Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Saat saya kembali dari makan siang, filenya hilang, Pak. Saya tidak tahu kenapa," ucapnya lirih, nyaris berbisik.
Dari luar ruangan, Sisca berdiri pura-pura menunggu giliran menyerahkan berkas. Namun telinganya jelas mengarah ke dalam, dan senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
Jordi menatap Arema beberapa detik. Tatapannya tajam, mencoba membaca kejujuran di wajah gadis itu.
"Hilang?" ulangnya pelan.
Arema mengangguk cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "Saya tidak bohong, Pak. Sebelum makan siang semuanya masih ada."
Suasana di ruangan itu mendadak terasa berat. Dan untuk pertama kalinya sejak bekerja di sana, Arema benar-benar merasa posisinya di ujung tanduk.
"Alah, bohong, Pak. Pasti dia tidak bisa ngerjain, makannya banyak alasan." Sisca menyeletuk. Suaranya memotong suasana seperti pisau tipis yang tajam. Nadanya terdengar ringan, tapi jelas menusuk.
Beberapa karyawan yang masih berdiri di sekitar ruangan langsung saling pandang dan berbisik satu sama lain. Arema menunduk. Dadanya terasa sesak.
Jordi perlahan menoleh ke arah Sisca. Tatapannya datar, tapi justru itu yang membuat Sisca sedikit salah tingkah.
Namun, perempuan itu cepat menutupinya dengan senyum tipis seolah tak bersalah.
Jordi kembali menatap Arema. "Ya sudah," katanya tenang, bahkan terlalu tenang. "Kamu nanti lembur, ya, buat ulang. Jangan pulang sebelum laporan itu selesai."
Kata-kata itu seperti palu yang memukul kepala Arema. "I-iya, Pak, saya akan buat ulang laporan itu," jawabnya pelan.
Di luar ruangan, Sisca memutar tubuhnya, berjalan kembali ke mejanya sambil menyeringai kecil. "Mampus kamu, Rema. Baru juga masuk, udah cari perhatian bos. Sekarang, rasain akibatnya," batinnya.
Satu per satu karyawan mulai pulang. Suara kursi digeser, tas diselempangkan, dan ucapan "duluan ya," terdengar bersahut-sahutan.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Lampu ruangan mulai terasa lebih terang karena cahaya matahari di luar jendela sudah meredup.
Suasana kantor yang tadi ramai kini berubah sunyi. Hanya terdengar dengung AC dan ketikan pelan dari jari Arema yang gemetar di atas keyboard.
Layar laptopnya kosong. File yang tadi ia cari-cari tetap tidak ada. Air matanya akhirnya jatuh juga.
Satu tetes.
Dua tetes.
Arema mengusapnya cepat. "Gak boleh nangis, kerja, Rema, kerja," gumamnya pada diri sendiri.
Ia mulai membuka file baru. Mencoba mengingat data yang tadi sudah ia susun. Angka-angka penjualan. Jadwal meeting. Rincian proposal kerja sama.
Tapi pikirannya kacau. Setiap kali mencoba fokus, wajah Sisca terbayang dengan senyum sinisnya. "Kenapa sih dia benci banget sama aku," batinnya.
Tok ... tok ... tok ....
Suara pintu diketuk pelan.
Arema refleks menoleh. Jantungnya berdebar, mengira mungkin satpam atau OB yang mau menutup ruangan.
Tapi yang berdiri di sana adalah Jordi. Ia masuk tanpa suara, menutup pintu perlahan di belakangnya.
"Kamu belum pulang?" tanyanya, meski jelas jawabannya ada di depan mata.
Arema buru-buru berdiri. "Belum, Pak. Saya lagi mulai dari awal lagi buat laporannya."
Jordi menatap layar laptopnya sekilas. Kosong, hanya ada beberapa baris awal yang baru diketik.
"Kamu tidak usah buat ulang," katanya tiba-tiba.
Arema mengernyit. "Lho, maksud Bapak?"
Jordi mendekat, lalu menarik kursi di samping meja Arema dan duduk dengan santai. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah flash disk kecil berwarna hitam.
"Saya sudah tahu dari lama, ada yang berbuat jahil di sini," ucapnya pelan.
Deg.
Jantung Arema seperti berhenti sesaat. Jordi menyambungkan flash disk itu ke laptop Arema. Beberapa detik kemudian, ia membuka sebuah folder.
Dan di sana, file laporan yang tadi hilang, kini lengkap, utuh. Bahkan dengan waktu penyimpanan terakhir yang sama seperti sebelum makan siang.
Mata Arema membelalak. "Eh, i-itu laporan saya, Pak."
"Iya," jawab Jordi santai. "Laptop kantor ini otomatis backup ke server tiap satu jam. Dan saya punya akses cadangannya."
Arema menutup mulutnya sendiri, menahan tangis yang hampir pecah lagi, kali ini bukan karena panik, tapi karena lega yang luar biasa.
"Ja-jadi … Bapak sudah tahu, ya?" Suaranya bergetar.
Jordi tersenyum tipis. "Benar, dan tadi saya pura-pura tidak tahu."
"Hah?" Arema semakin bingung.
"Kalau saya langsung bela kamu di depan semua orang, pelakunya pasti lebih hati-hati ke depannya. Saya butuh dia merasa aman dulu, supaya bikin kesalahan yang lebih besar."
Arema terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka.
"Sisca dari dulu memang tidak suka karyawan baru yang dekat dengan saya," lanjut Jordi. "Kamu bukan yang pertama dia coba ganggu. Tapi kamu yang pertama saya lindungi langsung."
Arema menatapnya tak percaya. "Memangnya kenapa, Pak?"
Jordi menatap lurus ke depan. "Karena saya tahu kamu itu jujur. Dan kamu juga sudah kerja keras. Orang seperti kamu tidak boleh dihancurkan cuma karena iri hati."
Kalimat itu menghantam hati Arema lebih dalam daripada makian apa pun dari Sisca. Air matanya jatuh lagi, kali ini tak ia tahan.
"Maaf, Pak, saya malah merepotkan."
"Kamu tidak merepotkan," potong Jordi lembut. "Yang salah itu yang sengaja menjatuhkan orang lain."
Ia menunjuk layar. "Sekarang kamu tinggal print laporan ini dan kasih ke saya besok pagi. Anggap saja hari ini kamu sudah kerja maksimal."
Arema mengangguk cepat. "Baik, Pak. Terima kasih banyak sudah membantu saya."
Jordi berdiri, merapikan jasnya. "Oh ya," katanya sebelum melangkah ke pintu. "Jangan tunjukkan kalau kamu tahu saya sudah tahu. Bersikap biasa saja ke Sisca."
Arema mengangguk lagi. "Iya, Pak, saya janji."
"Ya sudah, saya tinggal dulu," ucap Jordi pelan, lalu keluar ruangan.
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi. Arema menatap layar laptopnya lama sekali. Laporan itu benar-benar ada. Bukan mimpi.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Alhamdulillah," bisiknya.
Tangannya mulai bergerak lebih mantap. Ia membuka file, memeriksa ulang isinya, memastikan tidak ada yang kurang.
Setiap angka kini terlihat jelas. Setiap huruf terasa seperti bukti bahwa ia tidak gagal. Printer di sudut ruangan mulai berbunyi.
Lembar demi lembar laporan keluar. Di sela suara mesin printer, pikiran Arema melayang.
"Ternyata Pak Jordi selama ini memperhatikan. Aku gak sendirian di sini."
Untuk pertama kalinya sejak masuk kantor itu, ia merasa benar-benar punya tempat.
Tapi di sisi lain, ada rasa ngeri yang perlahan muncul.
Kalau Jordi sedang mengumpulkan bukti, berarti Sisca sedang berjalan menuju kejatuhannya sendiri. Dan entah kenapa, Arema merasa badai yang lebih besar akan segera datang.
Ia menatap pintu ruangan yang kini tertutup rapat. Di balik ketenangan malam kantor yang sepi, sedang berlangsung permainan diam-diam yang bisa menghancurkan karier seseorang.
Dan tanpa ia sadari, Arema kini sudah berada tepat di tengah papan catur itu.