Tugas Laporan

30 January 2026

Awal bulan akhirnya tiba. Hari yang sejak seminggu terakhir diam-diam membuat Arema gugup sekaligus berdebar.

Hari ini, statusnya resmi, bukan lagi belajar bukan lagi menyesuaikan diri. Mulai hari ini, ia adalah sekretaris pribadi Jordi Wijaya, CEO Grup Wijaya yang namanya begitu disegani di kota itu.

Pagi itu, Arema datang lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan kemeja kantor berwarna krem muda yang dibelikan Jordi beberapa hari lalu, dipadukan dengan rok hitam selutut.

Rambutnya ia ikat rapi, wajahnya polos tanpa rias berlebihan. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terlihat bersih dan profesional.

Begitu sampai di ruangannya, ruangan kecil yang berdampingan langsung dengan ruang kerja Jordi, Arema menarik napas panjang.

"Mulai hari ini, aku harus benar-benar bisa," batinnya, sambil menyalakan laptop.

Di meja kerjanya sudah tertera agenda, laporan keuangan ringkas divisi pemasaran, notulen rapat minggu lalu, dan rekap jadwal pertemuan Jordi untuk dua minggu ke depan.

Pekerjaan yang cukup berat untuk hari pertama, tapi Arema tak ingin mengeluh. Jarinya mulai menari di atas keyboard.

Ia membaca dokumen satu per satu dengan teliti, memastikan tidak ada angka yang keliru.

Sesekali keningnya berkerut saat menemukan data yang janggal, lalu ia mencocokkannya dengan file lain.

Waktu berjalan tanpa terasa. Namun, Arema tidak tahu, sejak ia duduk dan mulai bekerja, sepasang mata sudah mengamatinya dari kejauhan.

Dari balik sekat kaca ruang bendahara, Sisca berdiri dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Tatapannya tajam, penuh rasa tidak suka.

Matanya mengikuti setiap gerak Arema, dari cara ia duduk, mengetik, bahkan saat sesekali tersenyum kecil karena merasa puas dengan pekerjaannya.

"Baru juga masuk, sudah duduk manis di sebelah ruang Pak Jordi," batin Sisca penuh dengki. "Awas kamu, Rema. Jangan pikir semuanya bakal semulus itu."

Sisca berbalik dengan langkah kesal, hak sepatunya berbunyi nyaring di lantai marmer. Menjelang siang, Arema akhirnya menyandarkan punggung ke kursi.

Ia menatap layar laptop yang menampilkan laporan hampir selesai. Tinggal pengecekan terakhir sebelum ia simpan dan cetak.

"Alhamdulillah," gumamnya pelan.

Jam di sudut layar menunjukkan pukul dua belas tepat. Belum sempat Arema menutup laptop, pintu ruangannya terbuka perlahan.

Jordi berdiri di sana, mengenakan jas abu-abu dengan kemeja putih. Wajahnya terlihat santai, tapi sorot matanya fokus.

"Kamu sudah makan?" tanya Jordi.

Arema spontan berdiri. "Belum, Pak."

"Kalau begitu, ayo makan siang bareng," ucap Jordi ringan.

Langkah Arema terhenti. Ia menggigit bibirnya ragu. "Maaf, Pak, saya makan sendiri saja. Sepertinya kurang pantas kalau makan bareng atasan. Nanti jadi bahan omongan."

Jordi mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. "Kamu sekarang sekretaris pribadi saya, Rema. Bukan orang asing. Lagipula, ini urusan makan siang, bukan rapat direksi."

"Tapi ...."

"Ayo," potong Jordi tegas tapi tidak kasar. "Saya yang ngajak."

Arema terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Baik, Pak."

Mereka pun keluar bersama. Sebagian karyawan yang melihat hanya bisa melirik sekilas, sebagian lain berbisik pelan.

Namun, Arema berusaha menenangkan diri, meyakinkan dirinya bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa pun.

Sementara itu .…

Begitu suasana kantor mulai sepi karena jam makan siang, Sisca melangkah pelan menuju ruang Arema.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang memperhatikan. Pintu ruangan Arema tidak terkunci. Senyum tipis muncul di sudut bibir Sisca.

"Kesempatan," gumamnya.

Ia masuk, menutup pintu perlahan, lalu berjalan ke meja Arema. Laptop masih menyala. File laporan terbuka jelas di layar, rapi, terstruktur, hampir sempurna.

Sisca mendengus. "Pantes Pak Jordi kelihatan puas."

Tangannya bergerak cepat. Ia menekan beberapa tombol, menghapus paragraf demi paragraf. Angka-angka ia acak, tabel ia rusak.

Lalu, tanpa ragu, ia menekan delete dan mengosongkan folder dokumen. Tak cukup sampai di situ. Sisca membuka recycle bin dan mengosongkannya.

"Kalau mau naik cepat, jangan injak wilayahku," ucapnya dingin.

Ia menutup laptop Arema, merapikan meja seperti semula, lalu keluar ruangan dengan wajah tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Di sebuah restoran tidak jauh dari kantor, Jordi dan Arema duduk berhadapan. Arema terlihat kikuk, sementara Jordi tampak santai memesan makanan.

"Rema," ujar Jordi sambil menyesap air mineral, "kamu nggak usah terlalu tegang. Saya nggak makan orang."

Arema tersenyum canggung. "Iya, Pak. Saya cuma belum terbiasa."

Jordi mengangguk. "Kerja kamu sejauh ini bagus. Saya lihat kamu teliti."

Arema sedikit terkejut. "Bapak sudah lihat laporannya?"

"Belum detail. Tapi saya yakin," kata Jordi.

"Ngomong-ngomong, laporan itu paling lambat dikumpulkan jam tiga nanti, ya."

Arema langsung mengangguk mantap. "Sudah, Pak. Tenang saja."

Jordi tersenyum puas. Tanpa mereka sadari, waktu terus berjalan. Jam makan siang hampir habis.

Setelah membayar, mereka kembali ke kantor. Begitu sampai, Arema langsung menuju ruangannya.

Hatinya ringan, langkahnya cepat. Ia sudah membayangkan tinggal membuka laptop, mencetak laporan, lalu menyerahkannya ke Jordi tepat waktu.

Namun saat ia duduk dan menyalakan layar, senyum itu lenyap.

Arema menatap layar laptopnya kosong. File laporan yang tadi jelas ada, lenyap tanpa jejak. Jantungnya berdegup kencang.

"T-tidak mungkin," gumamnya lirih.

Tangannya gemetar saat ia membuka folder satu per satu. Tidak ada. Ia membuka recycle bin kosong.

Wajah Arema memucat. "Ya Allah, laporanku."

Dan saat itulah, ketegangan menggantung, menunggu ledakan berikutnya.

**

Jam di dinding kantor berdetak pelan namun terasa menghantam jantung Arema. Pukul tiga tepat. Pintu ruang Jordi terbuka. Ia berdiri di ambang pintu, menatap ke arah ruangan kerja para staf.

"Semua laporan yang saya minta, tolong dikumpulkan sekarang," ucapnya tegas namun tetap tenang.

Beberapa karyawan langsung berdiri membawa map dan dokumen cetak. Suara langkah kaki dan kertas bergesekan memenuhi ruangan yang tadi hening.

Di sudut lain, Sisca ikut berdiri sambil merapikan map tipis di tangannya. Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil, senyum yang bukan ramah, melainkan penuh kemenangan.

Tatapannya sekilas melirik ke arah ruang Arema. Sementara itu, di kursinya, Arema terasa seperti kehilangan napas.

Tangannya dingin, padahal pelipisnya basah oleh keringat. Kursor di layar laptop masih berkedip di folder kosong yang seolah mengejeknya.

"Tenang, mungkin tadi salah simpan," gumamnya panik.

Ia membuka folder lain. Tidak ada. Mencari lewat kolom pencarian. Tetap tidak ada. Dadanya semakin sesak.

Belum sempat ia berdiri, suara langkah mendekat. Jordi muncul di depan pintu ruangannya.

"Arema," panggilnya.

Arema refleks berdiri terlalu cepat sampai kursinya sedikit bergeser mundur. "I-iya, Pak."

"Mana laporan kamu?" tanya Jordi lugas.

Dunia seakan mengecil di sekitar Arema. Tenggorokannya kering. Lidahnya terasa kelu.

"Itu … saya … tadi sudah selesai, Pak, tapi ...." suaranya mengecil.

"Tapi apa?" Nada suara Jordi masih datar, belum marah, justru itu yang membuat Arema makin tertekan.