Pekerja Perkebunan dan Klinik Kesehatan dari Kayu
Bangunan bernuansa klasik alias lawas itu berdiri tegak bersama bangunan bernuansa modern. Perbedaan antara dua jenis gedung ini terlihat dari bentuk atap sampai genteng, model daun pintu dan jendela, ketinggian atap plafon, sampai ketebalan tembok gedung. Ciri sebagai gedung yang dibangun selama pemerintahan Hindia Belanda masih melekat pada sebagian gedung di Rumah Sakit Bhakti Husada, Krikilan ini. Bahkan, beberapa bangunan lawas di rumah sakit ini memiliki kemiripan dengan gedung lain yang dibangun Belanda di Glenmore. Rumah sakit ini merupakan salah satu penanda Glenmore sebagai kota penting di masa lalu. Apalagi lokasinya berhadapan dengan Stasiun Kereta Api Krikilan yang dibangun lebih dulu dibandingkan Stasiun Glenmore.
Selain nuansa zaman kolonial pada bangunan yang sangat kuat, penanda lain bahwa rumah sakit ini dibangun pada masa penjajahan Belanda adalah alat rontgen buatan Jerman tahun 1920. Alat ini berukuran lebih besar dibandingkan alat rontgen sekarang. Alat pemindai bagian dalam tubuh manusia ini mulai digunakan tahun 1918 atau setelah klinik ini memiliki bangunan permanen yang terbuat dari kayu. Sebelumnya klinik ini hanya berupa ruangan sederhana untuk melayani kesehatan pekerja perkebunan. Alat rontgen ini termasuk peralatan medis yang canggih di masa itu dan hanya digunakan di klinik yang sudah maju. Sebagai penanda zaman, alat ini ditempatkan di ruangan khusus di RS Bhakti Husada dan dapat dilihat oleh pembesuk.
Rumah sakit ini awalnya klinik kesehatan yang dibangun oleh himpunan pengusaha perkebunan Eropa yang berkantor pusat di Besuki (Situbondo) dengan nama Besoekisch Imigratie Bureau (BIB). Pada masa Hindia Belanda, Besuki merupakan ibukota karesidenan yang meliputi empat kabupaten yakni Banyuwangi, Jember, Bondosowo, dan Situbondo. Para pengusaha Eropa yang memiliki perkebunan di empat kabupaten ini mendirikan BIB untuk menyediakan tenaga kerja perkebunan di tahun pertama abad ke-20. Perkumpulan ini juga menyediakan layanan kesehatan untuk pekerja perkebunan, terutama setelah terjadi wabah kolera, malaria, dan disentri antara tahun 1909 sampai 1910.
Untuk menyediakan pekerja perkebunan, BIB banyak mendatangkan pekerja dari Madura selain daerah lain seperti Jawa Tengah. Kedatangan mereka ini menjadi cikal bakal komunitas Madura yang cukup banyak menghuni kawasan perkebunan di Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Migrasi pekerja yang cukup besar ini menimbulkan masalah sendiri ketika terjadi wabah kolera, malaria, dan diare. Untuk mengatasi situasi ini, BIB mengusulkan pelayanan kesehatan di kota yang memiliki jumlah pekerja cukup besar. Ide yang dilontarkan tahun 1909 ini akhirnya terwujud dua tahun kemudian. Pada tahun 1911, BIB mendirikan klinik kesehatan di Glenmore yang kemudian menjadi cikal bakal Rumah Sakit Umum Bhakti Husada, Krikilan.
Sejak awal didirikan, klinik kesehatan ini sudah berlokasi di tempat yang sekarang. Posisinya berhadapan langsung dengan Stasiun Krikilan yang berjarak sekitar 4 kilometer ke arah barat Stasiun Glenmore. Lokasi ini dipilih untuk memudahkan distribusi obat-obatan, tenaga medis serta pasien menggunakan kereta api. Jika ditarik garis lurus membentang ke empat arah mata angin, klinik ini sebenarnya berada di titik tengah di antara perkebunan yang berdiri di Glenmore dan Kalibaru. Kawasan ini merupakan dua daerah yang memiliki banyak perkebunan dengan jumlah pekerja cukup signifikan sejak masa Hindia Belanda.
Klinik kesehatan di Glenmore ini merupakan salah satu klinik kesehatan generasi pertama pada masa Hindia Belanda, terutama untuk kawasan Jawa Timur. Apalagi klinik ini berdiri satu tahun setelah Djember Scheklinik didirikan oleh Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD), satu perusahaan perkebunan milik pengusaha Belanda tahun 1910. Seperti halnya klinik di Glenmore, Djember Scheklinik awalnya hanya untuk melayani pekerja perkebunan LMOD. Namun, lambat laun klinik ini memperluas layanannya untuk masyarakat umum hingga berkembang menjadi Rumah Sakit Jember Klinik atau nama resminya Rumah Sakit Perkebunan setelah dikelola oleh PT Nusantara Medika Utama milik PT Perkebunan Nusantara X.
Dalam perjalanannya, klinik kesehatan di Krikilan ini berkembang pesat. Pasien yang dilayani tidak sekadar pekerja perkebunan, namun juga masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Rumah sakit ini ramai dikunjungi karena peralatan dan tenaga medisnya tergolong lengkap di masa itu. Apalagi klinik ini tercatat sebagai rumah sakit paling tua dan pertama di Banyuwangi. Bahkan, sampai akhir tahun 1980-an, rumah sakit ini dikenal sebagai rumah sakit terbesar di Kabupaten Banyuwangi.
Kehadiran klinik kesehatan di masa Hindia Belanda yang kemudian berkembang menjadi rumah sakit tidak hanya terjadi di Glenmore. Kejadian ini biasanya hanya terjadi di kota-kota besar atau kota yang dianggap penting oleh Belanda karena posisi dan perannya cukup strategis. Pendiri rumah sakit bisa beragam latar belakang. Selain pengusaha perkebunan, kaum agamawan, militer hingga peneliti asing tercatat memiliki andil besar dalam pendirian rumah sakit di tanah jajahan. Misalnya, Rumah Sakit Dustira di Cimahi, Jawa Barat. Semula rumah sakit ini bernama Militare Hospital. Dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1887 untuk merawat tentara Belanda yang bertugas di daerah Cimahi dan sekitarnya.
Selain itu, ada juga Rumah Sakit Immanuel di Bandung yang didirikan oleh pendeta Alkema di tahun 1900. Bentuk awalnya hanya balai kesehatan sederhana yang sekarang sudah berkembang menjadi rumah sakit besar. Begitu juga dengan Rumah Sakit Dr. Soetomo di Surabaya. Rumah sakit ini diawali dari pendirian Rumah Sakit Simpang dan Rumah Sakit AL Central Burgerijike Ziekenhui (CBZ) pada tahun 1937. Kisah serupa terjadi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo Jakarta. Rumah sakit ini berawal dari Sekolah Dokter Jawa pimpinan Dr. Hall pada tahun 1896 yang kemudian berubah menjadi STOVIA tahun 1910 sebagai cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sekolah ini juga menyediakan pelayanan kesehatan yang berkembang menjadi rumah sakit rujukan nasional, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Sebagaimana di kota besar yang lain, balai kesehatan dan klinik kesehatan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda berkembang menjadi rumah sakit sampai sekarang. Berdirinya klinik dan balai kesehatan ini merupakan bukti betapa daerah yang dipilih memiliki peran strategis dan posisi penting pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Setidaknya, daerah yang dipilih telah memenuhi persyaratan sebagai sebuah kota layaknya kota lain di negara-negara Eropa.
Dengan peran penting seperti ini tidak sedikit yang meyakini bahwa Glenmore di masa kolonial Belanda adalah suatu hinterland. Berdasarkan pandangan Erwiza Erman dan Ratna Sapta dalam Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa (KITLV, Jakarta, 2013), hinterland adalah daerah pedalaman yang sangat produktif menghasilkan berbagai komoditas ekspor atau daerah penyanggah kota yang dihubungkan dengan sarana transportasi kereta api. Dengan sarana kereta api inilah komoditas perkebunan seperti kakao, kopi, dan karet diekspor ke Rotterdam, Belanda.