Tuan Agen, Tuan Stok, dan Kantor Belendeh
Kalau ada bangunan lawas dengan banyak nama atau julukan di Glenmore, gedung ini hampir pasti berada di urutan paling depan. Lokasinya sekitar 150 meter di sisi timur Stasiun Glenmore dan 50 meter dari rel kereta api yang menghubungkan Banyuwangi dan Surabaya. Hingga awal tahun 1980-an, bangunan ini masih tampak megah dengan tiang besar yang menopang bagian atap. Daun jendelanya juga besar yang menjadi penanda bangunan ini sezaman dengan gedung lain seperti rumah dinas Kepala Stasiun Glenmore yang berjarak sekitar 500 meter di sisi timur.
Lebar bangunan ini tidak kurang dari 30 meter dan menghadap ke jalan raya sehingga terlihat jelas oleh siapa pun yang melintas di depannya. Apalagi halamannya cukup luas, sekitar 5.000 meter persegi dengan beragam tanaman mulai jambu air, cengkeh, manggis, dan sebagainya. Dalam 15 tahun terakhir, bagian belakang gedung ini dihuni tabib ahli pengobatan tradisional China atau Shinse yang dikenal sebagai Haji Hancu. Tapi, bagian depan bangunan bersejarah ini tampak kurang terawat sehingga banyak bagian yang rusak dan hilang. Bahkan, kesan sebagai bekas bangunan penting di masa kolonial Belanda hampir tidak dikenali lagi.
Masyarakat Glenmore mengenal bangunan ini dengan beragam istilah sesuai dengan zaman mereka. Pada era 1980-an, bangunan ini dikenal dengan nama rumah Tuan Agen. Pada masa itu, bagian belakang bangunan ini dipakai untuk jasa pengisian setrum accu untuk kebutuhan piranti elektronik seperti televisi dan radio. Maklum, pada masa itu ketersediaan listrik masih terbatas dan PLN belum menerangi Glenmore. Agar televisi bisa tetap dinikmati, satu-satunya jalan, ya menggunakan accu (dibaca aki). Untuk menyalakan radio atau tape recorder, cukup dengan baterei kalau accu tidak ada.
Kalau era 1980-an nama Tuan Agen lebih dikenal, maka generasi yang lebih awal yakni 1950-1970-an mengenalnya sebagai rumah Tuan Stok. Meski berbeda istilah, sebenarnya memiliki makna yang sama. Bangunan ini memang tempat mengepul komoditas perkebunan sebelum dikirim ke berbagai daerah menggunakan kereta api maupun untuk diekspor ke Rotterdam, Belanda. Dari kesaksian beberapa sesepuh kampung, bangunan ini sudah ada sejak awal 1910. Fungsinya cukup beragam, namun tetap strategis bagi Belanda. Bahkan, boleh dibilang, gedung ini menjadi sentra administrasi pemerintahan bagi Belanda di Glenmore.
Sebagai tempat pengepulan, semua hasil perkebunan yang beroperasi di Glenmore, terutama Glenmore Estate dikumpulkan di tempat ini. Hasil panen seperti kakao, karet, kopi, cengkeh, dan lain-lain diangkut dari perkebunan ke tempat ini menggunakan cikar, gerobak kayu yang ditarik oleh sapi atau kerbau. Dari gedung inilah komoditas itu dicatat sebelum diangkut oleh kereta api menuju pelabuhan besar di Surabaya maupun Batavia (Jakarta) untuk dikapalkan ke Rotterdam. Dengan fungsi tempat pengepulan ini, tidak mengherankan kalau atap bangunan ini cukup tinggi dan menjulang melebihi bangunan lain pada masanya. Tujuannya supaya sirkuliasi udara cukup sehingga hasil perkebunan tidak mudah rusak karena lembab.
Selain untuk mengepul barang, ternyata gedung ini juga punya fungsi lain yakni sebagai tempat transit dokumen dan barang kiriman dari daerah lain. Dari tempat ini dokumen didistribusikan ke pemilik dan pengelola perkebunan di sekitar Glenmore dan untuk Kantor Pos dan Telegraph yang berjarak sekitar 2 kilometer. Dokumen yang berhubungan dengan pemerintahan kabarnya juga didistribusikan dari bangunan ini. Bahkan, administrasi pengelolaan daerah Glenmore juga dikendalikan dari kantor ini.
Dengan beragam fungsi itu, bangunan ini juga dikenal sebagai kantor administratur kota yang mengelola administrasi pemerintahan. Tentu saja, kantor ini dikelola oleh para menir Belanda sebagai pejabatnya. Suasana perkantoran itu yang membuat Pak Sarmin (usianya 100 tahun lebih pada 2017) menyebut bangunan ini sebagai Kantor Belendeh. Ini merupakan istilah dalam bahasa Madura untuk menyebut kantor orang Belanda. Warga pendatang dari Madura pada era 1930-an sampai 1940-an juga mengenal bangunan ini sebagai Kantor Belendeh. Bagi para menir Belanda, bangunan ini cukup vital sehingga harus terjamin keamanannya.
Dalam kesaksian Pak Sarmin, kawasan di sekitar Kantor Belendeh, stasiun, dan pasar adalah lokasi paling ramai pada masa itu. Kondisi ini dapat dimaklumi karena di sinilah berkumpulnya aktivitas pemerintahan, perdagangan, dan transportasi. Apalagi menjelang kedatangan kereta api yang siap menurunkan barang dan mengangkut barang ke kota lain. Hilir mudik cikar, dokar (delman) yang menjadi ciri khas transportasi tradisional Glenmore, kereta dan segelintir mobil milik menir-menir Belanda berpusat di satu area. “Lebi rammih etembeng Banyuwangi,” kata Pak Sarmin. Artinya, suasananya sudah lebih meriah dibandingkan kota Banyuwangi. Karena itu, Belanda menaruh perhatian besar terhadap keamanan kawasan ini.
Untuk menjamin keamanan, Belanda akhirnya membangun tangsi atau barak tentara. Selain untuk mengamankan stok hasil perkebunan, serdadu Belanda juga bertugas mengamankan stasiun kereta api yang lokasinya berdekatan. Lokasi barak ini sekitar 100 meter di sisi utara Kantor Belendeh dan 100 meter di sisi timur Stasiun Glenmore. Lokasi barak ini sekarang menjadi gedung SDN Sepanjang III atau SD Sidomulyo. Barak yang dilengkapi dengan gudang senjata dan mesiu ini juga mengamankan rumah dinas Kepala Stasiun Glenmore yang lokasinya hanya 150 meter ke arah timur tangsi.
Bekas barak ini memang sudah berganti rupa menjadi gedung sekolah. Tapi, sisa-sisa senjata dan aminusi tentara masih ditemukan hingga pertengahan 1980-an. Ketika SDN Sepanjang III membangun bangunan baru dan rumah penjaga sekolah pada 1983, beragam senjata banyak ditemukan dalam penggalian pondasi bangunan. Beberapa senjata yang ditemukan antara lain bayonet, senjata laras panjang, lencana tentara, ikat pinggang dan sepatu tentara, dan lain-lain. Setelah ditemukan, bekas peralatan perang itu tidak jelas lagi di mana rimbanya.