Drama

Tri Tunggal dan Sekolah Warga Tionghoa

29 January 2026

Tri Tunggal dan Sekolah Warga Tionghoa

Ahmad Haris masih ingat benar nama empat orang teman sekelasnya dulu: A Tse, Fuk Jau, Bun Ciu, dan Ah Me. Begitu juga dengan teman lain kelas di sekolah yang sama seperti Am Yang, A Tek, Cin Swe, A Lay, Min Dong, dan lain-lain. Mereka sering bermain kelereng, gobak sodor, pentengan, dan permainan lain di jam istirahat sekolah bersama Joko, Slamet, Wahyudi, Anwar, dan teman lainnya. Tidak jarang Fuk Jau atau Cin Swe membawa makanan khas Tionghoa untuk dimakan bersama setelah permainan bubar. Suasana akrab di SDN Tri Tunggal itu masih melekat di ingatan Ahmad Haris yang masuk sekolah ini tahun 1969 dan lulus 1974.

Sekolah ini memang paling banyak menampung anak-anak Tionghoa. Di setiap kelas yang berisi 30 murid, setidaknya ada 4-5 anak Tionghoa. Selain itu, Ahmad Haris masih ingat banyak sekali tulisan THHK 333 di perlengkapan mebel sekolah seperti meja, papan tulis, lemari, kursi, pintu, dan lain-lainnya. SDN Tri Tunggal (sekarang SDN Sepanjang II) awalnya memang sekolah yang didirikan oleh THHK (Tiong Hoa Hwee Koan), organisasi warga Tionghoa yang berdiri tahun 17 Maret 1990 di Batavia (Jakarta). Sejak tahun 1901 sampai 1940, THHK membangun ratusan sekolah (Tiong Hoa Hak Tong) di kota-kota terpilih di Hindia Belanda. THHK Glenmore adalah sekolah ke-333 yang dibangun sehingga diberi kode THHK 333 di perlengkapan sekolah.

Pada masa-masa awal, THHK membangun sekolah di kota besar yang memiliki populasi warga Tionghoa cukup banyak seperti Batavia, Semarang, Surabaya, Bengkulu, Bangka, Medan, dan kota lainnya. Pada gelombang berikutnya sekitar tahun 1940-an, THHK merambah kota kecil yang memiliki populasi warga Tionghoa cukup banyak. Pada fase inilah Glenmore dipilih karena sudah tumbuh menjadi kota pengepul komoditas perkebunan dan kota perdagangan. Kondisi ini yang mendorong kehadiran warga Tionghoa menjadi bagian dari penduduk Glenmore sampai sekarang. Berdasarkan volkstelling (sensus), populasi warga Tionghoa di Hindia Belanda tahun 1930 mencapai 1,23 juta jiwa atau 2,03% dari total jumlah penduduk Hindia Belanda.

Sekolah buatan THHK ini dikenal sebagai sekolah swasta modern pertama yang tidak hanya ada di Batavia, namun di kota-kota lain. Dari ratusan sekolah, THHK Batavia (Bahoa) dan THHK Tegal (Zehoa) merupakan yang paling terkenal. Setelah peristiwa G30S/PKI tahun 1965, semua sekolah THHK ditutup oleh pemerintah Orde Baru dan sebagian diambilalih menjadi sekolah negeri. Bangunan THHK Batavia kemudian diubah menjadi SMA Negeri 19 Jakarta. Begitu juga dengan THHK Glenmore yang ditutup dan diambilalih oleh pemerintah serta berubah menjadi SDN Tri Tunggal. Nama Tri Tunggal kemungkinan besar merujuk pada angka 333. Meskipun berubah, warga Tionghoa tetap menjadikan sekolah ini sebagai tempat belajar anak-anak mereka. Istilah Tri Tunggal juga masih melekat meski nama sekolah berubah menjadi SDN Sepanjang II.

Selain THHK, sekolah yang menjadi bukti Glenmore sudah berkembang menjadi kota penting adalah Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Sekolah buatan Belanda dengan pengantar bahasa Belanda ini diperuntukkan bagi kaum bumiputera. Kehadiran HIS malah lebih awal daripada sekolah warga Tionghoa yakni di akhir tahun 1930-an. Lokasi HIS kira-kira 500 meter sebelah utara Kantor Pos Glenmore atau 500 meter sebelah selatan sekolah THHK. Sekolah ini hanya diperuntukan bagi anak-anak pribumi dari kalangan pegawai pemerintahan dan kelompok sosial yang setara. Jadi, tidak semua warga lokal bisa memasukkan anaknya ke sekolah ini. Bangunan HIS masih berdiri dan digunakan untuk SDN Sepanjang I. Begitu juga bangunan THHK yang masih digunakan untuk kegiatan belajar SDN Sepanjang III.

Kehadiran dua sekolah ini menjadi bukti penting perkembangan Glenmore menjadi kota yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Apalagi lokasi dua sekolah ini berada dalam satu garis lurus dengan fasilitas strategis pemerintah Hindia Belanda seperti Kantor Pos, Kantor Telepon, Kantor Administratif dan Perdagangan, Stasiun Kereta Api, Pasar hingga hotel. Meskipun pusat perekonomian Glenmore tidak dilintasi jalan raya penghubung Jember-Banyuwangi, tapi jalur kereta api memberikan dampak signifikan dalam perkembangan Glenmore sebagai sebuah kota. Apalagi ditambah dengan fasilitas pendidikan swasta dan pemerintah yang hanya bisa berdiri di kota-kota besar di masa pemerintahan Hindia Belanda.