Malam ini, Jakarta tidak lagi terlihat cantik dengan lampu-lampu kotanya. Bagiku, kerlip lampu itu tampak seperti mata-mata Hartono yang mengintai dari setiap sudut gedung pencakar langit. Setelah kemenangan di pengadilan tadi siang, aku tidak bisa benar-benar tenang. Aku duduk di sofa hotel, memandangi draf naskah bab terakhir serial dramaku yang kini terasa lebih seperti catatan harian daripada sekadar cerita fiktif.
Alif duduk di depanku dengan laptop yang masih menyala. Wajahnya terlihat sangat serius, lebih serius dari biasanya.
"Lisna, aku sudah mendapatkan data yang kita butuhkan," ujar Alif pelan. Ia memutar layar laptopnya ke arahku. "Ini adalah dokumen dari panti asuhan tempat kamu dititipkan sesaat sebelum Bapak Sugeng mengambilmu. Dan ini..." ia menunjuk sebuah piringan hitam kecil, "rekaman percakapan mendiang ibumu, Siti Aminah, dengan pengacara Hartono tiga puluh tahun lalu."
Aku menyentuh layar laptop itu dengan ujung jari yang dingin. "Ibuku... dia mencoba berjuang?"
"Dia mencoba meminta pertanggungjawaban, tapi dia dibungkam dengan ancaman keselamatanmu, Lisna. Hartono menggunakan kekuasaannya untuk membuat ibumu terlihat seperti wanita yang tidak stabil secara mental. Itu sebabnya ibumu terpaksa menitipkanmu pada Pak Sugeng dan kembali ke Arab Saudi sebagai TKW untuk membiayai hidupmu dari jauh, tanpa berani menemuimu karena takut anak buah Hartono melacak keberadaannya."
Air mataku jatuh tanpa bisa kubendung. Selama ini aku mengira ibuku meninggalkanku karena tidak sayang. Ternyata, dia menjauh justru untuk melindungiku dari cengkeraman pria yang menyebut dirinya ayahku.
"Mas... aku ingin bicara," kataku dengan suara yang serak namun penuh tekad. "Aku tidak ingin menunggu serial ini tayang untuk membongkar semuanya. Aku ingin melakukannya sekarang, secara langsung."
Alif menatapku lama, mencoba mencari keraguan di mataku. Saat dia tidak menemukannya, dia mengangguk. "Salah satu stasiun televisi berita terbesar sudah memintamu untuk wawancara eksklusif besok malam. Mereka menjamin keamananmu."
Keesokan harinya, suasana di studio televisi begitu tegang. Aku mengenakan gaun berwarna gading yang sangat simpel, rambut hitamku yang panjang aku biarkan terurai alami—sebuah penghormatan untuk ibuku yang dulu tidak pernah memiliki kesempatan untuk tampil anggun seperti ini.
Di ruang tunggu, ponselku bergetar hebat. Sebuah nomor yang tidak kukenal muncul.
"Halo?"
"Lisna, ini ayahmu." Suara Hartono terdengar sangat dingin di seberang sana. "Aku memperingatkanmu untuk terakhir kalinya. Batalkan wawancara itu. Jika kamu melangkah ke studio itu, aku tidak akan menjamin keselamatan orang-orang di sekitarmu. Termasuk Pak Sugeng di desa."
Darahku mendidih. "Tuan Hartono, Anda sudah mengambil masa kecil saya, Anda sudah mengambil kebahagiaan ibu saya, dan Anda baru saja mencoba mengambil anak-anak saya. Jika Anda menyentuh Bapak, saya pastikan Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda di balik jeruji besi, bukan di kursi menteri."
"Kamu pikir kamu siapa?!" bentaknya.
"Saya adalah hasil dari dosa yang Anda buang, dan saya adalah orang yang akan mengakhiri karier Anda. Selamat menonton, Tuan."
Aku mematikan sambungan telepon itu. Tanganku gemetar, tapi hatiku sekeras baja. Alif datang dan menggenggam tanganku. "Semua sudah siap. Kita sudah menempatkan perlindungan di rumah Bapak di desa. Kamu aman."
Aku melangkah ke atas panggung studio yang gelap. Lampu sorot satu per satu menyala. Pembawa acara yang sangat terkenal, Mbak Najwa, sudah menungguku di sana dengan tatapan yang penuh empati sekaligus rasa ingin tahu.
"Malam ini, kita akan mendengarkan kisah dari seorang wanita yang sedang menjadi buah bibir nasional," ujar Mbak Najwa ke arah kamera. "Lisna, penulis Sisa Aroma Dapur. Banyak yang mengira ceritanya hanyalah tentang suami pecandu judi, namun malam ini, Lisna membawa sebuah rahasia yang jauh lebih besar."
Wawancara dimulai dengan tenang. Aku menceritakan tentang Aris, tentang bagaimana judi slot telah menghancurkan martabat pria yang kucintai. Namun, di pertengahan acara, Mbak Najwa memberikan pertanyaan kunci.
"Banyak yang bertanya, dari mana kekuatanmu berasal, Lisna? Dan siapa sebenarnya sosok 'Penguasa' yang sering kamu singgung dalam tulisanmu sebagai tokoh antagonis sejati?"
Aku menarik napas panjang. Aku menatap lurus ke kamera, membayangkan Hartono sedang menonton dengan wajah pucat di ruang kerjanya yang mewah.
"Sosok itu nyata," kataku tegas. "Dia bukan sekadar karakter dalam buku saya. Dia adalah seorang pria yang saat ini sedang mengincar posisi penting di negeri ini. Pria yang tiga puluh tahun lalu menghancurkan hidup seorang tenaga kerja wanita bernama Siti Aminah. Pria yang namanya adalah... Hartono."
Studio mendadak senyap. Aku bisa melihat kru di balik layar saling berpandangan dengan wajah tegang. Nama itu terlalu besar untuk disebut secara sembarangan di televisi nasional.
"Saya punya bukti autentik," lanjutku sambil mengeluarkan dokumen-dokumen dan rekaman suara dari tas kecilku. "Saya punya hasil tes DNA yang saya lakukan secara diam-diam melalui sampel yang ditinggalkan orang suruhannya kemarin. Saya punya surat pernyataan dari panti asuhan. Saya tidak sedang mencari harta, karena saya sudah punya hasil keringat saya sendiri. Saya hanya mencari pengakuan atas rasa sakit ibu saya."
Malam itu, jagat maya seakan meledak. Nama Hartono langsung menjadi trending topic nomor satu, bersaing dengan namaku. Seluruh Indonesia tercengang. Seorang konglomerat yang dikenal sebagai dermawan religius ternyata memiliki masa lalu yang sangat kelam dan sedang mencoba menindas anak kandungnya sendiri.
Sementara itu, di sebuah hotel murah di pinggiran Jakarta, Aris menonton siaran itu dengan mulut menganga. Dia baru saja menyadari bahwa dia telah diperalat oleh orang yang sangat berbahaya.
"Dia... dia anak Hartono?" gumam Aris dengan tubuh yang gemetar. "Kalau Hartono jatuh, aku juga akan masuk penjara karena uang pemerasan itu!"
Aris merasa dunianya runtuh. Dia pikir dia sedang mengejar emas dengan mengikuti perintah Hartono, ternyata dia sedang menggali kuburannya sendiri. Tiba-tiba, pintu hotelnya didobrak. Dua orang pria berbadan tegap—bukan polisi, tapi orang suruhan Hartono—masuk dengan wajah beringas.
"Tuan Hartono tidak suka dengan kegagalanmu, Aris," ucap salah satu dari mereka sambil mengeluarkan seutas tali.
Aris mencoba lari ke arah jendela, namun terlambat. Dia menyadari sekarang, bahwa mengemis pada iblis adalah awal dari akhir segalanya.
Di sisi lain, di dalam mobil setelah siaran selesai, aku menyandarkan kepalaku di bahu Alif. Rasanya seluruh energiku sudah terkuras habis.
"Kamu sudah melakukannya, Lisna. Kamu sudah memerdekakan ibumu," bisik Alif sambil mencium puncak kepalaku dengan lembut.
"Apakah ini sudah berakhir, Mas?"
"Belum. Hartono pasti akan menyerang balik secara hukum atau fisik. Tapi besok pagi, dia harus memberikan penjelasan pada publik dan partai politiknya. Dia sudah hancur, Lisna. Dia tinggal menunggu waktu untuk jatuh."
Tiba-tiba, ponsel Alif berbunyi. Dia membaca pesan itu dengan wajah yang berubah drastis.
"Ada apa, Mas?" tanyaku cemas.
"Aris... dia ditemukan tidak bernyawa di hotelnya. Mereka membuatnya seolah-olah dia mengakhiri hidupnya karena depresi setelah sidang kemarin," ujar Alif pelan.
Aku terpaku. Meskipun aku sangat membenci Aris, aku tidak pernah membayangkan dia akan berakhir seperti itu. Aku tahu ini bukan bunuh diri. Ini adalah cara Hartono menghilangkan saksi kunci.
"Kita harus lebih cepat, Mas," kataku dengan tatapan yang kini dipenuhi api amarah. "Sebelum dia menyentuh orang lain, kita harus memastikan Hartono tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi."
Malam itu, aku menyadari bahwa kekayaan dan ketenaran baruku bukanlah akhir. Ini adalah medan perang yang sesungguhnya. Dan aku, Lisna, sang penjual kue yang pernah ditampar dan dihina, kini sedang memegang kendali atas kehancuran seorang raksasa.