Drama

Kiai Sepo, Madrasah, dan Saudagar dari Madura

29 January 2026

Kiai Sepo, Madrasah, dan Saudagar dari Madura

Bangunan berbentuk huruf L itu masih berdiri tegak. Suasananya selalu riuh dengan celoteh anak-anak belajar kalau pagi hingga siang hari. Lokasinya hanya 50 meter di sisi selatan Masjid Jami’ Darussalam, Desa Sepanjang, Glenmore. Sekilas tidak ada yang berbeda dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini dibandingkan sekolah yang lain. Namun, kalau dirunut ke belakang, sekolah ini ternyata ikut mewarnai perjalanan Glenmore. Terlebih mereka yang terlibat dalam pendirian madrasah ini, yakni Kiai Abdussalam dan Kiai Abdul Adzim pada 1948. Kiai Abdussalam adalah perintis dan pendiri madrasah, sedangkan Kiai Adzim adalah penyandang dananya.

Kiai Adzim dikenal sebagai saudagar kaya dari Madura yang hijrah ke Glenmore sekitar tahun 1910. Kiai ini mengangkat Abdussalam sebagai anak yang kemudian dinikahkan dengan salah satu cucunya. Jadilah Abdussalam sebagai cucu keponakan. Di masa remajanya, Abdussalam bersama Affandi (anak Kiai Adzim) dan Fathurrosi (cucu keponakan) dikirim oleh Kiai Adzim ke Pesantren Tebuireng, Jombang untuk belajar pada KH Hasyim Asy’arie. Sebagai lulusan pondok, tak aneh kalau Kiai Abdussalam berani merintis madrasah. Apalagi didukung penuh Kiai Adzim.

Selain sebagai saudagar, Kiai Adzim juga dikenal sebagai ulama yang punya jaringan luas dengan ulama lain. Rumah dan langgar (musala) miliknya sering menjadi tempat berkumpul orang yang mau mengaji. Hingga periode 1940 sampai 1950-an, rumahnya suka menjadi tempat berkumpul para tokoh NU antara lain KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) dan KH Idham Chalid. Rumah kiai ini di barat pasar Glenmore. Bersama Haji Soleh, Kiai Adzim adalah sosok yang mengajak KH Achmad Qusyairi pindah dari Jatian (Jember) ke Glenmore pada 1946 untuk mengajar. Saat itu, Kiai Achmad baru dua tahun pindah dari Pasuruan karena menolak dicalonkan menjadi bupati.

Di lingkungan kiai, nama Kiai Achmad cukup dikenal. Ayahnya adalah KH Muhammad Shiddiq, salah satu kiai yang dimintai restu oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah ketika akan mendirikan organisasi NU pada 1926. Saat tiba di Glenmore, Kiai Achmad tinggal di rumah Kiai Adzim sambil membuka pengajian sampai akhirnya membeli tanah di sisi timur pasar sebagai tempat tinggalnya. Pengajian ini mulai menarik masyarakat untuk mengaji. Karena kebanyakan santri dan jamaahnya adalah warga pendatang dari Madura, Kiai Achmad lebih sering dipanggil Kiai Sepo (bahasa Madura, artinya kiai sepuh atau kiai yang dituakan).

Dalam catatan Hamid Ahmad, putra bungsu Kiai Achmad, ayahnya tidak terlalu lama tinggal di Glenmore. Kakak kandung KH Ahmad Shiddiq (Rais Aam PBNU 1984-1991) ini memilih kembali ke Pasuruan dan menyerahkan estafet dakwah pada putranya, KH Hasan Abdillah. Sebagaimana ayahnya, KH Hasan Abdillah juga mendapatkan dukungan dari Kiai Adzim untuk melanjutkan perjuangan sang ayah.

Dukungan Kiai Adzim ternyata tidak hanya untuk urusan dakwah. Dalam urusan politik pun, kiai ini berperan signifikan atas terpilihnya H. Fathurrosi, cucu keponakannya sebagai Kepala Desa Sepanjang pada 1955. Saat itu, Sepanjang menjadi bagian dari Kecamatan Kalibaru dan di tahun 1969 Glenmore menjadi kecamatan sendiri. Kecamatan baru ini dipimpin seorang Mantri Polisi bernama Darsono sampai ditunjuk kepala kecamatan definitif beberapa waktu kemudian. Pada periode ini, kantor kepala Desa Sepanjang terletak di sisi barat pasar, tidak jauh dari rumah Kiai Adzim dan rumah H. Fathurrrosi.

Sebagai saudagar dan ulama, Kiai Adzim punya peran penting dalam perkembangan Glenmore, terutama dari aspek keagamaan. Bahkan, kiprahnya memberikan warna yang cukup signifikan dalam perkembangan keagamaan masyarakat Glenmore. Corak keberagamaan ini makin kuat dengan kiprah KH Hasan Abdillah yang kemudian menjadi seorang tokoh NU berpengaruh di Glenmore dan Banyuwangi. Apalagi sejak 1960, KH Hasan Abdillah mulai mengelola madrasah yang dirintis dan didirikan oleh Kiai Abdussalam. Adapun Kiai Abdussalam memilih pindah ke Desa Karangharjo yang berjarak 2,5 kilometer dari rumahnya di dekat madrasah.

Salah satu hal menarik dari KH Hasan Abdillah adalah istrinya yakni Hj. Aisyah Gondokusumo (istri pertama) dan Hj. Sofiyah Gondokusumo (istri sambung kedua). Keduanya ternyata kerabat keluarga besar Mbah Yasin, figur penting di balik lahirnya Glenmore. KH Hasan Abdillah wafat pada 19 November 2012 dalam usia 86 tahun dan dimakamkan di area pemakaman keluarga bersama ibu tiri dan dua istrinya. Makam yang berjarak 500 meter di sisi selatan Pasar Glenmore ini masih sering dikunjungi warga yang ingin mendoakannya.