Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden hotel terasa lebih tajam dari biasanya. Aku terbangun dengan perasaan yang campur aduk setelah jamuan makan malam yang penuh intimidasi di rumah Hartono semalam. Tawaran hak waris dan pengakuan nama besar yang ia lemparkan masih terngiang di telingaku, namun kata-kata Maria, istri sahnya, justru lebih membekas. Ancaman halus dari wanita itu bukan sesuatu yang bisa kuanggap remeh. Ia adalah penguasa di lingkaran sosialita Jakarta, tempat di mana rumor bisa membunuh karakter seseorang lebih cepat daripada peluru.
Alif datang pagi-pagi sekali membawa beberapa berkas dan secangkir kopi hitam. Ia tampak lebih waspada hari ini. "Lisna, Maria tidak main-main. Pagi ini, beberapa media gaya hidup mulai mempertanyakan kredibilitasmu sebagai penulis. Mereka menyebutmu sebagai wanita yang haus perhatian dan mencoba memeras tokoh publik demi kepentingan royalti buku."
Aku menyesap kopi pahit itu, merasakan kehangatannya mengalir di tenggorokanku. "Sudah aku duga. Dia akan menyerang sisi kewanitaanku dan integritasku sebagai penulis. Itu cara yang sangat klasik bagi orang yang merasa posisinya terancam."
"Tapi ada satu hal lagi," Alif melanjutkan sambil menyodorkan sebuah undangan fisik berwarna emas. "Maria mengundangmu ke acara arisan tahunannya besok siang di sebuah hotel butik. Dia menyebutnya sebagai ajang perkenalan keluarga. Jika kamu tidak datang, mereka akan punya alasan untuk menyebutmu sebagai pengecut yang hanya berani bicara di balik kamera."
Aku memandangi kartu undangan mewah itu. Ini adalah sebuah jebakan yang dipoles dengan emas. Masuk ke sana berarti masuk ke sarang singa betina yang siap mencabik-cabikku dengan sindiran halus dan tatapan merendahkan.
"Aku akan datang, Mas," kataku mantap. "Jika aku ingin menulis tentang dunia mereka, aku harus berada di tengah-tengah mereka. Aku tidak akan membiarkan Maria merasa bahwa dia memiliki kendali penuh atas harga diriku."
Hari yang ditentukan pun tiba. Aku memilih untuk tidak tampil terlalu berlebihan. Aku mengenakan gaun midi berbahan sutra berwarna hijau zamrud yang sangat pas di tubuhku, dipadukan dengan tas tangan mungil dan sepatu hak tinggi berwarna emas pudar. Aku sengaja membiarkan rambut hitamku tergerai dengan sedikit gelombang di ujungnya, memamerkan kesehatan rambut yang selama sepuluh tahun tertutup oleh kusamnya kehidupan di desa.
Saat aku melangkah masuk ke ruang privat hotel butik tersebut, aroma parfum mahal dan suara tawa yang dibuat-buat langsung menyergap indra penciumanku. Di tengah ruangan, Maria duduk di kursi utama, dikelilingi oleh sekelompok wanita dengan riasan tebal dan perhiasan yang mencolok.
"Ah, tamu istimewa kita sudah datang," suara Maria memecah kebisingan. Ia berdiri dengan anggun, namun matanya menatapku dengan tatapan yang sangat dingin. "Kenalkan semuanya, ini Lisna. Wanita yang sedang viral itu. Ternyata aslinya lebih cantik ya, tidak terlihat seperti penjual kue dari kampung."
Tawa kecil pecah di antara para wanita itu. Itu bukan tawa keramahan, melainkan tawa penghinaan yang terstruktur.
"Silakan duduk, Lisna. Kami sedang membicarakan tentang liburan musim panas di Eropa. Kamu sendiri, biasanya liburan ke mana? Ke pasar subuh?" tanya seorang wanita dengan kalung berlian yang sangat besar di lehernya.
Aku duduk dengan tenang, menjaga punggungku tetap tegak. "Liburan saya selama ini memang hanya sebatas antara dapur dan meja tulis. Tapi di sana, saya belajar satu hal yang mungkin tidak diajarkan di Eropa: bagaimana cara tetap berdiri tegak meski dunia mencoba menekan kita."
Maria tersenyum sinis. "Bicara yang sangat puitis. Tapi di Jakarta, kata-kata saja tidak cukup, Lisna. Kamu masuk ke sini tanpa membawa nama besar Hartono. Kamu tahu apa artinya? Kamu hanyalah orang asing yang sedang mencoba mencicipi kemewahan yang bukan milikmu."
"Saya di sini bukan untuk mencicipi kemewahan Anda, Nyonya Maria," jawabku sambil menatap matanya secara langsung. "Saya di sini untuk memenuhi undangan Anda sebagai tamu. Dan sejauh yang saya tahu, tamu seharusnya dijamu dengan sopan santun, bukan dengan sindiran tentang masa lalu."
Suasana mendadak menjadi kaku. Maria tampaknya tidak menyangka bahwa aku akan membalas setiap ucapannya dengan begitu tenang. Ia kemudian beralih ke topik arisan, memutar bola undian yang berisi uang ratusan juta rupiah. Bagi mereka, uang sebanyak itu hanyalah hiburan sore, sementara bagi orang-orang seperti aku di masa lalu, itu adalah uang nyawa.
Di tengah acara, ponselku bergetar. Sebuah panggilan dari Alif yang segera aku tolak, namun sedetik kemudian masuk sebuah pesan singkat: Aris sedang menuju ke hotelmu. Dia mengamuk di lobi karena tahu kamu sedang bersama para sosialita. Dia berteriak bahwa kamu menghambur-hamburkan uang keluarga untuk pamer.
Jantungku berdegup kencang. Aris benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Dia pasti dimanfaatkan oleh seseorang untuk membuat keributan di depan publik lagi.
Benar saja, beberapa menit kemudian, terdengar suara keributan di depan pintu ruang privat. Aris menerobos masuk sebelum petugas keamanan sempat menahannya sepenuhnya. Penampilannya sangat mengenaskan, bajunya berantakan dan matanya merah liar.
"Lisna! Keluar kamu!" teriak Aris sambil menunjuk ke arahku. "Kamu pakai uang siapa buat arisan mewah begini? Kamu lari dari suami buat jadi wanita seperti mereka? Kamu lupa ya, aku masih suamimu!"
Para sosialita itu memekik ngeri. Beberapa menutupi hidung mereka seolah-olah Aris membawa wabah penyakit ke dalam ruangan yang harum itu. Maria justru tersenyum puas, ia tampak menikmati pertunjukan ini.
"Lisna, sepertinya urusan rumah tanggamu yang berantakan ini belum selesai," ujar Maria dengan nada mengejek yang kental. "Inilah yang saya maksud dengan 'tempatmu'. Orang seperti dia adalah bayangan aslimu."
Aku berdiri, menatap Aris yang kini sedang ditarik oleh dua petugas keamanan hotel. Rasa malu sempat ingin menguasai diriku, namun aku teringat pada semua perjuanganku. Aku tidak boleh membiarkan mereka menang melalui Aris.
"Lepaskan dia," kataku pada petugas keamanan.
"Tapi Mbak, pria ini sangat agresif," ujar salah satu petugas.
"Lepaskan saja. Dia hanya orang yang sedang tersesat," kataku tenang.
Aku berjalan mendekati Aris. Pria itu tampak terengah-engah, mulutnya terus mengumpat namun matanya menunjukkan ketakutan yang dalam.
"Mas Aris, kamu ingin uang?" tanyaku dengan suara yang cukup keras agar didengar oleh seluruh orang di ruangan itu. "Uang yang kamu pikir sedang aku hamburkan di sini tidak ada. Aku di sini atas undangan Nyonya Maria. Dan uang yang aku miliki sekarang adalah hasil karyaku, bukan uangmu."
Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan sebuah cek yang sudah aku siapkan sebelumnya untuk keperluan mendesak. Aku menuliskan sebuah angka yang cukup untuk membuatnya pergi untuk sementara waktu.
"Ini," aku menyodorkan cek itu ke arahnya. "Ambil ini dan pergilah kembali ke kampung. Gunakan untuk modal usaha atau bayar hutang-hutangmu. Tapi dengan satu syarat: tandatangani surat pernyataan bahwa kamu tidak akan pernah mendekatiku lagi sampai keputusan cerai kita keluar. Jika kamu melanggar, aku akan memastikan kamu membusuk di penjara atas semua kekerasan yang pernah kamu lakukan."
Aris menatap cek itu dengan mata berbinar-binar penuh ketamakan. Ia tidak lagi memikirkan harga diri atau cintanya yang palsu. Ia menyambar cek tersebut dan dengan bantuan petugas, ia menandatangani surat yang sudah aku siapkan di atas meja lobi.
Setelah Aris pergi, aku kembali ke dalam ruangan arisan. Para wanita itu menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sebagian besar masih merasa jijik, namun ada beberapa yang menatapku dengan rasa hormat yang baru.
"Maaf atas gangguan kecil tadi, Nyonya Maria," kataku sambil tersenyum tenang. "Begitulah kehidupan penulis. Kami selalu harus berurusan dengan plot yang tidak terduga. Sekarang, mari kita lanjutkan arisannya. Atau ada hal lain yang ingin Anda sindir tentang masa lalu saya?"
Maria terdiam. Senyum kemenangannya telah luntur. Ia menyadari bahwa memalukan aku di depan umum justru membuatku terlihat lebih kuat dan berwibawa. Aku telah menunjukkan bahwa aku mampu mengelola masalahku sendiri dengan dingin dan efisien, tanpa harus kehilangan kendali diri.
Malam harinya, Alif menungguku di lobi hotel tempatku menginap. Ia tampak sangat cemas.
"Kamu baik-baik saja? Aris benar-benar keterlaluan," ujar Alif sambil membantuku membawakan tas.
"Aku baik, Mas. Malah aku merasa sangat lega. Aris sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, dan sekarang dia punya alasan untuk takut padaku. Maria pun sudah melihat bahwa aku tidak semudah itu untuk dihancurkan," aku menyandarkan punggungku di sofa lobi.
"Tapi Maria tidak akan berhenti di sini, Lisna. Dia akan menggunakan taktik yang lebih licin. Dia mulai mendekati penerbitmu untuk membatalkan kontrak buku keduamu dengan alasan menjaga etika publik."
Aku tertawa kecil, kali ini benar-benar merasa geli. "Biarkan saja dia mencoba, Mas. Jika penerbit itu membatalkan kontrakku hanya karena tekanan seorang istri konglomerat, berarti mereka bukan mitra yang tepat untukku. Aku akan membuktikan bahwa di Jakarta ini, bakat dan kejujuran masih memiliki harga yang lebih tinggi daripada sekadar koneksi politik."
Alif menatapku lama, lalu ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku akan selalu ada di belakangmu, Lisna. Apapun yang terjadi."
Aku menatap mata Alif yang tulus. Di tengah badai yang sedang kami hadapi, dukungannya adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa benar-benar kaya. Bukan kaya karena harta, tapi kaya karena memiliki seseorang yang percaya pada harga diriku.