Suasana studio televisi setelah siaran langsung itu masih terasa panas. Aku bisa merasakan tatapan mata semua orang tertuju padaku, ada yang kagum, ada yang ragu, dan ada yang jelas-jenas menyimpan rasa ingin tahu yang besar. Alif segera merangkul bahuku, membawaku keluar lewat pintu belakang untuk menghindari kerumunan wartawan yang sudah mulai mengendus skandal besar ini.
"Kamu berani sekali, Lisna," bisik Alif saat kami sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah malam Jakarta. "Menyebut nama Hartono di televisi nasional itu seperti melempar granat ke dalam kolam yang tenang. Airnya akan bergejolak sangat lama."
Aku menyandarkan kepala di kursi mobil yang empuk. "Aku hanya lelah bersembunyi, Mas. Selama ini aku merasa seperti pencuri di hidupku sendiri. Sekarang, biarkan dia yang merasa gelisah."
Ponselku terus bergetar. Bukan hanya notifikasi aplikasi live streaming-ku yang meledak, tapi juga pesan-pesan dari nomor tidak dikenal. Salah satunya membuat jantungku berdegup kencang.
“Lisna, ini Mas Aris. Aku di Jakarta, aku sakit, Lis. Aku tidak punya uang untuk makan. Tolong temui aku sebentar saja di taman dekat hotelmu. Aku tidak akan macam-macam, aku bersumpah.”
Aku menatap layar itu dengan rasa mual. Aris selalu tahu kapan harus berperan sebagai korban. Setelah kemarin dia berteriak-teriak di hotel bak pahlawan kesiangan, sekarang dia kembali menjadi pengemis cinta yang menyedihkan.
"Ada apa?" tanya Alif menyadari perubahan wajahku.
"Aris. Dia mulai menggunakan taktik lamanya. Berpura-pura sakit dan kelaparan," kataku sambil menyerahkan ponselku pada Alif.
Alif membacanya dengan dahi berkerut. "Jangan ditemui. Ini jebakan untuk memancing simpatimu agar dia punya bahan untuk memerasmu lagi."
"Aku tahu, Mas. Tapi kalau aku tidak menyelesaikannya secara tatap muka, dia akan terus menghantui setiap langkahku di Jakarta. Aku ingin dia melihat dengan matanya sendiri bahwa aku sudah tidak bisa lagi disentuh oleh air mata buayanya."
Keesokan harinya, dengan pengawalan dari tim keamanan Alif yang berjaga dari jarak jauh, aku memutuskan menemui Aris di sebuah taman terbuka yang cukup ramai. Aku ingin dia melihat perubahanku di bawah sinar matahari yang terang.
Aku datang dengan pakaian yang rapi, celana kain berwarna putih dan atasan sutra berwarna biru muda. Rambutku aku biarkan terurai, berkilau sehat terkena cahaya matahari. Saat aku melihat sosok pria duduk di bangku taman dengan baju yang kusut dan wajah kusam, aku hampir tidak percaya bahwa pria inilah yang dulu sempat aku puja.
Aris mendongak. Matanya yang merah menatapku dengan nanar. Dia tampak kurus, jauh berbeda dengan Aris yang gagah saat pertama kali melamarku dulu.
"Lisna..." suaranya serak. Dia mencoba berdiri, namun kakinya tampak lemas. "Kamu... kamu cantik sekali. Benar-benar seperti orang kaya sekarang."
Aku berdiri dua meter darinya, tidak ingin terlalu dekat dengan bau rokok dan kegagalan yang menguar dari tubuhnya. "Mau bicara apa, Mas? Aku tidak punya banyak waktu. Aku ada janji dengan produser film jam satu nanti."
Aris menunduk, meremas jemarinya yang kasar. "Lis, aku salah. Aku khilaf. Uang yang diberikan orang-orang itu... aku pakai buat judi lagi dan habis semua. Sekarang aku diusir dari kontrakan di desa. Aku menyusulmu ke sini berharap kamu masih punya sedikit rasa kasihan. Ingat anak-anak, Lis. Apa kamu tega melihat ayah mereka jadi gelandangan di Jakarta?"
Aku menarik napas panjang, menatapnya dengan rasa hiba yang sudah mati. "Anak-anak sudah makan enak sekarang, Mas. Mereka sekolah di tempat yang bagus. Mereka tidak merindukan ayah yang mencuri uang susu mereka. Jadi, jangan bawa-bawa nama mereka untuk menutupi kesalahanmu."
"Aku akan berubah, Lis! Aku janji!" Aris mencoba meraih tanganku, namun aku mundur dengan cepat. "Kasih aku modal sedikit saja. Aku mau jualan lagi seperti dulu. Aku tidak akan menyentuh slot lagi, aku bersumpah demi nyawaku!"
"Sumpahmu sudah basi, Mas," jawabku dingin. "Dulu aku berjualan kue sampai jariku melepuh, dan kamu habiskan hasilnya dalam satu malam. Sekarang, saat aku sudah punya harta dari hasil pikiranku sendiri, kamu datang meminta modal? Di mana harga dirimu sebagai laki-laki?"
Aris jatuh berlutut di atas rumput taman. Beberapa orang yang lewat mulai menoleh. Dia tidak malu, atau mungkin rasa malunya sudah habis dimakan kekalahan. "Tolong, Lis... sedikit saja. Sepuluh juta saja buat aku balik ke Pekanbaru dan mulai hidup baru."
"Aku akan memberimu ongkos tiket bus," kataku sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari tas dan meletakkannya di bangku taman. "Hanya itu. Lebih dari itu, kamu harus mencarinya sendiri. Dan jangan pernah hubungi aku lagi, atau aku akan melaporkanmu atas dasar penguntitan."
Aku berbalik pergi, mengabaikan panggilannya yang merintih di belakangku. Rasanya sangat lega. Melihatnya mengemis seperti itu membuatku sadar bahwa kekuatannya dulu hanyalah karena aku yang membiarkan diriku lemah.
Namun, drama hari itu belum berakhir. Saat aku kembali ke hotel, seorang pria berpakaian sangat rapi menungguku di lobi. Dia bukan Aris, dan dia bukan orang suruhan sembarangan.
"Ibu Lisna? Saya pengacara Tuan Hartono," ujarnya dengan sopan namun sangat formal. "Tuan Hartono ingin mengundang Anda makan malam di kediamannya malam ini. Beliau berkata, ini bukan soal bisnis atau politik, tapi soal... keluarga."
Aku terdiam sejenak. Alif, yang baru saja muncul di belakangku, menatap pengacara itu dengan penuh selidik.
"Keluarga?" ejek Alif. "Tuan Hartono baru ingat punya keluarga setelah namanya diseret di televisi?"
"Tuan Hartono hanya ingin berbicara dari hati ke hati," lanjut pengacara itu, tetap tenang. "Beliau tahu Ibu Lisna sedang menulis skenario tentang 'Ayah yang Hilang'. Beliau rasa, Ibu perlu mendengar versi cerita dari sisi beliau agar naskah Ibu lebih... akurat."
Ini adalah sebuah tantangan. Sebuah taktik psikologis. Hartono tahu aku seorang penulis, dia mencoba masuk lewat minat terbesarku. Dia tidak menyerangku dengan kekerasan, tapi dengan menawarkan "kebenaran".
"Aku akan datang," kataku tegas, mengabaikan tatapan keberatan dari Alif.
"Lisna, itu berbahaya," bisik Alif setelah pengacara itu pergi.
"Dia tidak akan menyakitiku di rumahnya sendiri, Mas. Dia terlalu peduli dengan citra. Aku harus tahu apa yang dia rencanakan. Jika aku ingin menulis tentang dia, aku harus melihat langsung kemewahan yang dia bangun di atas penderitaan ibuku."
Malam itu, aku melangkah masuk ke rumah besar di kawasan Menteng. Rumah itu seperti istana. Pilar-pilar tinggi, lantai marmer yang mengkilap, dan pelayan yang berbaris rapi. Sangat jauh berbeda dengan rumah kayu Bapak Sugeng di desa.
Hartono sudah menungguku di meja makan yang panjang. Di sana juga ada seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun namun memiliki sorot mata yang dingin—istri sah Hartono.
"Selamat datang, Lisna," suara Hartono berwibawa, menggema di ruangan luas itu. "Duduklah. Kenalkan, ini istriku, Maria."
Wanita bernama Maria itu menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala. Tidak ada keramahan di wajahnya. "Jadi ini wanita yang sedang membuat keributan itu? Kamu cukup cantik, tapi sayang, kamu tidak tahu tempatmu."
Aku duduk dengan tenang, tidak merasa terintimidasi. "Tempat saya adalah di mana pun saya ingin berada, Nyonya. Termasuk di sini."
Hartono tersenyum tipis. "Sudahlah, Maria. Lisna datang sebagai tamu. Lisna, aku ingin menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Alif atau penerbitmu. Aku ingin mengakui statusmu sebagai anak secara hukum, memberikanmu nama belakangku, dan memberikanmu hak waris yang sama dengan anak-anakku yang lain."
Aku tertegun. Tawaran ini sangat besar. Menjadi anak seorang Hartono berarti mendapatkan kekuasaan tak terbatas.
"Tapi dengan satu syarat," sambung Hartono, matanya menyipit. "Kamu harus berhenti menjadi penulis. Kamu harus berhenti bercerita tentang masa lalu. Kamu harus menjadi putri yang patuh dan menjaga nama baik keluarga ini. Bagaimana? Uang milyaran dan status sosial tinggi, atau tetap menjadi penulis 'miskin' yang dikejar-kejar mantan suami penjudi?"
Aku menatap piring porselen mahal di depanku, lalu menatap Hartono. Inilah puncaknya. Hartono tidak ingin menghancurkanku dengan senjata, dia ingin membeliku dengan emas. Dia ingin mematikan suaraku dengan cara menjadikanku bagian dari mereka.
"Tuan Hartono," kataku sambil berdiri. Aku bahkan tidak menyentuh makanan mewah yang disajikan. "Uang Anda memang banyak, tapi Anda lupa satu hal. Saya sudah pernah menjadi miskin, dan saya bisa bertahan. Tapi saya tidak akan pernah bisa bertahan hidup sebagai seorang wanita yang tidak punya suara. Simpan saja hak waris Anda. Saya lebih bangga menjadi Lisna si penulis, daripada menjadi putri Hartono yang dibungkam."
Aku melangkah pergi dari meja makan itu, meninggalkan keheningan yang mencekam. Saat aku berjalan menuju pintu keluar, Maria mengejarku.
"Kamu pikir kamu bisa menang?" desisnya di telingaku. "Aku sudah menyingkirkan banyak wanita seperti ibumu. Kamu tidak akan bertahan lama di Jakarta."
Aku berhenti, menatap wanita itu dengan tenang. "Ibuku adalah wanita yang lembut, Nyonya. Tapi aku? Aku dididik oleh kemiskinan dan dikuatkan oleh pengkhianatan. Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan lebih lama di Jakarta ini."