untuk mengangkut komoditas kopi, karet, kakao, dan lain-lain sebelum diangkut ke negeri Belanda. Kepentingan mengangkut hasil bumi ini yang melandasi keputusan Belanda membangun jaringan kereta api di pulau Jawa sejak tahun 1867. Hingga tahun 1912, jaringan rel kereta api sudah menghubungkan Surabaya hingga Banyuwangi yang sebagian besar melintasi daerah perkebunan. Selain jalur transportasi, Belanda juga merancang kota di sekitar perkebunan yang banyak dihuni ekspatriat dari Eropa.

Glenmore menjadi salah satu kota yang ingin dibangun oleh Belanda karena daerah ini memiliki enam perkebunan yang dibangun oleh investor Eropa yakni Perkebunan Glenmore (Skotlandia), Perkebunan Kali Sepanjang (Belanda), Perkebunan Kali Kempit (Belanda), Perkebunan Kali Telepak (Belanda), Perkebunan Kendeng Lembu (Belanda), Perkebunan Trebasala (Inggris), dan Perkebunan Glen Falloch (Skotlandia). Selain itu, ada perkebunan yang dikelola perorangan dan tidak menggunakan konsep perkebunan modern seperti perkebunan kopi dan kakao milik Tuan Porten di Desa Sepanjang dan perkebunan kelapa milik Tuan Kalong di Karangharjo.

Dalam rancangan pemerintah Belanda, Glenmore dikembangkan menjadi kota administratif yang akan mengelola administrasi hingga pengiriman komoditas yang dihasilkan seluruh perkebunan. Sebelum diangkut dengan kereta api menuju Panarukan (Situbondo) atau Batavia untuk dibawa menuju Rotterdam, Belanda, hasil perkebunan ini harus dikumpulkan lebih dahulu di tempat khusus yang tidak jauh dari stasiun kereta api. Proses administrasi hasil bumi ini membutuhkan gudang. Karena itu, Belanda membangun kantor administrasi yang terletak 200 meter di sebelah timur Stasiun Glenmore yang dikenal dengan kantor Tuan Stock atau Tuan Agen. Kantor yang dibangun tahun 1910 ini beralih fungsi menjadi rumah yang dihuni sinshe Haji Hancu (2017). Di kantor ini pula pegawai pemerintahan dan pekerja perkebunan bisa mengambil upah bulanan.

Untuk menjamin keamanan kantor administratif dan perdagangan serta keselamatan pegawainya, Belanda membangun markas tentara di sisi utara. Jarak antara markas tentara dan kantor ini tidak kurang dari 100 meter. Markas tentara ini sekaligus untuk menjaga keamanan stasiun kereta api dan pengiriman hasil perkebunan menggunakan kereta. Jika kantor administratif ini masih dapat disaksikan karena utuh, tidak demikian dengan markas tentaranya. Yang tersisa hanyalah lokasi markas yang sekarang digunakan oleh SD Negeri Sepanjang III. Saat gedung sekolah dibangun pada akhir tahun 1970-an, beberapa pekerja sempat menemukan sisa amunisi dan perlengkapan militer seperti pisau, golok, ikat pinggang, uang koin dan lain-lain.

Kantor administrasi ini menjadi urat nadi urusan pemerintahan dan perekonomian bagi Belanda. Selain untuk mengurus pengiriman hasil perkebunan, kantor ini juga mengurus pengiriman surat dan dokumen antara pemerintah dan pengelola perkebunan. Dokumen yang dikirimkan melalui kereta api biasanya dititipkan lebih dulu di kantor ini sebelum didistribusikan kepada kantor pos yang berada di sisi selatan Glenmore (sekarang Desa Karangharjo). Pemerintah Hindia Belanda memang sudah membangun kantor pos pertama di Batavia tahun 1746 lalu disusul di kota lain.

Kantor pos hanya didirikan di kota yang dinilai penting dan strategis. Karena itu, kantor pos di masa Hindia Belanda hanya dibangun di kota besar antara lain Bandung, Surabaya, Semarang, Medan atau kota kabupaten seperti Malang, Jember, Banyuwangi, dan lain-lainnya. Glenmore dinilai sebagai kota penting dan strategis sehingga kantor pos juga didirikan yang terletak 1,5 kilometer dari Stasiun Glenmore. Ciri-ciri lain kota besar dan penting di masa Hindia Belanda adalah kantor pos dan kantor telepon dibangun di lokasi yang terpisah seperti yang terjadi di Glenmore. Pengiriman dokumen dan surat di masa ini semakin cepat sejak Gubernur Jenderal Herman William Deandels membangun Jalan Raya Pos sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer (Banten) menuju Panarukan (Situbondo) pada tahun 1809. Jalan di pesisir utara pulau Jawa ini juga dikenal sebagai Jalan Deandels.

Sebelum Jalan Raya Pos ini dibangun, pengiriman dokumen dari Jawa Barat menuju Jawa Timur membutuhkan waktu 40 hari. Namun, setelah jalan ini dibangun dan kereta api beroperasi, waktu pengiriman antar provinsi ini hanya butuh waktu 6 hari. Glenmore termasuk salah satu kota yang sudah memiliki kantor pos sendiri pada tahun 1910. Belanda menempatkan kantor pos di bagian selatan Glenmore agar lebih dekat dengan jalan yang membentang antara Jember-Banyuwangi. Seperti halnya jalur kereta api, jalan ini dibangun untuk kelancaran pengiriman hasil komoditas perkebunan menuju kota-kota pelabuhan untuk dikapalkan ke Belanda. Selain itu, jalan ini juga berfungsi sebagai pendukung kelancaran mobilisasi tentara Belanda dari satu tempat ke tempat yang lain dalam rangka menjaga kepentingan mereka di tanah jajahan.

Hotel Glenmore dan Keluarga Peranakan Bugis-Melayu

Kuburan itu terletak di tengah kebun yang tidak jauh dari rumah penduduk dan jalan penghubung menuju Perkebunan Glenmore. Lokasinya berada di Dusun Sidoluhur, kira-kira satu kilometer ke arah utara dari pasar Glenmore. Di samping kuburan itu terdapat tembok pemisah yang menutupi tempat mirip bak mandi. Dari bentuk dinding kelihatan sekali kalau bangunan itu bukan tembok yang baru dibuat. Selain sudah mengelupas di hampir semua bagian, jenis batubata yang dipakai juga berbeda dengan batubata jaman sekarang. Meski tidak ada penanda pada kuburan itu, warga sekitar menyebutnya sebagai jedingan. Bisa jadi, istilah jedingan diambil dari kata jeding (kamar mandi) karena tempat itu pernah dipakai untuk pemandian umum.

Keberadaan makam di tengah kebun ini sekilas tidak memiliki arti sama sekali. Namun, setelah ditelusuri, ternyata sosok yang dimakamkan di tempat ini bukanlah orang biasa. Dia adalah Haji Soe’oed, saudagar kayu yang memberikan warna pada Glenmore sebagai sebuah kota di zaman kolonial Belanda. Haji Soe’oed asalnya dari Bugis, Sulawesi Selatan yang merantau ke Talango (Pulau Puteran) di Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura untuk berdagang kebutuhan sehari-hari, termasuk kayu untuk bangunan. Dari Talango, sebagian keluarga besarnya juga merantau ke Kalianda (Lampung), Singaraja dan Loloan (Bali), dan Glenmore pada awal tahun 1940-an.

Glenmore menjadi tujuan karena kota ini sudah cukup dikenal di kalangan pedagang. Kegiatan perekonomian kota ini memang terpusat di pasar. Namun, fasilitas yang lengkap sebagai sebuah kota menjadi daya tarik tersendiri. Kantor administratif dan gudang pengepul hasil perkebunan sudah tersedia. Sarana transportasi seperti jalan raya dan kereta api plus stasiun telah tersedia. Kantor pos dan telegraf sudah dioperasikan. Begitu juga dengan kantor telepon yang dibuktikan dengan jaringan kabel telepon dalam foto koleksi Tropen Museum tahun 1927. Fasilitas lainnya yang sudah tersedia adalah sekolah untuk kaum Tionghoa yakni Tiong Hoa Hwee Kuan (THHK) dan sekolah kaum pribumi dan Belanda yakni Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Sebagai saudagar perantauan, Haji Soe’oed melihat banyak peluang bisnis yang bisa dikerjakan di kota. Pilihannya jatuh pada usaha penginapan dengan mendirikan Hotel Glenmore. Lokasinya tepat di perempatan jalan raya yang memanjang hingga bagian timur pasar Glenmore sekarang. Sebagian besar bangunan hotel ini terbuat dari papan kayu. Berdasarkan kesaksian Pak Sarmin (usianya 20-an tahun pada 1942), hotel ini menyediakan fasilitas tempat tidur dari papan bambu. Tapi, ada juga kamar yang hanya dilengkapi tikar untuk tidur. Tamunya bermacam-macam dari ekspatriat asing sampai saudagar lokal dari luar daerah. Menurut Pak Sarmin, suasana Glenmore pada masa itu lebih ramai daripada Banyuwangi sebagai kota kabupaten.

Hotel ini cukup ramai karena banyak tamu yang menginap. Apalagi lokasinya sangat strategis dan berdekatan dengan pasar, kantor perdagangan, dan stasiun kereta. Pada zaman itu, stasiun kereta api masih bernama Halte Glenmore. Bangunannya terbuat dari papan kayu dengan atap yang terbuat dari anyaman daun kelapa (blarak). Lokasi stasiun ini tepat di sebelah utara hotel atau di selatan Masjid Jami’ Desa Sepanjang sekarang. Lokasi dan kondisi stasiun seperti ini juga dijelaskan oleh Dollah Usman, perantau dari Bagelen dan sesepuh Kampung Megelenan. Dollah Usman ikut bekerja membangun terowongan Mrawan pada tahun 1901.

Bisnis hotel Haji Soe’oed ini boleh dibilang cukup sukses dan bertahan cukup lama. Apalagi dia juga memiliki bisnis lain sehingga memiliki lahan cukup luas untuk tempat tinggal kerabat serta keluarga besarnya dari keturunan Melayu-Bugis yang turut merantau ke kota ini. Di Glenmore, keluarga besar ini gampang dikenali karena selalu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia di dalam keluarga. Di zaman itu, setiap keluarga biasanya berkomunikasi dengan bahasa daerah, kalau tidak Jawa, ya Madura. Tapi, karena keluarga besar Haji Soe’oed menggunakan bahasa Indonesia sebagai pilihan utama untuk berkomunikasi. Karena itu, keturunan keluarga besar ini pernah dikenal dengan istilah keluarga yang berbahasa Indonesia.

Sebagian keturunan dan kerabat keluarga besar ini bermigrasi ke daerah lain seperti Probolinggo dan Situbondo. Dari keluarga besar ini kemudian lahir seniman teater dan pemain film terkenal, Ikranagara. Dia telah membintangi belasan film sejak tahun 1970 hingga 2013. Ikranagara adalah pemeran Pak Harfan dalam film Laskar Pelangi (2008), pemeran KH Hasyim Asy’ari dalam film Sang Kiai (2013), dan beberapa film laris lain. Di masa remaja, Ikranagara sering menghabiskan masa liburan sekolah di Glenmore. Tempat favoritnya adalah gerojogan (sungai kecil di depan Masjid Jami’ Desa Sepanjang) karena di sini bisa membendung air hingga genangan air mirip kolam untuk dijadikan arena lompat air dan berenang.

Sampai sekarang sebagian keluarga peranakan Melayu-Bugis ini masih mendiami Glenmore dengan beragam profesi, terutama saudagar atau pedagang. Ciri khas mereka sebagai ‘keluarga yang berbahasa Indonesia’ masih bertahan meski sudah banyak keluarga lain yang berbicara dengan bahasa Indonesia. Tapi, keluarga peranakan ini masih punya ciri lain yakni panggilan ‘encik, cik, uwak, abang, datuk, wak daeng, wak solong (untuk anak sulung), wak ngah (untuk anak tengah), dan mak su (untuk anak bungsu). Misalnya, wak solong berarti kakak tertua. Mak su untuk saudara perempuan ibu yang paling muda. Sedangkan wak ngah untuk paman yang menjadi anak kedua dari tiga bersaudara atau anak ketiga dari lima bersaudara.